My Amazing Husband

My Amazing Husband
Putra Kedua


Pagi yang cerah mengawali kehidupan sepasang suami istri yang baru seminggu menikah itu. Setelah berangkat dari rumah bersama-sama, Marisa dan Elvan pun sampai di kantor. Mereka duduk berdampingan di kursi karyawan. Acara halal bihalal ini sekaligus menjadi acara pengangkatan beberapa karyawan yang telah mendapat rekomendasi untuk naik jabatan.


Acara dimulai dengan sambutan-sambutan dari Alvero, kemudian Pak Erwin, dan lalu beberapa direktur bagian perusahaan. Dan acara inti pun dimulai, Kakek Darma selaku komisaris sekaligus pemilik perusahaan menyampaikan beberapa nasehat dan motifasi untuk karyawan. Dalam sambutannya yang disambut meriah itu, Kakek Darma tiba-tiba memanggil nama Elvan untuk maju ke depan.


"Saya sebenarnya sudah lama ingin memperkenalkan seseorang, namun karena berbagai alasan baru kali ini ada kesempatan, saya akan minta putra kedua grup GC, Elvan Putra Wiguna untuk maju ke depan." Kata Kakek Darma ditengah pidatonya.


Semua karyawan yang hadir saling mengedarkan pandangan mencari cari siapakah Elvan Putra Wiguna itu.


Elvan yang mendengar namanya dipanggil, justru tak merespon, ia tak menyangka kakeknya akan menyebut namanya di depan para karyawan. Entah apa yang telah direncanakan kakeknya itu.


"Mas, kakek panggil kamu." Kata Marisa yang menggenggam tangan suaminya.


"Aku tidak mau sayang." Kata Elvan dengan ekspresi kesalnya.


"Mas, jangan permalukan kakek, papa dan kak Alvero, mas kesanalah sebentar saja ya." Marisa menggenggam erat tangan suaminya dan tersenyum memberi semangat.


Akhirnya Elvan pun terpaksa berdiri dan berjalan ke depan menuju podium dimana kakeknya berdiri, dan anggota keluarganya duduk di kursi di belakang tempat kakek berdiri.


"Mau apa sih kek." Bisik Elvan pada kakeknya.


Sementara Sasha yang dari tadi duduk disebelah Marisa pun bertanya-tanya.


"Siapa dia Ris? Pacar kamu?" Tanya nya penasaran karena sedari awal acara dimulai Elvan duduk disebelah Marisa dan sepertinya bukan karyawan perusahaan.


"Suamiku." Jawab Marisa singkat.


"Apa? Jadi kamu sudah menikah? Dan itu suami kamu? Yang kemarin aku lihat nganter kamu di depan kan? Putra kedua? Kok bisa?" Sasha yang penasaran pun memberondong Marisa dengan banyak pertanyaan.


"Udah dengerin mereka dulu. Besok-besok aja aku ceritanya." Kata Marisa tak ingin menjawab pertanyaan sahabtnya di kantor itu, lalu Marisa fokus kembali pada Elvan dan Kakek Darma.


Sementara di panggung kecil yang disaksikan oleh seluruh karyawan dan beberapa pemegang saham terpenting itu, Elvan memeperkenalkan diri.


"Selamat siang, perkenalkan nama saya Elvan, putra kedua Erwin Wiguna." Lalu semua yang hadir pun memberi tepuk tangan yang sangat meriah.


Para karyawan mulai berbisik-bisik. Memang ada beberapa gosip di kantor yang mengatakan bahwa Pak Erwin memiliki dua putra dari dua istrinya. Namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui kebenaran yang pasti. Semua berita berhembus bagai angin lalu, tak ada yang berani mencari tahu.


"Elvan memiliki sepuluh persen saham di perusahaan utama kita, jadi kedudukannya setara dengan Alvero direktur utama perusahaan. Jika nanti beberapa pemegang saham tidak puas dengan kinerja Alvero, maka Elvan bisa menjadi kandidat mengganti Alvero sebagai direktur utama." Kata Kakek Darma dengan bangga.


