
Tidak ada seorang ibupun di dunia ini yang tak akan khawatir saat mendengar anak-ananya sakit. Rasa cemas dan tak jarang panik juga melanda hati dan pikiran seorang ibu yang dengan tulus menyayangi anak-anaknya. Begitupun dengan Marisa, ibu muda yang juga merasakan kecemasan dan kepanikan itu melandanya saat mendengar Zea, putri kesayangannya mendadak pingsan di sekolahnya.
Buru-buru ia menghentikan taksi di depan kantor tempatnya bekerja setelah berlari dengan memakai sepatu hak tingginya, tak peduli lagi dengan kakinya yang akan lecet saat ia tersadar akan ulahnya nanti.
Taksi itu melaju dengan cepat sesuai permintaan dari sang penumpang. Kebetulan jalanan tengah lenggang di jam tersebut sehingga kendaraan berwarna biru itu sampai di klinik tak lebih dari lima belas menit perjalanan.
Setelah memberikan ongkos taksi kepada sang sopir, Marisa langsung keluar dari taksi dan berlari menuju UGD yang tadi disebutkan oleh guru yang membawa Zea ke klinik itu.
Marisa menemukan putrinya tengah terbaring di ranjang rumah sakit, lalu ia segera menghampiri gadis menggemaskan yang kini tengah terbaring lemah itu.
"Maaf saya menghubungi Bu Marisa, karena saya tidak bisa menghubungi Bu Sheryl." Kata Wali kelas Zea yang sebelumnya mengantar Zea ke klinik bersama satpam sekolah.
"Iya tidak masalah Bu, saya ibu kandungnya Zea, Bu Sheryl sedang keluar kota sekarang. Terimakasih sudah mengantar Zea." Kata Marisa.
"Sama-sama Bu, sudah menjadi tugas saya." Kata Wali kelas Zea.
"Maaf, kami harus sampaikan kalau pasien harus segera mendapatkan tindakan medis, kami curiga dengan kadar hemoglobinnya karena pasien begitu lemas dan pucat, jadi orang tua pasien bisa ikut perawat untuk tanda tangan surat persetujuannya." Kata dokter klinik.
Marisa mengangguk lalu setelah ia menandatangani surat pernyataan persetujuan dokter dan perawat segera memberikan cairan inpus untuk Zea yang masih terbaring lemah.
Zea yang seperti kehilangan tenaga itu tiba-tiba menjerit dan berontak saat jarum suntik menyentuh kulit tangannya. Zea mengerahkan seluruh tenaganya untuk menolak tindakan yang dilakukan dokter dan juga perawat itu.
"Zea, sebentar ya sayang, tahan sebentar, biar Zea cepat sehat lagi sayang." Kata Marisa di telinga Zea.
"Mama, Zea nggak mau disini Ma, Zea mau ke sekolah, nanti kalau Zayn sama Papa ke sekolah Zea nggak akan tau Ma, Zea kangen banget sama Zayn sama Papa Ma." Kata Zea yang masih histeris.
Hingga akhirnya selang inpus itu terpasang sempurna di tangan kiri Zea. Dan dokter telah berhasil mengambil sampel darah Zea. Marisa membisu setelah kepergian perawat dan dokter lalu disusul Wali kelas yang mengantar Zea tadi. Ia teringat tadi pagi Zea memang nampak kurang sehat, namun gadis itu memaksa untuk pergi sekolah walau kondisinya kurang sehat.
Marisa dirundung rasa bersalah yang teramat dalam saat melihat inpus ditangan gadis yang kini telah terlelap itu. Setelah kepergian Zayn dan Elvan yang tiba-tiba, Zea mulai tak nafsu makan, hingga yang terparah adalah semalam, Zea hanya meminum susunya saja dan tak menyentuh nasinya sama sekali. Marisa benar-benar menyesal sekarang, seharusnya ia lebih memaksa agar Zea tetap makan walau terpaksa.
Hingga suara getaran dari ponsel Marisa mengembalikan pikiran sadarnya. Seketika ia merogoh tas coklatnya, mencari benda pipih yang sedari tadi ia lupakan.
