MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
77. mengutarakan niat


pangeran Mandala menatap ayahnya tidak percaya. ada rasa was-was yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. entah rasa seperti apa, pangeran Mandala juga tidak mengetahuinya.


"Iya Yang mulia. ini adalah hasil karya dari putri saya Gayatri." ucap Tuan Senopati sambil mengukir senyum di bibirnya. Raja Majapahit tersenyum puas, ternyata Putri seorang Senopati yang ditolak oleh kerajaan Pajajaran itu, merupakan seorang putri yang multitalen menurutnya. Karena tidak semua perempuan bangsawan yang mampu menciptakan hasil karya apalagi makanan-makanan enak seperti ini.


"maaf atas kelancangan hamba yang mulia. namun jika hamba boleh tahu, Ada hal apa yang membuat yang mulia mengunjungi tempat yang jauh ini." tanya Tuan Senopati kepada raja Majapahit itu.


"oh... aku kesini hanya ingin melihat wilayah ini. tuan Senopati tidak perlu khawatir. saya tidak bermaksud untuk mengacau. hanya saja, saya penasaran dengan pemukiman baru ini. lagi pula, tuan muda ini datang menemui saya di istana untuk meminta bantuan berupa kereta kuda, untuk alat transportasi pengangkut barang atau hasil tanaman para warga yang ada disini. untuk memastikan, apakah benar ada pemukiman disini, makanya saya memutuskan untuk berkunjung." tutur raja Majapahit itu. ia juga menyebut putranya sendiri sebagai orang asing dengan menyembunyikan identitasnya.


tuan Senopati yang sudah paham dengan maksud dari rajanya itu pun hanya bisa mengukir senyum di bibirnya. pasalnya, wilayah lembah lembayun ini memang masih berada di wilayah kekuasaannya. jadi memang sudah sepantasnya Raja itu berkunjung.


"oh... begitu yang mulia. kalau begitu saya akan menemani yang mulia untuk berkeliling nanti. barangkali yang mulia dapat memberikan saran kepada rakyat yang mulia." tutur Tuan Senopati lagi, yang langsung dibalas oleh anggukan kepalanya dari raja.


setelah pembicaraan itu, mereka semua larut dalam keheningan. mereka malah memilih menikmati makanan-makanan yang telah tersuguh di depan mata mereka. mereka tentu saja tak ingin melewatkan makanan-makanan enak ini.


saat rombongan Raja Majapahit sedang menikmati makanan yang telah dihidangkan, beda halnya dengan pangeran Mandala. Iya masih berperang dengan pikirannya mengenai ayahnya yang mengetahui nama Gayatri. bahkan tampaknya, Tuan Senopati dan ayahnya itu saling mengenal.


untuk mengurangi rasa penasarannya, akhirnya pangeran Mandala memutuskan untuk bertanya kepada raja dan juga tuan Senopati. ia ingin tahu, Apakah sebelumnya Raja Majapahit dan Tuan Senopati memiliki hubungan.


"hm... Maaf ayahanda prabu, dan Tuan Senopati." ucap pangeran Mandala membuka suaranya. Tuan Senopati yang mendengarkan ucapan dari Mandala itu membulatkan matanya. pasalnya Tuan Senopati memang tidak mengetahui siapa Mandala sebenarnya. hanya saja ia menembak bahwa Mandala bukanlah orang sembarangan. namun ia tidak tahu kalau Mandala itu adalah putra pertama dari Raja Raden Wijaya.


tak hanya Tuan Senopati yang terkejut atas panggilan pangeran Mandala. Raja Majapahit pun ikut terkejut, pasalnya ia sudah berusaha membantu anaknya untuk menyembunyikan identitasnya. tapi sepertinya pangeran Mandala berubah pikiran.


"Iya pangeran.. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada ayah.."ucap Raja Raden Wijaya kepada sang anak. Tuan Senopati masih dibuat melongo tentang semua ini.


