
Suasana ruang keluarga di rumah itu tiba-tiba menjadi sunyi saat kedatangan Anita. Wanita berusia lima puluh dua tahun yang masih terlihat awet muda itu duduk dengan anggun disamping suaminya.
"Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi. Wanita level rendah sepertumu tidak akan pernah diterima di rumah ini." Anita dengan sinis melontarkan kata-kata menyayat di hati Marisa.
"Anita cukup." Pak Erwin mulai jengah. "Mereka anak dan menantuku, ini rumahku jika sikapmu semakin keterlaluan aku bisa saja mengusirmu dari sini." Pak Erwin menatap tajam kearah istrinya.
Anita hanya mendelik, ia menatap tajam ke arah Marisa dan Elvan yang hanya diam.
Lihat saja nanti aku tidak akan membiarkan kalian mendapatkan apa yang kalian mau. Batin Anita.
Kakek Darma telah keluar dari ruang kerjanya. Ia melihat sebentar ke arah ruang keluarga. Lalu ia berjalan menuju meja makan yang telah tersaji beraneka olahan makanan.
"Kakek kalian sudah keluar, ayo kita makan sama sama." Pak Erwin berdiri lalu diikuti oleh yang lainnya.
Kakek Darma duduk di ujung kursi makan, disebelah kanannya ada Pak Erwin yang duduk bersebelahan dengan istrinya. Lalu disebelah kirinya ada Alvero, Elvan, dan juga Marisa. Mereka mulai mengambil makan, semua mengambil makanannya sendiri, kecuali Marisa yang mengambilkan makanan untuk suaminya. Semua mata melihat ke arahnya. Namun ia tetap melayani suaminya seperti biasanya.
"Apa kamu keberatan jika mengambilkan makanan untuk kakek?" Kakek Darma bersuara setelah melihat cara Marisa memperlakukan Elvan.
Marisa menatap suaminya, lalu Elvan mengangguk setuju. Marisa pun akhirnya berdiri dan mengambilkan makanan sesuai keinginan kakek Darma. Lalu ia duduk dan mengambil makanan untuknya sendiri.
Pak Erwin dan Alvero menampilkan senyum tipis setelah melihat Marisa yang melayani suami dan kakeknya itu. Sementara Anita menatap Marisa penuh kebencian.
Makan malam berjalan dengan tenang, tak ada satu pun diantara mereka yang bersuara. Hingga selesai makan mereka pun kembali duduk di ruang keluarga.
"Besok ada acara rutin di kantor, kamu harus datang Elvan." Kata kakek Darma. "Iya kan Marisa?" Kini kakek Darma beralih menatap Marisa.
Marisa hanya mengangguk. Sedangkan Elvan begitu malas, ia tak tahu apa yang direncanakan kakeknya itu. Padahal ia tak pernah menghadiri acara apapun di perusahaan itu.
"Aku tidak bisa kek, aku ada urusan di bengkel." Kata Elvan.
"Datanglah El, para pemegang saham juga banyak yang menanyakan keberadaanmu yang tidak pernah mau datang ke perusahaan." Pak Erwin mendukung kata-kata kakek.
"Benar El, kakak juga butuh bantuan kamu di perusahaan. Kapan kamu mau bantu kakak?" Alvero ikut menyahuti kata-kata Papa dan Kakeknya.
Anita terlihat semakin tidak suka. Ia beranjak meninggalkan mereka semua dan pergi menuju kamarnya.
"Bagaimana menurut kamu Marisa?" Tanya kakek Darma kepada Marisa.
"Kalau itu terserah Mas Elvan saja, saya tidak mau ikut campur." Kata Marisa.
Elvan menatap istrinya. "Aku akan datang kesana sebagai suamimu."
Alvero dan Pak Erwin dan Kakek Darma tersenyum bahagia.
"El, kakak tunggu kamu untuk bergabung dengan perusahaan." Kata Alvero yang bahagia, ia bisa membagi bebannya dalam memimpin perusahaan jika Elvan mau membantunya mengelola perusahaan.
"Aku tidak bisa kak, karena aku sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan. Kak Al sudah sangat sukses tanpa aku."
Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan cukup santai. Hinggal malam semakin larut dan Elvan mengajak Marisa untuk pulang.
***
"Sayang, mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Elvan saat mobil mereka melintasi pintu gerbang yang sangat tinggi dan megah, pintu gerbang utama rumah Kakek Darma.
"Terserah Mas Elvan aja, kita belum sholat isya' loh mas." Marisa mengingatkan, memanglah rumah besar itu sangat jauh dari pemukiman warga, hanya beberapa rumah mewah saja yang ada di kawasan elit itu, hingga mereka sama sekali tak mendengar suara adzan disana.
