MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
82. penyesalan


kini Raja Pajajaran telah sampai di Kerajaan Majapahit. di sana Raja Pajajaran menyaksikan sendiri bagaimana di kota Raja itu telah berdiri beberapa bendungan yang mereka gunakan untuk menampung air. di ibukota juga terdapat lumbung lumbung padi yang telah dibangun beberapa bulan yang lalu untuk menyimpan bahan makanan. di sana juga terdapat beberapa prajurit yang menjaga lumbung padi itu dengan ketat. bahkan mungkin, tikus saja tidak akan bisa masuk ke sana.


Raja Pajajaran yang melihat hal itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Iya tidak menyangka akan mendapatkan terobosan seperti ini di Kerajaan Majapahit.


"pantas saja kerajaan ini bisa menanggulangi bencana kekeringan ini. lihat saja bangunan-bangunan yang telah mereka buat, aku rasa sampai kekeringan ini berakhir bahan pangan dan air yang mereka perlukan masih akan berlebih." ujar Raja Pajajaran dengan sedikit pelan namun masih didengar oleh orang-orang di sekitarnya.


kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju istana, ternyata di luar gerbang sudah ada raja Majapahit yang menunggu kedatangan mereka.


melihat keberadaan Raja Majapahit yang menyambut kedatangan Raja Pajajaran itu, langsung membuat Raja Pajajaran tersentuh. Ia pun buru-buru turun dari kereta dan menghampiri Raja Majapahit.


"selamat datang raja... Mari masuk dulu.." ucap Raja Majapahit menyambut kedatangan Raja Pajajaran itu.


"terima kasih yang mulia atas sambutannya, Maaf telah merepotkan yang mulia..." ujar Raja Pajajaran sambil membungkuk hormat sedikit. Raja Majapahit itu pun tersenyum.


"tidak masalah yang mulia.. dengan adanya bencana seperti ini, baiknya memang kita saling bahu membahu Untuk meringankan beban saudara-saudara kita. jadi yang mulia tidak perlu sungkan terhadapku..." ucap Raja Majapahit merendahkan diri.


sikap Raja Majapahit yang seperti itu membuat Raja Pajajaran menjadi heran. pasalnya Raja ini dikenal dengan raja yang begitu kejam dan juga terlihat angkuh terhadap orang orang. namun cukup mengherankan ketika melihat sikap yang mulia Raja Majapahit seperti ini.


tentu saja Raja Majapahit merendah diri kepada raja-raja yang lain, setelah melihat kemampuan Gayatri dalam penanggulangan bencana ini serta ide-ide cemerlang yang telah dikeluarkan, membuat Raja Majapahit berpikir bahwa ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gadis ini.


akhirnya dari sana ia mulai belajar untuk merubah sifatnya, walaupun tidak semua sifatnya itu bertentangan dengan dirinya. karena sifat pada umumnya yang dimiliki Raden Wijaya ialah tegas dan keras, sehingga orang-orang menilainya sebagai raja yang kejam dan juga sombong.


namun orang-orang terdekat malah memandang Raja Majapahit itu dengan sebaliknya. di mana sang raja akan bersikap lembut ramah tamah dan penuh kasih sayang terhadap keluarga dan orang-orang yang ia rasa perlu dihormati.


sampailah pada akhirnya Raja Pajajaran dan raja Majapahit itu Di taman belakang istana yang sudah disediakan untuk menyambut kedatangan Raja Pajajaran. mereka semua langsung mengambil posisi masing-masing, setelah itu Raja Pajajaran mulai mengutarakan niat kedatangannya.


"mohon maafkan saya telah memberikan kabar mendadak seperti ini. mungkin kedatanganku mengganggu aktivitas yang mulia Raja Majapahit." terang Raja Pajajaran kepada raja Majapahit. Raden Wijaya tersenyum mendengar penuturan Raja Pajajaran tersebut.


"tidak apa yang mulia.. jikalau seandainya ada yang bisa saya bantu maka akan saya usahakan. yang mulia tidak perlu sesungkan itu kepada kami." ujar Raden Wijaya mencoba memaklumi keadaan sekarang. di mana di seluruh kerajaan telah ditimpa musim kekeringan yang tidak tahu kapan akan berakhir.


"yang mulia, kami datang ke sini ingin meminta kebesaran hati yang mulia agar yang mulia sedikit membagi rezeki kepada kami dan penduduk di kerajaan kami. saya juga tahu beberapa penduduk sudah datang ke sini untuk meminta bantuan. namun rasanya tidak lengkap Jika seorang pemimpin seperti saya tidak menemui Anda yang mulia." tutur Raja Pajajaran lagi.


"saya juga mengusahakan untuk hadir dan bertemu dengan yang mulia karena ingin merundingkan sesuatu." ujar Raja Pajajaran lagi yang sukses membuat Raja Majapahit memicingkan matanya.