"hm.. maaf Yang mulia prabu. Apakah Tuan muda ini adalah seorang pangeran..??"tanya Tuan Senopati sambil mengerutkan keningnya. Ia juga mengarahkan pandangannya ke arah Mandala. Raja Majapahit itupun tersenyuman mendengarkan ucapan dari tuan Senopati.


"Iya Tuan Senopati. pangeran Mandala adalah putra pertamaku, sementara pangeran mahkota Sadewa adalah putra kedua. seharusnya pangeran Mandala lah yang menjabat sebagai putra mahkota. namun pangeran Mandala lebih memilih untuk hidup sederhana dan mengembara. akhirnya dengan berat hati, posisi putra mahkota digantikan oleh adiknya." terang Raja Raden Wijaya tanpa beban. ia tidak pernah ragu-ragu menceritakan kisah anaknya kepada tuan Senopati. entah kenapa, Raja Majapahit itu ngerasa klop dengan Tuan Senopati.


"Oh begitu yang mulia. maafkan atas kelancangan hamba. hamba ingin menanyakan saja agar lebih jelas." ucap Tuan Senopati lagi.


"Oh itu tidak apa-apa Tuan Senopati. semua yang ada di kerajaan ini juga tidak mengetahui bahwa pangeran mahkota adalah anak kedua. karena memang pangeran Mandala ini tidak suka terlalu mencolok sebagai salah seorang pangeran. jika Tuan Senopati melakukan kesalahan padanya, salah kan saja dirinya karena tidak menyebutkan identitasnya. Hehehe" ucap Raja Majapahit dengan sedikit bercanda. Mandala langsung menggarut Garut kepalanya yang tidak gatal, padahal Ia ingin bertanya kepada ayahnya kenapa malah Tuan Senopati dan ayahnya yang mengobrol.


"hm... Ayah. Aku ingin mengatakan sesuatu. sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya sekarang, karena mungkin aku masih perlu melakukan pendekatan terhadapnya. tapi sepertinya, ayah dan Tuan Senopati sudah cukup dekat." tutur pangeran Mandala. Tuan Senopati dan raja Majapahit itu mengerutkan kening dan mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh pangeran Mandala tanpa menyela sedikitpun.


"sebelumnya saya meminta maaf juga kepada tuan Senopati, mungkin ini rasanya kurang sopan. tapi saya juga harus meminta izin kepada tuan, karena saya ingin dekat dengan Putri Anda tuan Senopati. saya juga meminta izin kepada ayahanda, untuk meminangkan adinda Gayatri menjadi istri Ananda ayahanda." tutur pangeran Mandala tanpa terjaga atau merasa ragu-ragu sedikitpun. Tuan Senopati dan raja Majapahit tentu saja terkejut dengan pengakuan itu.


namun Tuan Senopati terkejut, Iya tidak menyangka ternyata pesona putrinya cukup kuat hehehe, sehingga membuat seorang pangeran Mandala yang ia pikir adalah pemuda biasa ternyata seorang pangeran, membuatnya tertarik kepada sang anak.


Tuan Senopati pun tidak ingin melarang dan membatasi pilihan anaknya. karena ia sudah cukup mengenal siapa Mandala ini sebenarnya. dari tata cara sopan santun, serta keuletannya dalam melakukan sesuatu, cukup membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. namun tetap saja, keputusan itu tetap diserahkan kepada putrinya. Iya tidak ingin menjadi seorang ayah yang egois.


"hahaha... Bagaimana menurutmu Tuan Senopati. aku sebagai ayah dari pangeran Mandala sama sekali tidak keberatan mengenai hal ini." ucap Raja Majapahit kepada tuan Senopati. Tuan Senopati tersenyum simpul.


"tentu saja hamba tidak berani menolak yang mulia. namun tetap saja semua keputusan ini saya serahkan ke tangan putri saya. karena walau bagaimanapun, semuanya yang menjalani adalah putri saya. jadi sebagai orang tua, Saya hanya menginginkan kebahagiaan Putri satu-satunya saja." tutur Tuan Senopati. mendengar penuturan Tuan Senopati itu tidak membuat Raja Majapahit marah. walau bagaimanapun Ia juga adalah seorang ayah yang memiliki seorang putri juga.


