
Dua laki-laki dengan tinggi yang hampir sama itu masih sama-sama membisu. Malam yang baru dimulai itu nampak begitu hening.
Elvan merasa bingung dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan ayah kandungnya itu. Ia sangat menyayangi kakaknya, sedangkan ia juga tak mungkin mau kehilangan Marisa.
Alvero yang merasakan sakit di hatinya juga mulai berpikir, apakah ia tega jika merebut kebahagiaan adiknya itu. Jika papanya mengatakan kebenaran, mungkin ia akan tak terima dan bisa saja malah merusak hubungan baiknya dengan Elvan dan juga dengan Marisa sekretarisnya. Tidak, ia teramat menyayangi adiknya, lagi pula Marisa tak mencintainya. Mungkin memang ia dan Marisa tak berjodoh, ia harus merelakan sekretarisnya itu agar bahagia bersama adik tirinya, Elvan.
"Marisa, bisa kita bicara sebentar." Alvero berkata setelah cukup lama terdiam.
Elvan menatap mata Kakaknya, lalu ia melihat istrinya yang masih duduk mematung di kursi keluarga yang seharusnya hangat itu.
"Ikutlah, aku tunggu disini." Kata Elvan dengan lembut kepada istrinya.
"Kamu ikut kakek ke ruang kerja sekarang." Perintah Kakek Darma untuk Elvan.
Lalu Elvan menuntun tangan istrinya agar berdiri. "Aku akan bicara dengan kakek sebentar, kamu bicaralah dengan Kak Al. Selesaikan masalah kalian, kalau ada apa-apa cepat panggil Mas ya." Katanya lembut.
Marisa mengangguk. Ia menurut dengan perintah suaminya untuk ikut bersama Alvero. Sejujurnya ia begitu bergetar, takut jika bosnya di kantor itu akan marah besar dengannya. Tapi, ia mengingat-ingat lagi, Alvero bukanlah laki-laki pemarah seperti prasangkanya tadi.
"Tolong jaga dia Kak." Elvan menepuk pundak kakaknya, lalu berjalan meninggalkan mereka mengikuti Kakeknya yang telah berjalan lebih dulu menuju ruang kerjanya.
"Papa ke kamar dulu. Kalian bicaralah dengan kepala dingin." Pak Erwin pun meninggalkan ruang keluarga.
Alvero mengajak Marisa untuk pergi ke taman belakang. Disana ada taman luas yang terdapat kursi taman dan juga ayunan. Alvero meminta Marisa untuk duduk di ayunan tepat disebelahnya.
"Sudah lama kenal Elvan?" Tanya Alvero saat Marisa telah duduk.
"Emm,, maafkan saya Pak." Risa tertunduk, seharusnya ia jujur kepada Alvero setelah tahu fakta bahwa Elvan adalah adik tirinya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin bicara santai denganmu. Jadi berapa lama kamu kenal Elvan?"
"Emm, belum ada tiga bulan Pak."
"Apa??? Jadi kamu menikah dengan laki-laki yang belum tiga bulan kamu kenal?"
Marisa hanya mengangguk.
"Apa kamu mengenal dia luar dalam, bagaimana asal usulnya, apa kamu tahu itu?" Tanya Alvero dengan serius.
"Saya, baru tahu setelah menerima lamarannya Pak." Marisa menundukkan kepalanya.
"Stop.. bisa tidak kamu panggil aku dengan Mas, atau kakak. Aku sama Elvan itu cuma beda beberapa bulan aja. Jangan terlalu formal." Alvero menyela kata-kata Marisa
"Maaf.. Kak."
"Sebenernya hatiku sakit rasanya, tapi kalau kamu sama Elvan bahagia, aku akan mencoba ikhlas. Semoga kalian langgeng sampai akhir hayat." Kata Alvero tulus.
"Terimakasih Kak."
"Tenang saja, kamu bisa menganggap aku ini kakakmu, kalau Elvan sampai macam-macam lapor padaku." Kata Alvero dengan tatapan serius.
"Kenapa?? Apa kak Alvero akan menghajarnya?" Tanya Marisa yang menjadi tegang.
"Memang kamu harap begitu?" Alvero balik bertanya.
Marisa menggeleng
"Akan aku nasehati dia." Kata Al dengan nada santai.
"Kenapa kamu lebih memilih dia dari pada aku? Bukankahbaku tidak kalah tampan dari Elvan, aku juga lebih banyak penghasilan dari pada Elvan?" Alvero menatap Marisa yang duduk disebelahnya.
"Bukan karena fisik atau kekayaannya Kak. Aku menerima Kak Elvan setelah sholat istikharah dan aku menjadi yakin kalau Mas Elvan adalah jodohku." Risa mengingat masa sebelum ia menerima lamaran Elvan.
