
"Menurutmu, dia ibu yang seperti apa?" Tanya Elvan yang melihat Marisa hanya diam melamun.
"Kita ngobrol diluar saja, jangan mengganggu tidurnya anak-anak." Marisa turun dari ranjang dan segera keluar kamarnya diikuti Elvan.
Marisa menuju dapur membuat teh untuknya dan Elvan. Karena merasa risih dengan rambut panjangnya Marisa hendak mengikat rambutnya yang tergerai.
"Tunggu." Kata Elvan yang membuat Marisa menoleh ke arahnya. "Jangan diikat, biar gitu aja, kamu cantik dengan rambut tergerai." Kata Elvan.
Marisa tersenyum tipis, ternyata Elvan masih sama dengan yang dulu, tak suka saat Marisa mengikat rambutnya.
Setelah selesai membuat teh, mereka memilih untuk ngobrol di sofa depan tv.
"Jadi, istri Bapak kemana?" Tanya Marisa yang duduk di sebelah Elvan, namun matanya menatap televisi yang menyala tanpa suara.
"Aku nggak tau karena dia menghilang." Jawab Elvan.
"Kenapa tidak dicari?" Pertanyaan yang selalu tersusun di benak Marisa dan akan ia ucapkan setelah bertemu suaminya itu akhirnya keluar juga dati mulut Marisa.
"Aku sudah berusaha mencari, namun tak pernah menemukannya, saat aku menemukan jejaknya, dia telah meninggalkan tempat dimana dia melahirkan Zayn, dan aku tak pernah menemukannya lagi, mungkin benar kata Kakek kalau dia telah meninggal." Kata Elvan yang memang tak pernah menemukan keberadaan Marisa istrinya.
"Lalu, kenapa Bapak tidak menikah lagi?"
"Mungkin karena aku terlalu mencintainya, meski ingatan tentangnya telah hilang, namun cinta untuknya tetap dihati ini." Kata Elvan jujur mengungkapkan apa yang ia rasakan untuk wanita yang telah dinikahinya beberapa tahun silam itu.
"Zayn bilang, Bapak akan menikah dengan orang lain, apakah itu artinya Bapak sudah tidak mencintai Mamanya Zayn lagi sekarang?"
"Silvia gadis baik, dia masih muda dan cantik, aku berpikir mungkin saja aku bisa mencintainya seperti aku mencintai Mama Zayn yang masih berusaha aku ingat." Kata Elvan sambil menatap Marisa yang menyesap minuman tehnya.
Mendengar itu, hati Marisa seakan terbakar, benar-benar panas rasanya. Cinta yang seperti apa yang dimaksud laki-laki disebelahnya itu.
"Kalau kamu, suami kamu kan sudah menikah lagi kenapa kamu tidak menikah lagi juga?" Tanya Elvan yang ingin mencari tahu kebenaran tentang Andi.
"Suami?" Marisa tak mengerti, siapa yang dimaksud suami oleh Elvan itu.
"Iya, yang dipanggil Ayah sama Zea itu."
"Oh, iya dia sudah menikah sekarang."
"Kenapa kamu tidak menikah juga?"
"Saya hanya ingin fokus dengan Zea."
"Kalau fokus sama Zayn juga kamu mau?" Pertanyaan jebakan yang sengaja Elvan tanyakan untuk memancing jawaban dari Marisa yang Elvan yakini adalah istrinya.
Marisa terdiam, bagaimanapun Zayn juga putranya, tapi kalau dia bilang iya, laki-laki disampingnya ini akan curiga dengannya, dan mungkin saja ia akan ketahuan sebelum Elvan mengingat semuanya.
Kedua manusia yang sebenarnya saling mencintai itu pun sama-sama diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Hingga ponsel Elvan yang berada di atas meja pun berbunyi. Ada nama 'Silvia' yang muncul dari layar ponsel itu. Namun Elvan membiarkannya begitu saja, hingga berkali-kali wanita itu menelfon namun tetap tak diangkat oleh Elvan.
Marisa terus memperhatikan ponsel yang bergetar itu. Sedangkan Elvan sibuk memperhatikan Marisa yang terus melirik layar ponsel miliknya.
Apa kamu cemburu sekarang? Baiklah aku coba angkat telfon Silvia ya. Bagaimana sih wajah cemburumu itu? Batin Elvan sambil senyum-senyum.
