
Elvan mengambil ponselnya.
Sementara Ratna yang merasa diabaikan mulai protes dengan sahabat karibnya itu.
"Dih, kalian mentang mentang pengantin baru, aku dicuekin." Kata Ratna yang terlihat cemberut.
"Eh, iya iya maaf, aku kesana dulu deh biar dapet view yang bagus." Marisa pun meninggalkan Elvan setelah melambaikan tangannya.
Ia berjalan memperlihatkan apa yang ada di pulau itu. Dan itu sukses membuat sahabatnya sejak kuliah itu merasa iri berat.
Sementara Elvan yang mengetahui kakaknya yang menelfon, segera menuju tempat penyewaan peralatan olahraga yang letaknya berlawanan dengan arah Marisa pergi.
"Assalamualaikum kak, sory ya. Tadi masih surfing." Kata Elvan.
"Waalaikumsalam, jadi benar kamu sudah menikah, wah kamu anggap aku ini siapa El?" Tanya Alvero yang berpura-pura marah dengan adiknya itu.
"Maaf kak, mendadak juga soalnya. Lagi pula kata Papa, kak Al lagi diluar negri urusan kantor. Aku nggak mau ganggu pekerjaan kakak." Kata Elvan yang mengembalikan peralatan selancarnya.
"Setidaknya kamu kasih kabar lah ke kakak, ini sama sekali nggak bilang apa-apa."
"Maaf kak, kakek gimana? Udah tau juga aku nikah kak?" Tanya Elvan.
"Ya, kakek juga tau. Tapi kamu santai saja masalah kakek jangan terlalu dipikirkan." Kata Alvero
"Setelah kalian kembali aku akan bawa istriku ke rumah kakek. Semoga kakek bisa menerima istriku." Kata Elvan.
"Oh iya, mana istrimu itu? Kamu juga belum mau mengenalkannya sama kakak?" Tanya Alvero.
"Nanti aku akan kasih kejutan ke kakak. Kapan kakak pulang?" Tanya Elvan.
"Kakak sama yang lain, senin depan udah sampek rumah kok. Kamu datang pas makan malam ya, nanti kakak ada meeting dulu mungkin agak telat tapi kakak usahakan pulang cepet buat kenalan sama adik ipar." Kata Alvero.
"Oke kak, nanti pasti kakak akan terkejut setelah tau siapa istriku. Tapi jangan sampek kakak naksir ya." Kata Elvan.
Merekapun tertawa seperti keluarga yang hangat, meskipun mereka bukan saudara kandung. Tapi persahabatan mereka semenjak kanak-kanak hingga mereka jadi saudara tiri tetap terjalin dengan baik, bahkan Alvero sangat diterima dengan baik oleh bunda Elvan semasa hidupnya, walaupun Mama Alvero melakukan hal sebaliknya.
Marisa masih sibuk berkeliling sementara Elvan kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap sholat jum'at.
Marisapun masuk ke kamar setelah sahabatnya itu puas dengan pemandangan yang ditunjukan Marisa. Melihat suaminya tengah mandi, Risapun menyiapkan baju untuk suaminya sholat jum'at.
Elvan berangkat sholat jum'at mengenakan sarung dan peci yang telah disiapkan istrinya. Di pulau itu memang tersedia masjid dan beberapa rumah ibadah lain untuk non muslim.
Sore harinya, mereka memutuskan untuk bersepeda. Mereka berboncengan mengelilingi pulau. Dan saat malam harinya mereka mendapat fasilitas makan malam romantis di pinggir pantai, bersama beberapa pasangan lainnya yang juga tengah menikmati bulan madu.
Lalu setelahnya ada pertunjukan kembang api yang dua hari sekali rutin diadakan oleh pengelola pulau.
Malam telah semakin larut mereka pun memutuskan untuk tidur karena besok mereka harus kembali ke ibukota sebelum menjalani rutinitas panjang mereka.
***
Elvan dan Marisa kini telah sampai di mobil. Setelah sebelumnya menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan speedboat. Perjalanan mereka ke ibu kota butuh waktu sekitar dua jam dengan mobil.
Setelah sampai di jalur utama menuju ibukota, mereka terjebak kemacetan. Dan Elvan yang harus berkonsentrasi tinggi dengan kemudinya membuat Marisa mengantuk dan akhirnya tertidur di dalam mobil.
Elvan yang melihat istrinya tidur dengan nyenyak hanya bisa tersenyum. Dan mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang belum pernah didatangi Marisa.
Sedangkan Marisa yang memang berfikir mereka akan pulang ke rumah kakek nenek Elvan, tak pernah bertanya kemana Elvan akan membawanya pulang.
Elvan dan Marisa telah sampai di sebuah rumah minimalis dua lantai. Di komplek perumahan yang padat itu Elvan memarkirkan mobilnya setelah turun untuk membuka pagar rumahnya.
"Rumah siapa ini mas? Kenapa kita kesini?" Tanya Marisa yang baru bangun dari tidur dan tak mengenali rumah yang mereka datangi.
Marisa sudah dua kali pergi ke rumah kakek dan nenek, jadi ia ingat betul rumah dan lingkungan tempat suaminya itu tinggal.
