
Marisa mengambil nafas dalam dalam, udara di ruangan berpendingin itu terasa panas baginya. Apakah secepat ini takdir akan mempertemukannya dengan putranya. Tunggu, mungkin saja tidak semudah itu kan?
"Kamu... Marisa...? Iya kamu Marisa istrinya Elvan kan?" Tanya laki-laki bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja putih dan juga jas dan celana berwarna hitam, sangat cocok dan terlihat rapi. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Walau usianya sudah tak lagi muda, namun ia tetap terlihat segar dan juga berwibawa.
"Maaf Pak, perkenalkan nama saya Sarah." Kata Marisa mengulurkan tangannya.
"Aku Alvero." Laki-laki itu menjabat tangan Marisa. "Apa kamu juga amnesia seperti Elvan?"
Deg. Lagi-lagi jantungnya berdebar, setiap kali nama ayah dari kedua buah hatinya itu disebut, jantungnya menari-nari tak beraturan membuatnya kesulitan bernafas.
"Maaf Pak, tapi saya tidak amnesia dan juga saya tidak mengenal Elvan." Marisa menyanggah ucapan Alvero, ia tak ingin penyamarannya sia-sia tentunya.
"Dia ini orang dari kota S Pak, yang di rekomendasikan Pak Hadi, namanya Sarah saya sudah cek semua identitasnya." Kata Bu Lila menjelaskan.
"Baiklah, Lila kamu bisa kembali kerja ya." Kata Alvero.
Setelah itu Bu Lila meninggalkan ruangan Alvero. Dan kini tersisa Alvero dan juga Marisa yang masih menyamar sebagai Sarah.
"Takdir itu memang aneh ya Marisa, eh, maksudku.. Sarah." Alvero mengajak Marisa duduk di sofa ruangannya.
"Kamu tau tidak, dulu aku sangat menyukai mungkin bisa dibilang sangat mencintai sekretarisku yang akhirnya malah menikah dengan adikku Elvan, dan kamu tau, Wajahnya sama persis denganmu ini." Alvero memberikan minuman soda yang ia ambil dari lemari pendingin di ruangannya.
"Maaf Pak, mungkin hanya kebetulan saja kami mirip, bukankah manusia itu punya tujuh kembaran di bumi? Jadi kapan saya bisa mulai bekerja?" Tanya Marisa yang mulai tak nyaman.
"Santai saja dulu. Perusahaan ini milik saya sendiri. Saya tidak percaya dengan hal-hal begituan. Oh iya, apa kamu sudah menikah?" Tanya Alvero dengan santai.
"Sudah Pak, suami saya sedang merantau di Taiwan." Jawab Marisa asal saja, ia tak ingin jika nanti Alvero tau tentang Zea dan menjadi curiga dengannya.
"Oh,, kamu asli kota S?" Tanya Alvero.
"Benar Pak, kebetulan saya dari kecil di kota itu, suami saya juga sama." Lagi-lagi Marisa harus berbohong.
"Kamu sudah punya anak?"
"Sudah pak."
"Bagus kalau begitu, Oh iya Marisa, eh maksud saya Sarah, kamu ada tugas tambahan dari saya ya." Kata Alvero.
"Maaf, tugas apa ya pak?" Tanya Marisa kebingungan.
"Mulai besok setiap hari kamu jemput anak kecil ini." Menunjukkan foto anak laki-laki yang tersenyum manis diantara Alvero dan Reyna. "Lalu kamu ajak dia kesini ya. Nanti kamu bisa suruh antar sopir kantor. Bocah nakal itu suka sekali mengganggu saya, istri saya lagi hamil tua, jadi tidak mungkin bisa menjaga bocah nakal itu." Kata Alvero yang tersenyum memandang anak kecil dalam ponselnya.
Marisa berfikir bahwa anak kecil itu adalah anak Alvero dan Reyna.
"Ya sudah, kamu bisa kembali ke meja kamu, aturan kerja disini sudah disiapkan Lila di meja kamu ya, kamu bisa pelajarinya kalau ada pertanyaan bisa tanya saya langsung." Kata Alvero.
"Baik Pak saya permisi." Marisa pun berdiri lalu keluar dari ruangan Alvero.
Setelah Marisa meninggalkan ruangannya. Alvero menenggak habis minuman sodanya, dan memandang kembali foto bocah laki-laki itu.
"Aku yakin kalau kamu Marisa, aku harus buktikan kecurigaanku, kalau terbukti benar, aku akan membantumu bersatu dengan Elvan lagi." Kata Alvero bermonolog.
🌱🌱🌱
Di sebuah sekolah kanak-kanak seorang anak laki-laki tengah menunggu kedatangan ayahnya yang akan menjemputnya. Anak laki-laki itu terlihat muram, ini kesekian kalinya sang ayah terlambat menjemputnya di sekolah.
Zea, gadis kecil periang yang melihat teman sekelasnya nampak murung itu lalu menghampirinya.
"Hai, kamu lagi apa?" Sapanya dengan raut wajah menggemaskan, rambutnya di kepang dua dengan pita coklat yang senada dengan roknya.
"Nunggu jemputan." Jawabnya ketus, sebenarnya ia pria kecil yang ramah, namun karena kesal dengan sang ayah dia jadi kesal dengan semua orang.
"Aku Zea, aku juga nunggu dijemput Bunda." Zea mengulurkan tangannya kepada anak laki-laki itu.
"Aku Zayn." Jawabnya sambil menjabat tangan Zea.
Kedua bocah dengan mata yang sama itu tersenyum. Ada perasaan aneh yang mereka rasakan saat mereka bersentuhan tangan, seperti rasa rindu yang sangat dalam, tapi rindu kenapa, mereka baru saja berkenalan.
