My Amazing Husband

My Amazing Husband
Berkunjung Ke Rumah Besar


Elvan memasuki rumah yang telah beberapa bulan tak ia kunjungi itu. Setelah disambut Pak Rudy di depan pintu masuk, kini ia melewati ruang tamu yang luas dan megah. Satu set sofa tamu bergaya eropa tersusun rapi di ruang tamu itu. Ukiran-ukiran berwarna emas di setiap sudut dinding rumah menambah kesan mewah rumah bergaya klasik ala eropa itu.


Setelah dari ruang tamu, Elvan yang masih menggenggam erat tangan Marisa, menuntunnya menuruni beberapa anak tangga yang menghubungkan langsung dengan ruang keluarga yang luasnya lebih dari luas rumah Marisa di kampung.


Sang Kakek tua tengah duduk di kursinya yang megah. Didepannya ada secangkir teh dan juga camilan yang masih utuh ada di meja. Menandakan beliau belum lama duduk disana. Kakek tua itu tengah menikmati acara di televisi besarnya yang menampilkan indeks harga saham.


Elvan melangkah mendekati kakek tua yang ditemani oleh tongkatnya itu.


"Assalamu'alaikum kek, aku pulang." Katanya lalu mencium punggung tangan sang kakek.


"Oh, walaikumsalam. Kakek kira kamu sudah lupa dengan rumah ini." Katanya menatap wajah Elvan yang masih saja berdiri dan menggenggam tangan istrinya.


"Tidak mungkin lah kek, oh iya, kenalkan ini Marisa istriku kek." Elvan lalu memberi isyarat dengan matanya kepada Marisa untuk berkenalan dengan Kakek Darma.


"Oh, sudah kenal, dia sekertaris pribadinya Al di kantor kan." Kata kakek saat Marisa mencium punggung tangannya.


"Selamat malam kek, apa kabar?" Sapa Marisa dengan penuh hormat kepada Kakek Darma.


"Ya, seperti yang kamu lihat, saya masih sehat dan baik-baik saja. Kalian duduklah." Kakek Darma mempersilahkan Elvan dan Marisa yang masih berdiri untuk duduk.


"Maaf Kek, kalau aku menikah tanpa meminta restu dari Kakek." Elvan masih menggenggam erat tangan istrinya yang duduk disebelahnya.


"Ya..... Dari dulu mana pernah kamu anggap kakek tua ini kakekmu." Kakek memperhatikan wajah sepasang suami istri yang duduk dikursi lain samping kanannya itu.


"Bukan begitu Kek, waktu itu..."


"Apa Alvero tau kamu menikahi sekertarisnya." Kakek memotong pembicaraan Elvan, lalu Beliau menyeruput teh dalam cangkirnya.


"Itu, aku akan kasih tau Kak Al nanti Kek."


"Kakek cuma tidak mau ketenangan rumah ini terganggu hanya karena kalian merebutkan wanita yang sama."


Anita yang turun dari tangga terlihat syok melihat Elvan dan Marisa duduk bersebelahan dan saling berpegangan tangan. Cepat-cepat dia berjalan mendekati mereka bertiga.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Anita yang sepertinya lupa ada ayah mertuanya yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Aku kesini hanya untuk bertemu Kakek dan juga Papa, oh iya kenalkan ini istriku Marisa." Jawab Elvan yang menatap tajam kearah Anita.


"Istri??? Sekertaris ini??" Anita tak percaya. "Oh, setelah saya suruh menjauhi anak saya, sekarang kamu mendekati adik tirinya." Anita lalu duduk di kursi samping kakek Darma, tepat di hadapan Elvan dan Marisa.


"Maaf nyonya, saya tidak pernah tau kalau Mas Elvan putra kedua keluarga ini." Jawab Marisa.


"Bukankah saat makan malam pertama kalian bersama Erwin putraku, kamu sudah tau jika Elvan adalah bagian dari keluarga ini?" Kali ini Kakek Darma yang menyudutkan Marisa.


"Kek, disini aku yang salah, aku yang tidak pernah datang kesini meminta restu sebelum menikah, tolong jangan memojokkan istriku, apapun yang kalian katakan, dia adalah istriku sekarang." Elvan merasa tak terima kakek dan juga ibu tirinya mulai menyudutkan Marisa.


Elvan tahu dari dulu kakek tua itu selalu mengawasi semua yang dilakukan Elvan, jadi ia pikir kakek yang tak mencegah pernikahan mereka itu memang merestui hubungannya. Ia memilih untuk tak datang memperkenalkan Marisa sebelum mereka menikah, karena tak ingin Anita ibu tirinya tahu dan menggagalkan pernikahannya.


