My Amazing Husband

My Amazing Husband
Kecelakaan


Pagi memang selalu menjadi awal untuk memulai hari, patut disyukuri memang, karena masih diberi kesempatan untuk dapat menghirup udara pagi yang selalu menyejukkan.


Pagi itu Elvan menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Marisa. Walau Marisa sendiri merasa baik-baik saja, namun Elvan yang sedikit protektif terhadap istri dan calon anaknya itu terus saja memaksa Marisa untuk pergi ke dokter kandungan. Sementara istrinya itu kini tengah sibuk memakan biskuit camilannya. Wajar memang, wanita hamil perlu banyak makan kan?


"Kamu masih lapar sayang?" Tanya Elvan yang memperhatikan istrinya tak berhenti mengunyah.


Sedari tadi jari-jari lentik itu tak pernah lepas dari wadah biskuitnya. Menggenggamnya erat seakan tak membiarkan ada orang lain yang menyentuhnya. Bahkan laki-laki di balik kemudi itu pun tak mendapat tawaran untuk sekedar mencicipinya.


"Enggak terlalu sih Mas, tapi pengen ngemil terus aja." Wanita cantik itu hampir menghabiskan satu wadah besar biskuitnya. Baru beberapa menit meninggalkan komplek dan ia sudah hampir menghabiskan satu wadah.


Elvan mengacak-acak rambut istrinya, ia gemas melihat istrinya kini mulai berisi dengan pipi yang semakin bulat. Padahal beberapa saat lalu istrinya itu menghabiskan dua piring nasi goreng, namun seolah tak mengenal kenyang, Marisa meraih satu wadah biskuitnya lagi. Elvan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Mas kenapa sih liatin aku gitu?" Tanya Marisa yang merasa malu di tatap terus oleh suaminya disela-sela fokusnya menyetir.


Sang suami yang merasa semakin bersyukur mendapat istri seperti wanita yang duduk disebelahnya itu hanya tersenyum lebar menampilkan gigi geligi nya yang rapi.


"Mas tambah sayang sama kamu, lihat kamu padat berisi gini bikin gemes." Kata Elvan lalu mencubit pipi istrinya.


"Mas, mau bilang aku gendut ya." Sang istri yang labil emosinya itu mengerukan alisnya, bibirnya mengerucut maju beberapa inci.


"Sini pinjem karetnya, mau mas ikat nih mulutnya gemes banget." Suami yang paham betul kondisi emosional istrinya setelah browsing di internet itu menjadi semakin gemas.


"Fokus saja sama jalan Mas, kesel nih akunya." Kata Marisa yang dongkol lalu memandang keluar jendela, sedikit membuka kacanya membiarkan udara pagi menyapa wajahnya dan menerbangkan rambutnya yang tergerai. Ya, semenjak bersama Elvan, Marisa sangat jarang mengikat rambutnya.


"Mas cuma pengen lihat kamu lebih lama." Elvan menepikan mobilnya. Lalu ia membelai lembut pipi istrinya. "Mas rasanya akan kangen dengan wajah ini." Elvan terkekeh. Sementara Marisa menatap heran suaminya. "Aneh ya, tapi rasanya kayak kita akan lama nggak ketemu. Mungkin nanti Mas akan sibuk kali ya, jadi rasanya kayak akan kangen banget sama kamu." Elvan meraih tangan istrinya dan mencium tangan halus itu.


"Mas, jangan bicara begitu, kita kan nanti ke kantor bareng, kan aku belum pamitan Mas. Ya meskipun besok mungkin kita akan jarang ketemu." Kata Marisa.


"Iya sayang, Mas akan usahakan makan di rumah kok biar kita sering-sering ketemu. Kamu jangan pernah lepas cincin ini ya apapun yang terjadi. Kita harus sama-sama setia sampai di akhirat nanti." Kata Elvan yang membuat Marisa semakin bingung.


"Aku mencintaimu Marisa." Elvan melepas sabuk pengamannya lalu mencium bibir istrinya sebentar, hanya beberapa detik, ia ingin sekali merasakan bibir lembut kesukaannya, mengecap rasa vanila dan strawberi di bibir istrinya itu. Lalu Elvan kembali ke posisi duduknya.


"Aku juga mencintaimu Mas." Marisa membelai lembut pipi suaminya.


"Hemm. Kamu sama anak kita harus kuat dan sehat ya." Elvan membelai rambut Marisa.


