
para pekerja mengobrol ringan kepada Gayatri dan Diran di sana. sebelum akhirnya pemilik proyek datang menghampiri mereka.
"eh tuan dan Nona. sudah datang rupanya.. kalau begitu silakan masuk Mari kita melihat bagian dalamnya." ucap pemilik toko atau penanggung jawab proyek tersebut.
orang-orang di sana pun menjadi heran, mereka bertanya-tanya Apakah kedua muda-mudi ini pemilik rumah makan ini. namun mereka tidak berani bertanya. mereka sadar diri mereka hanyalah orang-orang rendahan.
"Baiklah tuan." ucap Gayatri dan Diran. