
Marisa baru saja melepas kepergian suaminya sampai teras rumah. Marisa akan memeriksa tanamannya yang sepertinya baru saja terjatuh, ia langsung terkejut saat melihat mobil berwarna hitam berhenti di depan pagar rumahnya. Seorang laki-laki turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk seorang yang menggunakan tongkatnya. Ya, Beliau adalah Kakek Darma, lalu kakek tua itu pun turun dari mobilnya.
Marisa mulai berdebar tak karuan, ia berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan detak jantungnya. Mau apa lagi kakek tua itu? Mau mengancam apa lagi kali ini?
Marisa tak bergerak dari posisinya, tak ada niatan untuk membukakan pagar minimalis yang telah ia kunci itu. Ia masih berpikir, bagaimana caranya lepas dari Kakek Darma. Marisa lalu merogoh saku bajunya, mencoba mencari benda pipih yang mungkin bisa menyelamatkannya dari bahaya. Aman, ponselnya ada dalam sakunya. Ia lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, mengisi pasokan oksigen dalam paru-parunya, sekaligus untuk menetralkan detak jantungnya.
"Apa kau akan diam saja dan tidak membukakan pintu?" bentak laki-laki penuh uban itu.
Marisa tersentak dari lamunannya, ia lalu berjalan dengan pelan menuju pagar depan dengan jantung yang masih berdetak kencang, tubuhnya bahkan bergetar, mungkin karena bentakan Kakek Darma atau bisa juga karena ia terlalu gugup.
Marisa merogoh kunci dalam sakunya, lalu dengan tangan yang masih bergetar ia berusaha membuka kunci gembok pagar itu. Setengah mati ia berusaha, namun tangan yang terus bergetar membuatnya tak fokus, hingga benda dengan gantungan kunci berbentuk mobil-mobilan itu pun terlepas dari tangannya.
"Kamu tidak diberi makan sama cucuku?" tanya Kakek Darma, dengan nada yang begitu mengintimidasi.
Marisa segera mengambil kunci itu, lalu berusaha kembali membuka gembok itu dan berhasil. Ia menghembuskan nafas lega, lalu segera mendorong pagar besi itu.
"Maaf, dan silahkan masuk." Marisa lalu mengajak Kakek Darma dan pengawalnya masuk, namun pengawal berpakaian serba hitam itu hanya menunggu di kursi teras.
Kakek Darma berjalan memasuki rumah, melewati teras yang begitu terawat. Rumah Elvan itu begitu terasa hidup semenjak Marisa kembali, dan Kakek Darma sadar akan hal itu.
"Silahkan duduk Kek, saya akan buatkan minuman untuk Kakek," kata Marisa penuh hormat, lalu ia menunduk untuk pamit sebentar ke dapur.
"Buatkan teh jahe," perintah Kakek Darma saat Marisa baru saja membalikkan badannya hendak menuju dapur.
Marisa yang mendengar permintaan atau bisa disebut juga dengan perintah itu lalu berbalik, kemudian ia mengangguk sambil tersenyum tipis. Hingga akhirnya ia pun berjalan cepat menuju dapurnya, membuatkan teh jahe sesuai keinginan kakek mertuanya itu.
Teh jahe buatan Marisa pun telah siap, lengkap dengan beberapa kue kering yang Marisa buat sendiri beberapa waktu yang lalu.
"Ini Kek, silahkan diminum." Marisa meletakkan cangkir berisi teh itu di meja depan Kakek Darma.
"Kenapa sepi sekali? Apa kamu menyembunyikan mereka semua agar tidak kurebut darimu?" tanya Kakek Darma setelah memeriksa waktu lewat jam di pergelangan tangan kanannya.
Marisa menelan salivanya susah payah. "Mas Elvan kembali ke bengkel Kek, kalau anak-anak sedang tidur," kata Marisa berusaha tak gugup.
"Emm baiklah, nanti setelah mereka bangun aku bisa membawanya." Kakek Darma lalu meraih cangkir teh, lalu menyeruput teh hangat bercampur jahe itu. Rasanya sangat hangat, dan Kakek Darma begitu menyukainya, sama persis buatan almarhum istrinya.
"Saya tidak akan membiarkan Kakek membawa mereka, mereka anak-anak saya." Marisa menatap kakek kandung suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Kakek Darma yang kini menikmati kue buatan Marisa.
Wanita ini pintar juga membuat makanan.
"Karena saya yang melahirkan mereka, sekalipun Kakek membunuh saya, itu tidak akan merubah kenyataan bahwa saya lebih berhak atas mereka daripada Kakek." Marisa menatap tajam laki-laki berpakaian santai di depannya itu, mata Marisa sudah mulai memerah, menahan amarah dalam hatinya.