Marisa tersenyum memandang wajah tampan suaminya, matanya yang bersinar, hidung mancung, dan bibir yang tidak terlalu tebal menyempurnakan perawakannya yang jangkung, dengan kulit putih bersih serta satu bagian yang sangat disukai Marisa, yaitu jakun yang menonjol di leher jenjang suaminya itu.


Mereka saling memandang, saling mengagumi keindahan masing-masing, yang saat awal-awal mereka kenal, mereka nampak malu-malu, namun kini mereka bisa leluasa menikmati wajah pasangan halalnya itu.


Tiba-tiba sebuah truk melaju kencang tepat di depan mereka. Padahal seharusnya truk itu berada di jalur yang berlawanan dengan mereka. Elvan yang belum memasang kembali sabuk pengamannya, dengan reflek ia bangun hendak melindungi istrinya, ia membuka pintu mobil berharap mereka bisa keluar dan disaat yang sama Marisa juga melepas sabuk pengamannya. Namun saat mereka hendak keluar, truk itu telah menabrak bagian depan mobil Elvan yang berhenti.


Elvan memeluk tubuh istrinya dan mereka pun terpental keluar, Elvan semakin erat memeluk tubuh istrinya sementara tangan kirinya melindungi kepala belakang istrinya, hingga merekapun jatuh tersungkur ke jalanan. Elvan jatuh lebih dulu sementara Marisa berada diatas tubuh istrinya, mereka terguling-guling di aspal karena kaki mereka masih belum sepenuhnya keluar dari mobil. Dan saat kaki mereka terbebas dari mobil, kepala Elvan terbentur trotoar jalan cukup keras, seketika Marisa pingsan, dan Elvan masih memeluk tubuh istrinya. Mobil Elvan terdorong oleh truk itu.


Orang-orang yang melihat kecelakaan itu langsung berlari menghampiri Marisa dan Elvan yang sudah tak sadarkan diri. Ada yang memanggil ambulan dan juga polisi. Lalu Elvan dan Marisa dilarikan ke rumah sakit.


🌱🌱🌱


Elvan dan Marisa kini berada di rumah sakit. Alvero dan Kakek Darma yang mendengar kabar kecelakaan Elvan dan Marisa langsung menyusulnya ke rumah sakit. Sementara Pak Erwin kini tengah berada di pesawat yang sama dengan istrinya dan juga selingkuhan istrinya.


Marisa perlahan membuka matanya, perawat juga dokter ada disampingnya masih memeriksa lukanya.


"Dokter, anak saya.. Suami saya dok.." Ucapnya lirih sambil memegang perutnya.


Dokter menyadari maksud Marisa, kemudian dokter segera memeriksa kondisi kehamilannya.


"Ibu.. Tenang ya, kandungan ibu baik-baik saja. Suami ibu sedang dirawat, ibu jangan khawatir." Kata dokter.


"Saya ingin ketemu suami saya." Kata Marisa yang masih lemah.


"Nanti ya, tunggu ibu pulih dulu, sekarang keadaan bayi dalam kandungan ibu juga harus dipikirkan. Suami ibu sudah ada dokter yang menangani, keluarganya juga ada yang menunggu jadi tenang ya." Kata Dokter itu.


"Dokter, tolong rahasiakan kehamilan saya ya, jangan kasih tau mereka dulu." Kata Marisa.


"Baiklah saya akan menjaga rahasia, sekarang yang terpenting ibu istirahat yang cukup dulu ya."


Marisa mengangguk dan kemudian perawat melakukan perawatan terhadap luka-luka Marisa.


🌱🌱🌱


Kakek Darma dan Alvero tengah menunggu di depan ruang operasi. Elvan yang mengalami cidera cukup berat di kepalanya harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya.


"Dimana Papamu?" Kakek Darma bertanya pada Alvero.


"Aku juga tidak tahu Kek." Kata Alvero yang duduk disebelah Kakeknya.


"Mama kamu juga kemana?"


"Mama bilangnya mau ke luar negri hari ini kek."


"Mamamu itu selalu saja menghamburkan uang."


Reyna yang mendapat kabar dari Alvero pun datang ke rumah sakit.


"Al, gimana?" Tanya Reyna dengan cemas. Sejujurnya ia mengkhawatirkan Marisa yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Elvan lagi di ruang operasi, kepalanya terbentur cukup keras, kalau Marisa masih pingsan di UGD." Kata Alvero.


"Marisa sama siapa?" Tanyanya khawatir.


"Dia sama suster sama dokter. Kamu kesana aja tunggu Marisa ya. Aku sama Kakek tunggu Elvan disini." kata Alvero.


Reyna langsung berlari menuju ruang UGD dimana Marisa mendapat perawatan lukanya.


