MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
83. sofa


di tempat lain, Gayatri yang sedang berkumpul bersama pangeran Mandala dan saudara-saudaranya yang lain, dikejutkan oleh kedatangan seorang pengawal bayangan yang diutus oleh raja Raden Wijaya.


"salam kepada pangeran Mandala, Nona Gayatri dan para tuan tuan muda sekalian. Maaf hamba mengganggu waktunya. Saya diutus oleh yang mulia Raja Untuk mengantarkan surat kepada Nona Gayatri dan juga menyampaikan berita." ucap pengawal itu.


semua yang mendengar penuturan dari sang pengawal hanya mampu mengerutkan keningnya. terlebih oleh pangeran Mandala sendiri. Iya tidak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba mengirimkan surat kepada Gayatri dan juga membawa berita.


"katakan, berita apa yang kamu bawa..??" tanya pangeran Mandala kepada sang pengawal. sementara saudara-saudara Gayatri yang lain mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh sang pengawal.


"maafkan sebelumnya yang mulia dan Nona, Raja berpesan dan mengabarkan bahwa Raja akan ke sini bersama dengan Raja Pajajaran. Iya juga menyampaikan, bahwa Raja Pajajaran ingin bertemu dengan anda nona."; ucap sang pengawal sambil membungkukkan kepalanya.


pangeran Mandala yang mendengarkan penuturan itu tiba-tiba hatinya menjadi was-was. tentu saja ia sudah tahu siapa Raja Pajajaran itu, di mana Putra sang raja tentu saja mengincar calon istrinya ini. namun tentu saja mereka tidak akan bisa mengganggu calon istrinya.


(mau apa Raja Pajajaran bertemu dengan Gayatri..?? jangan sampai ia bertemu dengan Gayatri karena ingin meminta Gayatri bersanding kembali dengan putranya. Oh tidak bisa..!! siapapun kalian yang ingin mengambil Gayatri dariku, maka siap-siap menanggung resikonya nanti..) ujar pangeran Mandala dalam hati. Iya cukup geram tapi tak sampai mengeluarkan aura yang mendominasi yang mungkin saja cukup besar itu.


Gayatri yang mendengar kabar itu hanya mampu mengganggu anggukkan kepalanya saja. sesekali Ia juga akan melirik ke arah pangeran Mandala dan kedua kakaknya yaitu Diran dan Arga.


pangeran Arga yang mendengar bahwa Raja Pajajaran akan berkunjung hanya mampu mengerutkan keningnya. Iya menembak-nembak dalam hatinya, Ada apa gerangan sampai Raja Pajajaran bersusah-susah datang bertemu dengan Gayatri. padahal dulu Mereka mati-matian menolak kehadirannya di tengah-tengah mereka.


"untuk apa yang mulia Raja Pajajaran mau bertemu dengan Gayatri..??" tanya pangeran Arga yang akhirnya melontarkan pertanyaan kepada sang pengawal. pengawal yang mendapatkan pertanyaan mendominasi dari pangeran Arga buru-buru menunduk kembali.


"mohon maaf yang mulia, untuk lebih detailnya lagi, hamba tidak mengetahui maksud dan tujuannya. hamba hanya diutus untuk menyampaikan surat dan juga kabar ini." ujar pengawal itu lagi.


"Ya sudah kalau begitu, katakan saja kepada yang mulia raja, bahwa aku bersedia bertemu dengannya." ucap Gayatri langsung menengahi perdebatan itu.


"Baiklah kalau begitu nona. saya pamit undur diri.." sang pengawal pun langsung berpamitan kepada pangeran Mandala dan semua yang ada di sana.


***


tak menunggu waktu lama, kini Raja Pajajaran dan raja Majapahit telah berada di pemukiman lembah lembayun. saat pertama kali menginjakkan kaki di pemukiman itu, Raja Pajajaran dibuat takjub dengan view dan pemandangan yang disuguhkan oleh desa lembah lembayun ini. benar-benar indah dan menyejukkan, begitulah pikirnya.


Raja Pajajaran juga mengamati sekitar pemukiman ini, tanpa hutan masih terlihat asri tanpa digunduli oleh warga yang bermukim di sana. Raja Pajajaran juga melihat, pemukiman ini seperti tidak terkena dampak dari kekeringan. padahal kekeringan ini sudah terjadi hampir mau dua bulan.


"yang mulia raja, Apakah pemukiman ini anda sendiri yang membangun. Bagaimana mungkin Anda mampu membuat terobosan-terobosan untuk membuat pemukiman indah seperti ini." ucap Raja Pajajaran memuji Raja Raden Wijaya. Raden Wijaya yang mendengar pujian itu hanya mampu terkekeh saja.


"mohon maaf yang mulia, wilayah ini memang berada di wilayah kekuasaanku. namun lembah ini bukanlah milikku, Begitu juga dengan pembangunan dan pengembangan yang ada di pemukiman ini." ucap Raden Wijaya dengan berterus terang. ucapan yang terus terang itu tentu saja membuat Raja Pajajaran menjadi bingung.


"maksud anda yang mulia..??" tanya Raja Pajajaran lagi. Raden Wijaya kembali terkekeh.


