
raja Majapahit merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh pangeran Mandala. perasaan nya mengatakan, bahwa nama itu adalah nama yang pernah ia dengar. tapi dimana..?? begitulah pikir Raja Majapahit itu.
(sepertinya aku pernah mendengar nama itu,. Tapi di mana ya...) Batin Raja Majapahit lagi.
(Ah !!! tapi ya sudahlah...) Batinnya lagi. Pangeran Mandala yang melihat ayahnya menjadi termenung seperti itu, pangeran Mandala pun langsung berinisiatif bertanya kepada ayahnya yang sukses membuyarkan lamunan sang raja.
"Ada apa ayah..?? Kenapa ayah tiba-tiba terdiam seperti itu..??" Tanya pangeran Mandala dengan penuh penasaran kepada raja Majapahit itu.
"Ah !! Ayah tidak apa-apa... Hanya saja sepertinya nama itu tidak asing di telinga ayah. Tapi ya sudahlah.." ucap sang raja.
Setelah itu, pangeran Mandala pun langsung membawa rombongannya untuk bertemu dengan Tuan Senopati selaku pemilik wilayah ini. Di perjalanan menuju istana Tuan Senopati, Raja Raden Wijaya benar-benar dibuat Takjub. Tempat ini benar-benar di bentuk sedemikian rupa. Tata letak tanamannya benar-benar rapi, buah-buahan juga yang berwarna-warni menambah kesan indahnya tempat itu.
Ternyata tak hanya tanaman-tanaman yang dijumpai oleh Raja Pajajaran, di sana juga terdapat banyak tanaman-tanaman bunga-bunga yang menghias pemukiman itu. Bahkan satu tempat lahan yang memang dijadikan hanya untuk menanam tanaman bunga-bunga yang berbuah bermacam-macam warna.
"Benar-benar indah. Tempat ini sudah selayaknya surga yang ada di dunia." Puji Raja Majapahit lagi. Ternyata tak hanya raja yang terkagum-kagum. Semua yang ikut dengan raja itu pun ikut tercengang dan begitu sangat terkesima dengan pemandangan itu. Hanya saja mereka dari tadi memilih untuk diam dan hanya menikmati suasana di sekitar pemukiman ini.
sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Raden Wijaya terkagum-kagum dengan keasrian pemukiman ini. sampai tak terasa mereka telah tiba di kediaman Tuan Senopati.
***
sebelum mereka masuk ke dalam kediaman, Raja Majapahit kembali terkagum dengan interior dan bentuk tampilan dari bangunan itu. bahkan gerbangnya saja tidak terbuat dari beton atau papan yang menutup semua pandangan menuju ke dalam gerbang.
namun bentukan gerbangnya dibuat dari besi, yang tentunya tidak dirapatkan. itu sengaja dibuat agar keluarga Senopati dapat memantau kondisi di luar kediaman mereka, dan juga dapat melihat Siapa saja yang berada atau yang berkunjung di sana.
sehingga Raja Senopati dan rombongannya yang masih berada di luar dapat melihat aktivitas di dalam atau di lingkungan kediaman itu. di sana terdapat beberapa murid yang berumur 8 sampai 10 tahun yang sedang berlatih pernapasan. ada juga yang sedang berlatih kuda-kuda, Di sana juga ada yang melakukan gerakan-gerakan yang cukup aneh menurut Raja Majapahit.
Raja Majapahit sempat terhanyut melihat latihan itu. di hatinya juga sempat muncul ketakutan, takut keluarga ini mungkin akan melakukan pemberontakan terhadap kepemimpinannya. namun pemikiran seperti itu ia buang jauh-jauh, pasalnya Raja Majapahit tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak mengenai keluarga ini.
di luar gerbang, di sana mereka Langsung disapa oleh beberapa warga yang ternyata berlalu lalang di sana, ada yang pulang dari ladangnya ada juga yang ingin menemui Tuan Senopati.
"permisi tuan tuan, Apakah ada yang bisa kami bantu.?" tanya dua orang pemuda yang kebetulan baru kembali dari luar. Raja Raden Wijaya pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah kedua anak muda yang berwajah tampan itu.
"maafkan kami, perkenalkan Ia adalah yang mulia Raja Majapahit, dan saya adalah Mandala salah satu penduduk yang ada di pemukiman ini. kebetulan yang mulia tiba di tempat ini, dan untuk menghormati orang yang telah membangun pemukiman ini, karena itu yang mulia ingin bertemu dan meminta izin untuk tinggal beberapa saat di sini." tutur pangeran Mandala tanpa mengatakan identitasnya.
Raja Majapahit itu pun sempat lu kebingungan mendengar penuturan sang anak. Kenapa pangeran Mandala sampai menyembunyikan identitasnya sebagai seorang pangeran.
"Oh begitu,, mohon maafkan atas ketidaktahuan kami yang mulia raja."ucap mereka sambil membungkuk dengan segala hormat.
"kalau begitu kami akan segera memberitahu Tuan Senopati. Mari masuk dulu yang mulia." ucap salah satu pemuda itu. sementara yang satunya lagi berlari mengejar masuk untuk memberitahu tuan Senopati atas kedatangan yang mulia raja Majapahit di tempat mereka.
***
disini lah seorang pemuda tadi. Iya langsung menghadap Tuan Senopati untuk mengabarkan bahwa Raja Majapahit Raden Wijaya datang berkunjung.