"Yaudah, kita cari masjid dulu ya." Kata Elvan yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh istrinya.
Mobil Elvan melaju dengan kecepatan sedang, Elvan sudah tahu dimana masjid yang paling dekat dengan rumah kakeknya itu, karena dulu ia juga sering mampir ke masjid itu.
Malam semakin larut, masjid yang mereka datangi sudah nampak sepi, meskipun masjid itu tak jauh dari jalan raya. Namun malam yang semakin larut sepertinya membuat orang-orang enggan untuk sekedar mampir sholat di masjid itu.
Elvan dan Marisa pun mengambil wudhu di tempat yang telah tersedia. Lalu setelah selesai wudhu, Elvan menghampiri istrinya yang masih membaca do'a setelah wudhu. Elvan memandang wajah istrinya yang putih bersih terkena air wudhu, make up nya telah ia hapus sebelum mengambil wudhu tadi.
Mereka pun menunaikan sholat bersama, Elvan menjadi imam dan Marisa sebagai makmumnya. Setelah selesai merekapun berdoa dan segera kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Aku doa untuk kesehatan dan rejeki Mas Elvan, untuk ayah, dan semua keluarga kita mas."
"Apa iya kamu sebutin satu-satu."
"Ya enggak sih Mas, aku cuma menyebut semua keluargaku, gitu aja mas."
"Mulai sekarang, tambahkan anak disetiap do'amu ya sayang." Elvan mengusap pipi istrinya.
"Iya mas, Mas Elvan kenapa berharap sekali cepat punya anak?"
"Bukan sangat berharap sih sayang, tapi kalau usaha tanpa do'a itu namanya sombong sayang." Elvan mengacak pelan rambut Marisa yang dibalas senyuman oleh istrinya itu.
"Kita mau kemana Mas?"
"Ke tempat yang asyik, tapi kalau nanti kamu nggak suka kita mampir bentar aja nggak papa." Kata Elvan.
Tak berapa lama mereka pun sampai. Elvan memarkirkan mobilnya dan langsung turun bersama Marisa.
"Oy.. Lama nggak ketemu brother." Sapa salah seorang teman Elvan.
Disana ada sekitar delapan laki-laki yang tengah berkumpul di tepi ruko yang telah tutup. Salah seorang dari mereka ada yang bermain gitar.
"Oi,, Assalamu'alaikum." Sapa Elvan
"Waalaikumsalam." Jawab mereka kompak mereka pun saling memberi salam dengan menempelkan tangan mereka yang saling mengepal.
"Binik lu Van." Tanya salah seorang temannya.
"Iya dong, sini sayang." Elvan meraih tangan Marisa.
"Halo, aku Marisa istrinya Mas Elvan." Sapanya ramah.
"Halo Marisa." Jawab mereka kompak
"Cantiknya binik orang." Kata teman Elvan yang bernama Dika.
"Ya iyalah Elvan kan cakep, dapet binik cakep wajar, yang nggak wajar kalau elu dapet binik cakep Dik." Kata Deni yang langsung mendapat toyoran dari Dika.
"Galih mana?" Tanya Elvan setelah mengajak istrinya duduk.
"Bentaran lagi juga sampek." Kata Deni.
"Ngamalin do'a apa sih Van biar dapet yang bening-bening gini." Tanya Rama teman Elvan yang memegang gitar.
"Doa pas makan, habis makan, mau tidur, bangun tidur, mau mandi, habis mandi. Keluar rumah, masuk rumah, banyak lah pokoknya." Jawab Elvan asal.
"Elah elu, emang gue anak TK elu kasih tau doa gitu, yang bener dong lu." Kata Rama.
"Dah, mana sini gue yang main gitar." Kata Elvan lalu mengambil gitar dari tangan Rama.
"Mau lagu apa sayang?" Tanya Elvan dengan mesrah kepada Marisa.
"Cieeeee.. suit suit.." Sahut teman-temannya.
Marisa tersipu malu. "Apa aja yang mas bisa." Jawabnya dengan malu-malu.
Lalu Elvan pun mulai memetik gitarnya, dan menyanyikan lagu 'If I Ain't Got You' dari Alicia Keys.
Mereka pun menikmati malam dingin itu bernyanyi, sementara Marisa hanya sesekali tersenyum menanggapi candaan teman-teman Elvan. Mereka memang biasa berkumpul di tempat itu, menemani Dika yang membantu ayahnya berjualan nasi goreng di tempat itu.
to be continued....