MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
32. kembali


***


beberapa hari kemudian, ternyata aksi Gayatri yang melawan pendekar artaksa itu menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat rendahan maupun bangsawan. mereka tidak menyangka ternyata ada seorang gadis kecil yang mampu mematahkan kesombongan pendekar artaksa.


***


dua minggu telah berlalu, kini tibalah masanya Diran akan kembali ke pinggiran hutan untuk menjemput kedua orang tuanya dan juga saudara angkatnya. Diran berencana pergi sendiri, tapi ternyata sang adik mengotot untuk ikut. akhirnya Diran mengizinkan adiknya untuk ikut serta menjemput kedua orang tuanya.


"Paman Asep, kami akan berangkat kembali, dan menjemput kedua orang tua kami di sana. kami akan berangkat selama 2 hari, jadi selama 2 hari ini saya titipkan dan percayakan tokoh ini kepada paman." ucap Gayatri kepada tuan Asep yang dulunya pemilik toko tersebut.


"tentu saja Nona, Paman akan mengingat pesan nona. tuan dan Nona berhati-hatilah di jalan." ucap Tuan Asep memberikan hormat kepada Gayatri dan juga Diran untuk menghargai derajat mereka. melihat hal itu Gayatri kembali mencibir.


"hais... Paman bukankah sudah kukatakan, jangan membungkuk seperti itu lagi. cukup dengan berperilaku sopan dan tidak menghianati kami maka itu sudah lebih baik." tutur Gayatri sambil memasang wajah cemberut. Tuan asap tentu saja ingat dengan peringatan itu, namun ini sudah menjadi kewajibannya dan ia telah terbiasa.


"maafkan nona, bukannya Paman tidak mengindahkan permintaan nona. tapi ini sudah menjadi kebiasaan paman dari kecil hingga sekarang ini, jadi kebiasaan ini sudah tidak bisa dihilangkan lagi. mohon dimaklumi saja nona." ujar Tuan Asep kepada Gayatri. Diran yang sedari tadi hanya menyimak dan mendengarkan pembicaraan itu pun tersenyum, itulah keunikan adiknya. walaupun dulu memang mereka hidup susah dan tidak berkecukupan, Iya tetap menghargai hidup dan sampai akhirnya ia jatuh sakit.


"Ya sudah kalau begitu paman. kami berangkat dulu." ujar Gayatri. setelah Tuan Asep menganggukkan kepalanya menyetujui kepergian mereka, kini Gayatri dan Diran telah berada di atas kereta yang dikemudikan oleh seorang kusir yang juga bekerja dengan mereka. setelah itu, kusir tersebut langsung menjalankan kereta kuda itu.


"kak, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah dan ibu. tapi, kenapa rasanya sangat menegangkan." ucap Gayatri lagi. tidak bisa ia pungkiri, bahwa ia merasa gugup dan semacamnya.


"kenapa tegang, mau ketemu ayah sama ibu, kenapa tidak senang saja." ucap Diran kepada adiknya. Gayatri menarik nafasnya dalam.


***


ketika menjelang sore hari, Gayatri dan kakaknya pun sampai di pinggiran hutan.


klotak klotak klotak suara langkah kaki kereta kuda. tiba-tiba kereta itu pun berhenti.


"kita sudah sampai tuan dan Nona." ucap kusir itu mengabari kepada kakak adik tersebut. mendengar penuturan sang kusir. Gayatri langsung melompat turun dari kereta dan langsung berlari ke arah rumah. Diran yang melihat hal itu, tidak bisa tidak berteriak.


"gaya...!!" teriak Diran, tadi ia sudah sempat khawatir melihat adiknya melompat seperti itu. Gayatri yang mendengar kakaknya berteriak hanya mampu tersenyum saja. ia tidak peduli, saat ini di pikirannya adalah ayah dan ibunya.


"ayah... ibu...!!!" teriak Gayatri Setelah sampai di depan pintu.


brak.. ternyata rumah dalam keadaan kosong melongoh.


"eh.. dimana penghuninya, kenapa sepi sekali " ucap Gayatri sambil celinga-celinguk mencari keberadaan kedua orang tuanya.


***bersambung***