"Kata Bundaku kalau Bunda telat jemput biasanya karena jalanannya macet, kita tetep harus sabar nunggu disini nggak boleh kemana-mana." Kata Zea yang duduk di bangku sebelah Zayn.
"Papaku juga sering bilang gitu, tapi sebenernya Papaku itu terlalu sibuk kerja sampek kadang lupa jemput aku. Kayak sekarang ini pasti Papa juga lupa." Kata Zayn.
"Enggak lah Zayn, Papa kamu kerja juga buat kamu kan? Nggak mungkin lah Papa kamu lupa sama kamu." Kata Zea.
"Zea, kamu baru pindah kesini ya?" Tanya Zayn.
"Kamu lucu deh Zea, kamu punya Mama sama Bunda? berarti ibu kamu dua dong?". Tanya Zayn.
"Iya, ibu aku ada dua Zayn." Jari tangan Zea menunjuk angka 2. " Kalau ayahku cuma satu." Zea menunjukkan angka 1 di jari tangannya. "Tapi, aku nggak punya Papa." Zea kini melambai-lambaikan
"Kalau aku,, aku nggak punya Mama." Kata Zayn seketika raut wajahnya berubah sedih.
"Zayn, kalau kamu butuh Mama, aku bisa pinjemin Mama aku atau Bunda aku kok, kamu jangan sedih ya Zayn." Zea mengusap punggung Zayn.
Lalu sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Dan seorang laki-laki dewasa turun dari mobil itu.
"Maaf ya boy, Papa telat." Sang Ayah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, namun sang putra malah terlihat cemberut karena kesal ayahnya terlambat juga bercampur sedih karena tak punya Mama seperti Zea.
"Eh, gadis cantik ini siapa?" Sapa laki-laki itu dengan ramah. Ia duduk berjongkok di depan kedua bocah berkulit putih itu.
"Namaku Zea om, Om papanya Zayn ya? Zayn kelihatannya marah sama om karena telat jemput. Bunda ku juga telat, pasti Bunda kena macet. Iya kan om?" Zea dengan cerewetnya memperkenalkan diri.
"Iya nih Zea cantik, biasa jam segini emang suka macet, sampek om pusing nih." Laki-laki itu memegang kepalanya seoalah tengah merasa pusing.
"Nggak papa Om, kata ayah disini suka macet, nggak sama kayak tempat tinggalku dulu om." Kata Zea
"Emang Zea baru tinggal disini?" Tanya laki-laki itu.
"Iya om, aku baru pindah kesini sama ayah bundaku om." Kata Zea. "Bundaaa." Teriak Zea saat mobil Sheryl berhenti di depannya.
"Maaf ya Pak Elvan tadi saya ke toilet dulu, anak-anak yang lain udah pulang semua tinggal anak pinter-pinter ini jadi saya tinggal sebentar, mohon maaf ya." Kata Guru sekolah Zayn dan Zea
"Iya tidak masalah kok. Ayo Zayn kita pulang." Elvan, Papa Zayn mengajak putranya pulang.
Itu Elvan suaminya Kak Marisa kan, dan anak itu, dia bilang Zayn. Batin Sheryl.
"Zea aku pulang dulu ya. Bye." Kata Zayn melambaikan tangannya.
"Dah Zayn. Besok ketemu lagi ya" Zea membalas dengan melambaikan tangannya.
"Bye Zea.." Kata Elvan juga melambaikan tangan.
"Bye bye Om.. Hati-hati Om, Zayn." Zea terlihat heboh dengan melambaikan kedua tangannya.
Sementara Elvan hanya tersenyum sopan kepada Sheryl.
Ya Allah, Zayn sekolah disini juga. Ya Allah bagaimana ini? aku kasih tahu kak Marisa jangan ya.
"Bunda, ayo kita pulang, Zea lapar." Zea menarik-narik baju Sheryl dan menyadarkannya dari lamunan.
"Iya sayang, kita pulang ya."
🌱🌱🌱
Zayn dan Elvan sudah berada di mobil saat ini. Mereka duduk di bangku belakang.
"Boy, kamu pulang ke rumah kakek atau mau ke kantor Papa?" Tanya Elvan.
"Kantor aja, Papa sekarang jarang main sama aku. Apa Papa udah nggak sayang aku?" Zayn terlihat kesal.
"Bukan begitu Zayn, Papa sibuk kerja sayang, ini juga buat kamu, perusahaan ini nanti juga semuanya milik kamu."
"Aku nggak mau Pa, aku maunya kasih sayang, aku nggak mau perusahaan." Kata Zayn setengah berteriak, ia benar-benar kesal dengan Papanya.
"Zayn, dengerin Papa, cowok itu nggak boleh cengeng sayang."
"Papa sekarang jarang perhatiin aku, aku tu sukanya di jemput naik motor, bukan naik mobil Pa."
"Iya iya sayang, Papa tadi kan habis meeting langsung jemput kamu, nggak sempet ambil motor sayang. Maafin Papa ya."
Zayn tak menjawab, ia memalingkan wajahnya menatap kaca sampingnya. Perhatian Papanya semakin berkurang, jarang sekali Papanya mengajak dia main seperti dulu.
"Oh iya Zayn, besok Papa ada perjalanan bisnis keluar negeri, nanti kamu dijemput Uncle Alvero ya. Mau kan?"
"Terserah Papa." Jawab Zayn semakin kesal.
Elvan mengerti kekesalan putranya itu, ia hanya mengacak pelan rambut putranya itu.