
Marisa masih celingak-celinguk mencari keberadaan suami dan anak perempuannya. Karena Zayn yang datang bersama mereka, justru menghampirinya seorang diri.
"Ris, itu bukannya Elvan." Kata Reyna menunjuk kearah pintu masuk restauran.
Marisa langsung menoleh kearah yang ditunjuk Reyna dan ia melihat Elvan yang masih menggandeng tangan Zea nampak berbincang dengan dua orang wanita. Marisa mengenali salah seorang wanita yang bersama Elvan dan Zea itu.
"Ngapain Mas Elvan sama Sasha." Marisa melihat Sasha, teman kerjanya di kantor dulu sedang berbincang dengan Elvan seorang wanita cantik.
Dari kejauhan Marisa dapat melihat dengan jelas saat Elvan mengenalkan Zea kepada dua wanita itu. Suaminya itu terlibat obrolan yang cukup serius dengan wanita teman Sasha.
"Itu Sylvia." Ucap Reyna yang sepertinya mengerti pertanyaan di kepala Marisa tentang wanita yang sedang mengobrol dengan suaminya itu.
"Ohhhh jadi itu yang namanya Sylvia, cantik banget ya." Marisa menunjukkan seyumnya dihadapan Reyna, lalu ia mengalihkan pandangannya dari Elvan, dan kini beralih pada Zayn.
"Kamu tau Sylvia?" Tanya Reyna ragu-ragu.
"Enggak kak, mungkin rekan bisnisnya, udah biarin aja lah." Jawab Marisa berpura-pura tak peduli dengan wanita bernama Sylvia itu.
Cantik banget dia, masih muda lagi. Huft.. Apa Mas Elvan tidak jatuh cinta dengan gadis sepertinya. Kesalnya dalam hati.
"Ma, Zayn mau makan nasi sama ikan bakar." Kata Zayn setelah melihat buku menu yang sengaja diminta Marisa dari pelayan tadi.
"Iya sayang, kamu bisa makan sendiri kan nanti?" Tanya Marisa pada Zayn.
"Bisa dong Ma." Jawab Zayn dengan bangga.
"Mama.." Zea yang baru datang dengan Elvan segera mencium tangan Marisa.
"Sayang." Marisa mencium pipi Zea.
"Udah lama?" Tanya Elvan pada Marisa.
"Belum kok Mas, kita juga belum pesen makan, nunggu Kak Al sekalian." Kata Marisa.
Elvan pun mengambil duduk di sebelah Marisa,
"Zea kenalan dulu sama Onty sayang." Marisa menyuruh Zea untuk berkenalan dengan Reyna yang duduk sendiri di depan Marisa.
"Assalamu'alaikum Onty, namaku Zea, kalau Onty namanya siapa?" Ucap Zea setelah mencium tangan Reyna.
"Waalaikumsalam Zea, panggil Onty Reyna aja sayang." Jawab Reyna lalu mengusap lembut rambut Zea yang terurai.
"Wah Onty mau punya dedek bayi ya." Ucap Zea yang memperhatikan perut besar Reyna.
"Iya sayang, do'ain ya semoga dedek bayinya gemesin kayak Zea." Lata Reyna.
"Aamiin, Mama, Zea juga pengen punya dedek bayi." Kata Zea yang membuat Elvan mendekatkan wajahnya ke Marisa, karena Zea masih berdiri diujung meja antara Marisa dan Reyna.
"Zea beneran mau punya dedek bayi?" Tanya Elvan bersemangat.
"Iya Pa, kapan ya dedek bayinya ada di perut Mama." Zea menatap perut Marisa yang masih memangku Zayn dengan penuh harap.
"Tapi biasanya dedek bayi nggak akan mau di perut Mama kalau Zea dan Zayn sebagai Kakak masih suka tidur sama Mama." Kata Elvan yang langsung mendapat capitan diperut kananya. "Auuu sakit sayang." Bisik Elvan ditelinga Marisa
"Jangan aneh-aneh deh Mas." Balas Marisa sambil berbisik.
"Enggak sayang, biarin mereka mau tidur sendiri sayang." Elvan kembali berbisik dan malah menampilkan cengiran di wajah tampannya.
"Zayn nggak mau tidur kalau nggak sama Mama." Jawab Zayn datar, bocah itu sepertinya mendengar orang tuanya yang sedang berbisik bisik.
"Tapi, menurutku mereka udah waktunya punya adik kok, apalagi Zayn ini, dia harus ngerti rasanya jaga bayi biar nggak nakal lagi." Kata Reyna yang membuat Zayn mengerutkan alis dan menatapnya tak suka karena kata-kata Reyna.