"Apakah kamu tidak sholat istikharah setelah bertemu denganku?" Tanya Alvero penasaran.
Alvero terkekeh, ia sudah menebak dari sikap Marisa yang tak pernah menangkap sinyal dari hatinya lewat perhatian perhatian yang mungkin tak Marisa sadari.
Mereka pun membicarakan banyak hal, tentang masa kecil dan juga kehidupan Elvan. Dari Alvero Marisa tahu Elvan dan Alvero saling menyayangi semenjak kecil, meski mereka dilahirkan dari dua wanita yang berbeda.
Sementara di tempat lain, di ruang kerja sang komisaris tertinggi perusahaan itu Elvan tengah duduk di sofa. Sementara Kakek Darma sedang berdiri menatap replika perusahaan yang kini dipimpin oleh Alvero.
"Kamu tau kakek tua ini selalu mengawasi kehidupan kamu?" Kata Kakek Darma yang masih berdiri.
"Lalu kenapa, silahkan kalau kakek mau mengawasiku seumur hidup kakek, aku tidak peduli." Kata Elvan.
"Istrimu itu. Bagaimana kamu bisa melindunginya dari Mama tirimu yang kejam itu." Kakek berjalan kearah sofa. "Kakek yakin, dia akan membuat hidup istrimu menderita, sama seperti ibumu." Kakek Darma lalu duduk di sofanya.
"Jangan bahas Bunda Kek." Elvan mulai kesal. Ia tahu kakeknya itu sangat membenci Bundanya.
"Istrimu dan ibumu itu sama sama kaum rendah, tidak sederajat dengan keluarga kita. Ternyata kamu mewarisi selera Papamu yang rendah." Kakek Darma mencibir Elvan.
"Lalu kenapa? Kenapa kakek nggak hancurkan aku sekalian?" Elvan kini tersulut emosi, matanya berkobar menahan amarahnya.
"Karena kamu berguna untuk perusahaan. Saat Alvero tak bisa memimpin perusahaan, kamu satu satunya yang harus menggantikannya."
"Apa maksud kakek, Kak Al sudah bekerja keras memimpin perusahaan. Aku tidak mau menggantikannya." Elvan reflek berdiri, ia begitu marah dengan keputusan kakeknya itu.
"Kalau kamu tidak mau ya sudah, kakek tidak akan memaksa. Tapi kakek akan biarkan Mama tirimu itu menyakiti istrimu. Kakek tidak akan menghalangi apapun rencana jahatnya."
"Terserah kakek, aku tidak peduli. Tapi aku tidak akan siapapun termasuk keluarga ini untuk menghancurkan keluargaku." Elvan meninggalkan ruang kerja itu.
"Sekarang kamu bisa menolak, tapi kita lihat saja nanti bagaimana kamu memohon perlindungan dari kakekmu ini." Kakek Darma bermonolog setelah Elvan membanting pintu ruangan itu.
Elvan yang kesal berusaha meredam amarahnya, ia tak ingin jika istrinya merasa takut dengan keluarganya. Ia berjalan menuju ruang keluarga untuk mencari keberadaan istrinya.
Marisa dan Alvero datang dari arah taman. Sementara Elvan tengah duduk menantinya di ruang keluarga bersama Pak Erwin yang baru turun.
Elvan melihat wajah istrinya tak setegang terakhir kali ia lihat. Sepertinya hubungannya dengan Alvero masih baik-baik saja, bahkan mereka terlihat cukup akrab.
"Sayang, kita makan disini atau pulang?" Tanya Elvan saat Marisa telah duduk disampingnya.
"Ada apa?" Sebelum Marisa menjawab Alvero telah bertanya lebih dulu.
"Nggak ada apa-apa kak, cuma aku pikir Marisa tidak nyaman jika makan disini."
"Enggak mas, aku baik-baik aja kok."
"Tuh, Marisa aja nggak masalah. Kamu kenapa sih El, kita udah lama kan nggak makan bareng gini." Pak Erwin curiga.
"Enggak Pa, mungkin aku cuma tegang aja."
Bu Anita menuruni anak tangga yang dikelilingi oleh pagar yang menjulang tinggi. Dengan langkahnya yang anggun ia menghampiri Elvan, Marisa, Alvero dan juga Pak Erwin yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Ia lalu duduk disebelah suaminya, yang berhadapan langsung dengan Marisa dan Elvan.
to be continued....
Terimakasih readers kece yang selalu setia sampai saat ini.
Suport kalian selalu jadi semangat Othor.
Semoga suka ya dengan jalan ceritanya.
Jangan lupa tingalkan like dan komentar kalian.
Terimakasih, salam hangat Readers Kece 😍😍