"Ini rumah kita sayang, kan kamu pernah tanya dimana mas parkir mobil. Ya disini, di rumah ini." Elvan selesai memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya.
"Maksud mas, mas ngontrak rumah disini untuk parkir mobil?" Marisa masih menduga-duga.
Elvan terkekeh. "Bukan sayang, ini rumah yang baru beberapa bulan lalu selesai direnovasi. Mas beli ini sekitar tiga tahun lalu dan pas punya rejeki baru mas renovasi jadi seperti sekarang." Elvan lalu melepas sabuk pengaman istrinya yang terlihat masih sedikit syock.
"Mau jalan kaki atau mas gendong nih biar cepet?" Tanya Elvan saat membukakan pintu mobil untuk Marisa.
"Aku jalan sendiri mas, malu lah kalau dilihat orang." Kata Marisa.
"Yaudah ayo cepat lihat ke dalam." Kata Elvan.
Merekapun memasuki rumah yang akan menjadi istana mereka berdua. Rumah minimalis dua lantai itu memang telah disiapkan Elvan jauh sebelum mengenal istrinya. Karena permintaan kakek nenek, ia pun hanya sesekali menginap dirumah itu dan selebihnya ia tinggal bersama kakek neneknya.
Elvan mengajak Marisa untuk berkeliling dilantai bawah. Dimana ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, satu kamar kosong dan taman kecil di belakang yang bersebelahan dengan dapur.
Lalu mereka naik ke lantai atas menuju ke kamar utama mereka. Dilantai dua itu hanya ada dua kamar. Namun dibagian belakang, Elvan membuat sebuah rooftop yang cukup luas untuk sekedar nongkrong bersama teman-temannya.
Mereka pun memasuki kamar mereka. Kamar bernuansa abu-abu yang cukup luas dengan hanya beberapa perabotan di dalamnya.
"Kamu bebas kalau mau nambah atau merubah apapun isi rumah ini sesuai keinginan kamu sayang." Kata Elvan mengecup kepala Marisa.
"Ini udah bagus banget kok mas. Aku suka sekali mas. Terimakasih ya." Kata Marisa.
"Yasudah, sekarang kita mandi dulu ya." Kata Elvan lalu mendorong tubuh istrinya menuju kamar mandi.
"Mas, aku ambil baju dulu ya." Kata Marisa yang ingin menolak untuk mandi bersama suaminya.
"Udah, nanti mas ambilin setelah mandi. Sekarang kita mandi dulu. Mandi bersama juga sunnah Rasul sayang." Kata Elvan lalu menutup pintu kamar mandinya lalu mengisi bathup dengan air.
"Mas, aku malu." Kata Marisa seolah mereka tak pernah saling melihat bagian-bagian tubuh masing-masing.
"Kenapa malu sayang." Kata Elvan lalu mencium pipi istrinya, dan melepaskan pakaian atas istrinya.
"Maaass." Kata Marisa dengan nada malu-malu namun tetap membiarkan tangan suaminya melepaskan seluruh pakaiannya.
Elvan pun melepas juga semua pakaian yang dikenakannya
"Iya sayang."
Kini keduanya sama-sama tak memakai baju. Elvan menuntun Marisa untuk masuk ke dalam bath up dan ia duduk di belakang istrinya.
Elvan menggosok lembut punggung istrinya yang putih bersih itu. Dan sesekali mencium pipi istrinya. Lalu mereka bergantian saling menggosok dan sesekali bermain air membuat mereka tertawa seperti anak kecil.
Setelah selesai mandi. Elvan memakai bajunya dan mengambil koper Marisa di mobil. Sementara Marisa yang hanya memakai handuk kimono duduk di sofa dalam kamar mereka, lalu menyalakan televisi sambil menunggu Elvan yang mengambilkan kopernya.
Elvan datang dengan koper ditangannya, lalu menghampiri istrinya yang tengah mengeringkan rambutnya.
"Sayang, boleh aku yang sisir rambut kamu?" Tanya Elvan.
Marisa pun memberikan sisir kepada suaminya. Lalu Elvan menyisir rambutnya dengan lembut. Aroma shampo yang tercium dari rambut hitam istrinya membuat Elvan betah berlama-lama menyisir rambut setengah basah itu. Padahal shampo yang dipakai Marisa juga sama dengan shampo yang biasa ia pakai. Karena mereka menggunakan shampo dari botol yang sama.
"Sayang, habis ini kita makan di luar ya. Aku lapar." Kata Elvan yang masih terus menyisir rambut istrinya.
"Kita beli bahan aja mas, nanti aku masak, ingat jangan boros."
"Sayang, aku sudah sangat lapar, sekali ini saja ya." Elvan lalu memeluk istrinya dari belakang.
"Ya sudah aku ganti baju dulu mas. Tapi setelah makan kita belanja ya." Kata Marisa lalu beranjak mengambil baju di kopernya.
Bersambung....
salam hangat kakak readers yang kécé..
terimakasih masih setia baca novel autor kece ini..
semoga suka dan tetap betah ya..
setelah ini autor kece akan kasih visual mas Elvan dan Marisa versi autor ya..
terimakasih kakak readers kece semua suportnya.
jangan lupa tinggalkan like nya ya