
Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari, saat Elvan memasuki kamarnya. Istrinya telah tertidur membelakangi posisinya. Elvan kemudian duduk di sebelah kaki istrinya.
“Maafkan aku, sungguh aku minta maaf, telah membuatmu menunggu lama.” Elvan mengusap kaki sang istri.
Marisa yang sebenarnya belum terlelap, mengira Elvan meminta maaf karena telah berselingkuh dengan Sylvia. Tanpa bisa ia tahan, air mata itu kembali membasahi wajah cantiknya. Namun, Elvan tak bisa melihat tangisnya, karena Elvan sendiri tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Elvan memasangkan selimut dulu untuk Marisa, sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi dulu lalu menyusul istrinya tidur. Sementara Marisa menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi wajahnya.
Usai mandi Elvan segera masuk ke dalam selimut yang sama dengan Marisa. Laki-laki itu akhirnya terlelap setelah memeluk istrinya dari belakang.
...🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀...
Pagi menyapa, sebelum azan subuh berkumandang, Elvan terbangun dari tidurnya. Walau dingin masih menyelimuti pagi itu, tapi Elvan tetap membangunkan sang istri yang masih berada dalam dekapannya.
“Sayang, bangun yuk udah subuh!” Elvan mengecup pipi Marisa.
Marisa menggeliat, berusaha bangun, kepalanya masih terasa pusing.
“Sayang, bangun ya, aku akan bangunkan anak-anak,” kata Elvan.
Namun, Marisa tak membalas kata-kata Elvan, dan melenggang pergi menuju kamar mandi.
Elvan membangunkan Zayn dan Zea yang tidur terpisah.
Tak lama, Elvan kembali ke kamarnya dengan membawa dua bocah yang masih setengah mengantuk itu.
Setelah itu mereka shalat berjamaah. Seperti biasa setiap selesai shalat mereka akan melakukan ritual cium tangan. Namun, saat Marisa akan mencium tangan Elvan, mendadak ia merasa mual. Saat tangan itu berhasil menyentuh keningnya, rasa mual di perutnya semakin menjadi.
Marisa bergegas ke kamar mandi, untuk memuntahkan isi perutnya.
“Mama kenapa, Pa?” tanya Zea yang melihat Mamanya buru-buru masuk ke kamar mandi, bahkan mukenanya masih melekat di tubuhnya.
“Mama masuk angin mungkin, kalian kembali ke kamar ya, papa akan bantuin Mama,” kata Elvan lalu menyusul istrinya ke kamar mandi.
Elvan menyingkap mukena Marisa yang basah, lalu meletakkannya di keranjang pakaian kotor.
“Sayang kamu kenapa? Kamu semalem nunggu Mas nggak makan ya?” tanya Elvan yang merasa khawatir.
Marisa tak menjawab, perutnya masih terasa mual dan ingin segera dikeluarkan.
“Sayang, kita ke dokter ya.” Elvan mengusap lembut tengkuk sang istri.
Marisa telah mengeluarkan semua isi perutnya, ia merasa begitu lemas karena isi perutnya telah terkuras.
“Mas, semalam Mas dari mana?” tanya Marisa dengan wajah lemahnya.
“Mas dari … dari … dari ketemu Sylvia,” kata Elvan.
Marisa teringat kembali foto yang telah dikirimkan Sylvia tadi malam. Ia merasa kecewa dengan suaminya yang bersama wanita lain di tempat seperti itu.
“Jadi kalian ke hotel tadi malam.” Marisa menatap tajam mata Elvan, mata Marisa memerah, air matanya masih terbendung dan hampir tumpah.
Marisa menampik tangan suaminya.
“Jangan marah sayang, kamu salah paham.” Elvan berusaha menyentuh istrinya, namun Marisa tak peduli dan malah menjauh dari Elvan.
“Salah paham apa Mas? Bukankah kalian berdua di kamar hotel yang sama, untuk apa? Kamu merindukannya Mas?” tanya Marisa setengah berteriak.
Wanita lemah lembut itu berubah menjadi singa betina. Emosinya begitu terkuras, rasa kecewanya tak mampu lagi ia bendung. Mata bengkaknya menjadi bukti bahwa semalam ia juga menangis.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Elvan dengan lembut, ia tak akan tersulut emosi juga. Saat ini yang ia tahu istrinya tengah terbakar cemburu. Untung saja kedua anaknya telah meninggalkan kamar mereka, sehingga ia tak khawatir anak-anak itu akan melihat mamanya yang tengah marah.
Marisa tak sanggup lagi berkata-kata, ia menangis di ranjangnya. Sementara Elvan berjongkok di hadapan istrinya, menatap wajah basah yang tertutup telapak tangan juga rambut panjangnya.
Laki-laki itu segera memeluk istrinya sekuat tenaga, meski tangan Marisa berkali-kali memukul lengan tangannya. Elvan tetap memeluk erat tubuh Marisa, sampai akhirnya tangan Marisa berhenti memukulnya.
“Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu.” Elvan tetap mengusap lembut punggung Marisa. “Tidak ada alasan untukku berpaling darimu,” lirihnya.
“Lalu kenapa Mas di sana?” tanya Marisa sesenggukan.
“Aku ke sana karena kasihan dengan keadaannya, dia bilang sedang kritis dan aku tidak tega sayang.” Elvan mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Marisa yang basah oleh air mata.
“Tapi, foto itu Mas.”
“Dia mengirimimu foto? Dia menjebakku Sayang, tapi untungnya aku punya bukti kuat. Jadi, mas pulang larut karena mas membuktikan pada polisi kalau mas tidak bersalah.” Elvan mengusap air mata sang istri.
Tiba-tiba ponsel Elvan berdering.
“Sebentar ya, mas lihat dulu siapa yang menelpon.” Elvan bangkit dari ranjang lalu meraih ponselnya di meja.
ANDRA
“Halo … “
“Halo, Sylvia udah nggak ada El.”
“Apa? Maksud kamu gimana? Kenapa dengannya?”
To be Continued.
Segini dulu ya, nanti kita lanjut lagi, tinggal beberapa bab udah end kok.
jangan lupa mampir di novelku yang lain, Menikahi Anak Sopir.
Caranya klik gambar profil aku 7purnama, setelah itu klik Menikahi Anak Sopir.
nggak kalah seru kok, dan yang pasti beda banget sama Elvan-Marisa.
Ok, See U gengs, tinggalkan like dan komentnya ya.