"mohon maaf yang mulia. Saya hanya ingin bertanya tentang gadis yang bernama Gayatri, Apakah gadis yang bernama Gayatri ini yang telah membantu penanggulangan di kerajaan Anda yang mulia..?? dan apakah gadis ini adalah orang yang sama yang ditolak oleh kerajaan ku.. dan yang dicintai oleh putraku." ucap Raja Pajajaran itu. Raden Wijaya yang mendengar nama Gayatri, dan juga mendengar bahwa Gayatri adalah orang yang dicintai oleh putranya membuat Raja Majapahit itu tidak terima. namun tidak sampai membuatnya marah, jelas saja ia tidak terima pasalnya Gayatri telah resmi menjadi menantunya walaupun mungkin mereka tidak akan tinggal di istana bersamanya.


"betul sekali yang mulia, memangnya ada apa dengan calon menantuku itu.." ucap Raja Majapahit menjelaskan status Gayatri sekarang yang kini telah menjadi calon menantunya.


kemungkinan juga pangeran Mandala telah mengutarakan niatnya kepada sang ayah untuk menikah dengan Gayatri di waktu musibah ini, tentu saja mereka akan melangsungkan acara yang kecil-kecil saja. agar tidak terlalu memboroskan persediaan bahan pangan mereka. pangeran Mandala juga telah memikirkan hal lain jika ingin melakukan resepsi.


Raja Pajajaran yang mendengarkan ucapan dari Raja Majapahit itu hanya mampu mendengus menyesal saja. Jujur saja ia tidak membenci Tuhan Senopati apalagi putrinya, jikalau bukan karena Ibu suri, mungkin Gayatri perempuan cerdas itu telah menjadi menantunya. tapi apa boleh buat, Iya tidak ingin hanya karena seorang calon menantu membuat kerajaan mereka yang mungkin akan bersitegang dengan kerajaan Majapahit ini.


"tidak apa-apa yang mulia, Saya hanya ingin bertemu dengannya dan meminta bantuan untuk memberikan arahan dan masukan kepada kerajaan kami yang juga telah ditimpa oleh musim kekeringan ini. itu pun galau yang mulia bersedia memberikan kami kesempatan bertemu dengannya." ucap Raja Pajajaran lagi. Raja Majapahit memperhatikan raut wajah Raja Pajajaran itu, tentu saja Raja Majapahit dapat menangkap bahwa raut wajah dari Raja Pajajaran itu terlihat seperti menyesal.


namun Raja Majapahit tidak peduli, nikmati saja penyesalan kalian karena ia sendiri tidak akan menyerahkan Gayatri kepada pangeran pandu, Iya tela cukup nyaman berbesan dengan Tuan Senopati. begitu pikir Raja Majapahit itu.


"tentu saja, yang mulia tenang saja. saya akan memberikan kabar terlebih dahulu kepada calon menantu saya. Apakah ia bersedia menerima dan memberikan masukan kepada anda." ucap Raja Majapahit itu. Raja Pajajaran pun hanya mampu mengganggu anggukkan kepalanya saja.


setelah itu, Raden Wijaya mulai meminta kuas dan juga kertas, ia ingin membuat surat kepada calon menantunya itu untuk segera menggambarkan niat Raja Pajajaran terhadapnya. setelah itu raja Majapahit langsung mengutus salah seorang pengawal bayangan untuk mengirimkan surat itu kepada Gayatri.


melihat hal itu, di hati Raja Pajajaran ada sedikit rasa khawatir. ya takut bahwa Gayatri akan merasa dendam terhadap keluarganya, di mana keluarganya pernah menghina keluarga Gayatri.


"yang mulia, menurut yang mulia Apakah Nona Gayatri akan mau membantu kerajaan kami. Kenapa saya merasa tidak yakin, Karena dulu saya dan keluarga saya pernah menghina keluarganya." ucap Raja Pajajaran itu mengutarakan kecemasan hatinya.


"anda tenang saja yang mulia, calon menantuku ini bukanlah orang pendendam. Iya adalah seorang putri yang sangat menyayangi kedua orang tuanya, Iya juga adalah seorang penduduk yang sangat baik. Apakah anda pernah mendengar desa lembah lembayun..??" tanya Raja Raden Wijaya kepada Raja Pajajaran itu. Raja Pajajaran itu mengganggukan kepalanya, tentu saja ia telah mendengar desa lembah lembayun yang berdiri sekitar satu tahun yang lalu.


"desa lembah lembayung itu penduduknya adalah budak-budak yang telah dibeli oleh Gayatri di pasar perbudakan. setelah itu Gayatri membebaskan mereka sehingga budak-budak itu terbebas dari ikatan perbudakan tersebut. tak hanya membebaskan budak-budak itu, Iya juga memberikan tempat dan juga mengajarkan kepada mereka cara mengolah tanah di sekitar mereka. di sanalah mereka mulai hidup yang baru, berkat ilmu yang telah diajarkan oleh Gayatri kepada budak-budak ini, kini mereka telah menjadi seorang petani yang sukses. dan bahkan, dampak dari kekeringan ini, mungkin mereka hanya merasakan dua persen saja."ucap Raden Wijaya lagi.


Raja Pajajaran yang mendengar cerita dari Raja Majapahit itu tentu saja sangat menyesal, kalau seandainya keluarganya tak menolak Gayatri menjadi bagian dari mereka, mungkin kerajaannya juga sudah menjadi lumbung pertanian yang sukses seperti kerajaan Majapahit ini.


tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Itulah sebuah kata yang selalu diumpamakan oleh orang-orang di sekitarnya.


***bersambung***