My Amazing Husband

My Amazing Husband
Maafkan Kakek


"Apa istrimu tidak marah jika Kakek datang?" tanya kakek Darma yang ragu saat akan memasuki rumah cucunya itu.


"Kita coba dulu ya Kek." Elvan merangkul tubuh kakek Darma.


Sementara pak Erwin telah lebih dulu masuk, mencari dimana cucu-cucunya berada.


Marisa sedang menyiapkan makanan di atas meja, sementara Zayn dan Zea sedang asyik dengan film kartunnya.


"Zayn…. Zea…. Ada Grand Pa," kata Marisa saat melihat pak Erwin masuk ke rumah.


Zayn langsung berlari meninggalkan  ruang keluarga untuk menemui pak Erwin.


"Grand Pa…." Zayn langsung berteriak saat melihat kakeknya, dan pak Erwin langsung menggendong cucu laki-lakinya itu.


"Cucu Grand Pa tambah gembul ya, Grand Pa kangen banget sama Zayn." Pak Erwin mencium gemas kedua pipi Zayn.


"Zayn juga kangen Grand Pa, kenapa nggak pernah ke sini nengokin Zayn?" tanya Zayn yang kini memanyunkan bibirnya.


Sementara gadis kecil nampak tersenyum manis melihat Zayn yang digendong kakeknya.


"Grand Pa lagi sibuk banget Zayn." Pak Erwin menurunkan Zayn dari gendongannya saat melihat Zea. "Cucu Grand Pa yang cantik ini kangen juga nggak sama Grand Pa?" tanya pak Erwin yang kini mengusap lembut pipi Zea.


"Kangen Grand Pa, boleh gendong nggak?" tanya Zea penuh harap.


"Boleh dong." Pak Erwin kemudian mengangkat tubuh Zea, lalu mencium kedua pipi cucu perempuannya itu.


"Zayn mau digendong juga Grand Pa," kata Zayn yang merengek karena belum puas digendong.


"Zayn sama Papa sini." Elvan masuk bersama kakek Darma. Sekilas ia memperhatikan istrinya yang nampak tersenyum saat melihat kedua anak mereka berebut pak Erwin, namun senyum itu perlahan pudar saat melihat kakek Darma masuk bersama Elvan.


"Nggak mau, Zayn sama Mama aja." Zayn kini berjalan menghampiri Marisa yang telah selesai menyiapkan makanan.


Elvan lalu mengajak kakek Darma dan pak Erwin ke meja makan.


"Sayang, kamu udah makan?" tanya Elvan kepada Marisa.


"Udah Mas, anak-anak juga udah makan, Mas makan sendiri ya sama Papa dan Kakek," jawab Marisa. Ia lalu beralih pada Zea yang masih dalam gendongan pak Erwin. "Sayang, Grand Pa biar makan dulu ya, sini sama Mama." Marisa meraih tangan Zea dan menuntunnya kembali ke ruang keluarga.


Elvan pun makan malam bersama pak Erwin dan kakek Darma. Sementara Marisa menemani anak-anaknya menonton tv.


Usai makan malam, Elvan mengajak ayah dan kakeknya ke ruang keluarga menyusul Zayn dan Zea, sementara Marisa membereskan meja makan.


Zayn dan Zea bermanja-manja dengan pak Erwin, sementara Elvan terlibat obrolan yang cukup serius.


"Jadi, mulai besok kamu akan kembali ke perusahaan kan El?" tanya kakek Darma penuh harap.


"Emm…. Aku usahakan ya Kek," jawab Elvan.


"Kakek sudah tua El, sekarang giliran kamu yang harus fokus, Papa kamu sudah nggak mau mengurus perusahaan." Kakek Darma menghela nafasnya. "Dan bisakah kamu meyakinkan istrimu bahwa Kakek sungguh menyesal?"


"Elvan akan berusaha Kek, tapi Kakek benar berubah kan? Nggak ada rencana buruk lagi kan?" tanya Elvan penuh selidik. Pasalnya ia belum tahu pasti apa yang menyebabkan kakeknya itu berubah.


"Kamu tau, saat Kakek melihat Zea, Kakek seperti melihat Nenekmu, Kakek jadi sadar bahwa semua yang Kakek lakukan ini salah. Maafkan Kakek." Kakek Darma tertunduk lemas.


Elvan tak bisa berkata apa-apa.