Sementara Elvan mendelik menatap kakeknya, ia memperlihatkan ekspresi tidak suka. Ia hanya ingin menikmati hidup sebagai pemuda biasa yang bahagia dengan keluarganya, bukan pemuda yang akan menjadi pebisnis seperti keluarganya, meskipun ia ditakdirkan menjadi keturunan keluarga super kaya itu.


"Mohon maaf semuanya, saya permisi kembali ke tempat saya." Elvan berniat meninggalkan podium itu karena tak ingin Kakeknya melakukan hal yang semakin membuatnya kesal.


"Elvan tunggu, duduklah disini." Kata Pak Erwin yang mencegah Elvan kembali ke kursi karyawan menghampiri Marisa.


"Enggak Pa, aku sama Risa aja. Makin nggak bener kemauan kakek." Elvan pun turun ke dari panggung kecil itu dan kembali duduk bersama Marisa.


"Dasar, anak gak punya pendirian, bilangnya nggak tertarik sama perusahaan, tapi malah datang ke perusahaan sebagai pemilik saham. Tidak tahu diri." Gumam Anita lirih namun bisa di dengar dengan jelas oleh Pak Erwin dan Alvero.


"Ma, jaga sikap Mama, kita dilihatin semua karyawan dan dewan Direksi Ma." Kata Alvero mengingatkan Mamanya.


Pak Erwin melotot kepada istrinya. Sementara Bu Anita hanya memutar bola matanya jengah.


"Nanti nya Elvan juga akan membantu Alvero mengelola perusahaan ini. Jadi saya harap kerja sama dari kalian semua." Kata Kakek Darma lalu mengakhiri pidatonya.


Riuh suara tepuk tangan penonton menggema di aula kantor yang jarang digunakan itu. Para karyawan semakin berbisik-bisik, apakah akan terjadi pertarungan perebutan kekuasaan di perusahaan besar itu.


Sasha dan beberapa karyawan yang lain memperhatikan Elvan yang duduk disamping Marisa.


Acara pun dilanjutkan dengan makan siang, semua karyawan dari posisi paling bawah hingga yang paling atas semua berkumpul dan mengambil makanan yang sama.


Elvan masih terus disamping istrinya, saat Kevin menghampiri Marisa.


"Risa, bisa kamu kesana bentar, Alvero butuh kamu." Kata Kevin yang membawa segelas jus alpukat.


"Oh iya, pasti ngatur ulang jadwal, aku kesana bentar ya Mas." Kata Marisa lalu meninggalkan suaminya itu bersama Kevin.


"Jadi bener, elu udah nikah sama Marisa." Kata Kevin yang masih berdiri menemani Elvan di salah satu sudut ruangan itu.


"Mungkin emang itu takdir kalian. Tapi ngomong-ngomong dulu kalian juga suka cewek yang sama kan?" Kata Kevin mengingat sesuatu.


"Reyna?? Gue nggak suka sama dia. Jadi ya nggak sama lah." Kata Elvan yang mengingat masa kukiahnya dulu.


"Iya, elu tau kan setelah Alvero nembak si Reyna tapi ditolak karena ternyata dia suka sama elu, Alvero udah nggak pernah lagi nyatain cinta, mangkanya Marisa keduluan elu." Kata Kevin membuka kembali kisah lama Kakak beradik itu.


"Bukannya setelah itu Reyna jadi ngejar-ngejar Kak Al ya?" Tanya Elvan yang telah lama tak mendengar kabar Reyna.


"Nggak tau gue, semenjak ketemu Marisa dia kayaknya udah move on, dan nggak peduli sama Reyna lagi." Kata Kevin lalu menghabiskan jus alpukatnya.


"Gue nggak tau soal itu. Gue sibuk ngebengkel." Kata Elvan yang juga menghabiskan minumannya.


"Betewe, emang elu kenal Marisa darimana sih?" Tanya Kevin penasaran.


"Marisa itu sahabatnya adik sobat gue si Galih. Terus kita nggak sengaja ketemu di masjid waktu gue nginep dirumah Galih, kan kost dia deket dari rumah Galih. Ya habis itu kita sering chat dan kadang jalan bareng, karena dia nggak mau pacaran yaudah gue nikahin aja langsung" Jawab Elvan menceritakan kembali kisah pertemuannya dengan Marisa.


