My Amazing Husband

My Amazing Husband
Jangan Ganggu Keluargaku


Mobil CRV crystal black pearl milik Elvan melaju kencang membelah jalanan ibu kota, pengemudinya seolah ingin meluapkan kekesalannya pada sahabat sekaligus orang kepercayaannya di bengkel.


Elvan yang sebelumnya ingin melanjutkan kegiatan panasnya semalam, harus merelakan adiknya terkulai lemas tanpa pelepasan. Menggerutu kesal, sambil merapal umpatan-umpatan untuk sahabat sekaligus partner kerjanya itu.


Mobil Elvan berhenti di bengkel yang selalu ramai seperti biasa, disana sudah terparkir cantik mobil jenis Brio milik Galih, dan juga mobil BMW hitam milik Pak Erwin. Elvan turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa, tanpa basa-basi ia pun melesat masuk ke dalam bengkel menuju ruangannya.


"Ada apa?" Tanya Elvan saat memasuki ruangannya.


Aura tegang meliputi ruangan berpendingin itu, Elvan yang sebelumnya sudah menyusun kata-kata makian untuk Galih, kini justru ikut tegang melihat wajah serius Papanya.


"Papa udah keluar dari perusahaan El." Kata Pak Erwin yang telah duduk di sofa ruangan Elvan, di hadapannya telah tersedia softdrink yang sepertinya telah disuguhkan Galih saat Beliau datang.


Elvan duduk disebelah Pak Erwin, mencoba mendengar penjelasan dari ayahnya itu, tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara Galih yang memahami situasi, memilih untuk keluar meninggalkan anak dan ayah itu agar leluasa berbicara.


"Kenapa Pa?" tanya Elvan heran, Papanya itu orang yang profesional, tidak mungkin kan beliau keluar dari perusahaan keluarga itu, hanya karena Elvan yang memutuskan untuk meninggalkannya.


"Papa udah capek ngikutin kemauan Kakek kamu El, Papa mau nikmati hari-hari Papa aja, main-main sama cucu-cucu Papa, terserahlah Kakek kamu mau gimana sama perusahaan." Ucap Pak Erwin pasrah, Beliau terlihat sangat lelah dengan sifat Kakek Darma yang egois dan tak peduli dengan orang lain.


"Terus rencana Papa apa?" Elvan yakin jika keluar dari perusahaan, Papanya pasti keluar dari rumah besar juga.


"Papa akan pulang ke villa Papa, villa yang dulu kita tinggali sama Bundamu El, villa itu satu-satunya saksi yang masih menyimpan semua kenangan tentang Bundamu. Papa ingin menikamati hari-hari Papa sama wanita yang Papa cintai, walau itu hanya kenangannya." Pak Erwin begitu sedih, ditinggal pergi selamanya oleh orang yang sangat dicintai memang sangat menyakitkan.


"Aku akan bicara dengan Marisa Pa, siapa tau dia setuju tinggal sama-sama Papa, atau Papa mau tinggal di rumahku?" Kata Elvan yang khawatir jika Papanya akan kesepian tinggal di villa itu.


"Nggak El, Papa pengen di villa aja, Papa kangen Bundamu." Pak Erwin menarik nafas berat, "Kalau kamu ada waktu ajaklah anak-anakmu juga Marisa ke villa kita dulu El."


"Yasudah kalau itu maunya Papa, tapi kalau ada apa-apa cepet hubungin Elvan Pa."


"Off course, don't worry. Oh iya, tadi pagi kamu kemana? Papa chat kamu nggak kamu balas, sampek Galih maksa buat nelfonin kamu." Pak Erwin memang telah mengirim beberapa pesan sebelum datang ke bengkel Elvan. Dan saat tahu Elvan belum datang, Galih pun menelfon Elvan berkali-kali.


"Emmmm itu..." Elvan memijit tengkuknya, "Elvan tadimau olah raga, tapi nggak jadi Pa."


"Oh gitu, istri kamu masih kerja di tempat Al?"


"Enggak Pa, dia udah resign, dan mulai hari ini dia di rumah aja ngurus rumah sama anak-anak."


"Papa bangga sama kamu El, semoga rumah tanggamu dijauhkan dari segala mara bahaya." Pak Erwin menepuk bahu Elvan.


"Aamiin makasih Pa." Elvan tersenyum, berharap do'a do'a baik itu bisa terkabulkan.


"Terus gimana dengan Sylvia? Apa kamu sudah bicara dengan keluarganya?" Tanya Pak Erwin serius.


Elvan menarik nafas berat, "Belum Pa, kemarin aku ketemu dia, dan dia bilang apapun yang terjadi dia harus menikah denganku. Aku benar-benar pusing Pa, apa lebih baik aku mengatakan langsung pada orang tuanya ya Pa?"


"Ya sebaiknya memang begitu, pernikahanmu dan Sylvia itu kan merger perusahaan, kalau dibatalkan pasti banyak kerugian, tapi ya tetep aja kamu harus tegas, semua akan ada resikonya."


"Aku akan berikan semua sahamku kalau mereka memintanya Pa." Elvan pasrah, karena ia tahu, tidak akan mudah membatalkan pertunangannya itu.


"Ya, tidak semudah itu El, saat mereka mendapat semua sahammu, lalu mereka menjualnya kepada orang yang memiliki saham kita juga, bisa-bisa perusahaan akan diambil alih orang tersebut, saham kamu itu banyak El."


"Lalu aku harus bagaimana Pa?"


