My Amazing Husband

My Amazing Husband
Malam Kita


Usai makan malam di rumah mewah Kakek Darma, sepasang suami istri itu tengah berboncengan mesrah, di atas motor sport warna merah milik Elvan. Dalam ingatan mereka, seolah mereka tengah mengulang masa-masa awal pernikahan mereka. Berkendara di atas motor, melewati malam-malam indah berdua. Begitulah awal-awal pernikahan mereka.


Elvan melajukan motornya ke arah luar kota. Membonceng istrinya ke tempat yang telah ia siapkan. Selama satu setengah jam Elvan dan Marisa berada di atas motor, hingga Elvan pun berbelok ke sebuah rumah sederhana.


"Mas, ini rumah siapa?" tanya Marisa yang baru turun dari motor sport suaminya.


Elvan melepas helm yang dikenakannya juga helm Marisa. Laki-laki itu tersenyum manis kepada istrinya.


"Yuk, masuk!" ajak Elvan yang kini menggandeng tangan istrinya untuk memasuki rumah bersama.


Marisa menurut, dan hanya mengikuti langkah kaki suaminya. Sampai akhirnya, sang suami mengeluarkan sebuah kunci untuk membuka pintu rumah tersebut.


"Assalamualaikum," ucap Elvan dan Marisa bersamaan. Lalu mereka sama-sama tersenyum dan menjawab salam dalam hati.


"Ini rumah kita, kita akan merenovasi sesuai keinginanmu." Elvan mendudukan tubuhnya di sofa tamu yang masih terawat.


"Kita kan punya rumah, Mas." Marisa ikut duduk di samping suaminya.


Elvan langsung memeluk tubuh wanita kesayangannya itu. Ia begitu bahagia bisa berdua dengan sang istri.


"Rumah ini, yang akan menjadi tempat kita menghabiskan masa tua kita." Elvan lalu berdiri dan menuntun istrinya untuk membuka pintu belakang rumah.


Marisa pun menurut dan membuka pintu tersebut, lalu ia dapat melihat dengan jelas gulungan ombak menyapu tepian pantai. Bulan purnama yang bersinar terang begitu sempurna menghiasi langit malam itu.


"Mas … ini …." Marisa tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia berkali-kali tersenyum sambil menutup mulutnya. Tak percaya jika suaminya masih mengingat keinginan kecilnya dulu.


Elvan memeluk Marisa dari belakang. "Kamu suka?" bisiknya di telinga sang istri.


"Suka banget Mas." Marisa memutar kepalanya menghadap Elvan, lalu memberikan kecupan mesrah di pipi kanan suaminya itu.


"Mau main ombak bentar?" tanya Elvan yang langsung dijawab anggukan oleh Marisa. "Sholat Isya dulu ya." Elvan tersenyum lagi, lalu segera mengajak Marisa untuk menunaikan kewajibannya.


🌱🌱🌱 M.A.HπŸ€πŸ€πŸ€


Di rumah besar Kakek Darma, Zayn nampak cemberut karena berpisah dengan mamanya. Pria kecil itu terpaksa menyetujui usul kakeknya, untuk membiarkan mama dan papanya pergi berdua tanpanya dan Zea.


Sepulang dari acara ulang tahun tadi, saat Marisa telah naik ke kamarnya, Kakek Darma mengatakan pada Zayn dan Zea bahwa, jika mereka menginginkan adik, maka mereka harus membiarkan mama dan papanya pergi sebentar agar tidak terganggu.


Awalnya Zayn dan Zea menolak, namun Zea bisa dengan mudah menurut dengan iming-iming es krim yang besar. Sedangkan Zayn, nampak berpikir keras, sampai akhirnya bocah tampan itu menyetujui usul kakek buyutnya.


Setelah mendapat persetujuan si kembar, Pak Erwin yang juga terlibat dalam persekongkolan itu pun, menyuruh Elvan untuk segera pergi berdua bersama sang istri.


Elvan yang awalnya ingin mengajak kedua anaknya, akhirnya setuju dengan usul papanya yang memang menguntungkannya. Ia pun memilih pergi naik motor, agar bisa mengulang lagi masa-masa awal pernikahan mereka.


Zayn masih duduk dengan malas, memegang robot bumblebee kesukaannya. Sedangkan Zea kembarannya begitu menikmati es krim besar hadiahnya.


