MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
90. end


Di tempat lain, tepatnya di lapisan benteng kedua. di mana Di sana pangeran Arga dan Diran serta beberapa pengawal lainnya telah siaga dan menunggu apa yang akan terjadi.


"kak... Kenapa tidak ada tanda-tanda pasukan Kediri akan mendekat di benteng ini.. aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan pasukan itu." ucap pangeran Arga kepada badiran. Diran yang mendengarkan keluhan sang adik langsung mengarahkan pandangannya ke arah Arga.


"Kamu benar pangeran, sepertinya para pasukan dari Kerajaan Kediri itu tidak bisa menembus benteng lapisan pertama." ucap Diran lagi.


"di mana bisa ditembus, sementara yang bertugas di benteng pertama adalah orang-orang hebat. mungkin sepasang suami istri yang menghadapi ribuan pasukan langsung koid. Siapa sih yang tidak mengetahui kekuatan pangeran Mandala, apalagi ditambah dengan adik kita. sungguh miris sekali nasib mereka.." ucap pangeran Arga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita bersiaga saja. mana tahu ada sisa buat kita, kalau ketemu langsung cincang saja.."ucap mereka bercanda gurau. akhirnya kedua saudara angkat itu langsung bersiaga di posisi masing-masing


mereka tidak tau saja, sementara para pengawal dan beberapa panglima yang berada di dekat mereka bergidik ngeri mendengarkan obrolan itu. padahal kalau saja mereka tahu, kedua saudara angkat itu hanya bercanda saja.


glek


( kenapa obrolan para tuan muda ini terdengar sangat mengerikan ya. masak, sisa di potong potong.) batin salah satu pengawal itu.


Iya juga melempar pandangannya ke arah temannya yang lain. dari sorot mata mereka, Iya yakin bahwa teman-temannya juga berpikiran yang sama dengannya.


***


sementara di Kerajaan Majapahit. saat ini ada seorang tlik sandi dari Kerajaan Kediri, yang menyampaikan kabar kepada Raden Wijaya. Iya membawa kabar dari Raja Jayabaya.


karena kedatangan seorang tlik sandi itu tidak membawa pasukan, akhirnya raja mengizinkan untuk bertemu dengannya.


"salam hormat kepada yang mulia Raja Majapahit." ucap sang pengawal kepada Raden Wijaya sambil menyatukan kedua telapak tangannya memberi hormat.


"katakan, ada urusan apa rajamu mengirim mu datang ke sini.?" tanya Raden Wijaya kepada pengawal yang diutus itu.


"maafkan atas apa yang terjadi saat ini yang mulia. namun untuk lebih jelasnya lagi, silakan yang mulia membaca surat dari Raja kami." ucap sang utusan sambil menyerahkan gulungan kertas kepada Raden Wijaya.


Raden Wijaya pun langsung memerintahkan salah satu penasehatnya untuk mengambil dan membacakan isi surat itu. dengan senang hati, salah satu penasehat istananya langsung melaksanakan perintah darinya.


salam hormat kepada yang mulia Raja Majapahit.


saya Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri, mengutus salah seorang pengawal tercepat untuk mengirimkan pesan ini kepada yang mulia.


dalam surat ini juga, saya menyampaikan dan menegaskan bahwa saya Raja Jayabaya tidak pernah mengutus pasukan untuk datang berperang. Saya juga tidak mengetahui rencana peperangan ini.


peperangan ini terjadi atas kehendak pangeran parta. Iya sengaja ingin mengadu domba dan merebut kekuasaan yang saat ini tengah saya pegang.


jadi saya ingin menyampaikan secara resmi. semua tindakan atau penyerangan yang terjadi di Kerajaan Majapahit akan saya pertanggungjawabkan.


Tertanda


Raja Jayabaya. (kira-kira seperti itu isi suratnya)


di surat itu juga dibubuhkan stempel dari Kerajaan Kediri hingga membuat Raja Majapahit percaya.


setelah membacakan surat itu. Raja Majapahit langsung menghela nafas lega. setidaknya, bukan dari kerajaan atau perintah dari Raja Jayabaya untuk melakukan penyerangan di kerajaan mereka.


"lalu apa yang telah kalian siapkan untuk mempertanggungjawabkan hal ini..??" tanya Raja Majapahit lagi.


