
***
di perjalanan menuju ruangan Tuan Senopati, tentu saja mereka akan melewati beberapa tempat yang menurut mereka sangat elastis. dinding dinding rumah makan ini di bagian pembatas luarnya terbuat dari kaca, namun pembatas bagian dalam seperti kamar atau beberapa ruangan lainnya dibatasi dengan beton. di dalam ruangan itu juga, terdapat beberapa lukisan yang terpajang indah di sana.
di perjalanan, ketiga orang itu tak henti-hentinya menatap takjub ruangan tersebut. bahkan saat mereka menaiki sebuah lift untuk menuju lantai 2, di mana ruangan Tuan Senopati berada di sana. mereka juga tidak berhenti untuk tidak merasa terheran-heran.
dan tak membutuhkan waktu yang lama, mereka sampai di ruangan Tuan Senopati.
"kita sudah sampai tuan." ucap pelayan Parto memberitahu kepada tuan adiwangsa, Admaja, dan bahuwirya. lagi-lagi ketiga orang itu menatap takjub pintu ruangan tersebut. karena gagang pembuka pintu itu berbeda dengan yang sering mereka gunakan dan nyaris tidak ada di dunia ini.
tok tok tok
"masuk.." terdengar sahutan dari dalam.
ceklek
pelayan Parto membuka pintu dan masuk terlebih dahulu untuk meminta izin kepada tuan Senopati.
"tuan, tamu yang ingin bertemu sudah datang." ucap pelayan Parto kepada tuan Senopati. Tuan Senopati pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. setelah itu pelayan Parto langsung keluar dan mempersilahkan ketiganya masuk menemui Tuan Senopati.
"silakan tuan-tuan.." ucap pelayan Parto kepada ketiganya. setelah itu ketiganya pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan Tuan Senopati.
jreng jreng
tuan adiwangsa dan kedua orang itu berdiri mematung ketika melihat Tuan Senopati berada tepat di depan mata mereka. mereka tidak menyangka, ternyata pemilik gedung yang memiliki gaya modern ini pemiliknya adalah tuan Senopati.
"Senopati..." ucap adiwangsa dengan pelan dan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
setahunya, semenjak kejadian di mana ia merebut tambuk kepemimpinan sang ayah di dalam keluarga. Iya juga membuat keluarga Senopati terusir dari keluarga mereka. sehingga tak ada pilihan lain bagi Senopati untuk tetap tinggal di kediaman itu.
Tapi apa sekarang, Senopati bahkan memiliki gedung yang sangat berkarisma ini. Iya juga membuka rumah makan yang rata-rata semua orang di negeri ini menyukainya.
"Apa kabar kanda adiwangsa..??" seru Tuan Senopati membuat tuan adiwangsa tersadar dari lamunannya.
dari awal adiwangsa telah merencanakan sesuatu sebelum akhirnya datang menemui pemilik toko ini. ia ingin bekerja sama, sekaligus ingin meminta desain gedung tersebut. tentu saja Ia memiliki banyak cara untuk mendapatkannya. hanya saja tuan adiwangsa tidak menyangka, kalau pemilik gedung ini adalah adiknya Tuan Senopati.
namun Tuan Senopati bukan orang yang bodoh, Iya sudah tahu apa yang direncanakan oleh adiwangsa. tapi ia tidak ingin terlalu terburu-buru untuk menampakkan ketertahuannya. Tuan Senopati akan ikut bermain-main dengan tuan adiwangsa.
"Iya kanda, ini aku." ujarnya lagi. ternyata nyonya diaswari menyusul suaminya. ia melihat wajah datar sang suami ketika berbicara dengan tuan adiwangsa. wajah itu sangat menyeramkan, dan menurutnya ini adalah pertama kali ia melihat wajah yang datar dan sangat menyeramkan seperti itu.
( sejak kapan suamiku memiliki ekspresi seperti itu. Kenapa bagiku sangat menyeramkan.. Apakah ini adalah sisi lain dari suamiku..??) batinnya dengan heran.
"suamiku..." panggil Nyonya diaswari kepada tuan Senopati.
mendengar panggilan itu, semua orang menoleh ke arahnya. lagi-lagi Tuan adiwangsa dibuat terkejut. karena tampilan Nyonya diaswari begitu sangat mempesona.
Bagaimana tidak, Nyonya diaswari memang tidak memakai riasan apapun di wajahnya. namun tampilannya menunjukkan bahwa tampilan ini bukanlah menggambarkan ciri khas seorang bangsawan yang ada di negeri ini. menurut adiwangsa, tampilan Nyonya diaswari sudah lebih maju ketimbang para bangsawan yang lain.
Tuan Senopati yang melihat kedatangan istrinya. wajah yang dulu ya pasang sangar datar dan dingin itu ia ubah menjadi wajah yang hangat dan lembut kepada istrinya. Tuan Senopati berjalan mendekat ke arah sang istri.
"Ada apa istriku..??" tanya Tuan Senopati dengan suara yang lembut. sontak saja Nyonya diaswari tersenyum. Iya sudah wanti-wanti kalau suaminya ikut memberikan suara yang datar kepadanya karena kakaknya adiwangsa.
"suamiku. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu kerjakan.?" tanya Nyonya diaswari kepada tuan Senopati.
"Aku membutuhkan bantuan. tapi sepertinya kamu memiliki tamu dan juga sedang sibuk ya.." ucap Nyonya diaswari.
Jujur saja, Nyonya diaswari benar-benar cantik karena perawatan yang Gayatri berikan kepadanya. belum lagi mereka semua mengkonsumsi air kehidupan yang ada di ruang dimensi Gayatri.
sehingga air itu berkali-kali membentuk kulit baru untuk mereka serta memperkuat otot-otot tubuh dan juga persendian kedua orang tuanya. sehingga wajah kedua orang tuanya seperti anak-anak muda yang masih berusia 18 tahun ke atas.
melihat kecantikan yang ditunjukkan oleh diaswari itu membuat adiwangsa benar-benar cemburu. dulu diaswari dijodohkan kepadanya, namun adiwangsa malah menolak diaswari mentah-mentah, dan karena tidak tega sekaligus untuk menyelamatkan muka keluarga diasuari di hadapan semua orang. akhirnya Tuan Senopati menggantikan kakaknya adiwangsa untuk menikahinya.
( kenapa baru terlihat cantik sekarang..?? ke mana wajahnya dulu sehingga aku mampu menolaknya begitu. kurang ajar..!! lagi-lagi Senopati beruntung.) batin adiwangsa. tanpa sadar ia mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya menahan emosi.
"Iya istriku, sepertinya untuk sekarang aku tidak bisa membantu. Jika ada yang berat-berat maka tinggalkan saja dulu." ucap Tuan Senopati dengan pengertian. Nyonya diaswari tersenyum.
"Baiklah suamiku. kalau begitu aku tidak akan mengganggu. Mari tuan adiwangsa, Tuan Admaja dan Tuan bahuwirya."; ucap Nyonya diaswari sambil memberikan hormat. setelah itu ia langsung meninggalkan ruangan suaminya dan kembali ke lantai 3.
***bersambung***