
"Nggak papa sayang, pokoknya kamu turuti kata mas ya. Jangan bilang siapa-siapa hanya kita berdua saja yang tahu sampai orang-orang tahu dengan sendirinya."
"Lalu aku nggak berhenti kerja, Mas?"
"Kamu tetep datang ke kantor, supaya mas tetap bisa jaga kamu."
Marisa mengangguk, lalu mereka bersiap untuk pergi ke kantor.
🌱🌱🌱
Selama bekerja di kantor Marisa lebih banyak tidur di sofa ruangan Elvan, karena Elvan tak mengijinkan istrinya itu duduk terlalu lama. Elvan mengawasi dengan ketat makanan yang dikonsumsi Marisa.
Beruntung, selama kehamilan ini Marisa hanya mual saat lapar saja, selebihnya ia malah banyak makan dan tak mual berlebihan.
"Mas, aku pengen makan sate ayam," kata Marisa yang tengah duduk di sofa memperhatikan suaminya yang bekerja.
Elvan memang harus bekerja double, karena bengkelnya juga butuh pengawasan darinya. Apalagi Galih tengah mengawasi bengkel cabang yang baru beroperasi, Elvan jadi dua kali lebih sibuk dari biasanya.
"Jam segini di mana ada jual sate sayang?" Elvan masih fokus dengan layar laptopnya. Sesekali ia menggerakkan kepala dan tangannya yang mungkin terasa pegal.
"Ya cari lah, Mas." Marisa berjalan mendekati suaminya, lalu ia memijat bahu Elvan.
Elvan menoleh ke arah istrinya yang berdiri di belakangnya sambil memijat bahu lebarnya.
"Nanti sore ya, kita pulang cepet gimana? Sekalian mampir ke bengkel, mas mau cek kondisi bengkel," kata Elvan yang dibalas anggukan oleh Marisa. "Sabar ya, anak papa laper ya." Elvan mengelus perut Marisa yang kini telah memasuki usia delapan minggu.
"Laper Pa, maunya sate ayam." Marisa menirukan suara anak kecil yang membuat Elvan tertawa mendengarnya.
"Iya nanti beli ya." Elvan mencium perut istrinya yang masih datar. "Sayang, kalau anak kita cewek aku mau kasih nama Zea, kalau cowok aku kasih nama Zayn. Kamu suka nggak sayang?" Tanya Elvan yang kini berdiri sambil memeluk istrinya.
"Bagus Mas, aku suka."
"Pijit Mas lagi dong, nanti Mas beliin dua porsi nanti satenya," kata Elvan lalu duduk kembali di kursinya.
Marisa terkekeh pelan, sungguh ia sangat bahagia memiliki suami yang sempurna seperti Elvan. Tak ada satu pun kekurangan yang terlihat dimiliki laki-laki itu, membuat Marisa semakin bersyukur mendapat suami seperti Elvan.
🌱🌱🌱
Aroma sedap sudah tercium sejak Elvan memarkirkan motornya, asap yang beraroma daging hangus itu menusuk indra penciuman yang membuat Marisa tak sabar menghampiri penjual sate dan meninggalkan Elvan yang masih menyimpan helmnya.
"Mau berapa tusuk neng?" Tanya penjual sate yang masih sibuk membakar satenya. Sepertinya ia baru membuka warungnya.
"Kalau bakar sendiri boleh pak?" Tanya Marisa yang entah mengapa kini membayangkan suaminya tengah mengipasi deretan sate yang terlihat begitu tampan dalam imajinasinya.
"Harganya sama aja neng, memangnya bisa bakar sate sampek matang?" Penjual sate yang berlogat madura itu terlihat ragu.
Elvan mendekat, khawatir istrinya terlalu lama menghirup asap sate yang berbahaya untuk paru-parunya, terlebih ia sedang mengandung.
"Sayang, udah pesennya? Ayo duduk." Ajak Elvan.
"Mas, bakarin satenya ya, aku pengen lihat mas yang bakar sendiri." Kata Marisa yang seketika membuat Elvan kaget, kenapa harus ia yang membakar satenya? Memangya ia bisa melakukan hal yang terlihat mudah tapi sebenarnya sulit itu.
