My Amazing Husband

My Amazing Husband
Tanggal Ulang Tahun Yang Sama


"Ingat jangan buang-buang uang sayang."


Elvan mengingat kata-kata itu, suara itu, suara istrinya saat mereka berdua di mobil dalam perjalanan bulan madu. Namun sakit di kepalanya menghentikan usahanya untuk berpikir keras, dan memaksanya mempercepat laju mobilnya karena sebentar lagi mereka akan sampai di apartemen Marisa.


Setelah memarkir mobil di parkiran, mereka langsung masuk menuju unit yang telah disewa Marisa.


"Zea, memangnya kalau tinggal disini kamu tidak takut?" Tanya Zayn yang masih menggandeng tangan Marisa, sedangkan Zea digandeng oleh Elvan.


"Pas pertama masuk Zea juga takut Zayn, tapi Ayah bilang, pesawat nggak lewat sini jadi Zea nggak takut lagi." Kata Zea saat mereka berada di lift.


"Ya sama aja Zea, pesawat juga nggak akan lewat di kantor Uncle." Kata Zayn.


Zea hanya tersenyum menanggapi omongan Zayn. "Mama Zea capek Ma." Zea mulai merengek.


"Sebentar lagi ya sayang." Kata Marisa membelai lembut pipi gadis kecil itu.


"Zea mau papa gendong nggak?" Tanya Elvan yang langsung disetujui gadis itu dan Elvan segera menggendong tubuh yang masih memakai seragam sekolahnya itu.


Saat ia menggendong Zea, ada perasaan haru yang menyelimuti hatinya, dengan gemas Elvan mencium pipi Zea.


"Zea kayak beneran punya Papa." Kata Zea tersenyum genit.


Marisa hanya tersenyum, tak menyangka jika mereka bisa akrab secepat itu.


"Kalau gitu, biar Papa jadi Papanya Zea oke.." Kata Elvan yang langsung mendapat ciuman di pipi dari Zea.


Marisa segera membuka pintu apartemennya saat telah sampai di rumah kecilnya itu.


Setelah masuk dan membuatkan minum, Marisa duduk di hadapan Elvan dan juga anak-anaknya.


"Ma, mau mandi Ma, gerah." Kata Zea yang mulai tak nyaman.


"Zayn juga mandi ya Ma." Kata Zayn yang ikut-ikutan.


"Zayn kan nggak bawa baju sayang, gimana? Cuci muka sama cuci tangan kaki aja ya sayang." Kata Marisa.


"Biar Papa beliin baju dulu ya, Zayn mandinya tunggu Papa." Kata Elvan.


Zayn mengangguk senang. Dan Elvan segera keluar untuk membelikan Zayn baju ganti.


"Yaudah kalau gitu Zea mandi dulu, Zayn bantuin Mama masak gimana?" Kata Marisa setelah Elvan keluar dari apartemennya.


"Iya Ma." Zea pun masuk kamar untuk segera mandi.


Zea memang anak mandiri karena sudah bisa mandi dengan bersih walau usianya belum genap lima tahun.


"Mama, Zayn pengen makan capcay, Mama bisa nggak masaknya?" Tanya Zayn saat mereka telah berada di dapur.


"Oh,, tentu sayang, sebentar ya kita lihat bahan-bahannya dulu." Marisa lalu membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia butuhkan untuk memasak capcay sesuai permintaan putranya.


Zayn membantu Marisa mencuci sayur-sayur sedangkan Marisa menyiapkan bumbu. Zayn sangat senang bisa membantu memasak bersama sosok Mama yang sangat ia rindukan selama ini.


Marisa dibantu Zayn, telah siap dengan masakannya dan menyajikannya di meja makan, Zayn benar-benar senang bisa membantu Marisa. Kalau biasanya dia hanya duduk manis karena makanan telah tersaji di meja makan, kini ia ikut sibuk menyiapkan makanannya sendiri, walaupun tak semewah sajian di rumah Kakek Darma, tapi Zayn benar-benar bahagia.


Zea telah selesai mandi dan terlihat segar, rambutnya juga telah disisir rapi. Ia berjalan dengan langkah kecilnya menuju meja makan.


"Sayang, tunggu Papa dulu ya, nanti kita makan sama-sama." Kata Marisa yang telah selesai menghidangkan masakannya di meja makan.


