
Gayatri mendekati keluarga nya. disana, nyonya diaswari sedang menangis melihat kondisi suami dan anak angkatnya.
"ibu, jangan menangis. mereka akan baik-baik saja." ucap Gayatri menenangkan ibunya. Gayatri langsung mengeluarkan pil penyembuh yang ada di ruang dimensinya serta dengan air kehidupan. ia langsung memberikan kemulut kakak dan ayahnya. secepat kilat pil itu langsung masuk ke dalam mulut dan tenggorokan kedua orang itu. setelah pilnya bekerja, semua luka yang ada di tubuh mereka langsung sembuh. kemudian Gayatri langsung meneteskan air kehidupan itu di mulut masing-masingnya. sontak saja keduanya langsung tersadar.
"Pak, nak. syukurlah kalian sudah sembuh dan sadar. Ibu benar-benar sangat ketakutan tadi." ucap nyonya diaswari masih terus meneteskan air matanya bahagia karena melihat keduanya sudah terbangun dan kembali sehat. Arga dan Tuan Senopati pun langsung tersenyum melihat nyonya diaswari, kemudian ketiganya langsung mengarahkan pandangannya ke arah Gayatri.
"gaya, kamu sudah pulang nak..!!" ucap Tuan Senopati dengan ekspresi terkejut. Gayatri tersenyum melihat ekspresi sang ayah.
"iya yah, gaya dan kak Diran telah kembali. tapi ketika kembali, ayah dan ibu tidak ada di rumah. sekarang Kak Diran pasti sedang mengkhawatirkan kita. sebaiknya kita segera pulang saja, nanti ayah dan ibu serta kakak jelaskan apa yang terjadi sebenarnya di rumah." ucap Gayatri kepada ayah dan ibunya. Mereka pun mengganggu kan kepala tanda setuju.
"baiklah.." Setelah itu mereka langsung meninggalkan tempat atau hutan itu dan kembali ke kediaman bobrok mereka.
sesampainya mereka di sana, terlihat Diran tengah meringkuk di depan teras kediaman mereka, Iya menundukkan kepalanya dan menangis, saat ini ia benar-benar merasa khawatir mengenai hal yang terjadi kepada keluarganya, apalagi Gayatri tiba-tiba menghilang seperti itu.
saat Gayatri mendekat, pagar perlindungan itu pun langsung hilang.
"gaya kamu dari mana saja?? Kakak benar-benar ketakutan setengah mati melihat kamu menghilang.." ucap Diran dengan suara khas orang yang sedang menangis. Gayatri tersenyum mendengarkan pertanyaan dari kakaknya. Iya merasa bersalah karena meninggalkan kakaknya begitu saja tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"maaf Kak, gaya tidak bermaksud membuat Kakak khawatir. tapi tadi, ayah, ibu dan Kak Arga sedang dalam bahaya. jadi Gaya hanya memasang pagar perlindungan untuk kakak agar tidak kemana-mana. maafin gaya ya Kak..??" ucap Gayatri dengan suara yang lembut dan merasa bersalah. Iya juga langsung memeluk tubuh sang kakak yang gemetaran akibat merasa khawatir yang berlebihan. Diran pun ikut membalas pelukan sang adik dengan erat. entah apa yang saat ini ada di pikirannya, tapi yang pasti dalam hatinya ia benar-benar merasa takut terjadi sesuatu dengan adiknya.
Tuan Senopati benar-benar tersenyum melihat kedua anaknya saling menyayangi satu sama lain. Tuan Senopati melihat istri dan anak angkatnya itu secara bergantian kemudian tersenyum. Iya juga berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Diran, gaya. Ayah sangat senang melihat kalian sangat menyayangi satu sama lain. Ayah harap kalian bertiga tidak berubah sama sekali. Ayah menginginkan anak-anak ayah akur saat ini sampai selama-lamanya." ucap Tuan Senopati membuyarkan suasana haru kedua saudara itu. Diran langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sang ayah.
"ayah, ibu. Kak Arga Apakah kalian baik-baik saja. Dari mana saja, Kenapa tadi kami tidak menemukan kalian?" tanya Diran sambil sesegukan karena masih terisak dengan tangisnya.
***bersambung***