My Amazing Husband

My Amazing Husband
Setelah Aku Meninggalkanmu


...πŸ”΄POV MARISAπŸ”΄...


Aku duduk sendiri di tempat yang sangat asing ini, entah keputusanku ini benar atau tidak, tapi aku yakin jika ini yang terbaik untuk anak yang aku kandung ini.


Ya Allah, semoga aku tidak salah melangkah. Aku pasrahkan apapun yang akan terjadi padaku.


"Risa." Ku dengar suara laki-laki yang memanggil namaku. Aku berdoa semoga itu bukan orang suruhan Kakek. Aku sudah pergi sejauh ini, tidak mungkin kan mereka menemukanku. Lalu perlahan aku mengangkat kepalaku dan melihat laki-laki yang mengenaliku itu.


"Kamu??" Aku terkejut melihat Andi sudah berdiri di depanku. Untuk apa dia disini?


"Iya, ini aku. Kamu tu ngapain disini? Ngikutin aku terus?" Andi terkekeh karena lagi-lagi aku bertemu dengannya di tempat dan keadaan tak terduga seperti ini.


"Pede kamu." Aku tersenyum tipis. Sejujurnya aku merasa lega karena bertemu dengan Andi di tempat yang baru pertama kali aku datangi ini.


"Kamu sendirian aja?" Andi celingukan mungkin mencari-cari dimana suamiku atau keluargaku.


"Iya." Kujawab singkat saja.


"Suami kamu kemana?" Andi duduk tepat di sebelahku.


"Lagi sakit. Kamu ngapain disini?" Aku jadi penasaran kenapa dia tidak bekerja dan malah berada disini.


"Aku dipindah tugaskan disini. Kamu sendiri mau kemana?" Andi menatapku penuh selidik, mungkin nalurinya sebagai polisi membuatnya jadi curiga denganku.


Aku tak menjawab pertanyaannya, aku sendiri bingung.


"Kamu nggak punya tujuan?" Tebak Andi yang sepertinya mulai khawatir.


Aku hanya mengangguk pelan.


"Ya Allah Ris, apa yang sebenarnya terjadi?" Kali ini dia benar-benar menatapku tajam, aku jadi bingung, apa aku harus menceritakan masalah rumah tanggaku dengan Andi, tapi Andi adalah orang luar dalam rumah tanggaku.


"Aku nggak bisa cerita semuanya, tapi jujur sekarang aku bingung akan tinggal dimana." Kataku pada akhirnya. Aku melawan egoku untuk menghindarinya, tapi bayiku juga butuh segera istirahat, kalau bukan Andi siapa lagi yang aku kenal disini.


"Kita cari makan dulu, nanti aku antar kamu cari tempat tinggal ya." Kata Andi yang langsung aku iyakan, karena saat ini aku memang lapar dan juga sangat lelah.


"Kamu nggak kerja Ndi?" Tanyaku saat kami sampai di rumah makan dekat terminal, menunggu makanan kami disajikan.


"Hari ini aku sengaja libur, tadinya aku nganter tunanganku ke terminal, eh ternyata malah ketemu mantan... Mantan gebetan maksudku." Andi tersenyum. Ia masi sama seperti awal kita kenal dulu, perhatian dan terkadang lucu juga.


"Andi, kalau kamu ada info loker kasih tau aku ya." Aku akhirnya meminta tolong kepada Andi. Jujur aku tak pernah membencinya, sakit hati yang ia torehkan dulu telah hilang semenjak aku bersama Mas Elvan.


Ah, lagi-lagi aku memikirkan Mas Elvan. Bagaimana keadaanya sekarang. Aku sangat merindukannya.


"Kamu serius? Sebenernya ada masalah apa sih Ris. Kok kamu sampai pergi sejauh ini tanpa ada tujuan yang pasti?" Pertanyaan Andi membuyarkan lamunanku tentang Mas Elvan.


"Aku terpaksa harus pisah sementara sama suamiku karena alasan yang nggak bisa aku ceritain. Tapi yang jelas aku pengen selamatin diri aku dan juga...." Aku tak melanjutkan kata-kataku. Apa Andi bisa dipercaya ya?


"Dan juga apa?" Andi penasaran.


Aku tak menjawab pertanyaannya dan memilih untuk diam. Hingga makanan kami datang.


"Jawab dong Ris." Andi sedikit meninggikan suaranya.


"Dan juga anak aku." Jawabku jujur, karena jika mencarikan aku pekerjaan Andi juga harus tau kan keadaanku.


"Maksud kamu? Kamu lagi hamil?" Andi setengah berteriak membuat orang-orang di rumah makan itu melihat sinis ke arah kami. Seakan aku baru saja meemberitahu kekasihku bahwa aku hamil yang membuatnya kaget.


