My Amazing Husband

My Amazing Husband
Kesetiaan Elvan


Mendengar kata rumah sakit, tentu saja membuat Marisa panik. Setelah mematikan panggilan telepon dari suaminya, Marisa segera menuju rumah sakit dengan menaiki taksi.


Dua puluh menit kemudian Marisa telah sampai di rumah sakit, dan secara kebetulan, Elvan juga baru sampai di pintu masuk.


"Mas, gimana Kak Reyna?" tanya Marisa saat suaminya menggandeng tangan kanannya.


"Tadi Kak Al nelpon, katanya udah lahiran tadi malem," jawab Elvan yang kini menuntun tangan istrinya.


"Kok nggak ngabarin kita ya Mas semalem," kata Marisa.


"Nggak tau, mungkin mereka terlalu panik."


Mereka pun sampai di ruangan Reyna. Setelah melahirkan dengan operasi cesar, Reyna sudah kembali ke ruang perawatannya.


"Kak." Marisa memeluk wanita yang baru saja menjadi seorang ibu itu. "Selamat ya Kak," ucap Marisa.


"Iya makasih ya Ris." Reyna membalas pelukan Marisa


"Kenapa nggak ngasih kabar ke kita sih?" tanya Elvan yang kini mengikuti istrinya melihat keponakan mereka.


"Kita nggak mau ganggu kalian, kalian kan baru pulang dari luar kota, lagian operasi cesar mana bisa ditungguin," jelas Alvero yang kini telah menyandang predikat sebagai ayah baru itu.


"Mas gemesin ya bayinya." Marisa menatap kagum pada bayi laki-laki yang masih terlelap di ranjangnya.


"Nanti kita buat sendiri yang lebih gemesin." Elvan mengerlingkan matanya.


"Jangan mesrah-mesrahan di sini ya, aku baru mulai puasa loh." Alvero terlihat kesal mendengar obrolan Elvan yang menjurus ke hubungan intim.


Elvan terkekeh, menertawakan nasib kakaknya yang kini harus berpuasa selama beberapa bulan.


"Kak Al palingan puasa tiga bulan aja, aku pernah enam tahun puasa." Elvan meraih tubuh Marisa yang masih mengamati bayi Reyna. Ia seakan takut jika harus berpisah lagi dengan istrinya itu.


"Iya sih, kasih tau tipsnya dong El, biar bisa kuat puasa selama itu." Alvero memelas, seperti murid yang mengharapkan ilmu dari gurunya.


Elvan kembali terkekeh.


"Tapi kamu beneran nggak jajan El?" tanya Reyna yang seolah meragukan kesetiaan Elvan selama berpisah dari Marisa.


Marisa menatap suaminya, ia memang tak pernah berpikir negatif tentang suaminya, namun, berpisah selama enam tahun dengan istri, bagi laki-laki yang normal pasti sangat sulit untuk dilalui. Apalagi suaminya dulu mengalami amnesia, dan bisa saja ia berubah saat itu.


"Kamu raguin Mas juga, Sayang?" tanya Elvan yang kini membalas tatapan istrinya.


"Ya, jawab aja Mas yang jujur," kata Marisa yang masih menunggu jawaban langsung dari suaminya.


"Bener El, apalagi Sylvia cantik, bening, masih muda juga, dua tahun sama dia masa kalian nggak ngapa-ngapain." Reyna semakin memancing kecemburuan di wajah Marisa.


"Sayang, jangan gitu dong, Marisa bisa terbakar cemburu nanti, kalau pergi lagi gimana," kata Alvero.


Elvan mengajak istrinya untuk duduk di sofa, yang berhadapan dengan ranjang tempat Reyna berbaring.


"Mas dulu kan sakit Sayang, berbulan-bulan Mas di kursi roda. Terus pas udah sembuh, Mas fokus mengurus perusahaan yang ditinggalin Kak Al, kenal Sylvia pun dijodohin, Mas nggak pernah ada perasaan apa-apa sama dia." Elvan menatap mata istrinya, agar Marisa tahu jika ia berkata jujur.


"Tapi Mas, orang ngelakuin itu kan nggak harus dengan perasaan," kata Marisa yang mulai terpengaruh kata-kata Reyna.


"Sayang, dengerin ya, meskipun Mas nggak bisa mengingat kenangan tentangmu, tapi setiap Mas melihat Zayn, Mas selalu ingat, jika Mas masih memiliki istri. Mas sangat yakin, hati Mas sangat mencintai Mamanya Zayn," kata Elvan yang membuat Marisa dan Reyna terharu.


Marisa yang mendengarkan penjelasan suaminya, langsung memeluk erat tubuh suaminya. Ada perasaan bersalah di hatinya. Dalam pelukan hangat suaminya, ia menangis menumpahkan kesedihan rasa bersalahnya.


"Maafkan aku, Mas." Marisa semakin erat memeluk tubuh Elvan, kemeja biru langit itu bahkan menjadi basah karena air matanya.