"Hallo, Assalamu'alaikum." Sapa Elvan.
Sementara Marisa terlihat kaget, karena ia pikir Elvan tak akan menjawab panggilan itu. Ia pun memalingkan wajah dan berpura-pura fokus dengan televisi.
"Waalaikumsalam, kenapa baru diangakat? kamu udah sampai di ibukota." Tanya Silvia.
Marisa mempertajam telinganya namun matanya mengarah ke televisi. Ia menguping pembicaraan suaminya dengan seorang wanita itu.
"Iya, aku udah sampek tadi siang, kenapa? Kangen?" Tanya Elvan kepada Silvia namun ekor matanya melirik Marisa yang terlihat tenang di sebelahnya.
"Iya lah, besok kita ketemuan yuk, aku mau bahas konsep pertunangan kita." Kata Silvia bersemangat.
"Silvia, kamu tau kan aku masih mengharapkan istriku kembali." Kata Elvan yang lagi-lagi melirik Marisa. Sedangkan Marisa sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Udahlah El, dia itu udah meninggal." Kata Silvia mulai kesal.
Elvan memperhatikan lagi ekspresi Marisa, kali ini wajahnya terlihat kesal.
"Ya terserah kamu tapi jujur aku udah mulai ingat sedikit tentang istriku." Kata Elvan.
Marisa yang mendengar ucapan Elvan secara reflek menoleh ke arah laki-laki yang duduk di samping kanannya itu.
"Aku ingat, karena aku sangat mencintainya." Kata Elvan menatap tajam Marisa.
Marisa yang mulai sadar setelah ditatap Elvan langsung memalingkan wajahnya.
"El, hargai usaha aku dong, aku tuh beneran sayang kamu dan juga Zayn Elvan." Kata Silvia.
"Maaf, tapi jantungku berdetak hanya untuk istriku, kamu bisa batalin pertunangan itu, aku akan memberikan saham untuk keluargamu sebagai gantinya." Elvan mematikan ponselnya.
Ia terdiam cukup lama memperhatikan Marisa yang entah fokus atau tidak dengan televisinya.
"Marisa."
"Iya." Jawab Marisa dengan reflek menoleh karena sebenarnya ia kaget saat Elvan tiba-tiba memanggil namanya.
"Kenapa kamu meninggalkanku dan Zayn?" Tanya Elvan dengan sorot matanya yang tajam menatap manik mata Marisa.
"Maksudnya bagaimana?" Marisa gugup. "Saya bukan Mamanya Zayn, Bapak pasti salah sangka." Kata Marisa mengelak.
Maafkan Mama Zayn.
"Lihat aku, dan katakan kalau kamu bukan Marisa istriku yang melahirkan Zayn." Kata Elvan mulai berapi-api.
Marisa tak ingin menjawab, ia memilih berdiri hendak kabur ke kamarnya. Namun Elvan dengan sigap menangkap tangan Marisa dan menjatuhkan tubuh Marisa juga tubuhnya sendiri di sofa, dengan posisi Elvan diatas tubuh Marisa.
"Aku mulai mengingatmu perlahan-lahan, mengingat senyummu, mengingat suaramu, mengingat sedikit kenangan bersamamu, tapi benarkah bahwa kamu bukanlah istriku?" Tanya Elvan yang memegang erat kedua tangan Marisa.
Marisa tak menjawab, lalu selang beberapa saat ia menggelengkan kepalanya pelan masih dalam kebisuannya.
"Lihat mataku dan katakan kamu bukan istri yang mencintaiku, kamu bukan ibu yang melahirkan Zayn putraku. Katakan." Elvan mengunci tatapan matanya, menyelami lebih dalam perasaaannya melalui mata indah Marisa, lama mereka terkunci dalam tatapan tajam itu, seolah saling mencari kebenaran tentang apa yang terjadi sesungguhnya.
Elvan tak tahan lagi, berdekatan dengan wanita yang baru tadi siang ditemuinya itu membuatnya hilang kendali, ia yang biasanya sangat tidak suka disentuh wanita, kini ia justru menci*m lembut benda kenyal berbalut lipstik tipis itu, menyes*pnya dalam kerinduan yang tak mampu ia tahan, Elvan terbuai oleh rasa manis yang tercipta dari bibir Marisa yang tak lain adalah istri sahnya.
