MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
39. rencana menuntut ilmu


mereka semua berkumpul diruangan Gayatri. terlihat kedua paru baya itu sangat antusias menunggu sesuatu yang akan diutarakan oleh anak gadisnya itu.


"apa yang ingin kamu sampaikan dek, seperti sangat serius." tanya Arga kepada Gayatri. Gayatri tersenyum melihat keantusiasan keluarga nya itu.


"Gayatri hanya ingin menyampaikan sesuatu. kalau Gayatri berniat untuk pergi ke perguruan untuk belajar ilmu beladiri." tutur nya. semua yang ada disana pun terkejut.


"tapi Gaya tidak pergi sendiri. gaya akan pergi bersama dengan kedua kakakku. mau tidak mau, mereka harus ikut. karena itu, gaya ingin rumah makan ini di kelolah oleh ayah dan ibu. karena,


"tapi gaya tidak akan pergi sendiri. gaya akan pergi bersama dengan kak Arga dan kak Diran. jadi, gaya ingin semua hal yang menyangkut rumah makan, itu diurus oleh ayah dan ibu." tutur Gayatri lagi. semua orang yang ada di sana kembali terkejut, tapi Tuan Senopati langsung menormalkan keterkejutannya itu.


"Baiklah kalau begitu. anak-anakku pergilah kalian menimba ilmu sebanyak-banyaknya, walaupun ini sangat terasa terlambat. tapi setiap orang tidak tertutup kemungkinan untuk mencapai apa yang ia inginkan. Ayah hanya berharap satu hal kepada kalian, saling melindungi dan jaga diri kalian sampai kalian kembali dan menyelesaikan studi kalian." ucap Tuan Senopati. Diran dan Arga pun hanya menunduk mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Tuan Senopati.


"Bagaimana Arga, Diran kalian setuju kan. Adik kalian sudah sangat bersemangat ingin menuntut ilmu." ucapnya lagi. kedua laki-laki itu pun menganggukkan kepala.


"sebenarnya kami tidak keberatan untuk mengikuti atau belajar ilmu kanuragan. tapi yang menjadi kekhawatiran Diran ialah, di usia Diran yang seperti ini, apakah mungkin bagi Diran untuk meningkatkan kultivasi atau membuka kolam spiritual." tutur Diran kepada kedua orang tuanya. sementara Arga tidak terlalu khawatir mengenai hal itu, walaupun ia masih belum memiliki kolam spiritual, tapi setidaknya ia sudah memiliki dasar-dasar kultivasi, mengingat dulu ia adalah seorang putra mahkota.


mendengar hal yang dikhawatirkan oleh Diran itu, Tuan Senopati kembali menarik nafasnya dengan dalam tapi pasti. kejadian waktu di masa lalu itu membuat masa depan anaknya menjadi suram. di mana seharusnya putranya Diran mendapatkan pelatihan atau pembelajaran di waktu itu, Iya tidak dapat mengikutinya. Gayatri yang mengarti kekhawatiran kedua orang tuanya dan kakaknya pun tersenyum.


"Bagaimana caranya kalian akan melakukan pelatihan, sementara kalian tidak dibimbing oleh para guru.?" tanya Tuan Senopati. Gayatri tersenyum kembali mendengar kecemasan ayahnya.


"Ayah tenang saja, serahkan semuanya kepada kami. pasti Kami akan melakukan yang terbaik." tutur Gayatri lagi meyakinkan sang ayah. akhirnya Tuan Senopati tidak dapat berkata-kata lagi, masalahnya semua apa yang diutarakan oleh putrinya itu benar-benar ia wujudkan. jadi tidak ada keraguan lagi di hati Tuan Senopati untuk putrinya itu.


"baiklah, Ayah sangat mempercayaimu. lakukan apapun yang menurutmu benar, dan ayah tegaskan sekali lagi jangan mengambil jalan yang salah." tutur Tuan Senopati mengingatkan ketiga anaknya itu. mereka bertiga pun mengangguk mantap.


"baiklah, kapan kalian berencana akan berangkat mencari ilmu..??" tanya Tuan Senopati lagi.


"yang pasti setelah ayah bisa menguasai semua taktik bisnis dan juga bisa melindungi diri sendiri dan Ibu." tutur Gayatri menyahuti pertanyaan ayahnya.


Tuan Senopati pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti, semasa kepergian anak-anaknya ia akan mengambil alih kepemimpinan rumah makan ini. karena itu ia juga harus bisa mengkondisikan semua pemasukan serta pengeluaran.


***bersambung***