Andi lalu mengecilkan suaranya saat menyadari orang-orang tengah memperhatikan kami, "Kamu hamil?"


Aku mengangguk biarlah Andi tau, sebenarnya dia orang baik, aku yakin dia tak mungkin akan menyakitiku dan anakku. Lagi pula aku butuh pekerjaan saat ini.


"Kalau gitu, biar aku yang menanggung biaya hidup anakmu Ris, sementara ini kamu fokus dengan kehamilanmu dulu baru kita pikirkan kerjaan setelah anakmu lahir." Kata Andi yang membuatku kaget. Kenapa Andi mau membiayai anakku.


"Enggak Ndi, aku nggak mau merepotkan kamu. Aku mohon carikan aku kerjaan itu saja." Aku tak ingin membebani Andi dan melibatkannya terlalu dalam dengan masalahku.


"Baiklah, aku punya kenalan pengusaha, dia punya perusahaan kecil-kecilan disini, aku akan jelaskan kondisi kamu mungkin dia bisa bantu kamu."


"Terimakasih Andi."


"Ini semua untuk menebus rasa bersalah aku ke kamu Risa."


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


Setelah kami makan, Andi mengantarku mencari kontrakan. Dan ternyata kontrakan itu dihuni oleh Sheryl tunangan Andi yang tadi diantarnya ke terminal.


"Kamu tinggal disini aja, Sheryl juga tinggal disini, dia itu bidan jadi kalau ada apa-apa dia bisa bantu kamu."


Sheryl sedang pergi mengunjungi orang tuanya jadi aku akan dirumah ini sendiri selama dua hari.


"Makasih banyak ya Ndi, semoga suatu hari nanti aku bisa membalas semua kebaikanmu."


"Udah santai aja, yang penting sekarang kamu dan anak kamu aman."


🌱🌱🌱


Ya, aku masih tinggal di kota ini, jauh dari hidup Mas Elvan. Aku tak pernah mendengar kabar tentang Mas Elvan, hanya Bude Dina yang masih aku kabari. Bahkan aku tak pernah menghubungi ayah, hanya melalui Bude saja aku mengabari keadaanku pada ayah.


Maafkan putrimu ini Yah.


"Ini aku bawain susu hamil buat kamu, kamu pasti belum beli kan?" Andi datang dengan dua kardus susu hamil untukku. Dia sangat baik denganku, beberapa bulan tinggal disini ia selalu memperhatikanku, dan sangat menjagaku. Aku beruntung bertemu dengan Andi waktu itu.


Aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih pada Andi.


"Andi, kamu ini udah aku bilangin kan jangan beliin aku terus, kamu harus nabung buat masa depan kamu sama Sheryl." Aku sering mengingatkannya untuk menabung, bagaimanapun juga suatu hari nanti Andi akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya sendiri.


"Udah santai aja, aku ada kok. Lagian ini juga buat ponakan aku, nggak masalah, ya kan ponakan Om yang pasti gemesin." Andi melambaikan tangan pada perut buncitku, seakan tengah menyapa anak kecil yang duduk di pangkuanku. Andi selalu mengatakan bahwa anakku adalah keponakannya yang sangat ia sayangi.


"Eh, Mas Andi. Baru pulang?" Ini adalah Sheryl, wanita cantik yang baru saja mendapatkan gelar bidan. Dia kerja di puskesmas dekat kontrakan kami, dia juga yang memantau kesehatan bayiku selama kehamilan ini.


Andi dan Sheryl telah bertunangan sebelum aku datang ke kota ini. Aku sempat berfikir kalau Sheryl akan cemburu dengan perhatian Andi kepadaku, tapi ternyata aku salah, Sheryl ternyata sangat peduli denganku terutama bayiku, ia seperti malaikat yang diutus Allah untukku.


"Iya Sher, nih aku bawain brownis kesukaan kamu." Andi menyerahkan kantung plastik bersisi sekotak brownis, makanan yang paling di sukai Sheryl dibandingkan makanan apapun.


"Terimakasih Mas." Sheryl tersenyum girang.


"Kamu udah makan Ndi?" Aku mencoba membalas kebaikan-kebaikan Andi lewat masakanku. Aku sering mengajari Sheryl masak supaya saat mereka menikah nanti Sheryl bisa melayani Andi dengan baik.


"Belum, nanti aja sekalian pulang." Kata Andi.


Andi sangat jarang makan di kontrakan kami. Terkadang aku harus memaksa agar dia mau makan bersama kami.


"Ayolah Ndi, kita udah capek masak nih, Sheryl sendiri loh yang masak capcainya."


