
Perasaan bahagia dalam diri seseorang yang tengah sakit memang dapat memperbaiki sistem imun dalam tubuhnya sehingga membuat orang tersebut kuat dalam melawan penyakit yang menyerang tubuhnya. Begitu pula yang dialami Zea, gadis cantik yang kemarin sempat membuat Marisa tak berhenti khawatir itu kini nampak sehat dan telah diijinkan pulang.
Secepat itu Zea dinyatakan sembuh, alasan yang bisa disimpulkan jelaslah rasa bahagia dan kenyamanan yang kini ia rasakan. Bagaimana tidak, jika Papa dan dan saudara laki-lakinya yang menghilang dan membuatnya tak nafsu makan itu kini telah kembali disisinya. Mengukir bersama momen-momen bahagia yang membuat senyum dan tawanya tak pernah lepas dari bibir mungilnya.
Gadis cantik itu kini sudah berada di rumah Elvan di komplek Mutiara bersama Zayn dan kedua orang tuanya. Rumah yang pernah menjadi saksi bagaimana ia dan Zayn bisa tercipta di rumah itu setelah peristiwa kehilangan yang pernah orang tuanya rasakan.
Di salah satu kamar rumah itu, Marisa tengah sibuk membersihkan kamar yang akan mereka gunakan untuk tidur berempat karena Zayn dan Zea memang belum mau tidur terpisah.
Sementara Zea dan Zayn tengah berada di kamar Zayn di lantai yang sama dengan kamar Elvan dan Marisa. Duduk di sofa bertiga sambil menonton kartun televisi di kamar bernuansa biru langit yang dipenuhi mainan khas anak laki-laki, namun ada yang berbeda dengan kamar itu, beberapa boneka milik Zea juga tertata rapi disana.
"Papa, jadi bener ya Papa sama Mama udah menikah." Tanya Zayn menatap Elvan yang berada diantara dirinya dan Zea.
"Iya sayang, kalau Papa sama Mama belum menikah Zayn sama Zea nggak akan ada di dunia ini sayang." Elvan menjawab semampunya, jujur ia bingung bagaimana cara menjelaskan kepada kedua anaknya itu tentang keadaan yang mereka alami saat ini. Tak mungkinkan ia mengatakan bahwa Kakek Uyut lah penyebab perpisahannya dengan Zea juga Mamanya?
"Jadi Zayn sama Zea beneran saudara Pa?" Zayn yang diliputi rasa penasaran pun tak bisa lagi menahan banyak pertanyaan yang terpendam diotaknya.
"Emm iya sayang, Zayn lahir dulu baru Zea ikut lahir juga. Sama-sama anak Papa dan Mama." Elvan memeluk kedua bocah menggemaskan itu.
"Tapi kenapa Zea sama Mama dan Zayn sama Papa, kenapa kita nggak tinggal bareng dari dulu Pa?" Zea yang cerdas pun ikut meluapkan rasa ingin tahunya yang membuatnya tak mengerti tentang keadaan rumit yang mereka alami.
"Emm,, karena Papa sakit dan Mama lagi cari obatnya sayang. Pokoknya yang terpenting sekarang kita semua udah sama-sama dan Papa sama Mama nggak akan terpisah lagi. Sekarang kita lihat kartun lagi aja ya." Elvan berusaha menjawab agar mereka tak lagi bertanya, dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan yang bisa saja melukai perasaan mereka nantinya.
Hari itu Zayn dan Zea kembali mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Kasih sayang yang selama ini sangat mereka harapkan, terutama Zayn.
Bocah laki-laki yang usianya belum genap lima tahun itu tak pernah merasakan bagaimana sentuhan seorang ibu, bagaimana rasanya dimanja dan diperhatikan oleh seorang ibu. Hingga diulang tahunnya yang ke empat tahun lalu, ia mendapat kado yang sangat istimewa dari Alvero sang paman.