"Oh, jadi Marisa sobatnya adik Galih. Pantesan kok bisa elu kenal Marisa padahal elu kemari aja kagak pernah kan." Kata Kevin.


"Ya gitulah gue juga nggak ngerti sama takdir."


"Tqpi bengkel elu gimana kalau elu gabung ke perusahaan?" Tanya Kevin.


"Gue tetep ke bengkel, perusahaan itu punya Kakek buat Bokap terus buat Kak Al, terus ke anaknya Kak Al, apalah artinya gue anak nggak diharapkan, gue fokus ke bengkel aja dunia gue ada disana"


"Sebenernya Alvero berharap banget elu bisa gabung bantu dia, elu tau kan, kakek kalian itu bisa diam-diam ngerencenain sesuatu yang nggak pernah kita sangka-sangka." Kata Kevin dengan seriusnya.


"Gue tetep gak minat, lagian nggak mungkin juga kakek ngancurin perusahaan yang jadi hasil kerja kerasnya ini. Selama kakek nggak ganggu keluarga gue, gue nggak akan peduli kakek ngerencanain apa."


****


*2minggu kemudian*


Waktu terus berlalu dengan cepat, setelah diumumkan sebagai putra kedua, Elvan tetap tak peduli dengan usaha kakeknya yang memaksanya bergabung dengan perusahaan. Ia tetap bekerja di bengkel miliknya, bahkan ia mulai membangun cabang baru di tempat lain. Ia terus mengembangkan usahanya yang maju dengan pesat itu. Dan tak ada yang tahu bengkel besar itu adalah milik sang putra kedua GC grup.


Pagi itu setelah sholat shubuh bersama suaminya, Marisa segera melepas mukenanya dan berlari ke kamar mandi, tanpa merapikan dulu peralatan sholatnya itu. Elvan yang masih berdzikir pun memperhatikan sekilas istrinya yang terburu-buru, lalu melanjutkan kembali rutinitas setelah sholat itu.


Setelah sampai di kamar mandi, Marisa langsung memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi bergejolak, meminta untuk dikeluarkan.


Elvan yang masih mengenakan sarung lengkap dengan kopiahnya langsung menghampiri istrinya saat mendengar suara Marisa yang muntah-muntah di kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Elvan setelah sampai di kamar mandi mendapati istrinya tengah lemas.


"Nggak papa Mas, kayaknya masuk angin deh, karena semalem kita di rooftop dan aku makan cuma dikit." Kata Marisa yang masih merasa mual di perutnya.


"Kita ke dokter aja ya, kamu nggak usah kerja. Mas akan telfon kak Al. Oke." Kata Elvan.


"Nggak usah mas, nanti dikasih minyak angin aja pasti enakan kok." Marisa yang masih lemah lalu berdiri, kepalanya terasa berdenyut, ia berjalan menuju ranjangnya dengan dibantu sang suami.


"Kamu beneran nggak mau ke dokter?" Tanya Elvan yang kini tengah mengoleskan minyak di perut dan punggung istrinya.


"Enggak mas, tapi mas tolong telfon Kak Alvero ya, aku pusing kayaknya perlu istrahat Mas." Kata Marisa.


"Yaudah, mas bikin teh dulu sekalian telfon kak Al, kamu sendirian nggak papa kan?" Kata Elvan yang dijawab anggukan oleh Marisa.


Lalu Elvan pun turun ke dapur untuk membuatkan teh istrinya dan menelfon Alvero untuk meminta ijin karena Marisa tidak akan bisa bekerja.


Setelah membuatkan teh, Elvan kembali naik ke kamarnya. Ia mencari-cari istrinya karena saat ia masuk kamar, istrinya tidak lagi ada di ranjang. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan menemukan Marisa yang telah tak sadarkan diri.


to be continued....


**Hallo readers kece, terimakasih masih setia baca cerita amatiran ini. Semoga nggak bosen ya sama alurnya.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya, terimakasih.


Salam hangat dari autor amatiran ini 🤭🤭**