Pak Alvero
Gawat, ia melupakan ijin dengan atasannya yang begitu baik itu, setelah menerima telfon dari sekolah memang ia bergegas ke klinik tanpa sempat mengingat harus meminta ijin kepada Alvero.
Marisa menghela nafas, lalu dengan segera ia menjawab panggilan dari orang yang pastinya sedang kebingungan karena tak menemukan sekretarisnya di kantor.
"Assalamu'alaikum Pak." Sapa Marisa usai menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Waalaikumsalam, kamu dimana?" Tanya Alvero yang terdengar khawatir.
"Maaf Pak karena saya meninggalkan pekerjaan tanpa ijin." Kata Marisa.
"Sudahlah, kamu dimana sekarang?" Ulang Alvero yang belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Maaf Pak, putri saya sedang sakit, jadi saya langsung kesini tadi karena panik." Marisa menatap Zea yang masih pulas dalam tidurnya.
"Apa??? Dimana dia dirawat?" Tanya Alvero terdengar panik.
"Di klinik dekat sekolah Pak, kita masih nunggu hasil lab-nya pak." Kata Marisa.
"Baiklah, aku akan segera kesana." Alvero langsung mematikan telfonnya begitu saja.
Sementara Marisa menghela nafas berat, ia kemudian bangkit untuk mencium kening putrinya. Dalam hatinya berjanji, akan melakukan apapun demi kesembuhan putrinya.
Tak lama dokter dan perawat datang dengan hasil laboratorium Zea.
"Mohon maaf, kami harus sampaikan untuk segera merujuk pasien, karena HB nya sangat rendah dan membutuhkan transfusi darah secepatnya, sedangkan kami tidak punya alat transfusi dan juga stok darahnya." Kata dokter itu.
Marisa menangis, cobaan apalagi ini Tuhan, kenapa putri kecilnya itu harus separah itu. Lalu ia pun menyetujui untuk membawa Zea ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap untuk pengobatan Zea.
Zea pun langsung dibawa ke ambulans untuk segera ke rumah sakit. Marisa menemani putrinya itu di dalam ambulans.
"Papa.. Papa.. " Ucap gadis itu dengan sangat lirih, terdengar seperti gumaman.
"Zea, sayang yang kuat ya Nak, ada Mama disini sama Zea." Marisa menggenggam erat tangan gadis itu, jemarinya terlihat putih dan sangat pucat.
Bocah itu tertidur lagi, tak menghiraukan suara ibunya yang begitu kacau dalam tangisnya.
Hingga mobil ambulans itu sampai di IGD rumah sakit, dan perawat segera memeriksa kembali kondisi Zea. Dengan penuh perjuangan Marisa dibantu dokter dan perawat membangunkan Zea yang sudah sangat pucat. Hingga gadis itupun akhirnya terbangun dengan tatapan kosong, tak merespon apapun yang dikatakan orang disekitarnya.
Marisa tercengang, seumur hidupnya ia tak pernah melihat Zea dalam keadaan seperti itu, matanya terbuka namun seperti tak melihat apapun.
"Oksigen, oksigen, cepat." Kata Dokter lalu dengan cepat seorang perawat memasangkan selang oksigen di hidung gadis yang biasanya periang itu dan menutupnya dengan perekat agar bocah itu tak bisa melepaskannya dengan mudah.
Lalu tangan kanan Zea harus kembali merasakan sakit karena jarum itu kembali menembus kulitnya dan mengambil sebagian darahnya, gadis itu berontak lagi-lagi ia harus kesakitan karena jarum suntik yang kejam itu. Sedangkan Marisa hanya bisa pasrah melihat putrinya kesakitan, ia terus memeluk tubuh bocah itu sambil menjaga tangannya yang terpasang insfus.
Setelah berhasil mengambil sampel darah, Zea berhenti histeris, tapi air matanya masih mengalir, ia masih menangis.
"Mama, Zea nggak mau disini Ma, tangan Zea sakit semua, hidung Zea kenapa dikasih ini Ma, sakit, Zea susah nafasnya Ma." Keluhnya yang merasakan tersiksanya tubuh kecilnya itu.
