My Amazing Husband

My Amazing Husband
Beberapa Tahun Setelahnya


Suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan toko yang menjual aneka kue dan sejenisnya. Seorang gadis kecil berkulit putih yang sedari tadi menunggu di depan toko berlari, rambutnya yang lurus tertiup angin saat ia berlari menghampiri mobil yang sudah sangat ia kenali.


"Ayah, bunda." Gadis bergaun putih lengkap dengan bando dengan warna yang sama itu memeluk dua orang dewasa yang baru turun dari mobil.


"Jangan lari-lari sayang, nanti princess ayah bunda jatuh gimana?" Sang Bunda mengkhawatirkan gadis kecil yang dipanggilnya 'princess' itu.


"Zea kangen sama ayah bunda." Setelah mencium tangan kedua orang dewasa itu, gadis kecil itu terlihat merajuk, laki-laki yang dipanggilnya ayah langsung menggendongnya dan mencium pipinya berkali-kali.


"Princess ayah kalau ketemu sama orang harus bilang apa dulu?" Tanya laki-laki itu.


"Assalamu'alaikum." Jawab anak perempuan berparas cantik itu.


"Waalaikumsalam." Laki-laki itu lalu mencubit gemas pipi gadis bernama Zea itu.


"Mama mana Sayang?" Tanya perempuan berhijab yang berdiri disebelah suaminya.


"Mama lagi mandi Bunda, habis bikin resep baru." Jawab gadis kecil yang belum mau turun dari gendongan ayahnya itu.


Mereka pun memasuki toko kue yang mulai ramai itu, menuju belakang dapur yang dijadikan sebagai tempat tinggal gadis kecil itu bersama sang Mama.


"Kalian udah datang?" Marisa yang baru berganti baju menghampiri dua orang dewasa yang bersama putrinya.


"Iya Kak, apa kabar? Kangen Kak." Sheryl, wanita cantik itu memeluk tubuh Marisa, menumpahkan rasa rindu sekaligus rasa bersalah yang masih bersarang di hatinya selama ini.


"Aku baik Sher, aku belum sempet loh berkunjung ke rumah kalian, maaf ya aku sibuk banget nih." Kata Marisa lalu mempersilahkan mereka duduk.


"Iya santai aja, kita tau kok kamu udah jadi wanita karir jadi wajar kalau kamu sibuk. Kita kesini juga karena kangen sama princess kita. Oh iya gimana kerja kamu?" Tanya Andi yang dipanggil Zea dengan panggilan 'ayah' itu.


"Princess, ikut bunda ke minimarket yuk, kita beli es krim?" Ajak Sheryl lalu menggandeng gadis kecil yang sudah ia anggap putrinya sendiri.


"Oke Bunda." Gadis kecil itu sangat girang, bahagia terpancar di wajah polosnya. Setelah beberapa bulan berpisah dengan ayah bundanya, gadis itu merasa senang ketika bertemu kembali, artinya ia akan sering pergi ke taman dan arena bermain bersama Bundanya.


"Ya, Alhamdulillah sih Ndi, bagus karir aku disana, walaupun perusahaan baru dan hanya anak cabang, tapi perkembangannya cepet banget. Malah aku dapet rekomend untuk pindah ke kantor pusat di ibukota dengan gaji hampir 3kali lipat." Kata Marisa menceritakan pekerjaannya.


"Alhamdulillah kalau gitu, tapi apa kamu menolak tawaran sebagus itu?" Tanya Andi yang sebenarnya sudah paham akan jawaban pertanyaan itu.


"Aku masih pikir-pikir Ndi, lagian toko kue gimana kalau aku tinggal."


"Kamu kan bisa percayain sama Nurul, lagian kalau kamu ke ibukota, kan aku sama Sheryl bisa bantu jaga Zea. Sheryl itu sering ngerengek minta kesini, tapi kamu tau kan aku baru aja diangkat jadi Kapolres, nggak mungkin juga aku sama dia pisah rumah."


Marisa terkekeh, ia sangat paham bagaimana kelakuan Shery. "Sebenernya aku takut Zea ketemu mereka."


"Kenapa? Kamu mau terus-terusan sembunyi dari mereka? Bukankah Zea sudah waktunya sekolah? Aku dan Sheryl akan menyekolahkan Zea di sekolah terbaik Sar."


"Iya aku tahu, aku hanya takut Ndi, hanya Zea yang aku punya, kalau dia diambil dari aku, aku nggak punya siapa-siapa lagi."


"Marisa, sekarang kamu adalah Sarah. Marisa itu sudah meninggal setelah melahirkan, seperti cerita mereka kan? Kamu adalah Sarah, sepupu Sheryl. Jadi pindahlah ke ibu kota, kejar karirmu, juga lakukan yang terbaik untuk Zea, Sheryl bisa menjaga Zea dengan baik."


"Tapi, kalian baru menikah dan aku tidak mungkin membiarkan Zea mengganggu kehidupan kalian yang masih merencanakan kehamilan."


