
...🌼Happy Reading🌼...
Bintang-bintang berkelip menghias langit, mengelilingi bulan yang bersinar sempurna. Malam itu, begitu indah karena cuaca yang begitu cerah, angin juga berhembus sangat pelan. Suara nyanyian juga iringan gitar mencipta keramaian di atap rumah yang terbuka itu.
Para laki-laki yang merupakan sahabat Elvan itu tengah bercengkrama dibawah sinar bulan, sementara para wanita tengah asik memanggang sosis dan juga daging yang baru saja dibawa Ratna.
Elvan sendiri tengah duduk di ayunan sembari meminum teh yang dibuatkan Marisa dan para wanita pacar teman-temannya itu. Galih menghampirinya, sedangkan teman-temannya yang lain ada di gazebo sedang bermain gitar sambil bernyanyi.
"Van, gue udah dapet info siapa yang nabrak Marisa waktu itu." Kata Galih yang juga membawa gelas berisi tehnya.
"Serius? Dimana dia sekarang?" Tanya Elvan tak sabaran.
"Udah ditangkap polisi Van, besok kita bisa kesana. Mungkin polisi juga akan meminta keterangan Marisa." Galih meminum tehnya.
"Jadi Marisa tetap harus bertemu si penabrak itu." Elvan terlihat tak suka.
Galih mengangguk. "Polisi bilang itu unsur ketidak sengajaan, tapi untuk lebih yakin elu bisa tanya langsung di kantor polisi besok."
Elvan meminum habis tehnya. Lalu memperhatikan istrinya dari kejauhan. Marisa mulai mengukir lagi senyumnya yang sempat hilang. Sepertinya wanita cantik itu sudah mulai menata hatinya.
"Oke, besok kita ke kantor polisi." Kata Elvan lalu berjalan bersama Galih menuju gazebo menghampiri teman-temannya.
Elvan mengambil alih gitar mereka, ia mulai memetik senar-senar itu menciptakan nada-nada yang indah. Namun pandangannya lebih fokus kepada Marisa yang tengah memanggang sosis.
"Ris mau lagu apa?" Tanya Dika yang melihat Marisa melirik Elvan sekilas.
"Sayang duduk sini." Elvan menepuk-nepuk papan tempat kosong disebelahnya.
Marisa pun mendekati suaminya itu. "Kamu mau Mas nyanyiin lagu apa?" Tanya Elvan yang mengelus lembut pipi istrinya.
"Cie cie, suit suit." Teriak teman-teman Elvan, lalu para wanita juga ikut bergabung, ada tiga teman Elvan yang membawa pacarnya. Mereka mulai memakan sosis dan daging yang sudah matang.
"Aku malu mas." Kata Marisa yang pipinya telah merah merekah.
Elvan lalu mengecup kening istrinya.
Semakin riuh teman-temannya bersorak menyaksikan kemesrahan Elvan dan Marisa.
Elvan tersenyum, dalam hatinya ia berdo'a agar istrinya kembali bahagia. Lalu ia memainkan sebuah lagu romantis dari Andmesh Kamaleng-Cinta Liar Biasa
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Setelah itu Elvan menyanyikan lagu lama dari Ungu-Tercipta Untukku
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuat ku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata
Yang tak mampu kuungkapkan
Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah
Yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku
Elvan mengungkapkan isi hatinya lewat lagu-lagu yang ia nyanyikan. Marisa berkali-kali tersipu karena Elvan terus menatap wajahnya sambil memainkan gitarnya. Seakan disana hanya ada mereka berdua, padahal teman-teman mereka menonton keromantisan dua insan yang baru saja berduka itu.
***
Mentari pagi mulai bersinar menembus kaca jendela kamar Elvan dan Marisa, namun sang pemilik kamar telah bersiap menuju tempat kerjanya.
Marisa telah memutuskan untuk masuk kerja setelah cuti karena kecelakaan beberapa hari lalu.
"Mas, nanti jadi ke kantor polisinya?" Tanya Marisa yang membantu suaminya mengeringkan rambutnya.
"Iya sayang, nanti jam makan siang mas jemput ke kantor ya, setelah makan siang baru kita kesana." Elvan memegang tangan Marisa yang masih mengeringkan rambutnya, lalu mencium tangan itu.
