
selesai dengan urusan melatih, lima orang pemuda langsung pergi menuju rumah makan, dimana tuan Senopati berada, sebelumnya mereka telah meminta izin kepada nyonya diaswari untuk pergi ke tokoh itu.
sesampainya mereka di sana. mereka mendapati Tuan Senopati dan beberapa pelayan lainnya sedang membersihkan halaman rumah makan itu. di mana setiap akhir pekan, rumah makan itu akan tutup dan semua yang bekerja di sana akan bergotong-royong membersihkan halaman halaman rumah makan itu.
Keenam pemuda itu pun langsung mendekat ke arah Tuan Senopati dan orang-orang yang tengah sibuk membersihkan halaman rumah makan itu.
"ayah...!!" panggil gentala. Tuan Senopati yang merasa terpanggil langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Di sana ia melihat anak kandung dan kelima anak angkatnya sedang berjalan menuju ke arah mereka.
Tuan Senopati tersenyum melihat anak-anaknya yang terlihat sangat akur dalam bersaudara itu.
"loh !! sedang apa kalian di sini nak..!!!" seru Tuan Senopati kepada anak-anaknya.
"bukankah kalian sedang latihan..??" tanya Tuan Senopati lagi. tanpa menjawab ucapan dari tuan Senopati, terlebih dahulu keenam pemuda itu memberikan salam kepada ayah mereka.
"salam kepada ayah..." ucap mereka serentak sambil membungkukkan badan mereka sedikit tanda mereka menghormati Ayah angkat mereka itu. Tuan Senopati tersenyum melihat anak-anaknya.
"Kenapa kalian menyusul Ayah ke sini..??? karena kalian sudah datang, alangkah baiknya kita sama-sama bergotong-royong agar paman-paman serta bibi-bibi kalian ini bisa pulang." ucap Tuan Senopati kepada anak-anaknya. para pelayan yang mendengar perhatian dari Tuan Senopati itu pun tersenyum hangat.
mereka berpikir, sungguh mereka sangat beruntung mendapatkan majikan yang begitu memperdulikan mereka. bahkan Tuan Senopati pun tak pernah menunjukkan stratanya di antara mereka semua. baginya, semua yang ada di dunia ini pantas diperlakukan dengan baik.
"Baiklah ayah..." ucap mereka semua. Mereka pun langsung ikut membantu bergotong-royong di lingkungan rumah makan mereka. banyak para warga yang berlalu lalang menyaksikan gotong royong mereka itu. Jujur saja, mereka sangat salut melihat Tuan Senopati ikut turun tangan membantu para pelayannya untuk membersihkan pekarangan rumah makan.
karena setahu mereka, seorang bangsawan yang sudah memiliki budak atau para pelayan, mereka pasti tidak akan repot-repot untuk melakukan pekerjaan itu lagi. tapi ternyata, yang mereka lihat dalam diri Tuan Senopati tidak demikian.
***
akhirnya hari yang dinanti-nanti oleh mereka itu semua tiba. di mana hari ini akan diselenggarakannya turnamen oleh kerajaan Majapahit. tujuannya adalah untuk mencari orang yang berpotensi untuk dijadikan prajurit atau melihat kemampuan-kemampuan dari para pangeran dan juga rakyat-rakyat Kerajaan Majapahit. ke-13 bersaudara itu pun langsung berangkat, juga bersama dengan kedua orang tua mereka.
"dek kamu ikut bersama kami ya...!!" ucap Abimana kepada Gayatri. Arga yang mendengar Abimana mengajak Gayatri satu kereta dengannya langsung memprotes.
"tidak bisa..!! adik ikut sama kami..." ucap arga kepada Abimana. Abimana pun tidak mau kalah, Iya kembali membalas ucapan Arga.
"sama kami..!!!"
"tidak,.. gaya ikut bersama kami...!!" seru Arga lagi.
"tidak bisa..!!"
"bisa..!!"
"tidak..!!!"
"bisa.."
semua orang yang ada di dekat kereta pun langsung merasa bingung dengan pertengkaran kecil Abimana dan Arga. Tuan Senopati dan nyonya diaswari yang baru menyusul itu, menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat anak-anak mereka itu memperebutkan Gayatri.
namun mereka tidak akan ikut campur, biarkan saja Gayatri yang memutuskan. tanpa menunggu Putra putra nya yang sedang beradu argumen itu, Tuan Senopati dan nyonya diaswari langsung masuk ke dalam kereta mereka.
sementara perdebatan kedua saudara angkat itu terus berlanjut.
"pangeran, mengalah lah denganku. bukankah kamu sudah lama bersama dengan Gaya. Karena sekarang ia sudah menjadi adik ku juga. biarkan ia ikut bersamaku." ucap Abimana dengan suara menghibah.
"tidak bisa, gaya akan ikut bersamaku." ucap Arga tidak mau mengalah. Diran yang melihat perdebatan itu tidak akan ada ujungnya langsung menengahi.
