
Di sebuah ruangan gedung perusahaan Guna Cipta Group itu, seorang laki-laki tengah duduk di kursi direkturnya. Laki-laki muda yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Laki-laki itu masih fokus dengan tumpukan dokumen-dokumen dihadapannya. Kehilangan memori dalam ingatannya tak mempengaruhi kecerdasan otaknya yang semenjak dulu memang tak pernah diragukan.
Semenjak Alvero meninggalkan perusahaan dan juga keluarga itu, Elvan memikul beban berat dalam memimpin perusahaan. Karena Pak Erwin ayahnya harus fokus menangani proyek di luar negeri bersama Kevin, mantan asisten Alvero yang kini sibuk mendampingi Pak Erwin di London, mengurus kekacauan proyek mereka setelah kepergian Alvero dari perusahaan.
Sementara Kakek Darma hanya tinggal berdua dengan Elvan. Kakek tua itu berkali-kali mempengaruhi Elvan yang kini menjadi cucu satu-satunya agar semakin membenci Marisa istrinya sendiri
Kakek Darma datang mengganggu konsentrasi Elvan yang masih bergelut dengan pekerjaannya. Masuk ke ruangan Elvan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kakek suka kamu semangat seperti ini Elvan." Kata Kakek yang sudah duduk dihadapan cucunya itu.
"Iya Kek, aku sedang berusaha untuk meraih kesuksesanku seperti kata Kakek." Kata Elvan.
"Kakek bangga sama kamu El."
Elvan tersenyum sembari mengucapkan terimakasih.
"El, coba kamu lihat ini." Kakek Darma menyerahkan foto-foto Marisa dengan perut buncitnya sedang bersama Andi yang saat itu memakai seragam polisinya. Sedangkan Sheryl sedang ke toilet ketika foto itu diambil secara diam-diam.
Kening Elvan berkerut, memandang foto wanita yang selalu membuat kepalanya sakit tiap kali berusaha mengingat kenangan tentangnya.
"Jadi dia beneran hamil?" Tanya Elvan yang menatap foto Marisa tengah menutupi mulutnya yang tertawa dengan tangan kanannya. Ada kerinduan dalam dirinya namun karena cerita-cerita kakeknya ia pun meragukan kesetiaan Marisa yang sampai detik ini masih menjadi istrinya.
"Mungkin dia hamil anak selingkuhannya itu, buktinya kalau dia hamil anak kamu bukankah seharusnya dia pulang menemuimu. Tapi lihat, wanita itu terlihat begitu bahagia dengan selingkuhannya." Kata Kakek Darma memprovokasi Elvan.
"Apa benar dia selingkuh Kek, hatiku sangat meragukan itu." Kata Elvan menatap sedih wajah Marisa yang tertawa dalam foto itu.
"Kamu ini, kurang bukti apalagi. Sudahlah ceraikan saja dia. Cepat tanda tangani surat-surat itu dan hiduplah dengan wanita yang lebih baik darinya." Kakek Darma memegang ujung tongkatnya. Usahanya untuk membuat Elvan menceraikan istrinya memang selalu gagal, karena Elvan selalu ingin bicara langsung dengan istrinya sebelum menceraikannya.
"Tapi aku harus bertemu dengannya dulu Kek, aku mau dia menjelaskan secara langsung. Aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Katakan Kek, dimana dia sekarang?" Elvan menatap penuh permohonan kepada kakeknya itu.
"Dia sangat jauh dari jangkauan kamu, sudahlah sekarang kamu fokus dengan kesuksesan kamu. Kakek tidak akan membiarkan kamu bertemu wanita jahat yang sudah merusak hidupmu itu." Kata Kakek Darma yang mulai bangun dari duduknya.
Tak lama Kakek Darma pun pergi meninggalkan Elvan bersama foto-foto Marisa di meja kerja Elvan.
Apa benar kamu menghianatiku, waktu itu aku mendengar saat kamu mengatakan akan pergi membawa anak kita, tapi kenapa? Apa benar anak yang kamu kandung itu anakku? Lalu kenapa kamu meninggalkanku? Aku tidak bisa mengingat apapun tentangmu. Aku juga tidak bisa sepenuhnya percaya dengan Kakek, tapi bukti-bukti ini. Ahhh, kepalaku pusing tiap memikirkan semua ini. Aku akan diam-diam mencari keberadaanmu Marisa. Supaya aku bisa mendapat kejelasan tentang ini semua. Batin Elvan yang menatap foto Marisa dalam-dalam.
