MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
71. membeli budak


hari berganti, bulan pun berlalu. kini Gayatri dan keluarganya telah menetap di sebuah padepokan yang ditinggalkan oleh kakeknya. mereka memilih pindah dari pusat kota, karena tuan adiwangsa selalu mengusik keharmonisan keluarga tuan Senopati. sehingga membuat tuan Senopati menjadi jengah. akhirnya, ia memutuskan untuk pindah dari sana atas persetujuan dari istri dan anak-anaknya juga. sementara untuk pengelolaan rumah makan, tetap berlanjut, yang tentunya di urus oleh orang orang kepercayaan tuan Senopati.


sementara di lembah lembayun. semenjak kejadian di mana Gayatri memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan pangeran pandu, Gayatri lebih memilih menjadi gadis biasa-biasa saja dan bertani bersama dengan keluarganya yang lain. sementara di malam hari, mereka akan berlatih ilmu kanuragan untuk memperkuat padepokan ayahnya itu. bahkan Tak Hanya mereka yang berlatih, Tuan Senopati dan nyonya diaswari pun ikut berlatih bersama mereka.


***


saat ini Gayatri dan kedua kakaknya berencana untuk pergi ke pasar gelap. mereka berniat untuk membeli budak untuk mengisi padepokan yang sangat besar seperti istana itu. Tak hanya itu, mereka juga membutuhkan beberapa pelayan untuk membantu pekerjaan mereka.


"Bagaimana Kakak, apakah kita akan langsung ke pasar gelap saja." tutur Gayatri kepada kedua kakaknya.


pangeran Arga memilih untuk tidak kembali ke kerajaan Blambangan, Iya lebih memilih menetap di keluarga barunya ini. tapi bukan berarti ia tidak akan kembali dan tidak memperdulikan kerajaannya. di sini bahkan ia tak henti-hentinya melatih ilmu yang telah diturunkan oleh chandragupta kepadanya.


"tentu saja kita harus ke pasar gelap. kita juga butuh pasukan untuk memperkuat padepokan kita. tak perlu terlalu mencolok, namun tanpa terlihat, kita adalah sebuah baja besi yang kokoh."maksud dari ungkapan pangeran Arga itu langsung ditangkap dan dipahami oleh kedua saudaranya.


"Baiklah Kak, kami mengerti.." ucap Gayatri kepada pangeran Arga.


"baiklah, nanti malam kita akan berangkat. ingat untuk menyampaikan hal ini kepada Abimana atau aji." ungkap badiran kepada saudara angkatnya. pangeran Arga pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


setelah perundingan singkat itu, Mereka pun kembali berladang dan bergabung bersama dengan saudara-saudara mereka yang lain. dengan pemandangan yang disuguhkan oleh lembah lembayung itu, membuat Gayatri sangat betah berlama-lama di tempat itu.



lembah ini begitu cantik dan memukau, apalagi lembah ini sudah dipenuhi dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh subur di halaman istana atau padepokan mereka itu.


***


malam hari pun menjelang. kelima saudara itu pun berangkat ke pasar gelap. tentu saja Gayatri tidak akan tinggal diam, dia akan ikut kemanapun saudara-saudaranya pergi. ia tidak ingin meninggalkan kesempatan sedikitpun untuk melihat peluang apa saja yang ada di zaman ini.


terlihat kelima bersaudara itu memasuki wilayah pasar gelap. katanya pasar gelap, ternyata pas diteliti pasarnya terang. begitulah pikir Gayatri. Iya tidak habis pikirkan apa pasar ini dikatakan pasar gelap padahal kenyataannya pasar ini terlihat terang tak sama seperti apa yang dipikirannya. tapi ya sudahlah, bodoh amat.


di sana Mereka pun langsung disambut oleh panitia pasar gelap itu. kelima bersaudara itu pergi dengan menutupi wajah mereka.


"selamat datang tuan-tuan." sambut panitia pasar gelap itu. tentu saja ia mengatakan tuan-tuan, karena Gayatri sendiri berpakaian seperti laki-laki sehingga tak ada yang mengenalinya sebagai perempuan.


"Apakah ada yang tuan-tuan butuhkan." tanya panitia pasar gelap yang berbadan gendut itu.


"Kami ingin membeli budak." ucap pangeran Arga dengan datar dan dingin. ia ingin memberikan kesan kepada panitia pasar gelap itu agar tidak main-main kepada mereka. suara datar itu pun sukses membuat panitia pasar gelap itu menjadi takut.


( sepertinya mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Jangan sampai aku melakukan kesalahan.) batin panitia pasar gelap itu.