"Iya Ma." Kata Zea lalu menuju ke ruang tv.


"Zayn bisa mandi sendiri nggak sayang?" Tanya Marisa pada putra kecilnya yang duduk di meja makan itu.


"Bisa Ma, apa Zayn mandi sekarang aja Ma?" Tanya Zayn.


"Iya sayang, tapi nanti kalau Papa belum datang Zayn pakek handuk dulu nggak papa kan?" Tanya Marisa.


"Iya Ma nggak papa kok." Jawab Zayn.


"Yaudah Zayn mandi dulu ya ke kamar Zea." Kata Marisa lalu mengantar Zayn ke kamar yang seharusnya ditempati Zea.


Marisa pun menyerahkan handuk dan juga sikat gigi baru untuk Zayn, lalu setelah itu ia kembali ke dapur untuk mencuci peralatan masak yang baru dipakainya.


Tak lama Elvan pun datang membawa baju baru untuk Zayn dan juga Zea.


"Zayn mana?" Tanya Elvan kepada Marisa yang baru selesai membersihkan dapurnya, sementara Zea yang asyik menonton acara televisi tak begitu memperhatikan kedatangan Elvan.


"Lagi mandi, di sana." Kata Marisa menunjuk kamar Zea.


"Em, aku boleh numpang mandi juga nggak?" Tanya Elvan.


"Iya." Marisa lalu mengahampiri Zea, sedangkan Zayn telah selesai mandi dan langsung memakai baju yang telah dibeli Elvan.


***


Zayn dan Zea sedang menonton tv berdua, sementara Elvan dan Marisa sama-sama baru selesai mandi di kamar mandi yang berbeda.


"Zayn, Zea kita sholat dulu yuk." Kata Elvan mengajak kedua bocah itu untuk beribadah.


"Iya Pa, Mama juga ya." Kata Zayn lalu menarik tangan Marisa untuk ikut sholat berjamaah.


Akhirnya mereka berempat sholat bersama layaknya keluarga kecil yang bahagia. Usai sholat, Zayn mencium tangan Papa dan Mamanya, begitu juga Zea, dan setelah itu Elvan mengulurkan tangannya agar dicium oleh Marisa.


"Mama, ayo cium tangan Papa Ma." Kata Zea.


"Iya Ma, buruan sekarang kan giliran Mama cium tangan Papa." Kata Zayn mendukung saudari kembarnya.


Marisa tak sanggup berkata-kata, sebenarnya sah-sah saja karena Elvan masih suaminya, tapi saat ini kan Elvan tengah amnesia.


"Ayo dong Ma, kasihan Papa." Kata Zea lalu mengambil tangan Marisa untuk menerima tangan Elvan lalu mengarahkannya ke kening Marisa.


"Yeee gitu dong Ma." Kata Zayn yang terlihat begitu bahagia.


"Maaf." Kata Marisa dan Elvan bersamaan.


"Ciee Mama sama Papa kompak banget ya Zayn." Kata Zea.


"Iya, andai aja Papa nikahnya sama Mama, kita pasti seneng ya kan Zea?" Kata Zayn.


Marisa hanya sedikit mengukir senyumnya, lalu melepas mukenanya dan keluar meninggalkan Elvan dan kedua anak kembar itu. Ia menuju meja makan dan menunggu disana.


"Zayn Zea, kalian beneran mau Mama sama Papa menikah?" Tanya Elvan yang masih berada di kamar Zea tempat mereka melaksanakan sholat tadi.


"Iya Pa, Zayn nggak mau Tante Silvia jadi Mama Zayn, maunya Mamanya Zea aja." Kata Zayn dengan jujur.


"Kalau Zea gimana?" Elvan beralih pada gadis kecil yang masih memakai mukena itu.


"Kalau Zea terserah Mama, Zea cuma nggak mau Mama sedih." Kata Zea


"Tiap Ayah ngomongin Papa, Mama selalu nangis, Zea aja nggak pernah lihat foto Papa, yang Zea tahu namanya Elvan, karena Zea pernah nggak sengaja denger Ayah pernah bilang biar bagaimanapun Elvan papanya Zea, berarti papaku namanya Elvan kan Pa?" Tanya Zea yang polos.


"Benarkah?" Elvan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar dari mulut Zea.


"Kok nama Papa Zea sama kayak nama Papa?" Kata Zayn heran.