"Kita pikirkan lagi nanti kalau mereka memang meminta sahammu."


🌱🌱🌱


Marisa menghampiri Kakek Darma dengan membawa teh dan beberapa cemilan di atas nampan, lalu meletakkannya di hadapan Kakek Darma.


"Silahkan diminum Kek." Ucapnya dengan jantung berdebar-debar, entah apa lagi yang diinginkan kakek tua ini darinya.


Kakek Darma hanya diam tak menjawab, Beliau hanya menyeruput teh hijau yang disuguhkan Marisa.


Marisa duduk dengan wajah menunduk, ia takut jika Kakek Darma akan mengancamnya lagi, atau mungkin melakukan hal yang lebih buruk lagi.


"Kamu sudah tahu calon tunangan Elvan?" Tanya Kakek Darma setelah meletakkan cangkir tehnya.


"Iya." Jawab Marisa masih tertunduk, jantungnya masih berdebar-debar memompa dengan cepat membuat nafasnya tak beraturan.


"Belum banyak yang tahu kalau kamu masih istri Elvan, seluruh negara ini bahkan tahu jika Elvan akan menikahi Sylvia, lalu jika tiba-tiba pertunangan mereka batal, kira-kira apa yang akan terjadi dengan hidup Elvan?" Kakek Darma berkata dengan santai, bahkan senyum tipis terukir diujung bibirnya.


"Apa Kakek akan menghancurkan Mas Elvan, cucu Kakek sendiri?" Marisa mengangkat sedikit wajahnya, takut-takut ia coba menatap mata Kakek Darma.


"Walau bukan aku yang menghancurkan Elvan, bisa saja orang tua Sylvia yang melakukannya. Mereka bukan orang sembarangan, orang sepertimu mana bisa memahami bisnis, bahkan kamu tidak akan bisa membayangkan berapa trilyun kerugian perusahaan jika pernikahan mereka batal. Karena ini adalah pernikahan bisnis." Kakek Darma menatap sinis pada Marisa yang mulai merasa terancam.


"Lalu apa yang Kakek inginkan? Apa Kakek akan mengancamku untuk menceraikan Mas Elvan?" Marisa mencoba berani, ia yakin Elvan tidak akan membiarkan ada perceraian diantara mereka.


"Itu terserah kamu, kalau kamu mau berpisah dengan Elvan dan juga anak kembarmu silahkan, tapi aku bisa memberi penawaran yang lebih baik." Kakek Darma mulai mengelus kepala tongkat yang setia menemaninya kemanapun.


"Apa?" Marisa setengah mati berusaha menahan tangisnya, hatinya bergetar hebat, sungguh ia begitu menghormati Kakek Darma dan mungkin tak akan berani melawannya sendiri.


"Ijinkan Elvan menikah lagi."


Duar.


Hati Marisa seakan meledak, ia bahkan tak pernah mau membayangkan hidup berbagi suami dengan wanita lain. Tidak.! Mengijinkan suami menikah lagi sama halnya dengan menancapkan pisau tepat di jantungnya sendiri. Melihat suaminya bersama wanita lain saja ia sudah cemburu, apa lagi jika harus menyaksikan suami berbagi kehangatan dengan wanita lain.


Marisa menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Bahkan air matanya sudah tak mampu ditahan.


"Hanya selama dua tahun saja, setelah itu Elvan bisa menceraikan Sylvia." Kata Kakek Darma.


Air mata Marisa akhirnya meluncur juga di wajah cantiknya. Tak sanggup lagi ia membendung genangan di matanya itu. Kata-kata Kakek Darma benar-benar menyayat hatinya. Bagaimana mungkin ia sanggup hidup dimadu walau hanya dua tahun. Marisa semakin terisak, tidak bisa, ia harus apa untuk melawan keinginan kakek tua itu.


"Apa Mas Elvan sudah setuju untuk menikah lagi?" Sela Marisa ditengah isaknya.


"Siapa yang akan menikah lagi?" Suara laki-laki yang sangat dikenali Marisa tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.


Marisa mendongakkan kepalanya, untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar.


"Mas.." Marisa berlari untuk memeluk suaminya yang masih berdiri di pintu rumahnya.


"Ada apa sayang?" Elvan melihat wajah istrinya yang basah karena air mata. "Apa yang dikatakan Kakek?" Elvan menatap istrinya yang masih menangis, lalu ia memeluknya agar memberikan rasa aman untuk Marisa. "Jelaskan Kek, apa yang Kakek katakan kepada istriku?" Teriaknya kepada Kakek Darma.


"Kakek hanya memberi tahu istrimu supaya bisa berfikir, kalau dia merasa bagian dari keluarga Wiguna, seharusnya dia bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan." Kakek Darma beranjak dari sofa hendak meninggalkan sepasang suami istri yang saling berpelukan itu.


"Jangan pernah mengganggu keluargaku lagi Kek, apalagi sampai mengancam istriku. Aku tidak akan tinggal diam."


"Pikirkan saja apa yang harus kamu lakukan jika keluarga Sylvia tidak terima dengan pemutusan hubungan sepihak ini." Kakek Darma lalu meninggalkan Elvan dan Marisa, masuk ke dalam mobil bersama pengawalnya dan meninggalkan rumah Elvan


bersambung....


jangan lupa like, koment dan votenya ya readers kece badai 😄😄 kirim-kirim bunga atau kopi juga boleh, biar Othor dapet hidayah untuk cepet-cepet Up 🤭🤭🤭