"mohon ampun Yang mulia. sebagian besar dari pasukan Kediri juga sedang menuju ke sini yang langsung dikomandoi oleh pangeran mahkota syakah Ardana. pangeran mahkota di bawah perintah dari raja, akan memboyong pangeran parta dan menghukumnya sesuai dengan peraturan yang berlaku di kerajaan Kediri. Raja juga telah menyiapkan, beberapa bantuan kerusakan yang mungkin saja sangat besar." jelas utusan itu lagi.


mendengar penuturan itu, raja Majapahit Hanya mampu menganggukkan kepalanya. jujur, dalam hatinya, kini ia sedang menghawatirkan keluarga besannya yang ikut berperang. bahkan, di pihak keluarganya, hanya pangeran Mandala yang ikut ke medan perang. jujur saja, ia merasa tidak enak hati.


tapi mau bagaimana lagi. masalahnya, ia adalah seorang raja, tidak mungkin juga ia meninggal kan kerajaan.


tapi sekarang, ia cukup lega. karena, peperangan ini tidak berlandaskan pada keputusan raja jayabaya.


" baiklah kalau begitu pengawal. sekarang, sebaiknya kamu beristirahat lah dulu." ujar sang raja.


"baik yang mulia, kalau begitu hamba mohon undur diri." ucap sang pengawal. setelah itu ia langsung keluar dari tempat itu dan pergi menuju tempat beristirahat sebelum akhirnya Kembali ke kerajaan nya lagi.


***


sementara di medan perang, kini pasukan Kediri dibuat kewalahan. dari setiap sisi penyerangan mereka, mereka selalu tidak berhasil. mereka juga langsung merasa seperti menerapkan rencana yang kurang pas. karena, belum saja menyentuh benteng pertahanan pertama wilayah itu, semua pasukan dari Kerajaan Kediri sudah ditumbang.


sehari, 2 hari dan 3 hari, namun peperangan itu tak kunjung terjadi juga. penjagaan Di lapisan kedua dan ketiga menjadi heran. mereka bertanya-tanya Apakah Kerajaan Kediri tidak jadi menyerang kerajaan mereka.


"Kenapa rasanya sudah 3 hari kita menunggu di sini, tapi tak satupun dari Kerajaan Kediri nampak batang hidungnya. Apakah ada yang salah di benteng lapisan pertama..??" tanya pangeran Arga kepada Diran.


"salam kepada pangeran Arga dan Tuan muda. Saya ingin menyampaikan bahwa perang telah usai.." ujar sang utusan. keduanya pun langsung tercengang. mulut mereka menganga akibat terlalu terkejut.


namun tak hanya kedua saudara angkat itu yang terkejut, bahkan panglima-panglima serta prajurit yang bertugas di lapisan benteng kedua itu ikut ternganga dan tercenung.


mereka tidak menyangka, bahwa perang dengan Kerajaan Kediri hanya membutuhkan waktu 3 hari. sementara seperti biasa mereka mengikuti perang, akan berakhir selama berbulan-bulan. dan ini adalah rekor tercepat yang mereka ketahui.


"apa..!! perangnya usai hanya dalam waktu 3 hari..!! bukankah perang itu akan berlanjut selama sebulan atau berbulan-bulan, tapi berperang bersama pangeran Mandala dan Nona Gayatri hanya membutuhkan waktu 3 hari Untuk menumpas kerajaan lawan..!! wah wah wah wah... ternyata kita memiliki sepasang pendekar yang sangat hebat." ujar salah satu prajurit dengan semangat dan menggebu-gebu.


mendengar suara teriakan dari para pengawal, Diran dan Arga serta para panglima yang masih di lingkupi oleh rasa terkejut itu, langsung tersadar.


"lalu Bagaimana keadaan benteng lapisan pertama itu..??" tanya Diran dengan tiba-tiba.


"semuanya aman tuan muda, dan tak memiliki kerusakan apapun." ucap sang utusan lagi.


***


di tempat lain tepatnya di penjagaan benteng lapisan ketiga, kejadian yang sama terjadi di mana mereka di sana terkejut mendengar kabar bahwa perang telah usai. lawan telah dilumpuhkan oleh kelompok pangeran Mandala dan Gayatri.


"apa !! Aku tidak menyangka, padahal kita di sini sudah sangat tidak sabar menunggu peperangan itu.. Jujur saja suamiku, Aku ingin mencoba ilmu bela diriku, Aku ingin tahu seberapa kuat kekuatanku saat ini. tapi anak-anak sialan itu telah mengacaukan rencanaku..??" kesal Nyonya di Aswari. mendengar umpatan yang keluar dari mulut sang istri, Tuan Senopati hanya mampu terkekeh saja. sementara Nyonya diaswari merasa sangat rugi, Iya juga benar-benar merasa jengkel kepada anak dan anak menantunya.


"sudahlah istriku, Kamu kan tahu siapa anak dan anak menantu itu.. mereka pasti akan bersusah payah untuk melindungi kita. itulah kenapa mereka berada di benteng pertahanan pertama." jelas Tuan Senopati yang memang sedari dulu sudah tahu maksud dari Gayatri.


"ah ya sudahlah kalau begitu... Oh iya, lalu bagaimana kondisi di medan perang itu..??" tanya Nyonya di Aswari lagi kepada sang utusan.