Masih ia ingat dengan jelas bagaimana ia menangis semalaman setelah pesta ulang tahunnya yang meriah dan dihadiri oleh relasi bisnis Papa dan Kakeknya itu. Tak ada kado yang lebih membahagiakan baginya selain kado berupa foto Mamanya yang sengaja diberikan oleh laki-laki yang dipanggilnya Uncle itu.
Bahkan mainan pesawat terbang dengan remote kontrol dari Elvan yang selama ini ia idam-idamkan pun tak sebanding dengan foto Marisa yang tengah tersenyum bahagia. Semenjak malam itu Zayn mulai bermimpi dan mendapat kasih sayang dari Mamanya yang hanya hadir dalam mimpinya.
Kini, kasih sayang itu bukan hanya mimpi dan angan, namun benar-benar ia rasakan. Ia berjanji dengan dirinya sendiri untuk membahagiakan Mamanya sampai kapanpun.
"Mas, kita makan diluar ya." Marisa masuk menghampiri suami dan kedua anaknya yang masih menonton kartun di televisi.
Zayn yang melihat Mamanya langsung berlari dan memeluk Marisa.
"Mama, jangan pergi lagi ya." Zayn mendongak menatap wajah Mamanya.
"Iya sayangnya Mama, Zayn anak cowok Mama yang paling ganteng." Marisa menggendong Zayn dan menghampiri Zea dan Elvan yang masih tak beranjak dari duduknya.
"Kita mau makan dimana Ma?" Tanya Elvan.
"Terserah deh Mas, Zayn sama Zea mau makan apa sayang?" Marisa beralih pada Zea yang tetap fokus dan serius dengan layar televisi.
"Aku mau makan sate ayam Ma." Kata Zayn yang masih dalam gendongan Marisa.
"Wah, jangan-jangan waktu Mama hamil yang maksa Papa bakar sate itu Zayn ya." Elvan berdiri setelah mendengar keinginan Zayn untuk makan sate.
"Emang Papa ingat?" Marisa menatap Elvan dengan penuh tanda tanya, mengingat momen ngidam waktu itu mungkin saja terlupakan dari ingatan Elvan.
"Ingatlah sayang, dulu Zayn pernah ngerengek-ngerengek minta makan sate ayam, dan dari situ Mas ingat pernah bakar sate, tapi kayaknya Mas nggak ingat kalau pernah jualan sate, nah baru ini Mas ingat kalau waktu itu si Zayn yang masih dalam perut ini yang ngerjain Papanya sendiri." Elvan mencubit pipi Zayn saking gemasnya.
"Pasti iya Pa, Zea aja nggak terlalu suka sate ayam." Bocah perempuan itu menyahut dengan mata yang tetap fokus pada layar televisi.
"Emm, Zayn kan cuma mau makan sate ayam, kenapa Papa kesel sih Ma." Zayn yang tak terima mendapat cubitan gemas di pipinya itu mengadu pada Mamanya.
"Emm, enggak sayang, Papa nggak kesel kok, kayaknya Papa baru inget sesuatu. Nanti Mama temenin Zayn makan sate ya, Mama juga suka sate ayam." Marisa menurunkan Zayn dari gendongannya. "Yaudah kalian siap-siap ya, Zayn mandi dulu Mama tunggu di bawah." Marisa keluar dari kamar Zayn. Lalu Zayn pun segera mandi sesuai perintah Mamanya.
"Pa, kalau Zayn sama Mama makan sate kita makan apa Pa?" Tanya Zea yang sepertinya enggan untuk makan daging tusuk yang dibakar diatas arang itu.
Elvan menghela nafas berat, bagaimanapun ia sendiri tak begitu menyukai sate.
"Kita makan juga lah sayang, emang Zea nggak mau makan sate?" Tanyanya berusaha menutupi rasa enggannya.
"Sebenernya Zea nggak terlalu suka makan sate Pa, Zea pengen nasi pecel aja." Zea mengerucutkan bibirnya, malas sekali jika menu makan malamnya harus makan sate.