"Sayang, Mas nggak pernah bakar sate pakek arang gitu, biar bapaknya aja ya, sekarang kita duduk nggak baik buat kandungan kamu." Kata Elvan yang terlihat khawatir.
"Nggak mau Mas, aku maunya Mas Elvan yang bakar sendiri satenya." Marisa mengerucutkan bibirnya, alisnya berkerut hampir menyatu, seperti anak kecil yang merajuk meminta mainan.
"Istrinya ya Mas?" Tanya penjual yang mau tidak mau mendengar percakapan suami istri itu.
"Iya Pak, akhir-akhir ini aneh-aneh terus maunya." Kata Elvan yang bermaksud menyindir istrinya yang masih ngambek.
"Mungkin lagi nyidam Mas, nggak papa Mas, turutin aja nanti saya ajarin bakar satenya." Kata penjual sate memberi solusi.
Akhirnya Elvan pun mengalah, setelah melepas jas hitamnya ia menggulung kemeja putihnya sampai ke siku tangannya.
Elvan pun mulai mengipas-ngipas sate ayam yang telah dibaluri bumbu, beruntung penjualnya telah membakarnya setengah matang jadi setelah dilumuri kecap manis Elvan tinggal mengipasnya hingga benar-benar matang.
Marisa tersenyum puas, menyaksikan tubuh jangkung suaminya yang sibuk membakar sate pesanannya.
Dua piring nasi dan juga dua puluh tusuk sate ayam telah tersaji di meja warung makan pinggir jalan yang biasa berjualan sore hingga malam itu. Ya, akhirnya Elvan berhasil mematangkan sate ayam itu sesuai keinginan istrinya.
"Kamu senang?" Tanya Elvan yang kini duduk di hadapan Marisa, lengan kemejanya masih tergulung menampilkan otot-otot besar yang menjalar di lengan bawahnya.
"Iya Mas, seneng banget, Mas Elvan tambah ganteng." Marisa tanpa malu-malu memuji suaminya.
"Ah, kamu bisa aja, udah sekarang makan dulu sayang terus kita pulang, Kakek sama Papa minta kita ke rumah nanti malam." Elvan melepaskan daging sate dari tusuknya lalu menuangnya di piring Marisa.
"Jangan sekarang sayang, pokoknya tunggu sampai mereka menyadari kehamilan kamu ya." Elvan menggenggam tangan istrinya.
Meski sedikit kecewa Marisa tetap menghargai keputusan suaminya. Karena berkaca dari pengalaman sebelumnya Marisa juga tak ingin kembali kehilangan calon bayinya.
🌱🌱🌱
Malam harinya Elvan dan Marisa telah tiba di rumah besar milik Kakek Darma, mereka berjalan dengan bergandengan tangan memasuki rumah mewah itu.
Setelah mengucapkan salam dan berbasa basi Elvan dan Marisa bergabung dengan Alvero, Pak Erwin, Kakek Darma juga Bu Anita.
"Pa, mumpung semuanya berkumpul, aku mau sampai'in seseuatu," kata Elvan yang baru saja duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Ada apa El, apa ada sesuatu yang sangat penting?" Pak Erwin menatap serius wajah putranya itu.
"Perusahaan sudah stabil dan keuangan juga udah bagus, mungkin emang ini saat yang pas buat aku kembali fokus ke bengkel lagi," kata Elvan.
"Kakek tidak setuju, keuangan perusahaan itu lebih baik dikelola oleh keluarga sendiri bukan orang lain seperti yang sudah-sudah," kata Kakek Darma dengan tegas.
"Kek, meski karyawanku tidak sebanyak perusahaan, tapi aku juga punya tanggung jawab, aku nggak bisa terus-terusan ninggalin bengkel kayak gini," kata Elvan yang membantah perintah kakeknya.
"Suruh teman-teman kamu yang kelola, apakah kamu lupa dengan apa yang aku katakan waktu itu," kata Kakek Darma.
"Tapi Kek." Elvan menghela napasnya kasar.