"sudah sudah, lebih baik tanya gaya saja.." ucap Diran memberikan usulan kepada keduanya. yang lain pun pada menganggukkan kepala. sementara yang diperebutkan hanya mampu menggaruk-garut kepalanya yang tidak gatal itu.
ternyata cukup sulit memiliki kakak-kakak yang posesif seperti kakak-kakak angkatnya ini. pikir Gayatri.
setelah mendengar usulan dari, mereka semua pun langsung mengarahkan pandangan ke arah Gayatri yang masih merenung.
"bagaimana dek, Kamu naik kereta ikut bersama dengan siapa..??" tanya Diran kepada adiknya. Gayatri mengelus halus pelan dagunya sambil berpikir. akhirnya Ia memutuskan untuk naik kuda saja, daripada kakak-kakaknya harus saling cemburu cemburuan.
"lebih baik gaya naik kuda saja kak. lagi pula gaya tidak tahu harus pilih yang mana, mau naik kereta bersama Kak Abimana juga seru, sama Kak Arga juga menyenangkan. jadi gaya tidak bisa memilih, langkah tengahnya lebih baik gaya naik kuda saja." ucap Gayatri dengan antusias. karena sebenarnya, Iya juga sangat ingin naik kuda.
namun permintaannya tidak dipenuhi oleh kakak-kakaknya. Bagaimana mungkin mereka membiarkan adik yang baru saja menjadi keluarga mereka itu, dan yang seharusnya mereka lindungi naik kuda dan panas-panasan di bawah terik matahari.
"tidak bisa seperti itu..!!! Kakak Tidak setuju, daripada nanti kamu naik kuda. lebih baik gaya naik di atas kereta ayah dan ibu saja." kali ini aji yang bersuara. mendengar ucapan aji, semua mata langsung mengarah kepadanya. Abimana dan Arga memberikan tatapan tajam kepada aji, Kenapa juga aji harus memberikan usulan seperti itu.
namun mereka juga setuju, daripada adik yang mereka lindungi ini harus naik kuda dan berpanas-panasan di bawah terik matahari.
"Ya sudah kalau begitu.., jika kalian berdebat terus kapan kita akan sampai di tempat itu. gaya ayo naik gabung bersama ayah dan ibu.." teriak Tuan Senopati dari dalam kereta. tanpa menunggu lama Gayatri pun langsung bergabung di kereta sang ayah dan ibu. Setelah itu mereka pun langsung bergegas meninggalkan kediaman mereka setelah terjadinya adu argumen yang panjang itu.
***
sesampainya mereka di lokasi turnamen, mereka semua langsung mendaftarkan diri pada bagian masing-masing. Begitu juga dengan Gayatri, dia juga tidak mau kalah. sementara Tuan Senopati dan nyonya diaswari, hanya akan menjadi penyemangat untuk anak-anaknya.
saat pertandingan dimulai. banyak sekali gadis gadis bangsawan yang membicarakan saudara saudara dari Gayatri. dimana, para lelaki itu begitu mengundang pesona kaum hawa.
"lihat pemuda-pemuda tampan itu, Aku penasaran, dari golongan mana pemuda-pemuda tampan ini." seru salah satu Nona bangsawan yang berada di kursi penonton.
"Iya, buat apa sama tampannya mereka. aku rasa mereka bukan berasal dari dunia ini, melainkan mereka adalah pangeran-pangeran yang nyasar dari dunia lain. seperti kayangan maksudnya..." seru orang itu lagi.
"ah !! aku akan membicarakan ini kepada ayahku.. Aku menginginkan salah satu pemuda-pemuda itu untuk menjadi suamiku." ujar yang lain.
ternyata di kursi penonton, Di sana juga ada saudara kembar yang kecentilan. di mana kedua saudara kembar ini adalah orang yang menghadang jalan Gayatri dan ke-12 pemuda itu, Siapa lagi kalau bukan Arnes dan Agnes.
"lihatlah Kak, mereka sangat tampan. aku juga akan berbicara kepada ayah untuk menikahkanku kepada salah satu pemuda-pemuda itu. aku tidak peduli, walaupun perempuan itu mengaku kalau mereka adalah suami suaminya." ucap Arnes ketika mengingat Gayatri mengatakan ke-12 pemuda itu adalah suami-suaminya.
"kamu benar, Kakak juga akan membujuk ayah untuk menikahkanku pada salah satu pemuda itu." ucap Arnes lagi.
***
di satu sisi, di sana terlihat pangeran pandu sedang duduk berdampingan bersama dengan seorang gadis bangsawan. pangeran pandu tampak sedang serius mengamati para pendekar-pendekar yang mengikuti turnamen ini. berharap ia dapat melihat Arga dan kedua saudaranya.
ternyata benar, tak lama matanya menangkap satu sosok yang sangat ia kenali. yaitu Gayatri. tampak Gayatri sedang menatap tajam ke arahnya yang tengah duduk berdampingan dengan seorang gadis bangsawan itu.