Elvan mengusap kepala istrinya dengan lembut, ada rasa bahagia dan syukur dalam hatinya. Elvan mencurahkan perhatiannya, memberikan kenyamanan pada wanita yang masih menumpahkan rasa sedihnya.


"Aku tau, kita semua tau, apa yang kamu lakukan juga demi kebaikan anak-anak kita. Mas sangat tau sayang, Mas nggak pernah menyalahkanmu, jadi berhentilah menangis." Elvan mengurai pelukan mereka, lalu menatap dalam-dalam wajah sendu yang telah basah dengan air mata itu.


Elvan menghapus air mata yang masih mengaliri wajah cantik kesukaannya, lalu segera mel**at bibir ranumnya, berharap kesedihan itu berganti dengan rasa cinta yang disalurkan melalui lidahnya.


Mereka seakan lupa daratan, mereka lupa jika ada sepasang hati yang menyaksikan adegan roman-drama yang mereka suguhkan. Elvan dan Marisa terlalu larut dalam perasaan mereka sendiri.


Hingga suara tangisan bayi Reyna menyadarkan Elvan dan Marisa. Mereka berdua langsung salah tingkah setelah sadar jika mereka melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.


Marisa langsung menghampiri bayi mungil itu, sebelum Alvero mengambilnya dari ranjang bayi.


"Biar aku aja kak," kata Marisa saat melihat Alvero yang kaku dan tak tahu harus bagaimana meraih tubuh bayi yang tengah menangis di ranjangnya itu.


"Cup, cup, cup," ucap Marisa yang kini telah menggendong bayi di tangannya. "Kayaknya dia haus deh Kak." Marisa segera menyerahkan bayi Reyna kepada ibunya.


Reyna pun mulai memberikan ASI kepada bayinya. Sementara Elvan dan Alvero duduk di sofa tamu yang sedikit jauh dari ranjang pasien.


"Kamu sama Sylvia gimana?" tanya Alvero.


"Sudah berakhir Kak, udah selesai semua dengan lima persen saham yang ku kasihkan ke perusahaannya." Elvan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Elvan juga tak ingin mengatakan fakta tentang penyakit Sylvia, kepada laki-laki yang masih dianggapnya sebagai kakak itu.


Alvero mengangguk. "Syukur deh kalau kalian emang udah berakhir. Oh iya, ultah si kembar gimana?"


"Udah diurus EO sih Kak," kata Elvan.


"Baguslah, semoga lancar ya besok. Kakek nggak aneh-aneh lagi kan?" tanya Alvero lagi.


"Enggak sih Kak, ya, semoga aja Kakek nggak ada rencana jahat lagi. Oh iya, Mama Anita sama Mamanya Reyna kemana?" tanya Alvero yang sedari tadi tak melihat kehadiran dua wanita yang telah menjadi nenek itu.


"Mamanya Reyna masih di luar negri, kalau Mama Anita tadi izin pulang sebentar," kata Alvero.


Mereka pun melanjutkan obrolan tentang pekerjaan mereka di kantor. Saling meminta masukan, dan memberi pendapat. Alvero dan Elvan memang sering berbagi cerita tentang masalah-masalah mereka di kantor.


Alvero kini meneruskan bisnis sang mertua, yang juga bergabung dengan bisnis ayah kandungnya.


Tiba-tiba Bu Anita masuk ke ruangan Reyna. Terlihat sekali wajahnya berubah datar saat melihat Marisa yang menemani Reyna, juga Elvan yang sedang mengobrol dengan Alvero.


"Ma." Reyna tersenyum menyambut kedatangan mama mertuanya.


"Reyn, ini Mama bawakan makanan buat kamu sama Al," kata Bu Anita yang tengah meletakkan makanan di meja dekat ranjang Reyna.


"Apa kabar Ma?" tanya Marisa berbasa-basi.


"Baik," jawab Bu Anita singkat.


Suasana ruangan VVIP itu berubah menjadi canggung.


"Sini Mama gendong cucu Mama." Bu Anita mengambil alih bayi Reyna yang telah selesai minum ASI. "Kamu ini benar-benar anak Alvero ya, sangat jelas." Bu Anita berbicara dengan cucunya yang masih bayi itu.


Elvan yang tak ingin mendengar kata-kata menyakitkan dari Bu Anita, lalu mengajak Marisa pulang.


"Sayang, ayo kita pulang, bentar lagi anak-anak pulang." Elvan menghampiri istrinya, yang kemudian menerima uluran tangannya.


"Ternyata kalian sudah bersatu lagi ya." Bu Anita menatap sinis pada Elvan dan Marisa. "Apa selingkuhanmu itu tidak lebih kaya dari suamimu mangkanya kamu kembali?"


Bersambung….


Tenang ya Guys, emak tirinya ini nggak akan show up terus kok, cuma beberapa scene aja πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Stay Calm Oke...


Yuk, yang masih punya vote, sini bagi ke Othor 🀭🀭🀭


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Pasti Othor balas kok 🀭🀭


Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🀭🀭


Terima kasih banyak readers masih setia terus πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Mau kenal Othor?


Boleh kepoin ig othor di: ittaharuka