Sedangkan Marisa, ia hanya diam, bukankah seharusnya ia melawan, dan menolak mentah-mentah karena saat ini ia tengah berperan sebagai Sarah, bukan Marisa. Namun ia hanya diam membeku, tak menolak namun juga tak membalas saat lidah Elvan memasuki mulutnya, hingga air mata yang jatuh menyadarkannya bahwa sekarang ia kalah, kalah dengan rasa cintanya yang teramat besar kepada suaminya itu.
"Aku sangat merindukanmu." Elvan yang menyadari Marisa tengah menitikan air mata pun menghentikan ci*mannya, lalu memeluk tubuh Marisa yang berada dibawahnya.
"Maaf, maafkan aku." Kata Elvan lalu mencium kening Marisa.
Wanita itu masih saja membeku, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, haruskah ia mengatakan semua yang terjadi, juga tentang kekejaman Kakek Darma kepadanya selama ini?
"Mama.. Mama.." Suara serak bercampur pilu dari bocah yang berjalan keluar kamar itu langsung memaksa Elvan dan Marisa untuk bangkit dari posisi yang tak seharusnya disaksikan oleh anak seusia Zayn dan Zea.
Marisa mengusap air matanya dan berjalan ke arah anak kecil yang masih mengusap-usap kedua matanya.
"Sayang, kenapa bangun?" Tanya Marisa dengan kelembutan hatinya.
"Zayn mimpi Mama pergi, pas Zayn bangun Mama nggak ada, Zayn takut Ma." Kata Zayn lalu memeluk tubuh Marisa yang telah menurunkan badannya mengimbangi tinggi badan Zayn.
Elvan berjalan menghampiri Zayn dan Marisa yang berpelukan di depan pintu kamar.
"Zayn sayang, Mama nggak akan kemana-mana kok Zayn, sekarang kita tidur lagi ya." Kata Marisa lalu mengajak Zayn masuk kamar dan segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Mama, Papa kasihan tidur sendiri." Kata Zayn yang sempat melihat Elvan akan ikut masuk namun keburu ditutup pintunya oleh Marisa.
"Papa kan tidur di kamar Zea sayang, ranjangnya nggak muat, udah yuk kita tidur aja, Mama udah ngantuk banget." Kata Marisa yang pura-pura menguap.
Zayn pun naik kembali ke ranjang dan kembali terlelap setelah dipeluk Mamanya. Setelah Zayn pulas, Marisa mencium kening Zayn dan meminta maaf, lalu ia beralih pada Zea yang sangat pulas tidurnya dan mencium kening serta memeluknya sebentar.
🌱🌱🌱
Malam yang dingin telah berganti dengan pagi, meski mentari belum terbangun, Marisa yang telah bangun kini membangunkan kedua bocah yang masih terlelap dalam mimpinya itu.
"Zea bangun Nak, sholat shubuh dulu ya." Kata Marisa yang memang membiasakan putrinya itu untuk melaksanakan kewajibannya.
"Mama." Zayn yang mendengar suara Mamanya membangunkan Zea langsung ikut terbangun.
"Zayn sudah bangun?" Marisa beralih pada putranya itu lalu mencium kening Zayn.
"Zayn wudhu dulu ya, kita sholat dulu sayang." Kata Marisa lalu beralih pada Zea yang belum juga bangun.
Marisa berusaha membangunkan putri kecilnya itu dan setelah Zea bangun, ia menyuruh Zea untuk menyusul Zayn.
Lalu Marisa sendiri keluar untuk melihat apakah Elvan sudah terbangun. Marisa mengetuk pintu kamar Zea tempat dimana Elvan tidur semalam. Setelah beberapa kali ketukan Elvan membuka pintu yang sebenarnya tak terkunci itu.
"Iya Marisa, aku udah bangun." Kata Elvan yang tersenyum saat melihat Marisa dibalik pintu yang baru ia buka.
Marisa hanya tersenyum canggung.
"Kita sholat dulu Pak, anak-anak lagi ambil wudhu." Kata Marisa lalu masuk ke kamar Zea untuk membersihkan dan menata tempat sholat mereka.
Elvan hanya memperhatikan Marisa sambil berdiri bersandar di pintu.