( gaya...) batinnya berseru pilu. tatapan tajam Yang pangeran pandu lihat dari sorot mata Gayatri langsung membuatnya merasa tidak nyaman.
flashback
saat pangeran Arga dan kedua saudaranya berpisah dengan rombongan pangeran pandu. pangeran pandu juga memilih untuk berkelana dalam waktu yang tidak lama. setelah itu ia kembali ke Kerajaan Pajajaran.
sesampainya di Kerajaan Pajajaran, ayahnya Raja Kusuma langsung memerintahkannya untuk menikah dengan seorang gadis bangsawan yang dikenal dengan nama nona Amelia Sekarwangi.
"pangeran pandu, syukurlah kamu telah kembali. Ayah ingin mengatakan akan menjodohkan mu dengan seorang Nona bangsawan."ucap sang raja. Awalnya pangeran pandu menolak karena memang ia sudah menunggu Gayatri kembali.
Namun ternyata sang ayah memintanya menikah dengan Amelia Sekarwangi itu karena ada alasan lain. selain alasan balas budi terhadap keluarga dari Amelia Sekarwangi, juga karena ingin mendapatkan dukungan yang besar terhadap putranya.
pangeran pandu juga sudah mengatakan alasan ia menolak Amelia Sekarwangi. karena kerasnya pameran pandu menolak dijodohkan dengan Amelia Sekarwangi, akhirnya Raja Kusuma mengambil langkah tengah yaitu menjadikan Amelia Sekarwangi sebagai selera agung, sementara perempuan yang diidamkan putranya akan dijadikan sebagai permaisurinya.
oleh karena itu, pandu menyetujui untuk menikah dengan Nona Amelia Sekar wangi, walaupun dengan berat hati. pangeran pandu berharap, Gayatri tidak membencinya dan memutuskan hubungan dengannya. Sungguh, untuk seorang putra mahkota sepertinya yang kelak akan menggantikan raja, Iya sangat membutuhkan dukungan itu.
flas of
deg
entah kenapa, perasaan pangeran pandu menjadi tidak karuan mengingat itu semua. apalagi melihat tatapan Gayatri yang sangat tajam terhadapnya.
( maafkan Aku, Aku harap kamu mengerti dengan alasanku.) batin pangeran pandu. akhirnya pangeran pandu memutuskan untuk fokus melihat pertandingan ini. Iya juga tidak ingin membuat Raja Majapahit Menjadi kecewa kepadanya.
***
sementara di sisi Gayatri. dari tatapan tajamnya itu, ada sorot mata yang tidak bisa digambarkan di sana. dalam pikirannya bertanya-tanya Siapa gadis yang tengah berdampingan dengannya.
( siapa gadis itu. Kenapa ia berdampingan dengan pangeran pandu. Apakah.... Apakah pangeran pandu menghianati apa yang telah Ia sampaikan waktu itu..??) batin Gayatri menebak apa yang ada dalam pikirannya.
namun ia tidak ingin salah paham dan menuduh pangeran pandu yang tidak-tidak. namun Ia juga kecewa, karena secara tidak langsung Gayatri juga sudah mempercayakan hatinya kepada pangeran pandu.
***
turnamen itu terus diikuti oleh 10 orang murid dari padepokan harimau putih yang belum mereka ketahui identitasnya. maksudnya khalayak ramai belum mengenal siapa ke-10 pemuda yang tengah memenangkan pertarungan secara berturut-turut.
"guru, lihatlah kami. kami akan memenangkan turnamen ini demi padepokan kita. doakan kami dan berkatilah perjuangan kami." gumam Abimana sebelum akhirnya menjalani babak terakhir.
hampir seminggu Mereka melaksanakan turnamen di Kerajaan Majapahit. hampir seminggu ini pula hati Gayatri dan pangeran pandu tidak tenang. hati Gayatri tidak tenang karena ia terus memikirkan pangeran pandu yang ke mana ke mana selalu berdampingan dengan gadis itu. sementara pangeran pandu, hatinya menjadi tidak tenang karena ia harus segera mencari cara untuk berbicara dengan Gayatri, namun kesempatan itu belum juga datang kepadanya.
( apa yang akan kukatakan kepada Gayatri nanti, aku takut dia menjadi marah karena perbuatan ini.) batinnya lagi. jujur saja, hatinya merasa bimbang dengan ini semua.
***
setelah turnamen ini berakhir, pangeran pandu pun memberanikan diri untuk bertemu dengan Gayatri, sebelum akhirnya mereka kembali ke Kerajaan mereka.
saat ini, Gayatri tengah berada di tengah-tengah saudaranya, dimana mereka sedang merayakan keberhasilan mereka dalam turnamen ini.
"hem..." dehem pangeran pandu. dibelakangnya juga ada pengawalnya Arya. yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
***bersambung***