"Emang Zayn senakal apa sih kok Pak Al juga bilang Zayn nakal." Tanya Marisa yang memang tak melihat kenakalan dari putranya itu saat mereka bersama.
"Nih aku kasih tau ya, dia pernah ngacak-ngacak kantor Alvero pas ditinggal Al meeting, balik-balik dokumen di meja udah berubah jadi pesawat." Kata Reyna mengingat kejadian tahun lalu.
"Itu kan karena Zayn bosen nggak ada temen." Bela Zayn yang tak ingin di cap nakal oleh Mamanya.
"Terus pernah ya, dia ngilang pas aku ajak belanja, ternyata dia ngunci diri di kamar ganti dan nggak bisa bukainnya, akhirnya satpam yang manjat buat ngeluarin dia." Kata Reyna yang sempat menangis saat Zayn luput dari pengawasannya.
"Oh ya?" Marisa tak percaya, lalu memandang wajah imut Zayn.
"Iya dan kejadian itu sempet bikin heboh juga, anak Elvan bisa kekunci di Mall, dan malah pihak Mall yang minta maaf." Sahut Elvan yang sudah pusing harus berkali-kali mencari pengasuh karena tak betah dengan kenakalan Zayn.
"Terus pernah dia ngambil ikan Kakek di kolam belakang, terus dia ambil sabun dimandiin tuh ikannya." Kata Reyna
"Ya Allah beneran Kak, terus Kakek marah nggak?" Tanya Marisa yang tak bisa membayangkan kelakuan Zayn saat sebelum bertemu dengannya.
"Iya dan yang dia mandiin itu ikan koi kesayangan kakek yang mahal banget harganya, dan untungnya dia nggak masukin sabun ke kolam ikannya, jadi yang mati cuma satu ikan aja. Gimana kalau yang mati satu kolam?" Reyna semakin bersemangat menceritakan tingkah ajaib anak laki-laki Elvan dan Marisa itu.
"Yang paling ekstrim dia pernah nulis di mobil baru Kak Al pakai batu sampek akhirnya aku ganti dengan mobil baru." Kata Elvan.
"Waktu itu Zayn cuma kangen Mama, aku pikir Mama bisa baca pesan aku di mobil Uncle." Zayn menundukkan kepalanya merasa bersalah. Dan Marisa langsung memeluk bocah itu.
"Dia juga pernah nonjok temennya di sekolah beberapa bulan lalu." Sahut Alvero yang baru bergabung dengan mereka.
Marisa memlererat pelukannya pada Zayn. "Zayn anak Mama yang baik kok, yang penting Zayn jangan ulangi lagi ya sayang." Kata Marisa lalu mencium pipi Zayn.
"Iya Ma, Zayn nggak akan nakal lagi kok." Kata Zayn.
"Mama tenang aja, nanti Zea akan marahin Zayn kalau dia nakal lagi Ma." Kata Zea yang sedari tadi mendengar satu persatu kenakalan Zayn yang diceritakan Elvan, Reyna dan juga Alvero.
"Yaudah sekarang kita pesen makan ya." Kata Elvan lalu memanggil pelayan.
*selesai makan*
"Jadi kamu beneran didepak dari perusahaan El?" Tanya Alvero. Zea dan Zayn sedang fokus menonton video animasi di ponsel Elvan.
"Iya kak, ya biarin aja lah biar diurus sendiri sama Kakek itu perusahaan." Kata Elvan yang kini duduk diujung.
"Terus Marisa gimana, masih mau kerja atau fokus ke anak-anak aja?" Tanya Alvero pada Marisa.
"Em, aku terserah Mas Elvan aja Pak." Jawab Marisa. "Gimana Mas?" Tanya Marisa oada suaminya.
"Emm, Mas juga terserah kamu aja." Elvan tak ingin mengambil keputusan yang egois, karena ia sendiri tak tahu apa isi hati Marisa.
"Kalau aku fokus ke anak-anak aja gimana Mas, kasihan juga kalau mereka nggak keurus nantinya."
"Iya Mas setuju kok sama keputusan kamu."
"Yaudah berarti hari ini kamu terakhir kerja ya, besok biar Nadin yang lanjutin kerjaan kamu." Kata Alvero menyimpulkan
"Iya Pak."
"Sayang, boleh nggak habis ini aku belanja sama Marisa sama Zayn dan Zea jadi habis ini dia udah berhenti kerja sama kamu, kamu balik ke kantor sendiri." Kata Reyna.
