My Amazing Husband

My Amazing Husband
Aku Nggak Suka


Ibu rumah tangga, satu pekerjaan yang umum dilakukan seorang wanita yang telah berkeluarga. Melayani anak dan suami, mengurus segala kebutuhan dan kenyamanan rumah adalah hal umum yang dilakukan wanita 'rumahan' seperti Marisa.


Setinggi apapun gelar yang diperoleh Marisa, tempat terakhirnya tetaplah di dapur. Bergelut dengan bawang, cabai, garam, minyak dan teman-temannya. Walau bukan pekerjaan yang menjanjikan, ibu rumah tangga tetaplah mendapat tuntutan dua puluh empat jam setiap hari tanpa adanya libur. Tapi itulah kebanggaannya, melihat suami dan anak-anak terurus dengan baik, rumah yang bersih dan nyaman, adalah hasil kerja keras yang mungkin tak bisa dilakukan wanita karir.


Pagi itu, Elvan suami Marisa, memakai kaos putih berbalut jaket denim, yang dipadukan dengan celana chino berwarna cream dan sneaker low cut, membuat tampilannya sepuluh kali lebih tampan di mata Marisa. Apalagi semalam mereka telah menghangatkan kembali ranjang yang beberapa tahun terakhir terasa dingin. Wajah bahagia Elvan begitu terpancar, matanya yang indah nampak begitu bersinar cerah. Senyum menawannya menambah nilai plus diwajahnya.


Lalu bagaimana dengan Marisa? Wanita yang memakai dress kuning motif bunga-bunga itu terlihat malu-malu saat menyajikan makanan yang telah ia masak di meja makan. Masih teringat jelas dalam ingatannya, bagamaimana dengan tidak tahu malunya, semalam ia meminta untuk mengulang lagi dan lagi pertempuran panas mereka. Entah sudah berapa kali Elvan menyiramkan benih-benih cintanya dalam ladang yang telah terlalu lama gersang karena kekeringan itu.


Sesekali keduanya saling mencuri pandang, seperti ABG yang baru pertama kali mengenal cinta.


Sementara Zayn dan Zea tengah menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan. Dua bocah yang telah memakai seragam lengkapnya itu begitu akur sehingga menciptakan keharmonisan di rumah minimalis itu.


Zayn yang memiliki pipi gembul, mata sipit, dan juga hidung mancung sangat pantas jika dijadikan model cilik atau bintang iklan. Pria kecil itu telah memakai seragam sekolah lengkap dengan dasi bercorak sama dengan celana pendeknya, rambutnya yang mulai panjang menambah kesan cool dengan tatapannya yang datar.


Sedangkan Zea, gadis itu nampak anggun dengan seragam yang sama dengan Zayn, roknya sebatas lutut, seragamnya lengan panjang dengan pita yang besar hingga menutupi lehernya. Zea suka sekali menggerai rambut lurus dan tebal miliknya, rambut hitam itu dihiasi jepit rambut berbentuk kupu-kupu yang cukup besar.


Dua anak itu lalu duduk berdampingan di kursi makan. Dan Marisa pun segera meletakkan dua gelas susu untuk kedua anak kembarnya itu.


"Selamat pagi sayang-sayangnya Mama." Sapa Marisa kepada Zea dan Zayn.


"Pagi Ma, pagi Pa." Sapa Zea dan Zayn bergantian.


"Pagi juga sayang." Jawab Elvan.


"Sarapan dulu, habis itu minum susu, baru siap-siap berangkat." Kata Marisa yang mengambil duduk disebelah Elvan.


"Iya Ma." Jawab sepasang anak kembar itu kompak.


Marisa pun melayani suami dan anak-anaknya, mengambilkan nasi, sayur, juga lauk pauk untuk mereka. Setelah itu Marisa mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dan mereka pun mulai sarapan.


"Sayang, nanti Mas makan siang di rumah ya." Kata Elvan yang telah menyelesaikan sarapannya.


"Iya Mas, mau dimasakin apa nanti Mas?" Tanya Marisa yang baru saja selesai mengunyah suapan terakhirnya.


"Mas lagi kangen sop ayam, tahu goreng dan sambel kecap buatan kamu yang dulu bikin Mas nggak bisa berhenti makan." Elvan menatap Marisa dan tersenyum.


"Iya Mas, nanti siang aku masakin ya." Kata Marisa lalu membalas senyum suaminya.


"Mama, nanti Mama anter Zayn ke sekolah ya, Zayn mau kasih lihat ke temen Zayn kalau Zayn punya Mama." Ucap Zayn setelah selesai makan dan sebelum meminum susu coklatnya.


"Emm,,iya sayang, tapi janji ya jangan bikin ulah lagi." Marisa mengusap lembut rambut Zayn.


"Emang siapa sih yang kamu maksud Zayn?" Tanya Zea yang telah menghabiskan susu rasa vanilanya.