"Maafkan Mama ya sayang, maafkan Mama." Marisa berkali kali mencium kening Zea, menyesali semua yang menimpa Zea.
Seandainya ia tak egois ingin bertemu Zayn, mungkin Zea tak akan sampai sakit seperti ini. Seandainya ia masih di kota lamanya dan mengurus toko kuenya mungkin Zea masih ceria seperti biasanya, tanpa mengenal Elvan dan juga Zayn.
"Zea, kamu kenapa sayang?" Tanya Alvero yang terengah-engah.
"Pak Al." Marisa terkejut dengan kedatangan Alvero.
"Gimana keadaan Zea?" Alvero mulai menstabilkan nafasnya.
"Kita harus transfusi pak tapi masih nunggu hasil golongan darahnya." Kata Marisa.
Lalu seorang perawat menghampiri mereka untuk mengurus administrasi Zea. Dan Alvero segera mengikuti perawat itu.
Zea pun akhirnya di pindahkan ke ruang perawatan dan mendapatkan transfusi darah.
Marisa menunggu putrinya itu dengan sabar, Zea masih tertidur pulas. Sementara Alvero sudah ijin pulang karena ada kepentingan. Marisa masih melamun memikirkan segalanya yang terjadi. Lalu ia pun mulai menyusun rencana untuk meninggalkan ibukota dan kembali lagi di kota S untuk mengurus Zea dan toko kuenya saja.
Tiba-tiba,
Tap.. tap.. tap..
Terdengar suara langkah kaki yang menuju kearah Marisa dan Zea, Marisa curiga, jangan-jangan itu adalah Kakek Darma, dengan reflek Marisa berdiri dan dengan seketika ia menghalangi tubuh Zea yang tertidur dengan tubuhnya.
"Kamu.." Marisa terkejut karena ternyata bukanlah Kakek Darma yang datang.
"Zea kenapa, aku ingin lihat dia, jangan halangi aku." Kata laki-laki itu.
"Jangan ganggu kami, berhenti, jangan mendekat, pergi dari hidup kami." Kata Marisa bersikeras tak menggeser satu centipun posisinya.
"Kamu kenapa, aku cuma pengen lihat keadaannya, aku baru sampek dan langsung kesini setelah dapet kabar dari Kak Al." Kata Elvan memelas.
"Aku bilang berhenti, aku ibunya dan aku berhak, jangan dekati kami, aku rela mengikhlaskan Zayn yang kalian ambil paksa, tapi aku tidak akan membiarkan kalian mengambil Zea juga dariku." Kata Marisa melotot.
"Ada apa ini, aku nggak ngerti." Kata Elvan yang kebingungan dengan sikap wanita yang menjadi ibu dari dua anaknya itu.
"Aku dan Zea tidak akan mengganggu dan mengusik kehidupan kalian lagi jadi pergilah." Kata Marisa mengusir Elvan.
"Mama, aku dengar suara Papa." Kata Zea yang terbangun karena mendengar keributan.
"Zea, sayang kamu udah bangun Nak?" Marisa berbalik lalu memandangi wajah Zea yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu.
Elvan tak mau kehilangan kesempatan, ia berputar dan segera melihat wajah Zea yang dua minggu ini sangat ia rindukan.
"Papa." Tiba-tiba Zea berteriak dan langsung memeluk Elvan, padahal sebelumnya ia sangat lemah tak berdaya.
"Zea, iya ini Papa sayang, maaf ya Papa sibuk akhir-akhir ini." Kata Elvan yang membalas pelukan dari Zea.
Seketika Marisa merasa lemas, ia tak menyangka Zea akan seperti ini karena ayahnya. Sebelumnya ia hampir mati saat melihat Zea yang sangat parah keadaanya, namun saat melihat Zea yang mulai kuat dan memeluk Elvan dengan selang yang masih tertancap di hidung dan tangannya Marisa kembali merasa bernyawa.
Elvan merebahkan tubuh bocah kecil itu, merasakan pilu juga saat menyadari selang oksigen di hidung serta infus di tangan Zea yang mengalirkan darah merah untuknya.