"Tidak ada tapi," kata Kakek Darma.
"Sudahlah Pa, biarkan saja dia mengurus usahanya sendiri, kita sebagai orang tua harus mendukung keputusan anak-anak kita," kata Bu Anita.
"Memangnya sejak kapan kamu menganggap Elvan sebagai anak kamu?" tanya Kakek Darma kepada Bu Anita yang seketika membuatnya diam membisu.
"Untuk saat ini aku mau fokus ke bengkel dulu, bolehkan Pa, aku masih mau mengembangkan usahaku sendiri," kata Elvan kepada Pak Erwin.
"Hmm baiklah kamu bisa ke kantor setiap pagi, dan setelah makan siang kamu bisa ke bengkel biar Marisa yang handle kerjaan kamu di kantor, tapi ingat kamu masih punya tanggung jawab dengan perusahaan," jawab Pak Erwin menengahi perdebatan Elvan dan Kakek Darma.
Elvan setuju dengan usulan Pak Erwin. Meski nampak tak terima tapi Kakek Darma hanya diam, namun dalam pikirannya ia merencanakan sesuatu yang lain.
Makan malam pun tiba dan semua berjalan sewajarnya. Elvan hanya makan sedikit karena sebelumnya sudah makan bersama Marisa.
"El, apa istrimu belum ada tanda-tanda hamil lagi?" tanya Kakek Darma saat mereka duduk berempat setelah makan malam. Marisa berada di taman belakang ingin mencari udara segar, sementara Bu Anita sedang berada di balkon kamarnya mengamati Marisa.
"Insya Allah kalau udah rejekinya kita pasti akan kasih cucu buat kakek," jawab Elvan dengan santai.
"Kamu beruntung El, bisa menikah dengan orang yang kamu cintai, bukan karena perjodohan seperti aku dan Papa dulu," kata Alvero menyindir sang kakek.
"Semua itu demi kebaikan kamu. Kalau Elvan belum menikah juga akan Kakek jodohkan. Lagi pula bukannya kamu sekarang mulai menyukai Reyna," kata Kakek.
"Udahlah Pa, anak-anak punya rencana sendiri, kamu juga Al, kalau kamu nggak setuju, tidak perlu kamu menikahi Reyna, kita bisa batalin kok," kata Pak Erwin membela putra-putranya.
"Ngak usah Pa, demi perusahaan aku terima kok," tolak Alvero.
"Ya sudah segera saja kalian menikah. Kakek sudah tua sebelum meninggal Kakek juga ingin melihat anak-anak kalian lahir." Kakek pun beranjak meninggalkan Elvan, Alvero dan Pak Erwin.
Hening, sesaat ruang keluarga itu kembali sepi. Elvan pun beranjak mencari istrinya untuk segera pulang.
🌱🌱🌱
Elvan seperti biasanya, setiap pagi ia akan menempelkan telinganya di perut Marisa yang mulai nampak membuncit, meski belum terlalu besar. Ia sering melantunkan sholawat untuk menyapa bayi kecilnya itu.
"Mas, bulan depan kita USG ya aku pengen lihat baby kita." Kata Marisa.
"Iya sayang, anak papa ini cowok apa cewek sih, papa juga penasaran nih."
Seperti itulah obrolan pagi mereka sebelum memasuki waktu shubuh karena tiap pagi Marisa yang lapar merasa mual dan akhirnya membuat Elvan ikut terbangun.
Hari itu Elvan dan Marisa pergi ke kantor seperti biasa. Siangnya Elvan yang telah pergi ke bengkel meninggalkan Marisa di ruangannya.
Bu Anita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu membuat Marisa terkejut.
"Mama," Marisa hendak menyalami wanita itu namun sang wanita angkuh menolaknya dengan kasar.
"Aku bukan Mamamu!" Ucapnya dengan begitu kasar. "Pernikahan Alvero dan Reyna sudah ditentukan satu bulan lagi, aku cuma tidak mau sampah sepertimu menghadiri acara anakku, dan juga jauhi Alvero jangan pernah kamu menggodanya meski kamu sudah menikah." Bu Anita mendorong Marisa dengan keras.