"Emm, mungkin Papa emang Papanya Zea, jadi Zayn sama Zea saudara." Kata Elvan menyimpulkan.


Zayn dan Zea saling memandang dan saling melempar senyum imut mereka.


Semoga kecurigaanku memang benar, bahwa kamu adalah istriku, dan Zea adalah kembaran Zayn. Batin Elvan.


"Tapi, Zayn Zea, kalian jangan bilang Mama dulu ya, biar nanti Mama nggak sedih atau bahkan sampek marah nanti." Kata Elvan mencoba bekerja sama dengan dua balita itu.


"Kenapa Pa?" Tanya Zayn bingung.


"Karna Mama selalu sedih kalau ngomongin Papa, jadi kita harus jaga rahasia dulu Zayn." Kata Zea yang mulai paham maksud Elvan.


"Ohhh.." Zayn hanya ber oh dan seketika tertawa cekikikan.


"Yaudah, kita susul Mama ya, nanti keburu dihabisin Mama makanannya." Kata Elvan lalu mengajak dua bocah itu keluar menuju meja makan dengan menggandeng tangan mereka.


Zayn dan Zea duduk dimeja makan dengan senyum yang tak pernah lepas, membayangkan mereka berdua akan menjadi saudara yang bersama-sama setiap saat membuat mereka senyum-senyum sendiri.


"Kalian kenapa?" Tanya Marisa yang telah selesai menuang nasi beserta lauk dan sayur diatas piring Elvan, Zea dan Zayn, serta di atas piringnya sendiri.


"Nggak papa Ma, kita seneng aja bisa makan sama-sama." Kata Zayn.


"Kita kayak keluarga lengkap ya Zayn." Kata Zea yang membuat pipi Marisa merona.


Elvan memandang wajah Marisa yang bersemu kemerahan.


Wajah itu, aku ingat aku sangat menyukai rona merah alami itu, aku sangat yakin bahwa dia Marisa, tapi aku tidak mau buru-buru, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi jika memang wanita dihadapanku ini adalah istriku. Batin Elvan.


"Emm Zea, kamu ulang tahunnya kapan?" Tanya Elvan yang ingin memastikan kecurigaannya.


"Tanggal 9 september Pa aku bentar lagi ulang tahun ke lima loh." Kata Zea.


Ternyata sama dengan Zayn tanggal ulang tahunnya, jadi mereka pasti kembar, dilihat dari sudut manapun kemiripan mereka benar-benar sempurna. Batin Elvan.


Kenapa Zea jujur sekali, semoga Mas Elvan nggak curiga, aku nggak mungkin ngaku sampek Mas Elvan benar-benar mengingatku kembali. Marisa.


"Zayn juga sama loh ulang tahunnya Zea, Pa nanti kita rayain sama-sama ya ulang tahun Zayn sama Zea." Kata Zayn bersemangat.


"Kita makan dulu ya sayang." Kata Marisa mengalihkan pembicaraan.


Elvan menatap Marisa, ia sekarang sangat yakin jika wanita dihadapannya adalah istrinya, Marisa.


Mereka pun makan dengan tenang, sesekali Marisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar saat melihat Elvan yang meliriknya dengan tatapan tajam seakan mencari penjelasan dari semua yang terjadi di meja makan itu.


Selesai makan, Zayn dan Zea ditemani Elvan menonton acara kartun di televisi. Zea yang begitu manja karena mendapat kasih sayang dari Elvan, duduk tenang dipangkuan sang ayah kandung. Sementara Marisa mencuci piring bekas makan mereka dan menyaksikan kedua buah hatinya yang terlihat bahagia bersama ayahnya.


Tak terasa air mata menetes membasahi pipi saat menyaksikan pemandangan langka itu, secepat itu keluarga kecilnya berkumpul walau keadaan tak sesuai keinginannya.


Selesai mencuci piring, Marisa bergabung bersama ketiga ayah dan anak itu, Ia duduk disamping Zayn yang langsung memeluk tubuhnya.


"Mama, Zayn pengen nginep disini Ma tidur sama Mama dan Zea, boleh ya Ma." Kata Zayn dengan wajah imutnya.


"Boleh sayang, tapi nanti kalau Zayn dicariin sama Kakek Uyut sama Grand-Pa gimana?" Tanya Marisa sambil membelai wajah rambut halus milik putra kecilnya itu.