"baiklah baiklah, itu tidak masalah Tuan Senopati. Anda benar tuan, yang menjalani adalah anak-anak kita, dan kita sebagai orang tua hanya mampu memberikan dukungan saja. dan untukmu pangeran Mandala, jika engkau benar-benar serius maka buktikan ketulusanmu. tunjukkan kalau kamu benar-benar menginginkannya, Jika benar cinta maka perjuangkan. jangan bertingkah laku seperti tetangga sebelumnya."ucap Raja Majapahit menyindir putra dari Raja Pajajaran itu. Raja Majapahit sengaja tidak menyebutkan kerajaan itu untuk menjaga kode etik dan nama baik. namun tetap saja, Tuan Senopati mengerti dengan arah pembicaraan Raja Majapahit itu.


Tuan Senopati yang mendengarkan penuturan dan sindiran lembut itu hanya mampu memberikan senyum simpul saja. Jujur saja Tuan Senopati juga sudah melupakan hal itu. namun berbeda dengan pangeran Mandala, Iya sama sekali tidak mengerti dengan penuturan sang ayah.


"maksud Ayah..?? tetangga yang mana yah.. ??" tanya pangeran Mandala sambil mengerutkan keningnya. melihat ekspresi sang putra, bukannya menjelaskan pangeran Majapahit itu hanya tertawa terbahak-bahak saja.


(ini si Ayah ditanya, malah asik tertawa..) protes pangeran Mandala dalam hatinya. entah kenapa ada rasa yang sangat besar ingin mengetahui siapa yang dimaksud tetangga itu.


"jangan mengumpattiku seperti itu pangeran. tanyakan saja nanti kepada calon istrimu kalau ia telah setuju. Hehehe..."ucap Raja Majapahit lagi. sementara Tuan Senopati ikut tersenyum simpul melihat tingkah laku rajanya. Iya tidak menyangka ternyata sang raja yang dikenal dengan tegas dan kejam itu cukup memiliki kesan humoris kepada anak-anaknya. sementara pangeran Mandala, ia hanya mampu mendengus kesal melihat ayahnya terbahak-bahak seperti itu.


***


akhirnya, setelah mereka selesai menikmati makanan dan mengobrol santai sebentar. kini Raja Majapahit meminta tolong kepada tuan Senopati dan pangeran Mandala untuk menemaninya berkeliling melihat pemukiman lembah lembayung ini.


Tuan Senopati pun menyetujuinya, Begitu juga dengan pangeran Mandala.


setelah meminta izin kepada Nyonya diaswari, Tuan Senopati beserta rombongan Raja Majapahit pergi berkeliling melihat pemandangan di desa lembah lembayun yang baru berdiri beberapa bulan yang lalu.


satu persatu Tuan Senopati dan pangeran Mandala memperkenalkan apa yang ditemui di sana. mereka juga menjelaskan kegunaan dari benda-benda yang mereka temui itu. seperti terbentuknya sebuah kebun bunga yang sangat indah yang pernah Tuan Majapahit jumpai tadi.


mereka menjelaskan bahwa, Bunga juga bisa dimanfaatkan sebagai aroma terapi, misalnya dalam bentuk lilin atau parfum. Aroma bunga yang wangi ini bisa membuat udara dalam ruangan menjadi segar sehingga membuat kita nyaman. Beberapa jenis bunga dimanfaatkan sebagai tanaman obat karena memiliki kandungan nutrisi yang baik.


sementara Raja Majapahit yang mendengarkannya, Iya cukup kagum dengan pemikiran yang diberikan oleh Gayatri itu. sehingga memberikan keyakinan yang begitu besar, bahwa Gayatri mungkin akan membawakan perubahan besar bagi kerajaan mereka.


***bersambung***