
Elvano Putra Wiguna, laki-laki yang usianya hampir 34 tahun itu, tengah berdiri tegak di hadapan para tamu undangan. Dengan memegang mikrofon di tangannya, ia berdiri dengan penuh percaya diri.
"Selamat siang semua, mohon perhatiannya sebentar." Elvan berdiri tepat di hadapan para tamu, sebagian besar masih duduk di mejanya.
Marisa yang tengah mengobrol dengan kenalannya, Meisya, ikut menoleh ke arah suaminya.
"Hari ini, tepat lima tahun usia kedua malaikat saya." Elvan kembali menampilan senyumnya yang menawan. "Happy birthday my twins, semoga kalian menjadi anak yang membanggakan papa dan mama" ucapnya tulus untuk kedua anaknya.
Semua tamu bertepuk tangan untuk Zayn dan Zea yang tengah berulang tahun.
"Seperti yang kalian semua tahu, bahwa istri saya menghilang beberapa tahun lalu, dan sekarang, wanita yang paling saya cintai itu telah kembali menemani sisa hidup saya." Elvan menatap Marisa yang sudah duduk kembali ke kursinya.
Marisa tersenyum malu-malu karena mendapat pandangan penuh cinta dari sang suami, di hadapan semua orang.
"Saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk istri saya tercinta." Elvan tersenyum lagi, lalu mengambil sebuah gitar yang diantarkan oleh karyawan EO.
Elvan pun mulai memainkan gitarnya, membuat semua tamu kecuali anak-anak yang sibuk bermain itu, menatap kagum ke arahnya, seorang Elvan ternyata selain tampan juga merupakan laki-laki romantis, begitulah kira-kira pikir mereka.
Dan sebuah lagu dari Shane Filan yang berjudul Beautiful in White pun mulai Elvan lantunkan.
Not sure if you know this
(Tidak yakin apakah Anda tahu ini?)
But when we first met
(Tapi saat pertama kali kita bertemu)
I got so nervous I couldn't speak
(Saya sangat gugup sehingga saya tidak bisa berbicara)
In that very moment
(Pada saat itu juga)
I found the one and
(Saya menemukan satu dan)
My life had found its missing piece
(Hidupku telah menemukan bagiannya yang hilang
So as long as I live I love you
(Jadi selama aku hidup aku mencintaimu)
Will have and hold you
(Akan memiliki dan menahanmu)
You look so beautiful in white
(Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian putih)
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
(Hari ini aku akan menghargai)
You look so beautiful in white
(Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian putih)
Tonight
(Malam ini)
Saat Marisa masih terpesona dengan suara suaminya, Zayn dan Zea datang menghampiri, lalu dua anak kembar itu menuntun sang mama untuk berjalan menuju ke arah Elvan.
Semua tamu semakin riuh bertepuk tangan.
Marisa sampai tak bisa berkata apa-apa, ia akhirnya duduk di kursi kosong yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Elvan. Setelah Marisa duduk di samping Elvan yang terus menatapnya sambil bernyanyi, Zayn dan Zea meninggalkan panggung sesuai insttuksi dari EO.
What we have is timeless
(Apa yang kita miliki tidak lekang oleh waktu)
My love is endless
(Cintaku tak berujung)
And with this ring I
(Dan dengan cincin ini aku)
Say to the world
(Katakan pada dunia)
You're my every reason
(Kamu adalah setiap alasanku)
You're all that I believe in
(Anda semua yang saya percayai)
With all my heart I mean every word
(Dengan sepenuh hati saya maksud setiap kata)
So as long as I live I love you
(Jadi selama aku hidup aku mencintaimu)
Will haven and hold you
(Akan memiliki dan menahanmu)
You look so beautiful in white
(Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian putih)
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
(Hari ini aku akan menghargai)
You look so beautiful in white
(Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian putih)
Tonight
(Malam ini)
Elvan meletakkan gitarnya, lalu ia pun meraih tangan kanan Marisa dengan tangan kirinya.
"Ada apa sih Mas, yang ulang tahun kan anak-anak bukan aku, kenapa Mas kasih surprise romantis gini?" tanya Marisa yang masih malu-malu, wajahnya yang cantik telah bersemu-semu kemerahan.
"Memang bukan kamu yang ulang tahun, tapi, lima tahun yang lalu kamu juga memberikan kejutan buat mas, dengan melahirkan dua malaikat untuk mas." Elvan menatap mata istrinya, mikrofon yang masih menyala, membuat para tamu dapat mendengar dengan jelas percakapan suami istri itu.
Lalu Elvan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah muda dari saku jasnya. "Mas tahu, ini tidak akan sebanding dengan perjuanganmu, tapi, rasa terima kasihku juga tidak akan cukup." Elvan membuka kotak cincin itu.
Marisa terkejut, sampai menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia begitu berbunga-bunga melihat cincin berlian yang begitu indah berkilauan.
"Mas, ini pasti mahal, ini berlebihan Mas," kata Marisa yang membuat Elvan terkekeh pelan.
Semua tamu menatap Elvan dan Marisa dengan tegang. Seolah mereka tengah menyaksikan dua pengantin yang akan segera naik pelaminan. Acara ulang tahun itu berubah menjadi acara kejutan romantis dari Elvan untuk Marisa.
"Tidak ada yang berlebihan, karena aku mencintaimu." Elvan memasangkan cincin berlian itu di jari manis tangan kanan Marisa, bersandingan dengan cincin pernikahan mereka yang terus melekat di jari tengah sang istri.
