MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
72. pohon kurma


malam hari itu setelah membuat Tuan Senopati merasa tenang dengan tindakan putra-putrinya. Tuan Senopati akhirnya menyerahkan urusan budak perbudakan itu kepada anak-anaknya, Jujur saja Tuhan Senopati benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi.


***


saat ini hari sudah mulai terang. para budak yang sudah dibeli itu di bariskan kembali oleh ke-13 saudara-saudara itu. Gayatri memberikan instruksi untuk berbaris sesuai dengan usia mereka.


semuanya pun menurut, masing-masing dari mereka berbaris dengan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Gayatri. tanpa wajah-wajah para budak itu tertunduk lesu sangat-sangat tidak bersemangat.


"untuk yang sudah lanjut usia. aku membebaskan kalian dari perbudakan ini. sesuai dengan persetujuan dari ayah dan saudara-saudaraku, kami akan menempatkan kalian di sekitaran tempat tinggal kami. kalian akan bertani untuk menyambung hidup kalian. tenang saja kami pasti akan membantu." ucap Gayatri dengan penuh kelembutan dan senyum kepada orang tua yang rentah itu.


mendengar penuturan bahwa mereka telah dibebaskan membuat senyum mereka terbit. namun mereka berjanji dalam hati, walaupun mereka telah dibebaskan dalam perbudakan, mereka tetap akan menawarkan tenaga untuk membantu keluarga itu.


"terima kasih nona...!!" ucap mereka dengan serentak. Gayatri tersenyum, bukan apa-apa. ketika melihat senyum yang tercetak di wajah mereka memberikan kesan tersendiri di dalam hati Gayatri. Gayatri pun langsung mengarahkan pandangannya kembali kepada orang tua atau orang-orang paruh baya.


"untuk yang paruh baya, Jika kalian ingin juga hidup seperti orang tua yang pertama, maka itu sudah menjadi pilihan kalian. Namun kami juga membutuhkan orang-orang untuk bekerja membantu di padepokan kami ini. Siapa yang bersedia silakan mengajukan diri."ucap Gayatri tanpa ada nada pemaksaan di dalamnya. ternyata separuh dari paru-paru baya itu mengajukan diri untuk membantu di kediaman atau padepokan harimau putih itu. separuhnya lagi memilih untuk tetap tinggal di tempat.


"dan untuk anak-anak dan remaja, kalian akan langsung dilatih agar bisa menjaga diri kalian dengan baik. kami tidak meminta untuk kalian menjadi murid padepokan ini, Namun kami juga akan memilih beberapa orang untuk menjadi bagian dari kami, atau menjadi prajurit atau juga pengawal bagi kami. dan jika ada yang bersedia, silakan mengajukan diri."ternyata hampir semua orang mengajukan diri untuk menjadi tim dari Gayatri dan saudara-saudaranya. sementara yang lain, memilih untuk menjadi murid padepokan. Begitu juga dengan anak-anak yang luas berusia 8 sampai 14 tahun. sementara di bawah 8 tahun dibebaskan untuk memilih kehidupan mereka. tentu saja di sana mereka punya keluarga.


setelah pemilihan dan pemisahan itu. Gayatri dan ke-12 saudara laki-lakinya mulai mengatur mereka semua. para orang tua diberikan tempat tinggal untuk mereka bertani, ada juga yang memilih untuk menjadi pelayan di kediaman atau padepokan mereka, dan juga beberapa murid yang telah diangkat oleh Tuhan Senopati, serta tim-tim yang ikut bergabung dengan Gayatri dan ke-12 saudara laki-lakinya.


***


enam bulan telah berlalu setelah pembelian para budak di pasar gelap. kini kehidupan para budak yang dibeli oleh Gayatri dan keempat saudara laki-lakinya itu sudah lebih baik. bahkan sebagian yang sudah menjadi warga di sana, kehidupannya sangat baik. apalagi tanah yang ada di sekitar lembah itu sangat sangatlah subur. Begitu juga dengan para murid dan tim yang dilatih oleh Gayatri.


selama 6 bulan ini, Gayatri melatih timnya dengan latihan ala-ala militer seperti yang pernah ia lakukan kepada saudara-saudaranya yang lain. tentu saja apa yang dilakukan Gayatri tidak pernah diprotes oleh mereka semua. justru mereka sangat dekat dan sangat hangat seperti sebuah keluarga. Gayatri dan keluarganya benar-benar memberlakukan mereka layaknya keluarga bagi mereka. Tapi tetap saja, anggota-anggota Gayatri tetap mengetahui batasan mereka.


seperti hari ini. Gayatri sedang berjalan-jalan di desa lembah lembayun ini. disana terlihat berbagai macam tanaman.



dan beberapa warga yang sedang memanen, ada juga yang membersihkan rumput dan ilalang, dan ada juga yang menanam kembali. dimata Gayatri pemandangan ini sungguh sangat menyejukkan mata. inilah impian Gayatri semasa ia berada di dunia modern.