"Hmm, Yaudah terserah kamu aja deh sayang." Kata Alvero pasrah.
🌱🌱🌱
Setelah makan malam di rumah, Zayn dan Zea ditemani Elvan dan Marisa sedang menonton kartun kesukaan mereka di kamar Elvan dan Marisa.
Dua bocah itu sedang asyik tengkurap sambil fokus dengan layar televisi dihadapan mereka. Sementara Elvan bersandar di sandaran sofa sambil mengelus rambut Marisa yang menyandarkan kepalanya di dada Elvan.
"Jadi yang di Mall tadi siang itu Sylvia Mas?" Marisa masih memeluk tubuh Elvan sambil mengamati anak-anaknya yang masih asyik dengan kartunnya.
"Emmm, iya, kenapa?" Tanya Elvan yang masih terus mengelus rambut Marisa.
"Cantik banget ya, masih muda lagi." Kata Marisa mengingat wajah wanita yang dilihatnya tadi siang.
"Kamu cemburu?"
"Emm, enggak, cuma kagum aja dia cantiknya kebangetan."
"Bagiku nggak ada yang lebih cantik dari kamu, Zea aja nggak lebih cantik dari kamu, poinnya sama. Apalagi dia."
"Aku sama dia jauh beda lah Mas, oh iya dia kok kenal Sasha Mas."
"Iya ternyata dia itu adiknya pacar Sasha. Udah lah jangan bahas dia, sekarang kita fokus aja biar mereka cepet tidur, tadi kamu sholat kan berarti udah selesai haid dong?"
"Iya, udah Mas."
"Enggak kangen sama dia." Kata Elvan menuntun tangan Marisa menyentuh bagian bawah Elvan.
"Apa sih Mas nanti di lihat anak-anak loh."
"Nggak kuat sayang, aku udah lima tahun lebih loh puasanya."
"Iya, nanti Mas."
***
Setelah menunggu lebih dari satu jam akhirnya Zayn dan Zea pun terlelap. Elvan yang tadinya berada disamping Zea pun akhirnya berpindah mendekati istrinya, setelah sedikit menggeser tubuh Zayn agar lebih dekat dengan Zea, Elvan pun kini duduk di tepi ranjang disebelah Marisa.
"Sayang, sekarang ya." Elvan mulai mengecup bibir Marisa, lalu setelah merasakan isyrinyanitu membalas ciu**nya ia segera memasukkan lidahnya untuk membelit lidah Marisa. Sesekali Elvan melepas cium**nya agar memberi waktu untuknya dan juga Marisa mengambil nafas.
Tangan Elvan mulai bergerak menuju bukit kembar yang menjulang dibalik piyama itu. Naluri laki-lakinya membuatnya tak sabar dan dengan cepat melepaskan seluruh kacing piyama Marisa. Elvan begitu merindukan tubuh itu, setelah piyama bagian atas itu terlepas, Elvan melanjutkan cium**nya pada leher Marisa, memberikan beberapa tanda cintanya di leher jenjang itu. Lalu ia segera menuju kedua bukit yang masih tertutup cup itu.
Setelah itu Elvan melepaskan kait yang mengikat cup itu dan langsung membuangnya ke lantai. Kini lidah Elvan mulai bermain di salah satu puncak bukit itu, menyesap lembut puncak bukit yang membuat Marisa mengeluarkan desahan lirih. Mendengar lenguhan istrinya itu membuat Elvan semakin bersemangat untuk mengeksplore seluruh bagian tubuh wanita yang telah lama ia lupakan.
Saat ia menggigit kecil puncak bukit itu, Marisa semakin tak terkendali, ia ingin diperlakukan lebih. Elvan pun mengerti tersiksanya Marisa saat itu, dan Elvan pun langsung melepas seluruh kain yang masih menutupi kaki jenjang Marisa, hingga tubuh Marisa pun terbebas dari apapun. Elvan pun tak menyia-nyiakan waktu, tangannya mulai bermain dalam lembah surgawi Marisa membuat istrinya itu menggelinjang tak karuan.
Merasa tak adil, Marisa yang telah polos pun segera menarik kaos Elvan dan langsung menci**m bibirnya. Dengan bibir yang masih saling beradu, Marisa berusaha melepaskan boxer yang dipakai suaminya itu. Dan kini mereka telah sama-sama terbebas.
"I miss you so much." Bisik Elvan yang kemudian menuntun senjatanya menuju lembah kenikmatan.
Malam itu, setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Elvan kembali merasakan kenikmatan yang diberikan oleh istri tercintanya.
bersambung....