
setelah Gayatri mengobrol kepada kedua orang tuanya tentang rencananya untuk menyediakan dua buah cerita sebagai salah satu jasa pengangkut barang-barang atau dagangan milik warga ke pasar, kini Gayatri bersiap-siap untuk bergabung bersama dengan saudara-saudaranya yang lain yang tengah berlatih di atas bukit yang menyuguhkan sebuah pemandangan yang sangat menyejukkan.
brauk...
semua yang sedang beristirahat itu langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara. di mana Di sana Gayatri mendarat dengan sempurna.
"kamu sudah datang dek...!!" seru aji ketika melihat gaya di sana. Gayatri pun menganggukkan kepalanya. kemudian ia mengeluarkan 2 buahan asing itu dari ruang dimensinya.
"mumpung kalian semua sedang beristirahat, ini aku ada buah-buahan. makanlah rasanya sangat enak."ucap Gayatri kepada mereka semua. tanpa mereka tahu bahwa buah itu sudah Gayatri rendam terlebih dahulu di kolam air kehidupan yang ada di ruang dimensinya.
tentu saja buah-buahan itu dapat meningkatkan vitalitas serta mengembalikan ion-ion tubuh mereka yang telah hilang. Tak hanya itu buah ini juga dapat memperlancar tingkat kultivasi atau Meridian mereka.
mereka semua pun duduk berbaris saling berhadapan satu sama lain, ada juga beberapa kelompok yang membuat lingkaran kecil agar mereka dapat menjangkau buah-buahan itu. untuk sesaat, pemandangan akur yang seperti itu sangat membuat siapa saja akan merasa terharu. apalagi Gayatri dan saudara-saudaranya sama sekali tidak membatasi pergaulan mereka.
***
setelah beristirahat cukup lama, kini mereka kembali berlatih. kali ini Gayatri yang mengomandoi. tampak latihan mereka sangat menyiksa, namun Mereka sudah terbiasa bahkan tak terasa sulit bagi mereka.
"baiklah.. Saya ingin mencoba ilmu berpegang kalian. walaupun hanya sedikit dan dasar-dasarnya saja, setidaknya kalian tahu cara mengayunkan pedang." ucap Gayatri dengan lantang agar semuanya mendengar penuturan Gayatri.
semua yang ada di sana pun mulai bersiap-siap mengambil posisi. mereka berlatih menggunakan tiga tempat yang tidak berjauhan, mereka menggunakan pedang kayu sebagai dasar latihan mereka. sementara Gayatri dan kedua kakaknya pangeran Arga serta diran menjadi jurinya.
latihan berpedang itu pun dimulai. tanpa masing-masing dari mereka sangat serius mendengarkan wejangan serta arahan dari saudara-saudara mereka yang lain. Yakni 10 orang murid sebelumnya.
setelah puas mendapatkan arahan dan wejangan, kini mereka mulai mempraktekkan serta saling berhadapan satu sama lain. mereka terus melakukan gerakan menyerang menghindar atau menangkis serangan, serta melakukan perlindungan terhadap diri sendiri.
Gayatri dan saudara-saudaranya sengaja mengasah semua tim mereka untuk pintar dalam berpedang. walaupun hanya sekedar bisa menghindar serangan lawan, setidaknya mereka mampu melindungi diri mereka sendiri.
tak sedikit pula anggota-anggota tim mereka itu yang belum mampu bertahan, maka mereka-mereka itulah yang akan langsung dilatih oleh Gayatri seperti latihan militer.
***
tak terasa satu bulan telah berlalu, di sisi lain seorang pemuda mendatangi Kerajaan Majapahit yang saat ini tengah dipimpin oleh Raden Wijaya Kartanegara. Siapa lagi kalau bukan Mandala.
saat Mandala telah sampai di pintu gerbang istana, semuanya langsung menunduk hormat dan membukakan pintu gerbang serta mempersilahkan Mandala masuk ke dalam istana. seorang Kasim pun mengabarkan kedatangan Mandala kepada Raden Wijaya dan para bangsawan yang lain yang kebetulan sedang berkumpul di ruang aula istana.
"pangeran Mandala memasuki ruangan..!!!" terima kasih yang berdiri di pintu masuk ruang aula itu. sontak saja semua mata langsung mengarah kepada pangeran Mandala.
ternyata Mandala adalah seorang pangeran pertama dari Raden Wijaya dan istrinya. hanya saja ia memilih mengembara ketimbang harus menjadi putra mahkota. baginya, menjadi seorang putra mahkota hanya akan mempersulit diri sendiri. di mana nantinya akan menghadapi seluk beluk intrik-intrik politik yang tidak ada habis-habisnya. akhirnya Ia memutuskan untuk mengembara dan berkelana dari desa satu ke desa lain, dari kerajaan satu ke kerajaan lainnya, sampai akhirnya Ia memutuskan kembali ke kerajaannya.
namun sebelum ia benar-benar memutuskan kembali, Iya lebih dulu memilih untuk singgah di perkampungan lembah lembayun yang sepertinya baru berdiri beberapa bulan yang lalu. setelah itu Ia memutuskan untuk menjadi seorang petani, yang kebetulan pangeran Mandala ini begitu sangat ingin mengolah tanah yang ada di kerajaannya.