"Bisa kita bicara sebentar." Kata Elvan pada Marisa. "Sayang, Papa ngobrol sama Mama bentar ya disana." Kata Elvan lalu mencium kening Zea.
Marisa dengan malas berjalan ke tempat yang ditunjuk Elvan, dipojokan ruangan sehingga mereka masih dapat mengawasi Zea dengan jelas.
"Apa yang terjadi dengan Zea?" Tanya Elvan dengan serius kepada Marisa.
"Pergilah dari kami, jika kamu menginginkan keselamatan Zea." Kata Marisa dengan datar.
"Zea juga anakku, untuk apa aku menjauhi anakku sendiri jika ingin dia selamat, omong kosong macam apa ini?" Elvan begitu kesal dengan kata-kata Marisa yang terus menolaknya.
"Aku sudah kehilangan Zayn sejak dia baru saja ku lahirkan, aku berjuang menyelamatkan anak-anakku tapi aku tetap harus kehilangan Zayn." Marisa mulai rapuh, kejadian yang menimpanya sungguh membuatnya teramat lelah.
"Kenapa Zayn, apa yang sebenarnya terjadi, ada apa hah katakan." Elvan mulai tak sabar.
"Mungkin memang ini saat yang tepat untuk aku mengatakan kebenarannya, agar kamu bisa menjauhi kami dengan ikhlas Mas." Kata Marisa mulai menangis kembali.
"Ada apa sayang, jangan memendam masalah apapun sendiri, suamimu ini sudah kembali dan Mas akan melindungimu dan anak-anak kita apapun yang terjadi." Elvan memeluk tubuh Marisa yang pasrah.
"Saat kamu terbangun dari kecelakaan, Kakek minta aku untuk ninggalin kamu Mas, Kakek mengancam aku bahkan membawa nama ayah dan Budhe, saat itu aku tidak punya pilihan lain selain harus kabur Mas, aku takut kalau Kakek mengetahui aku hamil dia akan menyakiti anak kita juga, sampai akhirnya aku bertemu Andi tanpa sengaja, dia yang menolongku selama ini, bahkan istrinya yang merawatku selama hamil Zayn dan Zea. Dan saat akhirnya aku melahirkan Zayn dan Kakek malah menculiknya dariku Mas, untung saja kakek tidak tahu kalau aku juga melahirkan Zea, jadi untuk menghindari kakek, aku merubah identitasku untuk menyelamatkan Zea." Marisa akhirnya menceritakan semua yang dialaminya karena Kakek suaminya itu.
"Apa?? Kakek bisa sekejam itu." Kata Elvan lalu menatap wajah Marisa.
"Terserah Mas Elvan mau percaya atau tidak, tapi aku sudah mengatakan semuanya Mas, jadi sekarang Mas Elvan bisa menjauhi kami." Marisa lalu meninggalkan Elvan untuk menghampiri Zea yang sepertinya kembali tertidur.
"Keputusan Mas akan tetap bersama kalian apapun yang terjadi, saat ini Kak Al sedang membawa Zayn kesini, kita akan berkumpul kembali, tapi sebelum Zayn bersama kita, jangan sampai Kakek menemukan kalian dulu, kita berdoa saja semoga Kak Al berhasil membawa Zayn kembali." Kata Elvan memeluk tubuh Marisa kembali, merasakan kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh istri dan anaknya setelah ia mengalami amnesia.
"Iya Mas, lalu Zayn dimana sekarang?" Tanya Marisa yang mulai mengkhawatirkan putranya.
"Zayn lagi di jepang sama Papa, Kak Al lagi jemput dia begitu tahu Zea sakit." Kata Elvan yang masih memeluk Marisa. "Sayang, mulai sekarang, apapun yang terjadi kamu harus katakan sama Mas ya, Mas akan melindungimu dan anak-anak kita, Mas janji sayang." Elvan mengecup kening wanita yang masih menjadi istri sahnya itu.
Marisa mengangguk pelan, ia merasa lega sekarang, karena keluarga kecilnya akan segera bersatu kembali. Dan untuk saat ini, mereka akan fokus dengan kesembuhan Zea dan juga keselamatan Zayn yang masih bersama Pak Erwin.
Bersambung....