"Kakek Uyut kenapa?" tanya Zea yang tak sengaja menyaksikan wajah sedih kakek Darma. Gadis kecil itu mendekati kakek Darma dan mengusap punggung kakek dengan tangan kecilnya. Saat itulah Marisa selesai membersihkan dapur dan meja makan, dan menyaksikan aksi putri kecilnya itu.


"Kakek salah Zea, Kakek banyak salah sama Zea dan Mama." Kakek Darma memeluk cucu perempuannya itu, tanpa sadar buliran bening menerobos keluar dari matanya, membasahi pipinya yang keriput.


Marisa terdiam, rasa sakit di hatinya mendominasi hatinya.


Marisa yang patuh pun menuruti kemauan suaminya. Elvan lalu mengusap lembut punggung istrinya seperti yang tadi Zea lakukan kepada kakek Darma.


"Zea, Kakek Uyut pulang dulu ya, Zayn Kakek pulang ya." Kakek Darma mengurai pelukannya pada tubuh Zea, dan berusaha berdiri.


"Kakek Uyut bobok sini aja sama Zea, Zea suka sama Kakek Uyut." Zea meraih tangan kiri kakek buyutnya itu, berharap kakek tua itu mau menuruti keinginannya.


"Tapi Kakek harus pulang Zea," kata kakek Darma.


"Kakek di sini aja, Grand Pa juga akan tidur sama Zayn kok, kita tidur berempat ya Kek, Mama sama Papa biar tidur berdua," kata Zayn yang kini berdiri memegang tangan kanan kakek Darma. "Boleh kan Ma, Pa?"


"Papa setuju," jawab Elvan dengan cepat.


"Mama boleh kan?" tanya Zea yang masih belum mendapatkan ijin dari mamanya.


Marisa terdiam, semua orang menantikan jawabannya. Elvan yang tak sabar lalu berbisik pada istrinya, "Ini kesempatan kita untuk bermain puas, biarkan anak-anak bersama mereka dan kita menikmati malam ini berdua."


"Mas…." kata Marisa dengan lirih.


Elvan hanya membalas dengan kedipan-kedipan nakal.


"Mama juga setuju kok, iya kan Ma?" tanya Elvan yang kini mencium tangan istrinya.


Marisa mengerutkan alisnya, jika ia tak menjawab entah apa lagi yang akan suaminya itu lakukan.


"Iya Mama setuju kok," jawab Marisa sambil tersenyum kepada dua anaknya itu.


Kakek Darma dan pak Erwin menatap Marisa yang dibalas dengan senyuman canggung. Sementara Zayn dan Zea berpelukan sambil loncat-loncat.


"Zayn…. Zea…." Elvan mengangkat kedua tangannya, lalu Zayn dan Zea menepuk dengan tangan mereka masing-masing.


🌱🌱🌱


Zayn dan Zea kini telah tidur di kamar Zayn bersama kakek dan kakek buyutnya. Untung saja ranjang di kamar Zayn berukuran besar, jadi muat untuk mereka berempat.


Sementara Elvan kini memeluk erat tubuh istrinya, ia begitu posesif terhadap tubuh Marisa. Malam ini ia ingin menguasai istrinya tanpa takut mengganggu tidur anak-anaknya.


"Mas, gimana tadi?" tanya Marisa karena Elvan memang belum bercerita apapun mengenai kedatangannya ke rumah Sylvia.


"Emmm…. Mas udah nggak ada hubungan sama dia." Elvan tak beranjak dari tubuh Marisa, ia bahkan menyusupkan wajahnya ke dada istrinya yang masih berpakaian lengkap.


"Jadi, Mas sama Papa beneran nyerahin saham ke mereka?" tanya Marisa ingin menjawab jawaban yang lebih detail.


"Nggak Sayang, jadi Kakek datang bawa dokumen yang isinya kita nggak perlu ganti rugi ke mereka, tapi Mas tetep kasih 5 persen saham ke mereka sebagai bentuk tanggung jawab Mas atas nama baik mereka juga," jawab Elvan yang kini telah membuka seluruh kancing piyama istrinya.


"Jadi, Sylvia nggak akan ganggu kita lagi kan Mas?"


"Nggak akan Sayang, udah, kita nggak usah bahas dia lagi ya." Elvan telah melepas seluruh pakaian atas Marisa.


"Terus kita mau apa Mas?"


"Masa kamu nggak ngerti."


Bersambung….


^^^Othor cuma mau ngingetin, jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Pasti Othor balas kok 🤭🤭^^^


^^^Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🤭🤭^^^


^^^Terima kasih banyak readers masih setia terus 🤗🤗🤗🤗^^^