My Amazing Husband

My Amazing Husband
Happy Birthday My Twins


Suasana haru masih menyelimuti ruang VVIP rumah sakit, tempat Reyna melahirkan. Tak ada yang bersuara, semua menatap kedua wanita yang masih berpelukan itu.


Alvero tersenyum bahagia, ia begitu lega saat mendengar mamanya meminta maaf pada Marisa. Hal yang sama juga dirasakan Reyna, wanita yang baru mendapat gelar ibu itu, bahkan menangis karena begitu terharu.


Sementara Elvan tersenyum tipis, ia bersyukur mama tirinya bisa berdamai dengan wanita yang paling dicintainya. Elvan merasa, seakan satu bebannya terlepas dari dirinya.


Saat Marisa dan Bu Anita masih berpelukan, Kakek Darma datang bersama Pak Erwin untuk menjenguk Reyna dan bayinya. Mereka yang baru datang begitu terkejut melihat dua wanita yang saling berpelukan itu.


"Ada apa ini?" tanya Kakek Darma yang kemudian masuk ke ruang perawatan Reyna.


Marisa dan Bu Anita mengurai pelukan mereka. Kini, hati keduanya merasa lega, setelah saling memaafkan.


Bu Anita mengajak Marisa duduk di  sofa, menyusul Pak Erwin dan Kakek Darma yang telah dipersilakan duduk oleh Alvero.


"Aku sudah benar-benar menyesal Yah, karena sekarang aku sadar, kami lebih bahagia dengan saling memaafkan." Bu Anita menggenggam tangan Marisa di hadapan Pak Erwin dan Kakek Darma.


"Apa kamu sungguh-sungguh menyesal?" tanya Pak Erwin sedikit meragukan mantan istrinya.


Bu Anita tersenyum, wajar bagi Pak Erwin meragukan ketulusannya.


"Aku sudah merasa lega Mas, aku bahagia dengan keluargaku sekarang, melihat Al juga bahagia, jadi aku melepas semua bebanku yang berhubungan dengan keluarga Wiguna." Bu Anita kembali tersenyum.


Benar, semua yang dirasakan Bu Anita saat menjadi menantu keluarga Wiguna hanyalah beban. Tidak ada rasa bahagia, namun, karena ingin selalu menjadi sosialita, Bu Anita memilih bertahan. Hingga akhirnya Pak Daniel, ayah biologis Alvero, meraih kesuksesannya, dan Bu Anita kembali pada cinta sejatinya.


"Ya, kamu benar, menjadi menantu karena terpaksa memang sangat sulit, syukurlah kalau sekarang kamu bahagia Anita." Kakek Darma menasehati mantan menantunya.


Elvan mengajak Zayn dan Zea bergabung dengan Marisa dan yang lainnya.


"Mama, kapan kita boleh lihat adik bayinya?" tanya Zea yang sudah tak sabar, sedari tadi gadis kecil itu hanya diam mengamati bayi mungil dari kejauhan.


Bu Anita langsung memanggil baby sitter yang menjaga bayi Reyna, wanita tua itu meminta Zea untuk mendekat.


"Pelan-pelan … dan jangan banyak gerak ya, biar adiknya tenang." Bu Anita meletakkan bayi mungil itu ke dalam pangkuan Zea.


Zea menurut, dengan tenang ia bisa memandangi bayi kecil itu, membuat Zayn merengek ingin memangku juga.


Akhirnya dua bocah itu bergantian memangku sang bayi.


"El, Marisa, kasih mereka adik, sudah cocok mereka jadi kakak," ucap Pak Erwin.


"Kakek setuju, siapa tahu Tuhan masih mengijinkan kakek melihat adiknya si Zayn dan Zea." Kakek Darma menambahi kata-kata Pak Erwin.


Elvan langsung menatap wajah istrinya. "Gimana Sayang?" tanyanya penuh harap.


"Zayn setuju."


"Zea juga."


Kedua bocah kembar itu ikut menyudutkan sang mama yang hanya tersenyum canggung.


"Emm, ya semoga Allah mengabulkannya," jawab Marisa malu-malu.


...🌱🌱🌱M.A.H🍀🍀🍀...


Akhirnya, hari ulang tahun si kembar telah tiba, rumah kakek Darma pagi ini begitu heboh dengan persiapan menuju gedung tempat perayaan ulang tahun.