Raden Wijaya yang melihat kedatangan Putra pertamanya itu langsung menyambut dengan sukacita. pasalnya, sang raja dan ratu sudah benar-benar sangat merindukan kehadiran Mandala di kerajaan itu. sudah bertahun-tahun lamanya Mandala meninggalkan istana tanpa pesan apapun untuk kedua orang tuanya dan juga saudara-saudaranya. sehingga memberikan pemikiran negatif kepada Raden Wijaya bahwasanya putranya mungkin telah berpulang. namun dalam hati ia tidak henti-hentinya berharap agar putranya di sana baik-baik saja. dan akhirnya di sinilah pangeran Mandala di hadapannya.
"pangeran..." ucap Raden Wijaya sambil membentangkan tangannya. walaupun ia adalah seorang raja yang bijaksana dan dikenal dengan sifat tegas dan kerasnya dalam menjalankan ke pemerintahannya, namun ketika sudah berhubungan dengan keluarganya maka ia akan menjadi sosok raja dan ayah yang sangat perhatian dan berhati lembut.
pangeran Mandala langsung berlutut memberikan hormat kepada ayah dan ibunya.
"salam kepada ayahanda dan Ibunda." ucap pangeran Mandala sambil membungkukkan tubuhnya memberikan hormat.
Raden Wijaya langsung terkekeh bahagia. ia berjalan mendekat ke arah sang Putra kemudian memeluknya sangat erat. penampilan pangeran Mandala begitu sangat memperhatikan menurut para bangsawan yang ada di sana.
pasalnya, pakaian pangeran Mandala terlihat lusuh dan sangat kucel. namun aura yang diberikan dan yang dikeluarkan itu tidak mengurangi kesan bahwa ia adalah seorang pangeran.
Raja Raden Wijaya langsung melerai pelukan kepada anaknya itu. Iya juga pelan pundak sang anak sambil terkekeh bahagia.
"hehehe.. akhirnya kau kembali anakku. Kenapa begitu lama kamu mengembara.." ucap Raden Wijaya. pangeran Mandala hanya tersenyum melihat raut wajah bahagia ayahnya. tak lama ratu mandila turun dari singgasana ikut bergabung menyambut kedatangan Putra pertamanya itu.
ia merentangkan tangannya dan memeluk tubuh sang anak. tidak peduli Apakah pangeran Mandala berbadan bau atau semacamnya. sementara para bangsawan dan petinggi-petinggi istana yang ada di sana hanya menjadi penonton dan juga ikut terharu.
"akhirnya kau kembali putraku. bertahun-tahun kamu mengembara dan berkelana. tidak pernah kamu kirimkan kabar kepada kami, ayah dan ibu serta saudara-saudaramu hampir saja berpikiran macam-macam mengenai keberadaan mu nak. tapi ibu sangat bahagia, karena kamu baik-baik saja." ucap ratu mandila.
"maafkan anakmu ibu, Ayah telah membuat kalian khawatir. tentunya ayah dan ibu paham kenapa akhirnya aku kembali" ucap pangeran Mandala.
raja dan ratu tentu saja tahu kenapa putranya kembali. sebelum putranya memutuskan untuk pergi berkelana, ia mengatakan kepada ayah ibunya bahwa ia akan kembali setelah ia dapat menemukan seorang perempuan yang menurutnya cocok dijadikan permaisurinya. dan ini merupakan kabar bahagia untuk mereka.
"tentu saja putraku, katakanlah siapa wanita beruntung itu."ucap Raja Majapahit. semua yang ada di sana tercengang mendengarkan penuturan sang raja, mereka juga bertanya-tanya maksud dari ucapan Raja mereka. namun mereka memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang akan diutarakan oleh pangeran Mandala itu. pangeran Mandala tersenyum kemudian langsung berucap.
"Aku ingin menikah ayahanda, namun mungkin aku tidak ingin tinggal di dalam istana."ucap pangeran Mandala yang sukses membuat raja dan ratu itu tertegun. Begitu juga dengan saudaranya yang menjabat sebagai pangeran mahkota saat ini.
"Kenapa begitu putraku..??"ucap sang ibu. Mandala kembali tersenyum.
"tidak apa-apa Ibunda, aku hanya senang berada di luar."ucapnya lagi.
"ehem kalau begitu katakan pada Ayah dan Ibunda, Siapa perempuan itu..??" tanya Raja Majapahit lagi.
"akan aku kenalkan ayahanda. tapi tidak sekarang. hamba ke sini hanya ingin meminta bantuan kepada ayahanda untuk memberikan bantuan kereta kuda kepada kami."ucap pangeran Mandala yang sukses membuat Raja Majapahit mengerutkan keningnya.
***bersambung***