"Ris, kamu nggak papa?" Tanya Reyna yang baru sampai di ruang gawat darurat itu.


"Aku nggak papa kok Kak, cuma kakiku aja yang sakit dikit." Kata Marisa yang masih bisa menampilkan senyumnya.


"Syukurlah kalau begitu." Reyna merasa lega.


"Mas Elvan gimana Kak, apa dia baik-baik saja?" Tanya Marisa yang khawatir karena sedari tadi belum mendengar keadaan suaminya.


"Maaf apa anda keluarga pasien?" Tanya perawat yang menghampiri mereka.


"Iya sus, saya kakaknya." Jawab Reyna.


"Tolong urus administrasinya dulu ya, pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan." Kata perawat itu.


Reyna mengangguk "Aku tinggal bentar ya. Kamu tenang aja, Elvan pasti baik-baik saja kok." Lalu Reyna meninggalkan Marisa untuk melengkapi administrasinya.


🌱🌱🌱


Marisa kini telah berada di ruang perawatan ditemani Reyna saat Alvero datang ke ruangannya.


Alvero berjalan mendekat ke ranjang rumah sakit itu. Marisa memang berada di ruang VIP sesuai permintaan Reyna.


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Alvero yang kini duduk di kursi samping ranjang rumah sakit.


"Aku cuma lecet-lecet di kaki aja Kak, Mas Elvan gimana?" Tanya Marisa.


"Elvan masih dioperasi, Kakek ada disana. Kalau Kakek Neneknya masih perjalanan kesini tadi baru aku kabarin." Jawab Alvero.


"Apa Mas Elvan parah? Kenapa sampai dioperasi kak?" Tanya Marisa cemas.


"Ris, kamu tenang dulu ya, aku yakin dokter lagi berusaha yang terbaik untuk kesembuhan Elvan. Kamu juga fokus dulu sama kesehatan kamu ya." Kata Reyna menenangkan Marisa.


"Iya Ris, aku yakin Elvan akan baik-baik saja, kamu jangan cemas ya. Nanti kalau ada kabar dari dokter aku kesini lagi, aku cuma pengen mastiin kamu baik-baik aja. Aku pergi dulu ya." Kata Alvero mengusap pundak Marisa. "Reyna tolong jaga Marisa dulu, kalau ada apa-apa kabarin aku."


Reyna mengangguk, lalu Alvero keluar dari ruangan Marisa.


"Risa, jangan cemas ya semuanya akan baik-baik saja." Kata Reyna.


"Kak, aku takut. aku takut banget kak." Kata Marisa yang tiba-tiba mengingat kecelakaan di deoan bengkel yang menyebabkan ia keguguran.


"Ada apa Risa? Kamu kenapa? Apa yang kamu takuti?" Reyna beranjak dari duduknya dan segera memeluk Marisa yang tiba-tiba ketakutan.


"Aku takut kehilangan bayiku lagi kak." Marisa menangis dalam pelukan Reyna.


"Apa saat ini kamu sedang hamil Ris?" Reyna melepas pelukannya lalu menatap mata Marisa.


Marisa mengangguk, "Tapi Mas Elvan minta untuk ngerahasiain dulu kak sampai saatnya datang, tapi sekarang keadaannya gini, aku tau Mas Elvan pasti terluka parah kan? Aku takut Kak." Marisa semakin menangis.


Lalu dua orang polisi datang ke ruangan Marisa.


"Selamat siang Ibu Marisa, bisa kita bicara sebentar?"


Marisa mengangguk pelan, ia masih ketakutan sebenarnya tapi ia juga ingin mencari tahu penyebab kecelakaan yang menimpanya.


Polisi itu pun mulai menginterogasinya, bagaimana kecelakaan itu terjadi. Marisa didampingi Reyna akhirnya menceritakan semuanya. Sampai dirasa cukup, polisi itu pun undur diri.


"Risa, kenapa Elvan minta untuk merahasiakan kabar baik ini?" Tanya Reyna yang penasaran.


"Mas Elvan bilang, waktu aku keguguran itu sepwrtinya emang disengaja Kak, aku takut kecelakaan yang terjadi sama aku dan Mas Elvan ini juga disengaja." Kata Marisa yang kembali menangis.


Reyna menarik napas dalam-dalam. Ia merasa tak tega melihat Marisa yang menangis.


"Kamu tenang ya, Elvan pasti baik-baik saja, dia pasti berjuang demi kamu dan anak kalian." Reyna pun memeluk Marisa dan menenangkan wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


Bersambung....