"Zayn, Zea. Kalian nggak buka kado?" tanya Pak Erwin yang melihat kedua cucunya nampak tenang-tenang saja.


"Besok aja," jawab Zayn malas.


"Grandpa, Grandpa kasih apa sih tadi? Zea nggak ngerti," celoteh Zea.


"Iya Grandpa, saham itu apa?" gadis itu mengulang pertanyaannya.


Pak Erwin langsung meraih tubuh gadis itu, lalu meletakkan dalam pangkuannya.


"Pokoknya, saham itu buat masa depan Zea, nanti kalau Zea udah gede, Zea pasti ngerti." Pak Erwin mengusap lembut rambut cucunya yang tergerai.


"Kenapa Grandpa nggak kasih hadiah sepeda aja, Zea pengen belajar sepeda," kata Zea yang kini telah menghabiskan es krimnya.


Zayn yang mendengar percakapan Zea dan Pak Erwin pun langsung menjahit.


"Zayn juga mau sepeda Grandpa." Pria kecil itu menggeser tubuhnya mendekati sang kakek.


"Besok pagi sepedanya pasti datang. Sekarang kalian tidur dulu," kata Kakek Darma yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan anak dan cicitnya itu berbicara.


Zayn dan Zea pun menurut, mereka pun masuk ke kamar Zayn di rumah itu.


🌱🌱🌱M.A.HπŸ€πŸ€πŸ€


Marisa dan Elvan menyusuri pantai dengan bergandengan tangan. Teringat lagi bulan madu mereka beberapa tahun lalu, di tempat berbeda, namun dengan suasana yang sama. Di bawah sinar rembulan, dan ditemani deburan ombak, Marisa dan Elvan akhirnya duduk di atas pasir pantai menikmati malam.


"Dingin," kata Elvan, laki-laki itu langsung memeluk tubuh istrinya, untuk menghangatkan tubuhnya.


Angin memang berhembus pelan, namun hawa dingin yang ikut terbawa, memang benar-benar menembus jaket tebal mereka.


"Mas, kita kayak lagi bulan madu ya," kata Marisa yang kini dalam dekapan hangat tubuh Elvan.


"Emang ini second honeymoon kita sayang." Elvan semakin mempererat pelukannya, saat hawa dingin itu kembali menerobos pertahanan tubuhnya yang terbalut jaket hangat.


"Anak-anak gimana Mas, kalau kita honeymoon?" tanya Marisa. Pikirannya tak bisa tenang, meski ia pernah berpisah dengan Zayn dan Zea juga, saat Zea pertama kali ke ibu kota bersama Sheryl dan Andi. Namun, rasa khawatirnya sebagai ibu, tetap merasuki perasaannya.


Elvan tak menjawab, ia sendiri juga tengah memikirkan anak-anaknya di rumah Kakek Darma.


"Mereka pasti aman sama papa dan kakek Sayang. Besok sore kita akan pulang ya, malam ini dan esok hari kita nikmati bulan madu ini." Elvan berbisik di telinga Marisa, membuat wanita itu merasa geli luar biasa.


Marisa tersenyum menatap Elvan, pandangan mata mereka terkunci. Dan semakin larut dengan perasaan mereka, akhirnya dua manusia itu saling berciuman. Di bawah langit gelap yang hanya diterangi cahaya bulan, Elvan dan Marisa tak memulai adegan panas itu.


Walau pantai itu sangat sepi, karena bukan termasuk kawasan wisata, namun Elvan dan Marisa tak mungkin melakukan penyatuan mereka di tempat terbuka itu. Elvan pun menggendong Marisa ala bridal style.


Usai mengunci seluruh pintu rumah dan pintu kamarnya, Elvan dan Marisa kembali memulai pemanasan mereka. Di kamar yang terbilang kecil itu, Elvan dan Marisa akan memulai malam panjang mereka.


Elvan telah melepas jaket beserta kaosnya, ia lalu mencium kembali bibir ranum kesukaannya. Tangannya mulai sibuk menjelajahi setiap lekuk tubuh Marisa, hingga tangan jahil itu berhenti di bukit kesukaannya.


Malam ini, Elvan ingin memuaskan hasratnya sampai benar-benar puas.


Bersambung….


Sampai ketemu lagi, tinggalkan like dan komen kalian ya. ❀❀❀


Terima kasih 😍😍😍