
Pertemuan Marisa dengan penyedia jasa penyelenggara acara atau event organizer yang disingkat menjadi EO, berlangsung lancar. Zayn dan Zea masing-masing menginginkan tema karakter yang berbeda. Namun berkat profesionalisme EO yang dipilih kakek Darma, perbedaan itu tak menjadi masalah yang berarti.
Kini, Marisa telah sampai di rumah bersama kedua anaknya. Sopir yang mengantar mereka pun telah kembali ke kantor. Marisa kemudian menyuruh anak-anaknya untuk bersih-bersih, sedangkan ia sendiri memilih untuk mulai memasak.
"Sayang…."
Elvan yang baru pulang langsung menghampiri istrinya di dapur.
"Mas…. Udah pulang?" tanya Marisa yang baru saja memakai apronnya.
"Iya sayang, kamu juga baru pulang?" Elvan melepas jas hitamnya dan meletakkannya di kursi bar.
"Iya Mas, baru aja kok, aku belum masak loh Mas, Mas udah lapar ya? Maaf ya Mas." Marisa memperhatikan suaminya yang kini berjalan mendekatinya.
Elvan langsung memeluk tubuh Marisa dengan erat. Sedangkan Marisa merasa heran dengan suaminya yang begitu manja.
"Ada apa sih Mas, aku masih bau nih," protes Marisa.
"Nggak papa, pengen peluk aja." Elvan tak melepaskan pelukannya, ia malah menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri, membuat Marisa ikut bergerak mengikuti gerakan suaminya itu.
"Mas kenapa sih, sesak nafas nih aku," kata Marisa yang kini mulai mencubit pelan pinggang Elvan.
"Aww….. aww…. Aww…. Sakit…." Elvan melepas pelukannya dan langsung memegang pinggangnya yang tadi dicubit pelan oleh Marisa.
"Emang sakit beneran Mas?" tanya Marisa yang kini merasa bersalah.
"Sakit banget sayang, mesti banyak gerak maju mundur nih biar sembuh." Elvan masih berpura-pura kesakitan.
Marisa merasa aneh dengan jawaban Elvan. Ia menatap tajam suaminya yang masih berpura-pura kesakitan.
"Kenapa melotot? Ayo sembuhin sekarang!" ucap Elvan yang kini mengacak rambut istrinya.
"Emm…. Harus gerak maju mundur ya biar sembuh?" tanya Marisa yang mengerti arah pembicaraan Elvan.
"Iya sayang, yuk sini." Elvan meraih tangan Marisa lalu mengajaknya ke kamar tamu.
Setelah membuka pintu kamar itu, Elvan langsung menutup pintu dan berniat menggendong Marisa ke ranjang.
"Stop!" Marisa mengangkat tangan kanannya tepat di hadapan Elvan.
"Kenapa?" tanya Elvan yang mulai bingung, ia pikir istrinya paham dengan maksudnya tadi.
"Push-up juga termasuk gerak maju mundur. Jadi sekarang Mas push-up aja biar sembuh, aku mau masak." Marisa membuka pintu lalu meninggalkan suaminya yang diam terpaku.
Marisa berjalan kembali menuju dapur. Acara memasaknya jadi tertunda karena ulah suaminya itu. Ia menggerutu kesal, mengingat anak-anaknya mungkin saja tengah kelaparan saat ini.
"Sayang, maksud Mas bukan itu loh." Elvan meraih gelas lalu menuangkan air dan meminumnya.
"Udah deh Mas, aku belum masak nih, anak-anak pasti lapar, Mas nggak lapar emangnya?" tanya Marisa setengah kesal.
"Nggak usah masak sayang, Mas tau kamu lelah, kita makan di luar aja ya." Elvan menampilkan senyum menawannya.
"Tapi Mas…."
"Sayang, Mas nggak mau kamu sakit, Mas tau kamu capek, jadi sekarang kita makan di luar aja ya." Elvan melepas apron yang dipakai Marisa. Lalu menuntunnya untuk ke kamar mereka di atas.
🌱🌱🌱 M.A.H 🍀🍀🍀
Elvan mengajak anak istrinya untuk makan di sebuah restoran, Ia tahu, istrinya kelelahan setelah pergi mencari kostum dan juga menemui EO untuk ulang tahun anak kembar mereka.
"Mas, gimana tadi urusan dengan keluarga Sylvia?" tanya Marisa yang kini telah duduk di mobil di samping Elvan.
"Emm…. Udah beres kok sayang, udah tanda tangan serah terima juga," jawab Elvan yang dibalas dengan anggukan Marisa.