"Wah, kalau itu Papa setuju." Kata Elvan yang seketika membuat Zea tersenyum lagi, Ayah dan anak perempuannya itu saling tersenyum dan toos! Mereka benar-benar punya selera yang sama.
🌱🌱🌱
Di tempat lain, Pak Erwin tengah berbincang empat mata dengan ayahnya yaitu Kakek Darma. Hubungan yang terjalin diantara keduanya memang tak begitu dekat layaknya ayah dan anak pada umumnya.
Perselisihan itu semakin nyata saat Pak Erwin dengan terang-terangan mengakui pernikahannya dengan ibu kandung Elvan yang akhirnya membuat Kakek Darma murka. Pak Erwin dengan sekuat tenaganya mempertahankan pernikahannya dengan wanita yang dicintainya bahkan melahirkan seorang putra untuknya.
Kedua laki-laki beda generasi itu tengah duduk berhadapan di ruang kerja di rumah besar keluarga Wiguna.
"Sampai kapan Ayah akan menghancurkan kebahagiaan anak-anak demi keegoisan Ayah sendiri. Rumah ini begitu sepi, seharusnya ada anak-anak El yang mengisi kekosongan rumah ini." Pak Erwin mulai lelah menyaksikan kekejaman Ayahnya. Di rumah sebesar itu kini mereka hanya tinggal berdua ditemani para pekerja yang jumlahnya lebih dari lima belas orang itu.
"Dia tidak akan bisa bertahan lama dengan wanita itu, setelah mendepaknya dari perusahaan dia hanya akan menjadi laki-laki biasa, kita lihat saja nanti bagaimana dia akan memohon dan meninggalkan istrinya itu." Kakek Darma menyeruput minuman tehnya.
"Ayah, jika Elvan sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, maka biarkanlah mereka bersama Yah, Erwin mohon jangan menyakiti keluarga Elvan, jangan pisahkan mereka lagi Yah. Apa Ayah tidak mengenal Elvan, dia itu keras kepala dan dia akan melindungi keluarganya apapun yang terjadi." Pak Erwin menatap tajam mata tua yang selalu membuatnya kesal itu.
"Ayah membangun perusahaan, dan membangun nama baik keluarga ini tidak mudah Erwin, apa yang akan relasi bisnis kita katakan, apa yang akan keluarga besar kita katakan jika mereka mengetahui Elvan menikahi anak seorang peternak kambing. Benar-benar menjatuhkan harga diri keluarga Wiguna." Kakek Darma geram, diusia yang seharusnya bersantai dengan bermain bersama cucu cucunya itu ia justru berfikir keras bagaimana memisahkan cucunya dari wanita yang dianggapnya tak selevel dengan dirinya.
"Terserah Ayah, kalau Elvan mundur dari perusahaan, aku juga mundur, Ayah urus saja sendiri perusahaan Ayah." Pak Erwin meninggalkan ruangan itu.
Sementara Kakek Darma semakin marah, ia juga harus memikirkan pertunangan Elvan yang akan di gelar tak lama lagi itu terancam batal dan akan menimbulkan kerugian besar untuk perusahaan.
🌱🌱🌱
Zayn dan Zea baru saja tertidur setelah tak berhenti membicarakan hal-hal menarik bagi mereka, seperti teman sekolah, guru-guru dan juga orang-orang disekitar mereka. Marisa dan Elvan berada dipinggir ranjang dan kedua anaknya yang telah lelap berada di tengah diantara mereka.
"Bikinin Mas teh hangat ya sayang." Kata Elvan yang kini berdiri dan menarik lembut tangan istrinya.
"Iya Maas." Marisa mengikuti langkah kaki Elvan keluar dari kamar dan turun menuju dapur untuk membuat teh.
Tak lama kemudian teh hangat pun tersaji di meja ruang tengah dimana Elvan sedang menonton televisi yang menampilkan video acara pernikahan mereka.
"Aku bersyukur masih bisa mengingatmu walau terlambat." Elvan memegang tangan Marisa.