"Oh tentu saja tuan-tuan. tuan tuan pasti tidak akan menyesal melihat barang-barangnya." ucap Tuan panitia itu dengan sum ringan ia berusaha membuat tamu-tamunya ini merasanya. sementara Gayatri yang mendengarkan penuturan dari pria buncit itu langsung mengerutkan keningnya.


tanpa berpikir panjang, Gayatri dan keempat saudaranya itu pun langsung berjalan mengikuti pria buncit itu. mereka mulai memasuki lorong-lorong di mana manusia-manusia Di sana dikurung layaknya hewan.


miris itulah yang ada di pikiran Gayatri. Gayatri melihat orang-orang yang dikurung itu dengan tatapan ibadah.


(sial, zaman ini memang memperlakukan manusia seperti binatang saja. Apakah bagusnya menindas orang seperti ini.) batin Gayatri menjadi geram. namun ia sendiri tidak ingin terlalu gegabah melakukan sesuatu.


"silakan dipilih tuan-tuan." ucap Tuan panitia pasar gelap itu. Iya langsung mempromosikan budak-budak yang dikurung di dalam kandang tersebut.


semakin lama mendengar penjelasan dan promosi dari pria buncit itu, semakin membuat Gayatri menjadi panas dan amarahnya meluap-luap. bukan apa-apa, Iya bener-bener marah melihat tindakan seperti ini.


"bagaimana tuan-tuan. Apakah kalian tertarik membeli budak-budak ini..?" tanya Tuan panitia yang berbadan buncit itu.


"beli semuanya..!!" ujar Gayatri dengan datar. keempat saudaranya pun langsung terkejut dan mengarahkan pandangan mereka ke arah Gayatri. namun Mereka melihat sorot mata dan tatapan tajam Yang begitu menghunus. dari sorot mata dan tatapannya itu pun menyiratkan kekecewaan dan kesedihan. entah kenapa Gayatri memasang sorot wajah seperti itu. melihat wajah Gayatri Yang sepertinya tidak bersahabat, membuat keempat saudaranya mengurungkan niat untuk bertanya maksud dari adiknya.


"baiklah, kami beli semua budak yang ada di sini." ucap badiran lagi. pria buncit itu sangat senang, karena barang-barang dagangannya ini berlaku semua. namun melihat sorot mata tajam mereka, tidak mungkin ia akan berlaku curang.


akhirnya setelah selesai melakukan transaksi. 500 lebih para budak itu dilepaskan oleh pria buncit ini. di sana ada yang sudah tua renta, ada juga wanita pria paruh baya, ada anak-anak remaja dan juga ada anak-anak balita.


"Bagaimana cara membawa mereka semua..??" tanya Diran. untuk sesaat Diran dan ketiga saudara laki-laki Gayatri menjadi bodoh. mereka tidak ingat bahwasanya mereka telah memiliki kekuatan teleportasi yang membuat mereka dapat berpindah hanya dengan sekejap saja. Gayatri yang melihat otak-otak kakaknya itu menjadi lemot langsung mana kuncinya.


"aduh..!! kenapa aku memiliki saudara yang tiba-tiba menjadi lemot seperti ini.." gumam Gayatri yang tentu saja hanya dirinya yang bisa mendengar gumaman itu.


"gunakan ilmu teleportasi kak..." ucap Gayatri yang langsung membuat keempat saudara laki-lakinya itu tersadar.


"Oh.. ya ampun...!!!" ucap mereka sambil menepuk jidat masing-masing. tanpa pikir panjang, kelima saudara itu pun langsung membuat sebuah portal yang mampu memindahkan orang dalam jumlah yang banyak. dan hanya dalam sekejap, 500 orang lebih itu langsung berpindah tempat.


***


di sinilah mereka sekarang, Di mana para budak-budak itu berbaris dengan rapi sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Gayatri dan saudara-saudaranya. Tuan Senopati yang masih terjaga karena mencemaskan kelima anak-anaknya menjadi terkejut. Ia pun langsung berjalan mendekat, Di sana ia melihat begitu banyaknya orang yang berbaris dengan rapi.


"Ada apa ini nak...!! Kenapa begitu banyak orang di halaman padepokan kita.." ujar Tuan Senopati dengan penuh keheranan. saudara-saudara mereka yang lain juga ikut bergabung ketika mendengar suara Tuan Senopati yang berbicara nyaring.


"ayah... mereka semua adalah budak-budak yang kami beli di pasar gelap." ucap Gayatri tanpa bersalah dan berdosa. Tuan Senopati sukses membulatkan matanya. pasalnya Tuan Senopati tidak setuju adanya perbudakan di antara dia dan budak-budak itu.


"kenapa kalian ingin memperbudak manusia nak..?? manusia bukan untuk diperjualbelikan atau dijadikan budak.." proses Tuan Senopati dengan lembut. namun dengan suara lembut itu ada rasa hiba dan kasihan melihat budak-budak ini.


"Ayah tenang saja.. kami bukanlah manusia-manusia kejam.. Ayah sudah mendidik kami menjadi anak yang berbakti dan berbudi luhur. jadi ayah tidak perlu khawatir.." ucap badiran menenangkan ayahnya. Arga dan yang lainnya pun mengganggu anggukkan kepala.


***bersambung***