My Amazing Husband

My Amazing Husband
Tentang Zayn


Siang itu begitu terik, panas matahari begitu menyengat kulit, Elvan dan Marisa memutuskan untuk menunggu sejenak di dalam mobil, karena mereka telah tiba di sekolah beberapa menit sebelum jam pulang.


"Aku bau minyak nggak sih Mas?" tanya Marisa yang sibuk mengendus-endus tubuhnya sendiri.


Risih, begitulah yang Marisa rasakan. Karena setelah memasak ia terbiasa mandi dan berganti baju, tapi, karena paksaan suaminya ia harus keluar rumah sebelum membersihkan diri.


"Enggak sayang, kamu cantik." Elvan tersenyum memandangi wanita yang memakai dress lengan pendek yang panjangnya selutut itu.


"Cantik kalau bau juga malu Mas." Marisa mengerutkan alisnya, bibirnya sudah maju beberapa inci.


Elvan terkekeh mengamati ekspresi kesal istrinya. Wanita itu selalu membuatnya gemas, hingga Elvan pun mengusap pelan rambut istrinya itu. "Emang malu sama siapa sih, Mas yang suami kamu aja nggak keberatan kok?"


"Ihh, Mas ini. Iya deh, biarin aja bau." Marisa membuang muka, memilih untuk memandang gedung sekolah yang masih terlihat sepi.


"Kamu di mobil aja ya, nanti Mas yang akan jemput anak-anak."


"Tau gitu aku di rumah aja tadi Mas, nggak usah ikut jemput." Marisa semakin dongkol.


"Kan Mas takut telat jemputnya, daripada Zayn ngambek seharian." Elvan mengusap lembut pipi kiri Marisa. "Kalau telat jemputnya sama kamu, dia pasti nggak akan marah," jelas Elvan. Ayah dua anak itu begitu takut membayangkan putra kecilnya yang akan marah karena menunggu lama.


"Emang Zayn bisa semarah apa Mas?" tanya Marisa yang kini menatap suaminya dengan serius.


Marisa memang belum mengenal Zayn sepenuhnya, jika di hadapannya, pria kecil itu akan bersikap manis dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia anak nakal.


"Dia akan ngambek seharian, uring-uringan nggak jelas, semuanya serba salah di matanya. Yang lebih parah lagi dia nggak akan mau ngomong. Dia akan ngikutin kemana aja aku pergi, bahkan sampai ke toilet pun dia tungguin, tapi ya gitu, dia akan kunci mulutnya sampe malem." Elvan menceritakan kelakuan anak laki-lakinya itu.


"Zayn ngikutin Mas meeting juga?"


"Iya, kemana aja dia ikut, tapi dia akan diem, nggak akan ngomong satu kata pun, mulutnya manyun kayak kamu tadi." Elvan tersenyum, kini ia tahu kenapa putranya itu sering ngambek, mungkin karena sifatnya menurun dari Marisa, istrinya.


Marisa salah tingkah, kenapa suaminya itu menyamakannya dengan bocah lima tahun yang tak lain adalah putra merek sendiri. "Mas nggak bujuk dia biar nggak ngambek?"


Elvan menarik nafas kasarnya "Udah sering, apapun Mas lakuin, borong mainan, ngabisin saldo Timezone, makan es krim sepuasnya, futsal seharian. Mas ajakin semua hal yang dia sukai, dia akan lakuin tapi tetep diem."


Marisa mengerutkan alisnya, ia berpikir sejenak, kenapa putranya bisa seperti itu. "Lalu, dia mau ngomong karena apa?" tanyanya.


"Kalau Mas udah lelah Mas akan ngomong, 'Zayn Papa capek, Papa pusing, hukum Papa aja' baru dia ngasih hukuman," ungkapnya yang kadang kewalahan dengan sifat putranya itu.


"Dihukum apa Mas?" tanya Marisa yang masih serius mendengar penjelasan suaminya.


"Disuruh jadi robot pernah, disuruh jadi kuda pernah, disuruh jadi pesawat pernah, Mas akan disuruh apa aja yang dia mau, baru dia maafin."


"Kalau gitu kenapa nunggu malem Mas. Kenapa nggak setelah pulang sekolah Mas bilang nyerahnya"


"Ya dia emang gitu, nyiksa Mas dulu, kalau Mas belum kesiksa dia nggak akan percaya kalau Mas lelah, kalau menurut dia emang udah lelah beneran baru dia kasih hukuman."