"Sarah dengar, orang bilang anak kecil bisa menjadi pancingan untuk orang tua yang menginginkan kehamilan seperti kami, jadi anggaplah Zea sedang membantu kami. Kami akan menjemputnya sebelum kamu kerja, dan kamu bisa menjemputnya di rumah kami setelah kamu pulang kerja. Bagaimana?"


Marisa berfikir sejenak, mungkin saja ia bisa bertemu putranya di ibukota nanti. "Baiklah aku setuju, besok aku akan menerima tawaran Pak Hadi."


"Baguslah, sambil menunggu kamu, bagaimana kalau besok aku ajak Zea dulu sembari menunggu kamu menyelesaikan semua yang disini."


"Baiklah, aku percaya sama kamu dan Sheryl."


🌱🌱🌱


"Akhirnya aku sampai di tempat ini lagi. Bukan sebagai Marisa, aku adalah Sarah yang akan melakukan semua yang terbaik untuk anak-anakku, semoga aku bisa bertemu putraku disini." Gumam Marisa saat telah keluar dari bandara.


"Mama" Gadis kecil itu memanggil Marisa yang langsung berlari dan memeluknya.


"Sayang, Mama kangen." Marisa memeluk erat putri kecilnya.


"Zea juga kangen Mama. Mama tau nggak Zea udah sekolah sekarang Ma, Bunda beliin tas, sepatu, sama baju sekolah. Bagus Ma sekolahnya besar, disana ada Bundanya juga Ma, ada banyak Bunda disana. Zea suka sekolah disana Ma." Gadis cantik itu terus saja bercerita.


"Iya sayang, iya. Zea nggak nyusahin ayah bunda kan?" Marisa menggandeng Zea menuju ke mobil dimana Sheryl telah menunggunya.


"Enggak, enggak. Kata Bunda Zea anak baik, anak manis. Bunda janji besok kalau libur sekolah ajak Zea ke Mall. Mall disini besar banget Ma, ada banyak mainan juga. Kata Ayah besok kalau bahasa inggris Zea dapat A Zea mau dibelikan baby allive." Kata Zea dengan cerianya.


"Wah, itu kan mahal sayang, jangan minta yang aneh-aneh ya sayang, enggak boleh gitu." Kata Marisa menasehati.


"Enggak, ayah yang ngasih tau kemaren ada boneka baby allive di mall, kata ayah kalau bahasa inggrisnya dapat A nanti dikasih hadiah itu sama ayah."


"Beneran Sher?" Marisa kini telah sampai di mobil Sheryl.


"Iya, kak lagian nggak masalah kok biar dia semangat belajarnya. Ya kan sayang." Jawab Sheryl.


"Iya Bunda. Kita beli es krim dulu ya Bunda, Zea pengen es krim strawbery." Kata Zea.


"Iya sayang."


Mereka pun menuju ke apartemen yang telah disiapkan oleh Andi dan Sheryl, meskipun apartemen biasa dan tidak mewah, tapi gadis kecil itu sangat menyukainya.


"Sher, kok kalian siapin apartemen sih, kan aku bilangnya kontrakan biasa aja Sher." Kata Marisa yang tak enak hati.


"Enggak papa Kak, yang penting Zea sama Kakak aman disini. Lagian ini apartemen temennya Mas Andi yang nggak kepakek, dan sewanya murah kok Kak, santai aja ya." Jawab Sheryl.


"Iya deh, makasih banyak ya Sher. Aku dan Zea udah sangat merepotkan kamu sama Andi"


"Enggak Kak, lagian ini nggak seberapa daripada kehilangan Zayn kak." Kata Sheryl teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu.


"Udah, kamu nggak perlu merasa bersalah, bukan salah kamu Sher, semua udah takdir. Jangan sebut nama Zayn ya, Zea masih belum paham."


Mereka pun saling berpelukan, dan saling menguatkan.


🌱🌱🌱


Hari ini Marisa yang telah berubah nama menjadi Sarah, mulai memasuki gedung perusahaan tempat ia akan bekerja. Setelah bertemu dengan Bu Lila sesuai instruksi dari Pak Hadi bosnya di tempat lama, Marisa diantar menuju ruangan direktur.


"Selamat pagi Pak, ini Sarah dari kantor cabang di kota S yang akan menjadi sekretaris Bapak sesuai rekomendasi dari Pak Hadi." Kata Bu Lila setelah memasuki ruangan pimpinannya.


Sang pimpinan yang awalnya berdiri menghadap kaca sehingga membelakangi Marisa dan Bu Lila akhirnya berbalik badan demi melihat sekretaris barunya.


Marisa terkejut dengan pimpinan barunya, begitu juga laki-laki itu. Mereka sama sekali tak menyangka akan bertemu kembali setelah sekian lama.


"Kamu.... Marisa?" Tanyanya kepada Marisa. Sementara Marisa berusaha bersikap biasa saja untuk menutupi keterkejutannya.


Bersambung....


Kira-kira siapa ya laki-laki itu??


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar untuk semangatin Otor ya.


Terimakasih.