Elvan hanya mendengarkan obrolan istri dan kedua anaknya itu, sembari menyesap kopi hitam buatan istrinya yang setiap pagi selalu tersedia di meja makannya.


Zayn menarik nafas berat, benci sekali dia dengan teman sekolah yang dulu pernah dia pukuli. "Namanya Axel, kamu jangan deket-deket dia ya Ze." Perintahnya pada saudarinya itu.


"Kenapa emangnya Zayn, Axel kan nggak jahat sama Zea." Zea mengerutkan alisnya.


"Kamu kan belum kenal dia Zea, pokoknya Zayn nggak suka sama dia." Kesal Zayn.


"Udah-udah, Zayn nggak boleh gitu ya sayang. Zayn anak baik nggak boleh dendam kayak gitu. Oke sayang." Marisa mengusap lembut tangan Zayn.


Setelah acara sarapan selesai, keluarga kecil itu segera berangkat untuk mengantar Zayn dan Zea ke sekolah. Di dalam mobil Zayn hanya diam saja, sementara Zea mulai menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan gurunya di sekolah. Gadis kecil itu tak berhenti bernyanyi, mengulang-ulang lagu yang baru sebulan ini ia hafalkan.


Perjalanan dari rumah Elvan ke sekolah si kembar hanya memakan waktu lima belas menit saja. Mobil Elvan pun akhirnya berhenti di depan pagar sekolah Zayn dan Zea.


Zayn dan Zea segera berpamitan dengan Elvan, sementara Marisa akan mengantar mereka sampai gerbang sekolah.


"Jangan berantem boy." Teriak Elvan yang masih di dalan mobil saat melihat Zayn menarik tangan Marisa yang baru keluar mobil.


"Xel, tunggu!" Teriak Zayn yang sudah berhasil menggandeng tangan Marisa yang juga menggandeng Zea.


Axel dan Ayahnya langsung menoleh ke arah Marisa yang menggandeng tangan Zayn dan Zea.


"Apa?" Tanya Axel yang malas menanggapi Zayn pagi-pagi begini.


"Ini Mamaku." Zayn menunjukkan tangan Marisa yang digenggamnya. "Seperti yang aku bilangkan, aku punya Mama."


Axel tersenyum mengejek, "Itu Mamanya Zea, kamu itu anak nemu."


"Axel,!!" Tegur Ayahnya yang merasa tak enak dengan Marisa. "Maafkan anak saya Nyonya." Pintanya dengan sopan.


Marisa hanya membalas dengan senyum kecil, "Sayang, Zayn ini anak Tante, Zea juga, mereka memang kembar sayang." Kata Marisa kepada anak laki-laki yang mengganggu putranya itu.


"Oh Ya, jadi Zayn beneran punya Mama?" Tanya Axel.


"Iya sayang, yaudah sekarang kalian baikan ya." Ucapnya dengan lembut.


"Ogah." Axel pun meninggalkan mereka.


"Axel!" Teriak Ayah Axel namun Axel tetap berlalu, lalu pria itu tersenyum canggung pada Marisa "Maafkan anak saya."


"Tidak apa Tuan, anak-anak biasa seperti itu." Balas Marisa. "Zayn, Zea ayo masuk dulu." Perintah Marisa pada kedua anaknya.


Zayn dan Zea pun masuk menyusul Axel setelah berpamitan dengan Marisa.


"Nyonya, boleh saya tau siapa nama anda?" Tanya laki-laki itu. "Saya Andra, Papanya Axel." Laki-laki itu mengulurkan tangannya.


"Saya Marisa, Mama kandung Zayn dan Zea." Kata Marisa.


Wanita ini cantik sekali, apa benar dia istrinya Elvan Wiguna. Batin Andra.


Elvan yang melihat Andra berkenalan dengan Marisa pun langsung turun dari mobilnya dan menghaampiri mereka.


"Sayang, aku antar kamu pulang ya." Elvan merangkul pinggang Marisa.


Gila, ternyata dia beneran istrinya Elvan, cantik banget, pantesan Elvan nggak mau serius sama Sylvia.


"Hai, bro lama nggak ketemu." Sapa Andra pada Elvan.


"Sory, kita duluan." Elvan langsung manarik tubuh istrinya untuk meninggalkan Andra.


"Mas, kamu kenapa sih?" Tanya Marisa yang heran saat Elvan menarik tubuhnya.


"Jangan dekat-dekat dia, Mas nggak suka."


Si Andra pasti naksir istriku, kelihatan banget dari matanya. Batin Elvan kesal.


bersambung...


Jadi Mas EL cemburu 🤫🤫??


Jangan lupa like dan komentarnya Ya 😊😊


Yang masih punya sisa poin boleh kok kalau mau kirim kembang buat Marisa atau kopi buat Mas El. Yang mau kasih Vote juga boleh, daripada hangus 🤭🤭