My Amazing Husband

My Amazing Husband
Siapa yang Sakit


Perjalanan panjang yang mereka lewati, mengingatkan Marisa dengan jalanan menuju kota di mana ayahnya tinggal.


"Mas, ini jalan ke rumah Ayah kan?" tanya Marisa kepada laki-laki yang masih sibuk dengan kemudinya itu.


"Emmm, iya kali." Laki-laki itu kembali fokus dengan kemudinya.


"Ihh, Mas Elvan nih nyebelin deh." Marisa mengerucutkan bibirnya.


Elvan terkekeh dengan ekspresi istrinya, lalu ia melirik kaca spion diatasnya, mengamati apa yang dilakukan kedua bocah itu di belakangnya.


Zayn sedang mengamati jalanan melalui kaca jendela, sedangkan Zea, gadis kecil itu masih fokus mengunyah snack yang digenggamnya.


"Zayn, ingat nggak ini jalan ke mana?" tanya Elvan kepada putranya itu.


"Nggak tau, Zayn nggak ingat," jawab Zayn.


Elvan pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, putranya itu terkadang bersikap begitu dingin.


Mobil yang mereka tumpangi pun, melaju semakin jauh meninggalkan ibu kota. Marisa sangat ingat, jalan yang mereka lewati, adalah jalan menuju rumah ayahnya. Namun, sang suami yang masih setia dengan kemudinya, selalu mengabaikan tiap kali Marisa bilang ingat jalan itu.


Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah yang sangat Marisa kenali, rumah ayah yang telah lama ia rindukan.


"Mas…." Marisa berkaca-kaca saat Elvan melepaskan sabuk pengamannya.


"Iya Sayang, Mas tau, istri Mas ini sangat merindukan Ayah, jadi Mas ajak wujudkan kerinduan itu," kata Elvan yang kini melepaskan sabuk pengaman Marisa.


"Makasih ya, Mas." Marisa memeluk erat suaminya, ia begitu terharu dengan kejutan kecil yang dilakukan suaminya.


Setelah itu, Elvan dan Marisa keluar dari mobil. Zayn yang tertidur harus digendong oleh Elvan, sedangkan Zea digandeng Marisa menuju rumah pak Rahmad.


"Assalamualaikum." Marisa mengetuk pintu rumahnya yang terbuka.


Tak ada jawaban.


"Assalamualaikum." Elvan ikut mengucapkan salam, dengan Zayn yang masih terlelap dalam gendongannya.


"Ini rumah siapa Ma?" tanya Zea yang sibuk mengamati sekeliling rumah kakeknya.


"Ini rumah Kakeknya Zea, Ayahnya Mama sayang," jawab Marisa.


"Waalaikumsalam." Pak Rahmat menyahut dari belakang rumahnya. Beliau buru-buru keluar untuk melihat siapa yang bertamu di rumahnya, pagi menjelang siang itu.


Marisa langsung memeluk ayahnya setelah melihat pak Rahmat yang keluar dari dalam rumah.


"Ayah." Marisa menangis sambil memeluk laki-laki yang enam tahun ia rindukan.


"Alhamdulillah kamu sudah kembali, Nduk." Pak Rahmat membalas pelukan putrinya.


Cukup lama mereka saling melepas kerinduan.


"Eh, Zayn tidur ya, bawa masuk saja, Nak Elvan, kamarnya nggak dikunci kok," kata Pak Rahmat setelah melepas pelukan Marisa.


"Iya Yah." Elvan pun masuk menuju kamar Marisa, lalu segera merebahkan tubuh putranya di ranjang.


"Yah, ini anakku juga, kembarannya Zayn. Ayo sayang, salim dulu." Marisa menuntun tangan Zea untuk mencium tangan Pak Rahmad.


"Wah! Cantiknya cucu Mbah Kung." Pak Rahmat menggendong cucu perempuannya.


Ini adalah pertemuan pertama mereka, namun keduanya tak terlihat canggung. Zea tersenyum manis dalam gendongan kakeknya.


Kini mereka duduk di ruang tamu, Elvan duduk di sebelah Marisa, sedangkan Zea bermanja di pangkuan Pak Rahmad.


"Kamu kemana saja selama ini?" tanya Pak Rahmat kepada putrinya. Enam tahun ini Marisa tak pernah menghubungi ayahnya, sedangkan Pak Rahmat hanya tahu kabar Marisa beberapa kali saja dari saudara almarhum ibu Marisa.


"Aku tinggal di kota tempat kita dulu Yah, di kota S. Aku juga buka toko kue di sana," jawab Marisa.