"Sebaiknya Bapak ambil wudhu dulu, kasihan nanti kalau anak-anak menunggu terlalu lama." Kata Marisa setelah mengambil mukenanya.
"Aku tidak salah jika tetap mencintaimu meskipun kamu telah melukai perasaanku." Kata Elvan lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Marisa terdiam, apakah suaminya itu telah benar-benar mengingatnya kembali, apakah ini saatnya mereka bersatu, membesarkan anak-anak mereka bersama. Hingga sholat telah usai Marisa masih saja diam.
"Zayn Zea, hari ini Papa mau kasih pilihan, kita ke pantai atau mau ke kebun binatang?" Tanya Elvan kepada pitra-putrinya, saat ini mereka berada di depan tv setelah selesai mandi dan menunggu Marisa yang masih menyiapkan sarapan.
"Ke pantai." Kata dua bocah yang telah rapi itu.
"Jadi ke kebun binatangnya nggak jadi ya." Kata Elvan.
"Minggu depan Pa, minggu depan." Kata Zayn bersemangat.
"Iya Pa, habis itu minggu depannya lagi kita ke Mall ya Pa, aku pengen mainin permainan sepuasnya Pa." Kata Zea yang kini berdiri di depan Papanya itu.
Lalu Zea menarik tangan Zayn dan melompat-lompat. Elvan tertawa bahagia melihat anak kembarnya yang sangat bahagia.
"Zea, Zayn sarapan dulu yuk, Mama udah masak nasi goreng." Kata Marisa.
"Asyikk." Kedua bocah itu berlari menuju meja makan, berebut siapa yang akan duluan dan duduk disebelah Mamanya.
"Aku duluan." Kata Zayn yang berhasil mendapat kursi disebelah Mamanya. Meja makan itu berbentuk persegi panjang, dengan dua kursi di sisi kanan dan dua kursi di sisi kiri.
"Yah, kok Zayn sih yang duduk di situ, Zea kan juga pengen disebelah Mama." Kata Zea mengerutkan keningnya, kesal.
Zayn yang telah memenangkan pertandingan hanya menampilkan senyum lucu sambil menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.
"Zea sama Papa ya, Zea nanti Papa beliin mainan." Kata Elvan yang kini duduk di hadapan Marisa.
"Zayn masih punya bumblebee dari Uncle." Kata Zayn.
"Zea juga masih punya baby Alive Pa, tapi Pa nanti kalau di pantai Papa gendong Zea aja ya, jangan gendong Zayn." Kata Zea yang masih kesal dengan Zayn.
"Zea nggak boleh gitu sayang." Marisa tak ingin kedua anaknya itu bertengkar.
"Kalau Zayn pinjam Mama Zea, berarti Zea juga boleh kan pinjam Papanya Zayn." Kata Zea tak terima.
"Papa juga Papanya Zea kok." Kata Elvan.
"Pak." Marisa langsung menyela ucapan Elvan karena tak ingin Elvan terburu-buru mengatakan kebenarannya kepada anak kembar mereka.
Elvan mengerti maksud Marisa, mungkin ia yang terlalu terburu-buru, lagi pula Marisa masih belum mengakui bahwa dia adalah istrinya.
Mereka pun sarapan dengan tenang. Elvan yang mengunyah nasi goreng Marisa kembali merasa seakan telah lama merindukan rasa masakan itu.
"Mama nanti Zea pakek baju princess ya boleh kan Ma, Zea mau di foto pakek baju princess di pantai Ma." Kata Zea yang langsung tak disetujui oleh Marisa.
"Sayang, mana ada orang ke pantai pakek baju kayak gitu nggak cocok sayang." Kata Marisa.
"Tapi kalau buat foto-foto nggak papa Ma, nanti Zayn temenin Zea pakek baju pangeran, yang di rumah Papa, ya kan Pa?" Tanya Zayn pada ayahnya yang sedang memegang kepalanya.
"Papa kenapa?" Tanya Zea yang kemudian memegang tangan Elvan.
"Nggak papa sayang, Papa cuma agak pusing dikit kok." Kata Zea.
"Jadi nanti kita mampir ke rumah bentar ya Pa, ambil kostum pangeran punya Zayn." Kata Zayn.
"Iya sayang, Zayn sama Zea kan pangeran dan putri kerajaan Papa, Iya kan Yang Mulia Ratu?"
bersambung....