"semuanya sudah aman dan terkendali nyonya. pangeran dan permaisuri juga sudah bersiap-siap akan kembali ke posko.." ujar sang utusan lagi.


"Ya sudah kalau begitu.. terima kasih informasinya ya, sana sana istirahat dulu baru kembali menyusul tuanmu." ujar Nyonya di Aswari. setelah itu nyonya diaswari dan Tuan Senopati serta sang putusan berpisah di tempat itu Kembali ke tempat masing-masing.


***


dua minggu kemudian, setelah selesai mengurus dan melatih beberapa pengawal yang ada di perbatasan serta panglima yang bertugas di sana. kini keluarga Tuan Senopati kembali ke kerajaan bertemu dengan Raden Wijaya.


Raden Wijaya sudah berdiri di depan pintu gerbang kerajaannya untuk menyambut kedatangan mereka. Jujur saja Ia juga merasa terkejut mendengar bahwa penaklukan pasukan ke diri itu hanya membutuhkan waktu 3 hari. namun itu bukanlah apa-apa, Raja Raden Wijaya sangat bersyukur karena anak dan menantunya baik-baik saja.


tak lama iringan-iringan kereta dari para prajurit perbatasan mulai terdengar. sebenarnya Gayatri meminta untuk pulang menggunakan ilmu teleportasi saja, karena ia sangat malas duduk diam di dalam kereta selama berjam-jam lamanya.


namun apa boleh buat, karena raja pasti menyambut kedatangan mereka. Gayatri yang tidak ingin mengecewakan Ayah mertuanya itu pun akhirnya menurut.


"Tuan Senopati dan pasukannya telah tiba..!!" teriak seorang Kasim dengan suara yang menggelegar.


para rakyat jelata yang ada di sana langsung memberi hormat kepada mereka. Namun bukan hormat seperti menghormati raja, karena mereka tahu Tuhan Senopati tidak terlalu mempermasalahkan tentang penghormatan mereka asalkan mereka semua saling menghormati satu sama lain.


Raden Wijaya yang melihat kereta dan iring-iringan itu langsung menampilkan senyum manis dari bibirnya. ya tidak menyangka, selama sebulan kepergian mereka ternyata tak membutuhkan waktu lama untuk menaklukkan pasukan itu.


hal yang membuat mereka lama berada di perbatasan karena melatih beberapa panglima dan prajurit yang akan bertugas dikemudian hari.


Tuan Senopati dan keluarganya pun turun dari kereta. Di sana juga ada pangeran Arga beserta pasukannya, mereka berniat sehingga ke Kerajaan Majapahit terlebih dahulu setelah itu baru pamit pulang ke kerajaan mereka.


"selamat datang keluarga besanku.. aku sangat bahagia mendengar kabar bahwa kalian baik-baik saja." ucap Raden Wijaya sambil mengalungkan bunga di leher Tuan Senopati sebagai tanda penghormatan dan penyambutan bagi mereka.


"terima kasih yang mulia telah menyambut kami.."; ucap Tuan Senopati kepada raja Raden Wijaya.


"tidak perlu sungkan Tuan Senopati, aku tentu saja sangat menghargai apa yang sudah kalian berikan di kerajaan ini. dan penyembutanku ini bukanlah seberapa dari apa yang telah kamu lakukan dan keluargamu... jadi tidak perlu sungkan seperti itu." ujar Raden Wijaya lagi.


Setelah salam sambut menyambut itu, akhirnya Raden Wijaya dan keluarga Tuan Senopati kembali ke istana.


***


selama beberapa bulan dengan berakhirnya perang di perbatasan Kerajaan Majapahit itu. kini nama Gayatri dan pangeran Mandala dikenal dengan sepasang pendekar dari Kerajaan Majapahit.


keseharian sepasang pendekar itu adalah bertani di desa lembah lembayun. mereka sama sekali tak mengambil untung dari harta yang dimiliki seorang pangeran. mereka lebih memilih untuk menetap di lembah lembayung sebagai seorang petani yang memakmurkan hasil pertanian masyarakat yang ada di kerajaan itu.


***selesai***


hai teman-teman. akhirnya cerita menjadi gadis petani ini berakhir juga. terima kasih banyak yang sudah berpartisipasi, memberikan like, Vote dan komentarnya. 🙏 perlu otor ingatkan lagi, bahwa semua cerita otor tidak punya bonus chapter atau sebagainya. jadi jangan ditunggu ya.!!😁


namun cerita ini belum selesai sepenuhnya. nanti akan ada judul novel baru untuk menyambung cerita ini, karena kehidupan Gayatri dan pangeran Mandala masih terus berlanjut. 👍


oke guys, stay cun terus ya..!!❤️🥰🥰