"Apa iya Zayn kayak gitu Mas." Marisa yang mendengar penuturan suaminya seakan tak percaya bahwa putranya memiliki sifat buruk seperti itu.


"Tanya aja deh sama Zaynnya langsung."


Elvan selalu takut jika terlambat sekolah, putra kecilnya itu memang telah mulai sekolah tahun lalu, dan semenjak sekolah ia sudah tak mau lagi diurus pengasuhnya, hingga Elvan pun terpaksa mengurus Zayn sendiri. 


"Itu kayaknya udah waktu pulang Mas." Marisa melihat beberapa bocah yang keluar dari gedung sekolah.


"Iya, kamu tunggu sini ya jangan kemana-mana!" perintah Elvan yang telah melepas setbeltnya.


Sementara Marisa menunggu di mobil, ia membuka kaca jendela agar bisa mendengar suara gaduh anak-anak Tk itu saat pulang sekolah.


"Lagi jemput anak-anak ya," ucap seseorang dari belakang samping mobil.


"Eh, Tuan Andra." Marisa terkejut melihat Andra yang telah bersandar di mobilnya.


"Iya, Mas Elvan yang masuk jemput anak-anak. Tuan Andra jemput Axel?" tanyanya basa-basi.


"Iya, tapi males kesana panas, nunggu sini aja yang adem," jawab Andra yang masih berdiri di samping mobil Elvan.


Marisa merasa tak nyaman, ia tak ingin jika suaminya salah paham karena ada Andra yang tiba-tiba menghampirinya. Marisa tak lagi bertanya, biarlah Andra berdiri disana, ia juga tak berniat keluar dari mobil.


"Kamu beneran istrinya Elvan?" tanya Andra yang sangat penasaran dengan kehidupan Elvan dan Marisa.


"Iya," jawab Marisa singkat, tak ingin berbasa-basi lagi dengan Andra karena tak ingin Elvan salah paham nantinya.


"Lalu Sylvia gimana kalau kamu beneran istrinya?" Andra memperhatikan ekspresi Marisa dari spion mobil Elvan.


Tuan Andra ini kenal Sylvia juga. Memangnya dia siapa sih kok kayak kenal banget sama hidup Mas Elvan. Batin Marisa


"Tuan kenal Sylvia juga?" tanya Marisa penasaran.


"Hahahaha…." Andra malah terkekeh mendengar pertanyaan Marisa.


Tak lama Elvan sudah terlihat menggandeng dua bocah yang tertawa bahagia. Entah apa yang mereka lakukan di sekolah tadi hingga mereka begitu riang. Berbeda dengan Papanya yang terlihat kesal menyaksikan Andra yang tengah bersandar di mobilnya.


Dua bocah itu langsung berlari begitu mendekati mobil, Zea langsung masuk ke mobil di belakang kemudi, namun Zayn malah menatap tajam Andra yang menghalanginya untuk masuk mobil.


"Permisi Om, tolong minggir," ucap pria kecil itu dengan sorot mata yang tajam, ia begitu membenci Axel, jadi ia juga tak menyukai ayahnya.


"Oh, iya silahkan Zayn." Andra mundur dan mempersilahkan Zayn yang akan masuk ke mobil.


"Ngapain kamu disini?" tanya Elvan yang juga tak menyukai sikap Andra yang berusaha mendekati Marisa.


"Jemput Axel, tapi di sana panas, ya udah aku nunggu di sini aja yang dingin," jawab Andra dengan santai.


"Jangan pernah dekati istriku, apalagi mencoba memasuki kehidupan kami," ucap Elvan yang kemudian masuk ke mobil.


Elvan langsung menjalankan mobilnya untuk meninggalkan gedung sekolah. Zea masih bernyanyi sedangkan Zayn terlihat kesal.


"Ma, ngapain sih papanya Andra di dekat mobil kita," gerutu Zayn.


"Ya Mama nggak tau sayang, tiba-tiba aja datang," jawab Marisa apa adanya.


"Marahin aja Mama Zayn, biar Mama tau kita nggak suka mereka," ucap Elvan mendukung kata-kata putranya. Ia lalu menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah si kembar.


"Maaass…."


Bersambung….


jangan lupa like dan komentarnya, akan Otor bales kok semuanya 🤭🤭