"Ayah pernah dengar dari Andi kalau kamu baik-baik saja, apa kamu juga bertemu Andi di sana, Ris?" Pak Rahmat mengerutkan keningnya.


🌱🌱🌱M.A.HπŸ€πŸ€πŸ€


Hari berlalu begitu cepat, tak terasa dua hari mereka tinggal di kampung halaman Pak Rahmad. Kini saatnya mereka kembali ke ibu kota, karena Kakek Darma terus saja menelpon Elvan untuk segera kembali. Apalagi ulang tahun si kembar juga tinggal dua hari lagi.


Setelah berpamitan, mereka pun meninggalkan rumah Pak Rahmad, dan kembali ke ibu kota.


Sampai di rumah mereka, hari telah berganti siang. Mereka memasuki rumah, namun Marisa dan kedua anaknya terkejut saat memasuki kamar mereka.


"Mas, kok kamar kita jadi girly banget," kata Marisa saat memasuki kamarnya, dan semuanya telah berubah. Ada banyak mainan Zea, boneka-boneka, kaca rias dengan gambar kartun kesukaan Zea, lemari berwarna merah muda, bahkan hiasan dinding juga penuh dengan karakter-karakter kartun kesukaan Zea.


"Sekarang ini jadi kamar Zea, hampir sama lah dengan kamar Zayn. Kalau kamar kita sekarang di bawah, semua barang-barang kita sudah dipindah ke bawah." Elvan menggendong Zea lalu menurunkannya di ranjang. "Zea suka?" tanya Elvan yang berharap gadis kecilnya akan menyukai kamar barunya.


Marisa dan Zayn mengekor di belakang Elvan dan Zea.


"Suka banget Pa, makasih Papa." Zea memeluk tubuh Elvan, lalu mengecup kedua pipi dan keningnya.


"Zayn nggak dapat hadiah Pa?" tanya Zayn yang juga kagum dengan kamar baru saudara kembarnya itu.


"Zayn kan udah punya kamar sayang, tapi nanti Papa ada hadiah juga buat ulang tahun kalian." Elvan mengusap lembut rambut Zayn.


"Ya udah, sekarang kalian mandi, terus bobok siang ya," kata Marisa yang kemudian dibalas anggukan oleh kedua anaknya.


Elvan dan Marisa pun meninggalkan lantai atas dan masuk ke kamar mereka di lantai bawah.


"Gimana? Suka nggak?" tanya Elvan yang kini memeluk tubuh Marisa dari belakang.


"Suka banget Mas." Marisa mengamati setiap sudut kamar barunya. Luasnya hampir sama dengan kamar mereka yang kini menjadi kamar Zea. "Siapa yang mindahin semua ini Mas?" tanya Marisa yang kini berbalik menghadap suaminya.


"Orang suruhan Mas, di awasi Pak Rudy." Elvan mengecup singkat bibir Marisa.


"Mas bener-bener penuh kejutan ya." Marisa terkekeh.


Lihat saja besok Mas akan kasih kejutan lagi ke kamu. Batin Elvan yang kini mendapat pelukan hangat dari istrinya.


🌱🌱🌱M.A.HπŸ€πŸ€πŸ€


Pagi harinya, setelah sarapan Elvan mengantar kedua anaknya ke sekolah. Sedangkan Marisa datang ke gedung yang akan menjadi tempat perayaan ulang tahun Zayn dan Zea esok hari.


Gedung itu telah didekorasi dengan balon-balon dan dua karakter sesuai keinginan si kembar. Teman-teman sekolah Zayn dan Zea pun telah menerima undangan yang juga diurus oleh EO.


Saat Marisa selesai berdiskusi dengan seorang wanita yang menjadi penanggung jawab acara, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Ada nama Elvan di layar ponsel yang membuat Marisa tersenyum dan segera menjawabnya.


"Assalamu'alaikum Mas, kenapa?" tanya Marisa setelah menggeser layar hijau di ponselnya.


"Waalaikumsalam, sayang, kamu ke rumah sakit sekarang ya, darurat," kata Elvan dari sambungan telepon.


"Kenapa Mas, siapa yang sakit?"


Bersambung….


Hayooo kira-kira siapa yang sakit ya….


Yang masih punya vote, sini bagi ke Othor 🀭🀭🀭


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Pasti Othor balas kok 🀭🀭


Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🀭🀭


Terima kasih banyak readers masih setia terus πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Mau kenal Othor?


Boleh kepoin ig othor di: ittaharuka