"Mama…. Mama dimana?" suara serak bocah kecil yang menuruni tangga, mencari cari dimana ibunya berada.
"Ma…. Zea haus Ma, Mama di mana?" Gadis itu terus memanggil mamanya.
Marisa semakin berdebar, hatinya semakin tak karuan, matanya sengaja ia penjamkan, dalam hatinya berdoa, jangan sampai Kakek Darma menemukan putrinya itu.
"Di sini…. Mama kamu di sini." Kakek Darma yang juga mendengar teriakan gadis kecil itu pun menjawab, ia juga ingin melihat secara langsung bagaimana wajah cucu perempuannya itu.
"Mama…. Mama sama siapa?" tanya Zea yang masih berjalan pelan menuruni anak tangga.
"Saya mohon, jangan lakukan ini," pinta Marisa yang mulai menitikkan air mata, ia begitu ketakutan jika harus kembali dipisahkan dengan anak-anaknya.
"Mama…. Mama kenapa?" tanya Zea yang berhasil menemukan ibunya itu.
"Kamu Zea?" Kakek Darma tersenyum saat melihat Zea nampak berantakan karena baru bangun tidur, rambutnya panjangnya begitu kacau.
"Kakek ini siapa?" tanya Zea yang tak pernah melihat Kakek Darma sebelumnya.
"Kalau Zayn manggilnya Kakek Uyut, Zea juga boleh memanggil Kakek Uyut, sini." Kakek Darma mengisyaratkan tangannya agar Zea mendekat ke arahnya.
Zea menatap Marisa, gadis kecil itu tak berani mendekati Kakek Darma tanpa persetujuan ibunya. Sementara Marisa hanya diam tak merespon.
"Maaf Kek, tapi kalau Mama nggak mengijinkan Zea, Zea nggak mau dekat Kakek," jawab gadis kecil itu jujur, ia lalu merengkuh tubuh Marisa yang kemudian langsung menangis dalam pelukan hangat putrinya.
Zayn yang juga sudah bangun ikut menyusul Zea, namun, pria kecil itu menemukan saudara kembarnya tengah memeluk Mamanya yang menangis. Ia lalu berlari memeluk Marisa, bocah tampan yang juga baru bangun tidur itu menemukan kakek buyutnya ada di sana.
"Mama kenapa?" tanya Zayn khawatir. "Apa yang Kakek Uyut lakukan sama Mamaku?"
"Kakek kesini cuma mau ketemu Zayn dan Zea, tapi Mamamu sepertinya memang cengeng," kata Kakek Darma yang tak merasa bersalah.
"Jangan sakiti Mamaku, aku nggak akan mau jadi cucu Kakek lagi kalau Kakek masih jahat." Zayn benar-benar marah, tangannya mulai mengepal kuat.
Marisa yang melihat putranya begitu marah akhirnya menghapus air matanya, lalu memeluk erat Zayn dan Zea.
Namun Zayn masih tetap menatap Kakek Darma dengan mata tajam yang menusuk.
"Marisa, Kakek kesini mau minta maaf sama kamu, Kakek cuma mau ketemu Zayn dan Zea. Jangan salah paham," kata Kakek Darma setelah melihat tatapan menusuk dari Zayn.
Marisa terkejut mendengar kata-kata Kakek Darma. Namun, hatinya tak mau mempercayai begitu saja ucapan laki-laki yang pernah menghancurkan hidupnya itu.
Kakek Darma bangun dari duduknya, lalu menghampiri Marisa dan anak-anaknya yang berada di ujung sofa berlawanan dengan duduknya tadi.
"Marisa, maafkan atas semua perbuatan Kakek selama ini, Kakek menyesal. Mungkin kamu tidak akan bisa memaafkan Kakek, tapi Kakek benar-benar menyesal Marisa." Kakek Darma merangkul tubuh Marisa yang masih memeluk kedua anaknya.
"Maafkan Kakek Zayn…. Maafkan Kakek Zea…." Kakek Darma mengusap lembut rambut Zea yang masih berantakan.
"Apa Kakek tidak bohong?" tanya Zea dengan polosnya.
"Tidak Zea sayang…. Kamu sungguh mirip Nenek Uyutmu," jawab Kakek Darma yang mengamati wajah cantik Zea.
"Apa maksud Kakek Zea kayak nenek-nenek?"
Bersambung....
**kira-kira dimaafkan nggak ya??
oke, jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian.
terimakasih masih setia menunggu kelanjutannya 🙏🙏
sun sayang untuk kalian semua 🥰🥰😘😘😘**