My Amazing Husband

My Amazing Husband
Apa lagi?


"Mas, kamu kenapa sih?" Marisa merasa heran karena suaminya yang tiba-tiba menarik tangannya meninggalkan Andra yang masih mematung ditempatnya.


"Jangan dekat-dekat dia, Mas nggak suka." Ucap Elvan sembari membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Mas Elvan ini aneh deh, orang cuma kenalan aja Mas, emang nggak boleh gitu aku kenalan sama orang tua murid yang lain?" Marisa duduk di mobil sedangkan Elvan langsung memasangkan seatbelt untuknya.


Elvan lalu berputar melewati bagian depan mobilnya untuk masuk ke pintu kemudi, sebelum membuka pintu mobilnya, Elvan sempat menatap tajam pada Andra yang berpura-pura melihat ke arah lain.


"Dia itu terkenal banget playboynya, di kampus dulu semua mahasiswa pasti kenal dia." Kelakar Elvan saat memasang seatbelt miliknya.


"Mas, aku tu udah punya kamu, dia juga pasti udah punya istri kan, Mas lagi cemburu ya?" Sahut Marisa yang menangkap sinyal kecemburuan dibalik nada bicara suaminya itu.


"Ya wajarlah kalau Mas cemburu, dia itu baru aja ditinggal pergi istrinya, saking nggak betahnya sama kelakuan dia pasti." Kesal Elvan lalu menjalankan mobilnya.


Marisa terkekeh pelan, dalam hatinya berkata ternyata suaminya sekarang cemburuan sekali, padahal dulu saat Andi datang ke pernikahan mereka dia terlihat biasa saja.


"Mas, aku tu nggak mungkin lah tergoda sama dia, aku aja pisah sama kamu lima tahun lebih nggak pernah tu ada perasaan suka sama laki-lali lain. Apalagi Tuan Andra itu Mas, dia nggak mungkin lah suka sama emak-emak kayak aku gini." Marisa menertawakan dirinya sendiri, memang tidak dapat dipungkiri, walau tubuh dan wajahnya masih terlihat muda, tapi usianya yang hampir mendekati tiga puluh tahun membuat Marisa merasa tak lagi ada yang menarik dalam dirinya untuk didekati pria lain.


"Biarpun emak-emak, istriku ini masih sangat cantik, dan aku nggak mau ada orang yang mengagumi kecantikan istriku. Aku yang membayar tunai, orang lain yang menikmati, enak saja." Tegasnya lalu fokus kembali dengan kemudinya.


"Posesif banget sih Mas, aku nggak mau ya dikurung di rumah," kata Risa gemas.


Elvan hanya menampilkan cengirnya, rasa kesalnya tiba-tiba lenyap saat melihat Marisa tersenyum manis. Marisa memang seperti keajaiban untuk Elvan, hanya sekali melihatnya beberapa tahun lalu, Elvan langsung jatuh cinta dengan wanita yang telah memberinya dua orang anak itu.


Marisa yang apa adanya, Marisa yang lembut, Marisa yang malu-malu dan Marisalah yang membuat debaran di hati Elvan, itu adalah alasan Elvan kenapa dulu ingin segera memiliki wanita itu seutuhnya. Menjadikannya wanita yang halal saat ia mengecup keningnya, yang halal saat ia menatap matanya, yang halal saat menyentuh segala yang ada padanya, itulah pemikiran Elvan saat awal awal mengenal Marisa.


Marisa sendiri melihat Elvan sebagai laki-laki yang menakjubkan, laki-laki yang benar-benar mewujudkan mimpinya, menjadi suami yang tak hanya memiliki cinta dan tanggung jawab, tapi juga memiliki iman dalam hatinya untuk terus mengajaknya dalam kebaikan, terus mengingatkan pada Tuhan yang menciptakannya. Elvan adalah suami terhebat dihati Marisa.