Setelah dari rumah sakit, Kakek Darma meminta anak cucu serta cicitnya itu untuk menginap. Dan, kini dua bocah kembar itu tengah sibuk memakai kostum mereka.


Marisa menyisir rambut Zea yang panjang. Sementara Zayn yang telah rapi dengan kostum pangerannya memilih duduk bersama Elvan. Elvan juga telah rapi dengan setelan jasnya. Pak Erwin dan Kakek Darma juga telah bersiap.


Setelah semua siap, mereka pun menuju gedung perayaan.


Ada banyak wartawan yang telah menunggu bintang utama hari ini, Marisa dan kedua anaknya terlihat terkejut saat wartawan menyambut kedatangan mereka.


"Mas, kenapa ada banyak wartawan?" tanya Marisa heran.


Elvan hanya tersenyum simpul, sementara Zayn yang tak suka disorot kamera wartawan ikut protes.


"Nanti kalian juga tahu," jawab Elvan santai.


Mereka pun memasuki gedung, sudah banyak tamu yang datang, teman-teman sekolah si kembar yang hampir semua anak-anak pengusaha dan orang penting negri ini, datang bersama orang tua mereka.


Semua bertepuk tangan menyambut kedatangan keluarga kecil yang baru bersatu beberapa bulan itu.


Marisa tampil anggun dengan rambut tergerai yang dihiasi bunga-bunga kecil, ia memakai dress selutut lengan panjang yang berwarna putih.


Zea memakai kostum princess ala eropa, yang senada dengan kostum pangeran yang dipakai Zayn.


Acara perayaan pun dimulai, Zayn dan Zea telah menghadap kue ulang tahun masing-masing. Semua bernyanyi lagu ulang tahun untuk si kembar.


"Zayn, Zea, bikin doa dulu ya sebelum tiup lilin," kata Marisa yang berdiri bersama suaminya di belakang si kembar.


Zayn dan Zea pun mengangguk, lalu mereka pun memohon doa dalam hatinya. Setelah mengucapkan doa, mereka pun meniup lilin berbarengan. Semua tamu bertepuk tangan, lalu Zayn dan Zea memotong kuenya, Zayn menyuapi Marisa, dan Zea menyuapi Elvan.


"Selamat ulang tahun anak-anak mama, jadilah anak yang sholeh dan sholeha, yang akan membanggakan mama dan papa ya." Marisa mencium kening Zayn dan Zea bergantian.


"Happy birthday my twins. Semoga kalian menjadi anak yang terbaik." Elvan pun melakukan hal yang sama dengan yang Marisa lakukan.


"Terimakasih Ma, Pa," ucap kedua bocah yang baru genap lima tahun itu bersamaan.


Setelah Zayn dan Zea selesai meniup lilin dan memotong kue, para tamu pun bergantian mengucapkan selamat untuk si kembar.


Anak-anak yang menjadi tamu itu, bermain di area khusus anak-anak yang memang disediakan oleh EO. Sementara orang tua mereka menikmati jamuan makan dan minum di meja bundar yang telah disediakan.


Ulang tahun Zayn dan Zea, digelar begitu mewah. Terlihat dari dekorasi, kue dan juga hidangan yang sangat sesuai dengan keluarga konglomerat itu.


Marisa mendampingi suaminya menyalami para tamu, lalu ia bertemu seorang wanita muda yang juga merupakan istri pengusaha rekan bisnis Elvan.


"Hai, Marisa," sapa wanita itu dengan ramah. "Kenalin aku Meisya, istrinya Farel." Wanita itu mengulurkan tangannya.


"Hai, Meisya, senang bertemu denganmu." Marisa menerima uluran tangan Meisya, dan mereka pun mulai mengobrol dengan santai.


Melihat istrinya tengah asyik berbincang dengan istri rekannya, Elvan pun maju ke depan, mengambil alih mikrofon yang sebelumnya dipegang oleh seorang penyanyi yang mengisi acara tersebut.


"Selamat siang semuanya, mohon perhatiannya sebentar." Elvan tersenyum.


Semua tamu pun melihat ke arahnya. Laki-laki tampan itu tengah bersiap untuk mengumumkan sesuatu.


Bersambung….


Mumpung hari senin, boleh dong minta vote nya 🤭


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian. Pasti Othor balas kok 🤭🤭


Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🤭🤭


Terima kasih banyak readers masih setia terus 🤗🤗🤗🤗


Mau kenal Othor?


Boleh kepoin ig othor di: ittaharuka