Elvan pun menyimpan semua foto-foto Marisa itu dan menyimpannya di laci meja kerjanya. Kemudian ia melanjutkan lagi pekerjaannya.
🌱🌱🌱
Di rumah kontrakan sederhana di kota yang sangat jauh dari ibu kota itu, Marisa tengah memijat betisnya dengan minyak urut untuk mengurangi rasa pegal yang akhir-akhir ini mulai menyiksanya. Walau ia cukup kesulitan karena perutnya yang besar, tapi ia tak ingin merepotkan orang lain. Memijat sendiri kaki yang mungkin tak sanggup menopang beban tubuhnya.
"Kak, lagi apa?" Sheryl yang sepertinya baru selesai mandi, keluar dari kamarnya lalu duduk di sebelah wanita hamil itu.
"Ini, lagi kasih minyak urut aja pegel-pegel soalnya." Kata Marisa yang masih melanjutkan kegiatannya.
"Kaki kamu bengkak deh Kak, apa mending Kakak mulai cuti aja, aku nggak tega lihatnya Kak." Sheryl menatap dua punggung kaki Marisa yang memang mulai bengkak.
"Nggak ah Sher, sayang banget, cutinya kan bisa nanti kalau udah lahiran aja, biar lebih lama sama baby nya." Marisa kini mengelus perut buncitnya.
"Tapi Kak, masih lima mingguan lagi loh, itu masih lama banget Kak, kalau Kakak nggak kuat mending mulai ambil cuti deh, lagian perut Kakak tu besar banget, kalau kata senior aku sih bisa jadi Kakak lagi hamil kembar air." Kata Sheryl menjelaskan.
"Masa' yang aku lahirin nanti yang satu baby, satunya lagi air.? Aku nggak ngerti deh." Tanya Marisa yang sedikit bingung.
"Ih, Kak Risa bukan gitu, jadi hamil kembar air atau polihidramnion adalah kondisi ketika air ketuban dalam rahim saat kehamilan sangat banyak, sehingga perut menjadi sangat besar seperti ukuran perut hamil kembar. Dalam tahap yang ringan, polihidramnion tidak menimbulkan gejala apapun pada pengidapnya. Sementara polihidramnion yang sedang hingga berat dapat menimbulkan beberapa gejala seperti sulit bernapas, pembengkakan vulva, produksi urine berkurang, sembelit, mual, perut terasa sesak, dan bengkak di beberapa bagian tubuh." Sheryl menjelakan.
"Jadi beneran aku hamil kembar air?" Tanya Marisa.
"Ya bisa jadi kak, karena hasil USG kan hanya satu bayi, ya walaupun nggak jelas sih USG di puskesmas tempatku kerja. Kak Risa sih nggak pernah mau diajak ke rumah sakit." Kata Sheryl.
"Tapi bahaya nggak sih Sher? Bukannya waktu periksa terakhir air ketubannya masih bagus nggak kebanyakan." Marisa mulai cemas.
"Air ketuban dapat terus bertambah sejalan dengan usia kandungan hingga 28-32 minggu, lalu cairan tersebut tidak bertambah lagi pada minggu ke-37 sampai 40. Apabila ibu hamil mengalami polihidramnion ringan hingga sedang, kemungkinannya masih dapat melahirkan hingga usia kandungan cukup bulan yaitu antara 39 hingga 40 minggu. Namun, berbeda dengan ibu hamil dengan polihidramnion berat. Ibu hamil dengan kondisi tersebut berisiko mengalami persalinan prematur sekitar usia 37 minggu atau lebih muda." Kata Sheryl yang memang seorang bidan. ¹
"Jadi beneran aku harus ke rumah sakit?" Marisa pun mulai khawatir dengan bayinya, ia tentu tak ingin jika sampai melahirkan bayi prematur.
"Harusnya gitu Kak, karena Kakak tau kan alat usg di puskesmas aku itu nggak begitu jelas, udah terlalu kuno sebenernya. Tapi Kakak jangan terlalu pikirkan ya, Insya Allah dia akan baik-baik saja, yang penting Kak Risa jangan stres." Kata Sheryl mengelus punggung Marisa.
"Yaudah besok aku ijin deh biar bisa cuti." Kata Marisa.
"Oke, nanti aku temenin ya."
"Tapi Kakak nggak papa kan? Mau aku temenin?"
"Nggak usah Sher, nanti kalau ada apa-apa aku panggil aja ya."
