My Amazing Husband

My Amazing Husband
Hamil


Marisa telah selesai memasak, karena ia masih sedikit mual, akhirnya ia hanya menggoreng telur mata sapi saja untuk suaminya.


"Maaf ya mas, aku cuma bikin telur ceplok aja." Kata Marisa saat menyajikan telur diatas nasi hangat.


"Iya sayang, apapun yang kamu masak pasti enak kok sayang." Elvan melahap masakan sederhana itu, "telur ceplok sama nasi anget gini dikasih kecap lebih enak kok dari pada makan ayam goreng di ka'epsi." Elvan melahap kembali makanannya.


"Masa sih mas, bisa aja deh mas Elvan." Marisa menuang air putih kedalam gelas untuk minum Elvan.


"Iya beneran sayang." Elvan masih menikmati suap demi suap nasinya. "lihat nih langsung abis kan." Elvan menunjukkan piringnya yang telah bersih, tak ada sebutirpun nasi yang tersisa.


"Yaudah sini aku cuci piringnya mas." Marisa lalu mencuci piring bekas makan suaminya di wastafel.


Saat Marisa tengah mencuci piring, Elvan memeluknya dari belakang setelah menaruh gelas bekas minumnya di wastafel agar Marisa cuci.


"Mas, aku lagi cuci piring nih." Kata Marisa saat suaminya itu sudah melingkarkan tangannya di perut Masrisa.


"Kamu beneran udah sehat sayang?" Tanya Elvan lalu menyibakkan rambut Marisa ke depan hingga memperlihatkan tengkuknya yang putih mulus.


"Iya Mas, lihat nih aku udah sehat gini kok." Kata Marisa lalu melanjutkan lagi mencuci piringnya.


Elvan menghirup aroma tubuh istrinya yang bercampur dengan aroma minyak angin. Lalu menciumnya dengan mesrah.


"Maaaasss..." Marisa merasa merinding diperlakukan seperti itu. Untung saja, ia telah menyelesaikan acara mencuci piringnya, mungkin jika tidak gelas atau piring yang dipegangnya akan jatuh berkeping-keping karena terlepas dari tangannya.


Elvan mengulangi lagi menghirup aroma tubuh Marisa. Hingga ia merasakan tangan Marisa yang menggenggamnya erat. Lalu ia melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Marisa menghadapnya.


Elvan mengecup lembut kening istrinya.


"Sayang, hari ini Mas ada meeting sama pengelola proyek untuk memulai pembangunan bengkel kita yang baru, kamu nggak papa mas tinggal?" Tanya Elvan sedikit ragu, sejujurnya ia tak tega meninggalkan istrinya meski kini tak terlihat pucat seperti tadi.


"Iya mas, aku nggak papa kok, kalau Mas belum telfon Kak Al pasti aku berangkat kerja Mas. Tapi aku tetep ke dokter mas habis ini." Kata Marisa meyakinkan suaminya agar tak terlalu khawatir.


"Mas temenin ke dokter bentar ya." Kata Elvan menatap lembut bola mata berwarna hitam milik istrinya.


"Enggak usah Mas, sebenernya aku tadi janjian sama Mbak Esti, dia mau ke rumah sakit nganter anaknya, nanti aku bareng mbak Esti aja naik taksi. Mas urus bengkel aja ya, nanti pasti aku telfon kalau ada apa-apa." Kata Marisa lalu membelai pipi suaminya dengan penuh kasih.


"Yaudah Mas mandi dulu, siapin baju buat mas ya." Elvan mengecup kembali kening Marisa.


"Iya mas."


Mereka pun naik ke kamar mereka untuk bersiap.


Marisa mengantar suaminya sampai depan pagar rumahnya, ia mencium tangan suaminya yang dibalas kecupan singkat di bibir dan kecupan mesrah di keningnya. Marisa melambaikan tangannya hingga punggung Elvan yang menunggangi kuda besinya menghilang saat berbelok di persimpangan jalan komplek.


Marisa kini menunggu Bu Esti di terasnya, di depan rumahnya sudah ada taksi yang akan mengantarnya dan Bu Esti ke rumah sakit.


Tak berapa lama, Bu Esti datang menggendong anak bayinya yang berusia sekitar 6 bulan, dengan membawa tas bayi yang cukup besar.


Mereka pun menuju rumah sakit dengan taksi. Bayi Bu Esti begitu montok, membuat Marisa merasa gemas dengan bayi laki-laki itu. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Marisa tak merasa lelah memangku dan bermain dengan bayi itu.


Akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit. Marisa ikut menemani bayi gembul itu imunisasi dasar. Lalu setelahnya mereka mengantri di ruang dokter kandungan.


"Saya deg-deg an mbak." Kata Marisa yang kini mulai gugup, karena bayi gembul itu sudah tidur setelah lelah menangis karena disuntik, tak ada lagi hiburan untuk mengalihkan kegugupannya.