Elvan menatap istrinya, ia tahu istrinya akan merasa iba jika ia menceritakan tentang sakit Sylvia. Dan ia tak ingin melihat istrinya tersentuh jika mengetahui Sylvia benar-benar sakit parah.
🌱flash back on🍀
Melihat Sylvia yang pingsan dan mengeluarkan darah dari hidungnya membuat Elvan dan semua yang ada di ruangan Elvan panik, lalu mereka segera membawa Sylvia ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Sylvia langsung mendapat penanganan dari dokter. Kebetulan mereka membawa Sylvia ke rumah sakit tempat ia biasa memeriksakan diri.
"Bagaimana keadaannya?" tanya laki-laki yang merupakan kakak kandung Sylvia.
"Masih diperiksa dokter. Emang dia sakit apa Sam?" tanya Elvan kepada Samuel, kakak Sylvia.
"Aku nggak tau El, karena dia nggak pernah cerita, kamu tau sendiri kan Papi gimana ke dia?" Samuel menarik nafas berat.
Lalu dokter keluar dari ruangan Sylvia.
"Keluarga pasien ada? Saya mau bicara sebentar," tanya dokter itu.
"Iya saya kakaknya." Samuel berdiri mengikuti dokter itu.
Mereka terlihat obrolan yang cukup serius. Elvan pun meminta Kevin untuk pulang, sementara pengacara pak Danu telah pamit pulang setelah kedatangan Samuel.
Kini tinggal Elvan yang duduk sendiri menunggu Samuel yang masih berbicara dengan dokter Sylvia.
"Gimana?" tanya Elvan saat Samuel menghampirinya.
Samuel duduk di kursi tunggu, tepat di sebelah Elvan.
"Sylvia terkena leukimia El, dokter menyarankan untuk operasi sumsum tulang," jawab Samuel yang kini menatap kosong ke depan.
Elvan menepuk pundak Samuel.
"Sabar Sam, aku cuma bisa mendoakan semoga Sylvia lekas sembuh."
Samuel mengaminkan doa Elvan, lalu Elvan pun pamit karena hari semakin sore.
🌱flash back off🍀
"Ma, Pa, Zayn sama Zea mau tidur sendiri Ma, Pa," kata Zayn.
"Iya Ma, Pa, Zea sama Zayn kan udah mau lima tahun, jadi kita udah besar kan Ma, Pa?" Zea dengan wajah imutnya membenarkan kata-kata Zayn.
"Wah, hebat dong! Anak Papa emang udah besar ternyata," puji Elvan kepada anak-anaknya.
"Kalau gitu, kita boleh minta kado adik kan Pa?" tanya Zea yang begitu tak sabar menjadi kakak.
"Em, nanti Papa sama Mama usahain ya, tapi nggak bisa kalau kadonya adik." Elvan bingung menjelaskan maksudnya kepada Zea.
Marisa hanya tersenyum melihat suaminya yang salah tingkah dengan pertanyaan anak-anaknya.
"Ma, emang kapan adiknya bisa ada di perut Mama?" tanya Zayn yang tak puas dengan jawaban Elvan.
Marisa dan Elvan saling melirik, mereka cukup kebingungan menjelaskan bagaimana proses bayi berada di rahim ibu mereka.
Sementara kedua bocah yang akan segera berulang tahun itu, menunggu dengan penasaran, karena mereka telah berdiskusi berdua setelah melihat bayi Ratna kemarin. Zayn dan Zea akhirnya memutuskan untuk pindah kamar sesuai saran Elvan dulu agar mereka segera mempunyai adik.
"Jadi kapan Ma kita punya adik?" Zea mulai tak sabar, gadis kecil itu mulai mendesak ibunya agar segera menjawab.
Marisa memberi kode kepada suaminya, namun Elvan langsung menatap jalanan di depannya, ia memilih kembali fokus menyetir.
Marisa pun mau tak mau akhirnya menjawab rasa penasaran anak-anaknya.
"Emmm…. Jadi gini sayang, kita harus berdo'a sama Allah dulu, kalau Allah melihat kalian berdoa dengan tulus, pasti akan dikabulkan Allah, dan adiknya akan segera hadir di perut Mama," jawab Marisa setelah berpikir keras. Marisa berharap dua bocah itu bisa menerima dan tak bingung dengan jawaban yang ia berikan.
Bersambung….
Mumpung hari senin, boleh dong minta vote nya 🤭
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Pasti Othor balas kok 🤭🤭
Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🤭🤭
Terima kasih banyak readers masih setia terus 🤗🤗🤗🤗
Mau kenal Othor?
Boleh kepoin ig othor di: ittaharuka