"Hebat sekali kamu ya. Menikah tanpa meminta restu, lalu datang membawa istri kamu, kamu mau bilang kalau kamu sudah menikah, dan setelah kamu punya anak kamu mendaftarkan anak kamu menjadi pewaris keluarga ini begitu?" Anita begitu marah, bagaimana bisa Elvan menikah sebelum Alvero putranya menikah. Anita tak ingin Elvan menikah dan anaknya menjadi penerus pimpinan perusahaan karena menjadi cucu pertama.


"Mama Anita yang terhormat. Aku datang bukan untuk meminta warisan, bahkan Kakek masih sehat wal'afiat kenapa mengharap warisan? Aku jamin anakku tidak akan meminta apapun dari keluarga ini. Sama seperti aku yang tidak akan pernah mau menerima apapun dari keluarga ini." Elvan menatap tajam Anita, matanya sama berapi-apinya dengan mata Anita yang takut putranya kehilangan jabatan di perusahaan.


"Sombong sekali kamu. Kita lihat saja bagaimana kamu menyombongkan harga diri kamu nanti." Anita kesal.


"Iya kek, biar Kak Al saja yang mengurusnya, aku cuma mau mengurus bengkelku sendiri dan hidup tenang dengan keluarga kecilku tanpa pusing mengurus perusahaan." Kata Elvan yakin.


Tiba-tiba Pak Erwin memasuki ruang keluarga itu. Ia sepertinya baru pulang dari kantor karena pakaiannya yang rapi.


"Kalian sudah disini?" Pak Erwin lalu duduk disebelah Anita istrinya.


"Iya Pa, barusan." Kata Elvan.


Anita yang merasa malas lalu meninggakan mereka dan menuju kamarnya yang dilantai atas.


"Kalian makan disini kan?" Tanya Pak Erwin yang kini melonggarkan dasinya.


"Entah lah Pa, kalau situasi nggak memungkinkan lebih baik kami pulang saja." Elvan yang melihat istrinya hanya diam merasa tak tega, tangan yang sedari tadi masih di genggamnya terasa begitu dingin. Elvan tau istrinya belum siap menghadapi pertanyaan menyakitkan yang akan lebih kejam dari sebelumnya.


"Makanlah dulu, selesaikan juga urusan kalian dengan Alvero, biar dia juga tau." Kata Kakek Darma.


Tak lama Alvero datang, namun ia masih belum menyadari Elvan yang duduk membelakanginya datang bersama Marisa.


"Wah adik ipar sudah datang." Alvero menghampiri mereka demi melihat wajah istri adik tirinya itu. "Marisa." Ia terkejut setelah melihat Marisa yang masih terlihat menunduk.


"Iya kak, Marisa istriku." Elvan yang menjawab.


Alvero merasa kecewa, melihat wanita yang dicintainya menjadi istri adiknya membuatnya marah. Ia yang siang tadi menepis pikiran buruk itu ternyata malah menghadapi kenyataan buruk yang menyayat perasaannya.


Sementara Pak Erwin dan Kakek Darma hanya diam membiarkan mereka.


Elvan berdiri mensejajari kakaknya yang masih terkejut.


"Kak, aku tidak pernah tau kalau kakak suka dengan Marisa. Aku mengenal dia bukan sebagai sekertaris kakak." Elvan memegang pundak Alvero.


"Apa papa tau semua ini?" Alvero kini menatap tajam Pak Erwin. Seharusnya Pak Erwin memberitahu Elvan bahwa Alvero menyukai Marisa sebelum Elvan menikahinya.


"Iya papa tau semuanya." Jawab Pak Erwin yang membuat Elvan ikut memandang kearahnya.


Kini kedua anak laki-lakinya itu menatap tajam Pak Erwin, sementara Marisa mulai berkaca-kaca. Ia takut jika Ia akan menjadi penyebab permusuhan dua saudara itu.


"Kenapa Pa? Kenapa Papa tidak bilang?" Elvan geram, ia tak menyangka jika Papannya tahu dan hanya diam membiarkan semuanya.


"Memang kalau Papa bilang, apa yang akan kalian lakukan? Apa kamu akan membatalkan pernikahanmu demi kakakmu El?" Tanya Pak Erwin kepada Elvan. "Apa kamu akan membatalkan pernikahan adikmu Al?" Kini Pak Erwin menatap Alvero.


Sementara kedua anak laki-lakinya itu hanya diam.


bersambung....


Terimakasih Reader Kece yang selalu setia 😍😍😍


Tinggalkan Like dan Komen kalian ya untuk semangati Otor Kece ini 🤭🤭


Klik Favorite untuk dapat notifikasi updatenya ya..


Salam hangat dan terimakasih banyak 🥰🥰