"Tenang aja, apapun hasilnya insya Allah kalau rejeki nggak kemana mbak." Kata Bu Esti menenangkan Marisa.


Sementara dari kejauhan, Bu Anita yang baru selesai melakukan cek-up rutinnya melihat Marisa saat masuk ke rumah sakit, memutuskan untuk mengikuti Marisa hingga sampai ke poly kandungan.


Tak lama, nama Marisa pun dipanggil, ia segera masuk ke dalam ruangan praktek dokter kandungan itu.


"Selamat datang, saya dokter Rani spesialis kandungan, ada yang bisa dibantu." Kata dokter kandungan itu menyambut hangat kedatangan Marisa dan Bu Esti.


Lalu Marisa pun menceritakan keluhannya yang mual dan telah seminggu telat haid. Kemudian Dokter Fitri pun meminta Marisa untuk berbaring, dan Ia mulai memeriksa perut Marisa.


"Selamat ya bu, Bu Marisa positif hamil." Kata Dokter Rani.


"Apa dok? Saya hamil? Serius dok?" Marisa tak percaya.


"Iya Bu, benar, jika menghitung dari menstruasi terakhir, kehamilannya baru lima minggu, masih sangat rentan ya Bu, harus dijaga dengan hati-hati." Dokter Rani menasehati.


Reflek Marisa mengelus perutnya yang masih rata. Ia tampak menangis haru, baru beberapa minggu ia mendapat kebahagiaan dengan menikahi laki-laki yang menakjubkan seperti Elvan, kini ia kembali mendapat anugerah dari Tuhan lewat makhluk kecil yang akan tumbuh dalam dirinya.


"Selamat ya mbak Risa, Mas Elvan pasti akan seneng banget denger kabar ini." Kata Bu Esti, tetangga sekaligus teman baru Marisa itu.


"Terimakasih mbak Esti, terimakasih Dokter Rani." Marisa begitu bersyukur, ia mengelus perutnya lalu mengelus pipi bayi Bu Esti yang gembul, berharap janinnya akan sehat seperti anak Bu Esti.


"Baiklah saya akan meresepkan vitamin untuk Bu Marisa ya." Kata Dokter Rani.


Mereka pun pulang setelah menebus resep yang diberikan dokter Rani.


"Mbak Risa, saya bisa pulang sendiri, lebih baik mbak Risa sekarang ke tempat Mas Elvan kasih surprise buat Mas Elvan." Kata Bu Esti.


"Iya mbak, makasih ya, dan hati-hati mbak." Kata Marisa saat Bu Esti akan masuk ke dalam taksi.


Marisa pun naik taksi yang lain, dan segera menuju ke bengkel.


Sementara Elvan tengah menatap benda kecil yang tadi dibelinya saat perjalanan dari rumah menuju bengkel. Benda itu adalah tes kehamilan yang akan ia berikan kepada istrinya besok pagi.


Tiba-tiba ponselnya berdering. 'Istriku Calling...' begitu tulisan yang muncul di layar ponselnya.


"Halo Assalamualaikum Mas, Mas dimana?" Tanya Marisa saat Ekvan menjawab telfonnya.


"Waalaikumsalam, Mas lagi di bengkel sayang, mungkin satu jam lagi mas bisa pulang. Ada apa sayang?" Tanya Elvan.


"Yaudah aku kesana ya mas, aku ada kejutan buat mas Elvan." Kata Risa yang tak sabar menyampaikan kabar bahagia kehamilannya.


"Kamu udah sehat sayang? Mas bentar lagi pulang kok." Elvan khawatir karena pagi tadi istrinya mual-mual bahkan sampai pingsan.


"Udah sehat Mas, aku kesana ya, mas jangan kemana-mana Assalamu'alaikum." Kata Marisa.


"Yaudah, Waalaikumsalam. Hati-hati sayang."


"Iya mas." Marisa pun mengakhiri panggilannya.


Elvan pun menyimpan alat tes kehamilan itu di saku jaketnya.


***


Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju bengkel suaminya, Marisa tak henti-hentinya tersenyum. Ia terus mengusap-usap perutnya yang masih rata, memberi kasih sayangnya meski janin kecil itu belum bisa merasakannya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, Marisa sampai di depan bengkel suaminya. Bengkel yang sangat ramai pengunjung. Benar-benar bukan bengkel biasa.


Marisa turun dari taksi setelah membayarnya. Ia hendak berjalan menuju pelataran bengkel, lalu tiba-tiba datang sebuah motor yang tiba-tiba menyerempetnya hingga terseret beberapa meter, dan terhempas ke aspal.


to be continued....


jangan lupa like dan komentnya yah readers kece, terimakasih masih setia terus 😍😍