"Nggak papa aku sudah bilang kalau aku dan Zayn nginep di rumah kami di komplek Mutiara kok." Kata Elvan.


"Mas masih suka kesana?" Tanya Marisa tanpa sadar.


Elvan yang mengerti Marisa tak sadar dengan ucapannya langsung memanfaatkan kesempatan.


"Mas masih ngerawat rumah kita kok." Kata Elvan dengan senyum menawannya yang membuat jantung Marisa berdebar-debar.


Marisa yang tersadar dengan kata 'kita' lalu menatap wajah Zayn berusaha mengalihkan perhatian.


"Nanti Zayn boleh tidur sini kok sama Mama sama Zea, biar Papa pulang dulu ya besok biar dijemput lagi sama Papa." Kata Marisa.


"Kalau Papa nginep disini nggak boleh ya Ma?" Tanya Zea yang masih bergelayut manja dalam pangkuan Elvan.


"Nanti Zea mau tidur sama Papa?" Tanya Elvan kepada Zea.


"Nggak mau, kata Ayah, Zea anak perempuan harus bisa jaga diri nggak boleh tidur sama cowok." Kata Zea dengan tegas.


"Kalau tidur sama Mama sama Zayn berarti tidur sama cowok juga kan." Kata Elvan.


Zea nampak berfikir sebentar "Tapi Mama kan bisa ditengah-tengah." Kata Zea tak mau kalah.


"Papa nginep sini juga ya, boleh kan Ma?" Tanya Zayn. "Besok Zayn pengen ajak Zea sama Mama jalan-jalan mumpung kita libur, ya kan Pa?"


"Papa sih terserah Mama, tidur berempat sepertinya seru juga." Kata Elvan yang memancing reaksi dari wajah Marisa.


"Papa tidur di kamar Zea aja, nanti Zea sama Zayn tidur sama Mama di kamar Mama." Kata Marisa memutuskan.


"Oke deh, Papa setuju. Besok mau jalan-jalan kemana sayang." Tanya Elvan kepada Zayn namun matanya memandang Marisa saat mengucapkan kata 'sayang'.


"Kebun binatang." Kata Zayn dan Zea yang sepertinya memikirkan hal yang sama, atau mungkin telah merencanakannya bersama.


Zayn dan Zea tertawa bersama sementara Elvan dan Marisa hanya tersenyum melihat tawa kedua bocah itu.


Usai sholat Isya' bersama mereka kembali menonton acara televisi, sampai Zea yang ada dalam pangkuan Elvan tertidur karena kelelahan mengoceh.


"Zayn, tidur sekarang ya kasihan Zea udah lelap banget." Kata Elvan yang masih mengusap rambut panjang Zea.


"Yaudah, tapi Mama sama Papa temani Zayn di kamar ya sampek Zayn tidur." Kata Zayn yang sepertinya juga mulai mengantuk.


"Iya sayang." Kata Marisa lalu mengajak Zayn masuk ke kamarnya sementara Elvan mengikutinya di belakang sambil menggendong Zea yang sudah terlelap.


Setelah merebahkan tubuh gadis kecil itu, Marisa menghadap Zayn yang telah rebahan disamping kanannya. Marisa menopang kepalanya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengusap punggung Zayn agar cepat terlelap.


Elvan duduk di tepi ranjang dekat kaki Zayn, memperhatikan Marisa yang berusaha menidurkan Zayn putranya.


"Tolong jangan melihat saya seperti itu." Kata Marisa dengan formal.


"Aku hanya teringat Mamanya Zayn, saat aku sadar dari kecelakaan yang membuatku melupakan semuanya, dia meminta maaf karena harus membawa anak kami pergi. Saat itu aku bingung kenapa dia meninggalkan aku dalam keadaan seperti itu. Lalu aku mendapat kenyataan yang lebih menyakitkan, wanita itu meninggalkan Zayn sendiri di panti asuhan, untung saja anak buah kakek yang mengawasinya langsung membawa pulang Zayn kepadaku." Kata Elvan saat melihat Zayn telah terlelap dan mungkin tak akan mendengar pembicaraannya dan Marisa.


Marisa hanya diam namun hatinya sangat terluka, setengah mati ia berusaha menahan matanya agar tak menangis.


"Menurutmu, dia ibu yang seperti apa?" Tanya Elvan yang melihat Marisa hanya diam melamun.


bersambung....