"Mas, yang terpenting sekarang kita bisa bersama membesarkan anak-anak sampai mereka dewasa, dan jangan sampai kita menjadi orang tua egois untuk mereka." Marisa membenamkan wajahnya dalam pelukan Elvan.
Elvan mengecup kening Marisa, "Kamu tau setiap kali kangen kamu, Mas akan selalu lihat video ini yang Mas temukan di meja rias kamu." Elvan mengusap rambut Marisa, memberikan kembali ketenangan yang lama tak ia rasakan.
"Mas, aku selalu berdoa semoga pernikahan itu tetap menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuk kita berdua."
"Aamiin sayang. Oh iya, Andi itu mantan kamu kan?" Elvan teringat nama laki-laki yang sering dipanggil Ayah oleh putrinya itu.
"Iya Mas, kalau nggak ada dia aku nggak tau seperti apa nasibku dan Zea, dia udah anggap Zea seperti anaknya sendiri, bahkan dia yang bayar baby sitter untuk jaga Zea agar aku tetap bisa kerja dan akhirnya punya toko kue sendiri."
"Mas akan bayar utang ke dia. Jangan-jangan dia masih suka sama kamu." Kesal Elvan yang mulai cemburu.
"Mas, dia itu bener-bener sayang sama Zea, apalagi Sheryl yang sekarang jadi istrinya itu bener-bener merasa bersalah karena Zayn diculik saat dalam pengawasannya."
"Tapi Mas nggak mau punya hutang budi sama mantan kamu."
"Mas cemburu?? Lagian aku sama Andi nggak mungkin lah ada hubungan Mas, aku anggap dia itu udah kayak kakak sendiri."
"Tetep aja kan dia mantan kamu."
Marisa tak tahu lagi bagaimana cara membuat suaminya itu mengerti, dengan malu-malu Marisa mengecup singkat pipi Elvan.
"Jangan marah ya Mas, cuma kamu yang ada di hati aku selamanya." Marisa mengayunkan wajahnya tepat dihadapan Elvan hingga rambut panjangnya yang tergerai menerpa sebagian wajah Elvan.
Elvan menatap lekat wajah Marisa yang tersenyum menggemaskan dihadapannya. Aroma shampo yang tercium saat sebagian rambut itu menerpa wajahnya membuat Elvan tak tahan untuk memulai aktifitas panas yang telah lama tak mereka lakukan.
"Apa istri Mas yang cantik ini tidak merindukan sentuhan suaminya." Elvan mengecup bibir Marisa, lalu menggigit pelan bibir bawah Marisa agar ia dapat memperdalam ci*m*nnya untuk mempertemukan lidah mereka.
Sementara tangan nakal Elvan tak tinggal diam, ia mulai meraba area kembar Marisa yang sudah sangat lama tak pernah ia sentuh, lalu membuka kancing baju tidur Marisa dan menyentuh benda kenyal itu yang menciptakan sensasi luar biasa disela-sela ci**annya.
Saat tangan Elvan semakin bergerak menuju area paling sensitif, Marisa dengan cepat mencegahnya dan melepaskan bibirnya dari ciu*an panas itu.
"Kenapa sayang?" Tanya Elvan dengan nafas tersengal-sengal. "Kita masih suami istri sayang, apa kamu malu? Kita ke kamar sana ya." Elvan menunjuk kamar tamu yang tak pernah terpakai namun selalu dibersihkan dilantai bawah dekat ruang keluarga.
"Aku lagi menstruasi Mas." Kata Marisa yang seketika membuat Elvan lemas dan lansung merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Hah,,, setelah lima tahun lebih, sekarang masih harus puasa lagi." Elvan mengusap kasar wajahnya mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
Sementara Marisa hanya tersenyum canggung menyaksikan suaminya yang frustasi karena tak bisa menyalurkan hasratnya yang terlanjur sampai ke ubun-ubun, dan Elvan harus menenangkan sendiri sesuatu yang membuat celananya terasa sesak.
Bersambung....