"hah..!!! udaranya benar-benar sejuk dan sangat menyenangkan." ucap Gayatri. beberapa warga yang melihat kedatangan Gayatri disana. mereka menyambut dan menyapanya dengan ramah.


"selamat datang nona.. apakah nona membutuhkan sesuatu..??" tanya seorang pria paruh baya kepadanya. Gayatri tersenyum ramah kepada pria paruh baya itu.


"tentunya nona. semuanya tidak ada masalah.." ucap pak paruh baya itu. pria paruh baya itu pun menemani Gayatri berkeliling di kebun para warga itu. mereka menanam tanaman yang bermacam macam, mulai dari sayur-sayuran, ubi-ubian dan buah-buahan.


saat mereka sedang berjalan menyusuri tanaman tanaman itu, tiba-tiba mata Gayatri menangkap sebuah tanaman yang menurutnya sangat sulit tumbuh di iklim tropis ini. apalagi kalau bukan buah kurma. Gayatri sangat terkejut melihat buah itu.


disana, ia juga melihat pohon lengkeng yang sudah berbuah lebat dan sudah siap panen.


"pak..!! tanaman itu siapa yang punya..??" tanya Gayatri kepada pria paruh baya itu. sebut saja namanya pak tilam. pak tilam Langsung mengarahkan pandangannya di sana. dan langsung melihat dan merespon pertanyaan Gayatri.


"oh... saya kurang tau nona. tapi, untuk yang punya, saya tau orang nya nona. dia adalah seorang pemuda yang mengembara. saat ia tiba disini, ia tertarik dan akhirnya meminta izin untuk menetap. saya juga langsung membawanya bertemu dengan tuan Senopati." tutur pak tilam. Gayatri pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"nona ingin bertemu dengannya..??" tanya pak tilam lagi. Gayatri langsung mengangguk. setelah itu, pak tilam Langsung menuntun Gayatri untuk bertemu dengan pemuda itu.


"permisi anak muda.." sapa pak tilam. ternyata pemilik nya sedang membersihkan kebun nya dan membuat parit atau saluran air.


pemuda yang terpanggil itupun langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Gayatri dan pak tilam.


"eh.. pak tilam... ada apa pak.." ucap pemuda itu. pak tilam tersenyum ramah. ia sangat senang melihat pemuda ini. ia baik dan menghormati orang yang lebih tua darinya.


"maaf mengganggu mu anak muda. bapak hanya ingin menemani nona Gayatri untuk berkeliling. kebetulan, ia ingin melihat-lihat kebun mu. kalau anak muda tidak keberatan.." ucap pak tilam. mendengar penuturan Pak tilam, pemuda itu pun tersenyum ke arah Gayatri. Gayatri yang tidak sengaja melihat senyum pemuda itu langsung terpesona. entah kenapa Ia pun tidak tahu, ini adalah pengalaman pertama Gayatri merasa terpesona melihat senyum seorang pria.


(Dia sangat tampan... ) batin Gayatri tanpa sadar. tapi tiba-tiba Gayatri menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


(hadeh apa yang aku pikirkan....!!) seru Gayatri dalam hati.


"tentu saja boleh Pak tilam..." ujar pemuda itu. tatapannya terus mengarah kepada Gayatri.


(gadis ini sangat unik, aku rasa Dia adalah putri dari pemilik desa ini. tapi kenapa ia tidak merasa jijik ya berada di tengah-tengah lumpur dan tanah seperti ini. biasanya anak-anak orang terpandang akan merasa jijik jika sudah berbaur dengan tanah ataupun hal yang berhubungan dengannya.) batin pemuda itu.


setelah Gayatri dan Pak tilam meminta izin kepada pemilik kebun tersebut. Gayatri berjalan menghampiri 5 batang pohon kurma yang sangat berbuah lebat tentunya sudah siap panen. Gayatri mengamati pohon kurma untuk meyakinkan dirinya kalau itu memanglah kurma. kemudian Gayatri langsung melihat ke arah sang pemilik.


"maaf tuan, apakah pohon kurma ini Tuan sendiri yang menanam..??" tanya Gayatri kepada anak muda itu. anak muda itu tercengang ketika Gayatri menyebutkan nama pohon itu. pasalnya, pohon kurma ini ditemukan tumbuh begitu saja di ladang yang ia garap, Namun karena ketertarikan tersendiri bagi pemuda tersebut, akhirnya Ia memutuskan untuk merawat pohon itu.


***bersambung***