Elvan mengecup tangan kanan Marisa yang membuat semua tamu riuh bertepuk tangan.
Elvan lalu menggulung lengan jasnya sebelah kiri. Lalu menunjukkan gelang bayi milik Zayn yang dulu diberikan Marisa untuk bayi pertamanya.
Marisa menangis tak percaya melihat gelang itu, ia tak menyangka suaminya masih menyimpan gelang murah itu.
"Mas masih simpan gelang Zayn?" tanya Marisa yang sudah berkaca-kaca.
Elvan tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya. "Tentu, karena gelang ini mas bisa memberinya nama Zayn, mas sudah merubah ukurannya, dan juga memesan untukmu." Elvan mengurai pelukannya, lalu menunjukkan gelang yang sama yang bertuliskan Zea, lalu memasangkannya di pergelangan tangan Marisa.
"Masih ada kejutan lagi." Elvan mengajak Marisa berdiri, lalu membalik tubuh Marisa, menghadap layar lebar di hadapan para tamu.
Layar itu kemudian menampilkan foto-foto pembangunan sebuah toko, yang bersebelahan juga dengan bengkel motor Elvan.
"Mas β¦ ini β¦." Marisa begitu tak percaya saat melihat nama toko kuenya di kota S terpampang jelas di sana.
"Iya, di sebelah bengkel motor, mas masih membangun bengkel mobil di sana. Dan di sebelah bengkel mobil itu, nanti toko kue istriku akan beroperasi." Elvan mengecup kening Marisa. "Terima kasih."
Dan, acara ulang tahun itu benar-benar menjadi acara kejutan untuk Marisa. Kakek Darma dan Pak Erwin berjalan menghampiri sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
"Terima kasih, sudah menjadi menantu di keluarga Wiguna," ucap Kakek Darma yang kemudian memeluk cucu menantunya itu.
"Terima kasih Marisa, karena kamu sudah setia menjadi istri Elvan." Pak Erwin bergantian memeluk Marisa.
Saat mereka berempat saling tersenyum di depan para tamu, dua anak kembar itu berlari menghampiri orang tua dan kakeknya.
"Mama, Papa, kita dapat kado apa?" tanya Zea.
"Wah kalau kado buat anak papa sudah ada dong." Elvan menggendong putrinya, lalu mereka pun duduk kembali ke kursi bundar khusus Elvan dan keluarganya itu.
Lalu acara pun dilanjutkan dengan pemberian kado dari Elvan dan Marisa, kedua orang tua itu memberikan hadiah sebuah mobil mewah untuk anak kembarnya.
"Berbagilah, mobil ini akan menjadi milik kalian berdua, papa tidak akan memberikan kado lagi jadi jaga dengan baik ya, nanti papa akan carikan sopir untuk kalian." Elvan menyerahkan simbol kunci pada kedua anaknya.
Kemudian, Pak Erwin memberikan saham untuk Zayn dan Zea, meskipun gadis kecil itu tak mengerti apa itu saham.
Kini, giliran Kakek Darma yang memberikan kado, berupa surat kepemilikan real estate atas nama Zayn dan Zea.
Semua bertepuk tangan meriah.
"Mas, apa ini tidak berlebihan?" tanya Marisa yang berbisik kepada suaminya.
"Biarkan saja sayang, toh semua juga nanti akan menjadi milik mereka." Elvan masih terus tersenyum.
Acara pun kembali dilanjutkan, anak-anak dan dewasa merayakan pesta meriah itu di tempat terpisah. Elvan mengajak Marisa untuk berkenalan dengan para relasi bisnisnya.
π±π±π±M.A.H.πππ
Kini, pesta telah usai. Elvan dan keluarganya kembali ke rumah Kakek Darma sesuai permintaan sang kakek. Si kembar tengah bermain dengan Pak Erwin dan Kakek Darma. Sementara Marisa dan Elvan baru saja selesai mandi.
"Aku mau ajak kamu pergi berdua," kata Elvan yang kini tengah menyisir rambut Marisa.
"Berdua, Mas?" tanya Marisa. Wanita itu memutar setengah badannya untuk menghadap Elvan.
Elvan langsung memeluk tubuh ramping kesukaannya itu, mengecup pipi yang masih polos tanpa make-up.
"Iya, anak-anak akan menginap di sini sama kakek-kakeknya," jawab Elvan sambil terus menciumi pipi Marisa.
Marisa mengerutkan alisnya, lalu karena penasaran ia pun bertanya, "Kemana sih Mas?"
"Ada pokoknya." Elvan pun mengangkat tubuh Marisa yang duduk di depannya, lalu segera meminta Marisa untuk bersiap.
Bersambungβ¦.
Kira-kira mau kemana ya mereka?
Oh ya, cuma mau ingetin aja, tinggalkan like dan komen kalian dong.. Sedih banget yang komen makin dikit πππΒ maaf curhat π€π€
Yang mau ngasih hadiah bunga, vote, atau kopi boleh banget kok dengan senang hati π€π€
Oh ya..
Hari ini Papa El yang asli alias oppa Lee Min Ho lagi ulang tahun loh..
Happy Birthday Oppa Minho 34th International / 35th usia korea.
Special gift for you, tak suruh nyanyi buat Mama Marisa π€π€
Okay. Sampai ketemu lagi, terima kasih yang sudah suport dan selalu setia sampai di bab 89 ini, beberapa bab lagi akan ending. So, jangan bosen dulu ya π€π€π€