"Yaudah deh. Besok pagi mau aku temenin jalan pagi nggak? Mumpung aku libur." Andi dan Sheryl sering mengingatkanku untuk jalan-jalan pagi, apalagi semenjak usia kehamilanku memasuki tujuh bulan, hampir tiap pagi sebelum kerja aku dan sheryl jalan-jalan pagi setelah sholat shubuh.


"Boleh deh, Sheryl kamu ikut kan?" Aku selalu mengajak Sheryl setiap kali kami pergi bersama, tidak pernah sekalipun aku pergi berduaan dengan Andi karena aku selalu menjaga perasaan Sheryl, dan aku juga ingat suamiku yang entah masih mengingatku atau tidak.


"Iya, seperti biasa." Kata Sheryl, gadis cantik yang usianya selisih satu tahun dibawahku.


🌱🌱🌱


Sesuai rencana pagi ini aku jalan-jalan ditemani Andi dan Sheryl di taman dekat rumah kami. Perutku yang semakin besar membuatku tak kuat jalan terlalu lama.


Sheryl sering memaksa untuk periksa kandungan di rumah sakit kota karena di puskesmas tempat ia bekerja peralatannya kurang canggih menurutnya, tapi aku selalu meyakinkan Sheryl bahwa yang terpenting bayiku sehat dan aktif itu saja cukup.


Kami sedang duduk di bangku taman, sementara Andi melanjutkan lari-larinya. Sheryl mengelus-elus perut buncitku, ia suka sekali merasakan gerakan dari makhluk kecilku itu.


"Kak, kayaknya nanti dia jago main bola deh, lihat tendangan kenceng gini." Kata Sheryl yang baru saja merasakan gerakan dari bayiku.


"Kamu bisa aja. tapi bener nggak sih anak aku cowok, soalnya aku udah siapin gelang nama buat dia takutnya yang lahir cewek." Kataku yang memang beberapa waktu lalu telah membeli gelang ukiran nama untuk bayiku.


"Kalau itu aku yakinnya 80 persen Kak, tiga kali USG jelas kok dia cowok, tapi emang sih alat USG nya cuma dua dimensi kurang begitu jelas, kalau mau yang lebih jelas kita ke dokter spesialis aja kak ada USG empat dimensinya jadi kita bisa lihat juga muka babynya kayak apa."


"Enggak usah lah, lagian kan mahal banget aku nggak mau buang-buang uang buat sekarang ini."


Sheryl mengerti maksud perkataanku. Ia memang sahabat terbaik untukku. Kami tertawa bersama.


Tak lama Andi menghampiri kami dengan membawa sebuah koran.


"Ini bukannya suami kamu Ris?" Dia menyerahkan koran itu padaku, dan mataku membulat sempurna saat melihat judul halaman depan dari koran itu, dengan foto suamiku yang terpampang jelas disana.


Seorang pengusaha muda Elvan Wiguna akan meneruskan kerajaan bisnis kelurga Guna Cipta Grup.


Mas Elvan, suamiku, sepertinya dia sudah sukses sekarang. Mas Elvan tampan sekali dengan setelan jasnya. Ya Allah dadaku rasanya sesak, aku sangat merindukannya.


"Syukurlah kalau dia sehat." Aku hanya merespon biasa, aku tidak pernah mau menunjukkan kesedihanku dihadapan Andi ataupun Sheryl, karena aku tau mereka akan sangat khawatir.


"Apa? Jadi ayah baby kita pewaris Guna Cipta?" Sheryl tak pernah tahu fakta itu, karena bagiku Mas Elvan suamiku hanya laki-laki biasa pemilik sebuah bengkel, bukan putra kedua perusahaan raksasa itu.


Aku mengangguk tersenyum kearah Sheryl yang masih sangat syok.


"Apa aku perlu cari tahu apakah ingatan suami kamu sudah kembali atau belum, aku rasa ini sudah cukup lama Ris?" Andi benar, seharusnya Mas Elvan mencariku kalau ingatannya telah kembali, apa memang Mas Elvan akan selamanya melupakanku?


"Iya terserah kamu aja Ndi." Aku berharap Andi akan menyampaikan kabar baik untukku nanti, jika Mas Elvan sudah ingat, aku akan kembali tanpa menunggu dia mencariku.


"Aku harap semoga suami kamu mendapat ingatannya kembali, aku nggak tega lihat kamu sama anak kamu yang belum lahir ini Ris." Andi terlihat sedih sekaligus khawatir.


"Aku nggak papa kok Ndi, disini juga menyenangkan dan nggak sampai dua bulan lagi aku akan ketemu anak aku Ndi."


Andi tersenyum, walau aku tahu dia mencemaskanku. Senentara Sheryl memelukku erat, wanita ini, hatinya begitu mudah tersentuh. Aku bersyukur bisa bersama mereka.


Bersambung....