"Mas, kata dokter kita harus nunda kehamilan dulu, apa Mas Elvan nggak papa?" Marisa menyisir rambut suaminya.
"Sayang, Mas ralat deh kata-kata mas awal kita nikah. Mas nggak buru-buru ingin punya anaknya. Sekarang Mas ingin kamu bahagia, apapun keadaan itu sayang, kita pacaran dulu gimana?" Elvan menatap istrinya yang masih sibuk menyisir rambut tebal miliknya.
"Pacaran halal?" Tanya Marisa tersenyum.
"Iya, pacaran halal aja, sebatas ci*man sampai kamu dapetin haid normal." Elvan mengerlingkan matanya yang membuat Marisa gemas dan mencubit pipi Elvan
Elvan tersenyum bahagia melihat istrinya kembali ceria.
***
Marisa kini sudah berada di meja kerjanya. Namun Sasha juga masuk ke ruangan itu setelah Marisa datang. Tak lama Alvero dan Kevin juga telah sampai di depan ruangannya.
"Kamu udah masuk kerja?" Tanya Alvero kepada Marisa.
"Iya Kak, aku udah baikan kok, bosan kalau di rumah." Kata Marisa.
"Baiklah, Sasha kamu bisa kembali ke tempat kamu ya, biar Marisa yang handle." Kata Alvero setelah memperhatikan Marisa baik-baik saja.
Alvero masuk ke ruangannya, beberapa masalah di kantor membuatnya harus datang lebih pagi dari biasanya.
"Risa kamu tahu tidak, saham kita menurun drastis." Kata Kevin setelah Sasha meninggalkan mereka.
"Apa? Kok bisa pak?" Marisa tak percaya, belum ada seminggu ia meninggalkan kantor, kenapa saham perusahaan menurun drastis.
"Jadi, Direktur keuangan kita, diam-diam mempengaruhi pemegang saham untuk menjual sahamnya, dan dia diam-diam juga sudah mendirikan perusahaan yang akan menjadi saingan kita, dan para pemegang saham itu akhirnya bergabung dengannya." Kata Kevin menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan pemegang saham yang lain pak? Apa mereka juga menjual sahamnya?"
"Sepertinya akan begitu, jika saham terus menurun.. Kecuali..." Kevin ragu melanjutkan ucapannya.
"Kecuali apa pak?" Tanya Marisa penasaran.
"Kecuali ada berita mengejutkan yang akan membantu menaikkan harga saham kita." Kata Kevin pada akhirnya.
"Berita apa pak?"
"Kevin. Kevin." Suara Alvero memanggil asistennya itu.
"Aku kesana dulu." Kevin pun segera masuk ke ruangan Alvero.
Marisa jadi dibuat penasaran dengan kata-kata Kevin. Berita apa yang akan menaikkan harga saham?
"Iya bos." Kata Kevin saat masuk ke ruangan Direktur Utama itu.
"Kevin, apa menurutmu apa Elvan mau bergabung dengan perusahaan." Alvero duduk di kursi direkturnya.
"Maksudnya, bos akan membuat berita bahwa Elvan bergabung dengan perusahaan agar saham kita naik?" Tanya Kevin tak mengerti.
"Bukan, aku tidak akan mengundang wartawan. Saat ini mereka terus mengintai mencari tahu keadaan perusahaan jadi dengan sendirinya mereka akan menyebarkan berita tentang Elvan. Aku dan Papa sudah berencana menjadikan Elvan direktur keuangan yang baru. Itu pasti akan jadi berita besar." Kata Alvero dengan yakin.
"Masalahnya Elvan sekarang sedang sibuk dengan bengkel cabangnya yang baru, apa dia mau bergabung dengan kita? Tapi ada satu cara yang bisa kita coba bos." Kata Kevin seolah mendapat pencerahan.
"Apa?" Tanya Alvero dengan semangat.
"Kita buat Marisa mempengaruhi Elvan bos, mungkin Elvan akan menuruti kata-kata Marisa, Elvan kan cinta mati sama istrinya itu bos. Ups.." Kevin tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
To be Continued
Alhamdulillah up 2 bab untuk hari ini.
Semoga terhibur ya.
Jangan lupa tinggalkan like dan koment.
kritik yang membangun sangat autor tunggu ya.
Terimakasih Readers kece😍😍