Keesokan harinya
Marisa terbangun karena harus buang air kecil, sejak semalam ia sudah berkali-kali ke kamar mandi untuk urusan itu. Sheryl bilang wanita hamil memang akan mengalami perubahan hormon. Perubahan hormon ini membuat aliran darah dan cairan ke ginjal menjadi lebih cepat, sehingga membuat ibu hamil jadi lebih sering pipis. Selain itu, pertumbuhan janin di dalam kandungan dapat menekan kandung kemih. Kondisi ini tentunya juga menyebabkan ibu hamil jadi sering buang air kecil. ²
"Kak, sarapan dulu yuk." Sheryl mengetuk pintu Marisa.
"Aku ngeluarin flek Sher, apa iya aku akan melahirkan?" Tanya Marisa setelah membuka pintu kamarnya.
"Biar aku cek dulu kak, sebentar ya." Sheryl pergi ke kamarnya mengambil sarung tangan sterilnya. Setelah itu memeriksa area wanita Marisa.
"Udah bukaan dua kak, mending kita ke puskesmas sekarang, masih bisa jalan kan?" Tanya Sheryl dengan tenang.
"Bisa kok, yaudah aku ambil tas di lemari." Marisa pun mengambil tas berisi perlengkapan melahirkan yang sudah ia siapkan beberapa minggu lalu.
Marisa dan Sheryl pun berjalan kaki ke puskesmas karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan mereka.
"Sher, aku beneran mau lahiran?" Tanya Marisa yang tak percaya. Kini mereka telah tiba di puskesmas.
"Insya Allah Kak, udah bukaan dua karena hamil pertama mungkin nanti malam atau besok baru ngelahirin tapi daripada Kakak di rumah sendirian mending Kakak ikut aku ke puskesmas kan, nggak mungkin juga Kakak bisa kerja."
"Jadi aku nanti malem udah siap lahiran kan Sher?"
"Insya Allah Kak, Kakak berdoa aja ya. Nanti aku temenin tidur disini karena nggak mungkin aku biarin Kakak lahiran di rumah."
"Iya Sher, makasih ya. Oh iya jangan kasih tau Andi, aku nggak mau ganggu dia."
"Tapi Kak."
"Please.. Ya.. Aku mohon."
Sheryl mengangguk. "Ya udah aku ke ruang bidan dulu ya, nanti aku sering-sering cek kesini. Oh iya Kak, aku belum bilang ini ke Kak Risa, minggu depan aku pulang ke kotaku Kak, karena aku udah dapet ijin praktek disana."
"Ya Allah Sher, kok kamu baru kasih tahu aku sekarang sih."
"Hehe maaf ya Kak, pokoknya nanti aku usahain sering-sering kesini ya. Pengasuhnya udah dapet belum sih kak?"
"Belum nih, nggak tau, Andi maunya dia yang cariin langsung, kelamaan kan jadinya kalau polisi pakek acara introgasi, jadi keburu lahiran akunya."
"Hehe sabar Kak, nanti sore aku bilang Mas Andi ya. Sebelum Kak Risa selesai cuti harus dapet pengasuhnya."
Marisa tersenyum menanggapinya, lalu Sheryl pun kembali ke ruang KIA nya.
🌱🌱🌱
Sementara di tempat lain, Elvan masih terbaring di kasurnya, berkali-kali ia buang air dan merasakan nyeri yang hebat di pinggangnya. Ia pun memutuskan untuk cuti karena ia yakin ia tak akan bisa berkonsentrasi.
"Mau ke dokter?" Tanya Kakek Darma saat melihat cucunya kesakitan.
"Nggak deh Kek, aku cuma butuh istirahat aja." Elvan menolaknya.
"El, kakek khawatir itu efek kecelakaan kamu beberapa bulan lalu jadi cepat ke rumah sakit biar dapat penanganan."
"Yaudah, aku ke dokter sama supir aja."
Elvan pun ke rumah sakit, dan setelah diperiksa hasilnya baik-baik saja. Dokter bilang mungkin karena Elvan terlalu kelelahan dan duduk terlalu lama, namun Elvan tetap minta dirawat dan istirahat di rumah sakit supaya kakeknya tidak lagi khawatir.
bersambung....
note:
sumber 1: halodoc.com
"Mengapa Hamil Kembar Air (Polihidromnnion) Berisikio Keguguran?"
sumber 2: alodokter.com
"Sering Pipis Saat Hamil? Ini Trik Mudah Mengatasinya."