Dua orang yang kembali bersatu setelah berpisah sekian lama itu nampak menikmati alunan musik dari radio di mobil Elvan. Melantunkan lagu bersama yang kebetulan seakan menggambarkan rasa cinta diantara mereka saat ini.


"Mas, aku tuh beneran nggak nyangka kalau Mas bisa inget sama aku." Ucap Marisa ditengah suara alunan musik yang masih berputar di audio mobil Elvan.


Elvan terkekeh lagi, wanita itu benar-benar membuatnya merasa bangga, hampir enam tahun berpisah namun ia tetap memiliki cinta dan kesetiaan hanya untuk suaminya, walau ia harus melewati kehidupan yang tak mudah akibat ulah Kakek Darma.


Elvan menatap sejenak wajah istrinya, "Karena aku mencintaimu sayang, jadi hatiku dengan mudah mengenali pemiliknya." Ungkapnya yang membuat Marisa merona, kulit bersih itu semakin terlihat cantik dengan warna merah alami saat ia terpesona.


Marisa tak mampu berkata-kata, ia tersihir oleh kata cinta yang diucapkan lelakinya itu.


"Mas akan selalu membuat warna merah di pipimu menghiasi wajah cantikmu." Kata Elvan yang semakin menambah terang warna merah di pipi Marisa. "Udah sampai nih, turun yuk, atau mau Mas gendong?"


Marisa semakin tersipu, ia bahkan menutup wajah dengan tangannya, tak ingin Elvan melihat seperti apa rupanya kala itu.


Dan benar saja, Elvan yang dengan cepat turun dari mobilnya langsung membuka pintu mobil, melepas seatbelt dan langsung menggendong Marisa keluar mobil.


"Mas apaan sih, malu tau Mas." Protes Marisa yang tak dihiraukan Elvan, laki-laki itu tetap membawanya masuk ke rumah.


"Buka gerbangnya sayang." Kata Elvan tak peduli dengan Marisa yang berontak pelan sambil menahan malu dalam gendongannya.


Wanita itu menurut, ia membuka kunci pagar dengan susah payah. Dan Elvan pun tetap menggendongnya, melewati teras rumah dan langsung melesat ke dalam rumahnya setelah Marisa berhasil membuka pintu.


Ditutupnya pintu itu dengan kaki kanan, Elvan seperti kehilangan kendali, dengan tak sabar ia membawa Marisa ke dalam kamar tamu di lantai satu rumahnya.


"Mas, kamu nggak kerja?" Tanya Marisa setelah Elvan berhasil membawanya ke ranjang.


"Mas kerja yang lain dulu, cari uang bisa nanti, sekarang cari enak dulu." Katanya terkekeh, lalu segera me**m*t bibir Marisa.


"Mas, ini masih pagi." Kata Marisa saat Elvan melepas bibirnya, menjeda sebentar untuk menghirup oksigen.


"Kenapa? Justru mengawali pagi dengan bercinta itu bisa membuat kita bahagia sepanjang hari sayang." Kata Elvan yang kemudian bangun dari posisinya yang mengukung Marisa.


Elvan melepas jaket dan kaosnya. Menampilkan tubuh atletisnya yang sangat ia jaga selama ini. Elvan kembali mencium bibir Marisa. Tangan nakalnya tak bisa diam dan bermain-main di bukit kembar itu, memainkan puncak bukit dengan jemarinya.


Marisa terbawa hasratnya, ia kembali melayang, permainan Elvan memang selalu membawanya terbang ke awang-awang.


Tangan Marisa pun mulai bermain-main di dada Elvan, lalu perlahan naik keatas dan mengalungkan tangannya di leher Elvan. Menikmati setiap sentuhan dan l*mat*n yang diberikan suaminya itu.


"Mas Galih Mas, coba angkat dulu siapa tahu penting." Kata Marisa menunjukkan layar ponsel suaminya yang menampilkan nama Galih disana.


"Sial**, emang ni anak kurang kerjaan apa?." Umpatnya yang sudah hampir melepaskan pakaian da*lamnya.