"salam kepada guru. Maaf Tuan guru, di depan ada yang mulia Raja Majapahit ingin bertemu." ucap pemuda tadi yang sukses membuat Tuan Senopati terkejut dan membelalakkan matanya.
sesampainya Tuhan Senopati diambang pintu kediamannya, ia melihat rombongan Raja Majapahit berdiri tepat di pintu gerbang kediamannya. Tuan Senopati buru-buru berlari menghampiri mereka.
"salam kepada yang mulia raja, maafkan atas keterlambatan hamba menyambut Anda yang mulia."ucap tuan Senopati dengan perasaan tidak enak. Iya juga memberi hormat dan membungkukkan badannya dihadapan sang raja.
"kamu.. Kenapa tidak mengajak yang mulia masuk ke dalam.." ucap Tuan Senopati dengan lembut namun sedikit memberikan teguran kepada muridnya itu.
"maafkan saya guru, tapi saya sudah mengajak yang mulia beserta rombongan untuk masuk ke dalam. hanya saja yang mulia merasa tidak enak sehingga menunggu Tuan guru terlebih dahulu." jelas sang murid. Tuan Senopati pun mengganggu anggukkan kepalanya, Tuan Senopati tidak pernah menyalahkan siapapun asalkan alasan yang diutarakan masuk dan dicerna oleh otaknya.
"Oh maafkan Tuan guru kalau begitu, sebaiknya segeralah masuk dan lanjutkan latihanmu." ucap Tuan Senopati lagi. sang murid pun membungkukkan tubuhnya kepada tuan Senopati dan juga kepada yang mulia Raja Majapahit dan rombongannya untuk berpamitan.
"terima kasih guru. kalau begitu saya pamit undur diri yang mulia." tutur sang murid. setelah itu murid itu langsung meninggalkan rombongan dan Tuan Senopati.
"ayo yang mulia, Mari masuk ke kediaman sederhana saya ini." ucap Tuan Senopati sambil mempersilahkan mereka masuk.
Raja Majapahit dan rombongannya masuk ke dalam kediaman Tuan Senopati. bahkan Raja Majapahit tak henti-hentinya mengukir senyum di bibirnya, ternyata dugaannya benar adanya. bahwa Tuan Senopati adalah orang yang sama di pertemuan Aula itu.
setelah mereka masuk dan duduk di ruang yang cukup lega dan besar, serta ruangan itu berada di lantai atas yang mampu menyuguhkan pemandangan yang cukup menarik dipandang mata. lagi-lagi pemandangan ini membuat Raja Majapahit berdecak takjub.
"wah..!! tempatmu benar-benar Indah Tuan Senopati.." puji Raja Majapahit itu. Tuan Senopati pun mengukir senyum.
"terima kasih yang mulia." ucap Tuan Senopati. semuanya pun langsung duduk mengambil posisi. beberapa pelayan yang bekerja di rumah tuan Senopati pun menyuguhkan dan menyediakan beberapa minuman serta makanan yang tentunya cukup asing di mata Raja Majapahit dan rombongannya.
di atas meja disuguhkan sebuah minuman jus jeruk, yang mampu melepaskan dahaga di hari yang panas itu. di sana juga terdapat minuman yang diracik yang tentu mengeluarkan wangi khas kopi.
di sana juga disuguhkan beberapa makanan ringan, diantaranya kue brownies, kue cookies, dan kue-kue ala gaya modern. lagi-lagi membuat Raja Majapahit itu terheran-heran.
"dari mana semua makanan-makanan ini Tuan Senopati..??" tanya Raja Majapahit itu.
"Ini semua adalah hasil dari olahan putri saya yang mulia. Ia cukup pandai membuat makanan-makanan manis seperti ini. sementara untuk minuman, minuman ini adalah jus jeruk yang bahan utamanya berasal dari jeruk. minuman ini cocok untuk diminum di hari yang panas ini." tutur Tuan Senopati.
"kalau begitu silakan dicicipi yang mulia, dan tuan-tuan semuanya." ucap Tuan Senopati mempersilahkan tamu-tamunya untuk mencicipi makanan-makanan itu.
tanpa merasa ragu dengan masakan itu, Raja Majapahit langsung melahap makanan kue-kue yang tertata rapi di atas meja. Iya juga langsung mencoba minuman jus jeruk itu. saat makanan manis itu menyapa Indra perasanya, Raja Majapahit langsung membulatkan matanya. benar-benar makanan yang enak pikir yang mulia raja.
"ini sangat enak Tuan Senopati. aku baru merasakan makanan Ini pertama kali." ucap Raja Majapahit itu.
"benar yang mulia, minuman ini juga sangat sangatlah segar. ini benar-benar sebuah minuman yang mampu melepaskan dahaga di hari yang panas ini." ujar salah satu bangsawan yang ikut bersamanya.
"apakah yang membuat makanan dan minuman ini adalah putrimu yang bernama Gayatri itu..??" tanya Raja Majapahit kepada tuan Senopati.
pangeran Mandala yang mendengar nama Gayatri di singgung oleh ayahnya sendiri Langsung mengerutkan keningnya. tentu saja ia merasa heran dari mana ayahnya mengetahui nama itu. karena nama itulah yang akan dikenalkan kepada ayahnya nanti, tapi kan Iya belum menceritakan apa-apa kepada keluarganya. begitulah pikir pangeran Mandala.
***bersambung***