"saya tahu yang mulia. namun setahu saya, bukankah perguruan itu sudah lama tidak menampakkan dirinya di pertandingan atau turnamen di manapun di kerajaan ini.. lalu apa hubungannya dengan lembah lembayun ini dengan padepokan atau perguruan itu..??" tanya Raja Pajajaran lagi yang masih belum mengetahui tentang cerita itu.


"kalau begitu dengarkanlah baik-baik yang mulia. lembah lembayun ini adalah milik seorang guru yang telah memiliki dua orang anak, dan guru itu bernama chandragupta ayah dari tuan Senopati dan juga kakek dari nona Gayatri. setelah Tuan candragupta menghilangkan entah ke mana, kini lembah lembayun atau padepokan harimau putih diteruskan atau diwariskan kepada sang anak, yaitu Tuan Senopati." jelas Raden Wijaya kepada Raja Pajajaran.


"mungkin kamu juga belum tahu dan bahkan bertanya-tanya. mengapa dulu Tuan Senopati terlunta-lunta hidup serba kekurangan di luar sana. dan menurutku itu bukanlah menjadi urusan kita. yang pasti apa yang telah diinovasikan untuk pembangunan kerajaan ini, tentu saja saya menerimanya dengan 10 jari." jelas Raden Wijaya lagi.


Raja Pajajaran yang mendengarkan cerita itu benar-benar merasa takjub, ternyata keluarga yang mereka rendahkan itu adalah keturunan dari para pendekar yang hebat.


( ternyata mereka bukanlah orang yang bisa diremehkan. sungguh kenapa dulu aku tidak tegas terhadap keluargaku. tapi ya sudahlah..) batin Raja Pajajaran itu menyesal dan juga hanya pasrah saja.


tak terasa mereka telah sampai di sebuah padepokan yang hampir mirip dengan istana. ternyata di luar gerbang, di sana sudah ada beberapa murid yang menyambut kedatangan mereka, Begitu juga dengan Tuan Senopati dan keluarganya. di sana juga tak tinggal pangeran Mandala yang tak bisa jauh dari jangkauan Gayatri.


"salam kepada yang mulia Raja Majapahit dan Raja Pajajaran." ujar mereka yang ada di sana sambil membungkuk hormat. Tuan Senopati pun melangkahkan kakinya menghampiri orang-orang nomor satu di kerajaan ini.


"silakan masuk yang mulia, kami telah menunggu kedatangan yang mulia berdua.." ujar Tuan Senopati dengan penuh kesopanan.


"terima kasih Tuan Senopati. Aku harap keluargamu mau memaafkan kesalahan keluargaku tempo lalu." ucap Raja Pajajaran langsung meminta maaf kepada Tuan Senopati.


"tidak masalah yang mulia, kami juga meminta maaf atas kekurangan kami atau kelancangan kami waktu itu. sekarang silakan masuk yang mulia.." ujar Tuan Senopati dengan senyum yang ramah.


akhirnya Raja Majapahit dan Raja Pajajaran itu diboyong masuk ke dalam suatu ruangan yang dipenuhi dengan barang-barang modern, di mana tidak, di ruangan ada sofa yang membentang dan tentu saja cukup menyita perhatian Raja Pajajaran, Di sana juga ada sebuah benda yang disebut televisi ditaruh di atas meja paling sudut.


bahkan di ruangan itu, mereka harus melepaskan alas kaki mereka. karena ruangan itu memang dijaga kebersihannya.


lagi-lagi Raja Pajajaran sangat takjub melihat bangunan ini, saat pertama Raja Pajajaran memasuki padepokan yang mirip istana itu, Iya merasakan hawa sejuk di dalam ruangan itu. iya berpikir, Kenapa di dalam ruangan ini terasa dingin padahal mereka tidak berada dekat ventilasi udara, ruangan itu juga dipenuhi dengan cahaya bola lampu yang menyilaukan mata, yang tentu saja belum dimiliki oleh kerajaan-kerajaan manapun.


sesampainya mereka di dalam, Tuan Senopati langsung mempersilahkan dua orang itu duduk di kursi masing-masing yang telah mereka siapkan. dan lagi-lagi, Raja Pajajaran terkejut. kursi yang ia duduki begitu empuk dan sangat nyaman, ternyata di sini tak hanya Ia yang terkejut, bahkan Raja Majapahit pun ikut terkejut. pasalnya, waktu pertama kali Ia datang berkunjung, Iya tidak tahu bahwa kediaman Tuan Senopati memiliki kursi yang sangat empuk dan nyaman ini.


"hem.. hem.. Tuan Senopati, Dari mana kamu mendapatkan kursi yang begitu nyaman ini.." tanya Tuan Senopati.


Tuan Senopati tersenyum mendapatkan pertanyaan seperti itu dari rajanya. iya jelas tidak tahu asal muasal tempat duduk itu, tentu saja yang bertanggung jawab untuk menjelaskan dari mana kursi nyaman itu adalah Gayatri.


"mohon maaf yang mulia, kursi ini tidak hamba dapatkan dari mana-mana, kursi ini dibuat oleh putri hamba Gayatri.." ucap tuan Senopati dalam sopan. penuturan itu lagi-lagi membuat mereka terkejut. berapa banyak kejutan lagi yang akan diberikan oleh putri dari tuan Senopati ini, begitulah pikir kedua Raja itu.


***bersambung***