Marisa menghembuskan nafas beratnya, ia seakan terlempar dari ketinggian karena panggilan berulang itu.


"Apa sih? gangguin orang aja." Umpat Elvan pada manusia yang telah mengganggu acaranya menggapai puncaknya.


"Bokap Lo ada disini Van, Elo ngapain sih udah hampir siang belum sampek kantor, kita ada meeting jam sembilan sama klien dari Kota S jangan lupa Lo, buruan kesini ditunggu bokap." Cerocos Galih yang tak peduli dengan umpatan Elvan. Lalu dengan semena-mena ayah satu anak itu memutus panggilannya.


"Sial bener ni anak, minta dipotong gaji apa, gangguin orang aja." Kesal Elvan lalu merebahkan tubuhnya yang hanya memakai celana d*l*m di samping Marisa.


"Yaudah sana Mas, emang ini waktunya kerja kan?" Marisa memungut pakaiannya yang berserakan.


"Tapi kan mumpung anak-anak nggak ada Sayang." Elvan meraih celana chinonya, lalu dengan malas ia memakainya.


"Ya nanti malem aja Mas, kalau mereka udah tidur." Kata Marisa yang kini telah memakai kembali pakaiannya.


"Bener ya, nanti Malem." Elvan memakai kaos dan jaketnya.


"Iya, udah sana berangkat." Kata Marisa yang membenarkan rambutnya.


"Iya deh, sampai ketemu nanti makan siang, jangan lupa masakin yang enak ya." Elvan mengecup kening istrinya dan menggandengnya keluar kamar.


"Iya Mas, jangan lupa juga nanti jemput anak-anak." Pesan Marisa sebelum suaminya keluar dari rumah mereka.


Marisa pun kembali ke kamar tamu, ia tersenyum melihat kasur yang sudah berantakan itu. Lalu segera merapikan tempat tidur yang luasnya hampir sama dengan kamarnya di atas.


Saat ia sibuk membenarkan letak sprei, tiba-tiba sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang. Marisa yang terkejut langsung berdiri dan menoleh ke belakang agar bisa melihat pelaku yang dengan lancang telah memeluknya.


"Mas, ngapain lagi sih." Marisa yang hendak mencerca pelaku itu malah tersenyum malu saat melihat wajah pelaku itu adalah suaminya sendiri.


"Sayang, aku belum dapet pelukan dari kamu, mangkanya aku balik lagi." Kata Elvan dengan manja, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Marisa yang kini menghadap padanya.


"Ya Allah Mas, udah buruan sana, cari uang yang banyak, aku udah nggak kerja." Kata Marisa yang telah merapatkan tubuhnya pada tubuh Elvan.


"Iya iya, yaudah Mas pergi nih." Elvan melepas pelukannya, "Kamu nggak mau ikut aja." Ucapnya yang terasa berat meninggalkan istrinya.


"Nanti yang masak siapa kalau aku ikut Mas? Udah sana Mas keburu siang." Usir Marisa.


"Yaudah, Mas pergi beneran nih. Assalamu'alaikum." Pamit Elvan.


"Waalaikumsalam." Jawab Marisa setelah mencium tangan Elvan.


"Hati-hati di rumah." Pesannya lalu mencium kembali kening Marisa.


"Iya Mas."


Elvan pun benar-benar berangkat ke bengkel dengan mobilnya. Marisa lalu mengunci pintu rumahnya dan segera ke dapur untuk bersiap memasak pesanan suaminya.


Namun tak lama terdengar suara pintu yang diketuk dengan keras.


"Kenapa lagi sih Mas Elvan ini." Gumam Marisa yang kemudian meninggalkan dapur, lalu berjalan cepat untuk membuka pintunya.


"Apa lagi sih Mas, kurang puas?" Ucap Marisa sembari membuka pintu rumahnya.


"Apa?" Tanya laki-laki dengan suara datar.


"Kakek." Marisa ternganga melihat kedatangan Kakek Darma di rumahnya.


Bersambung....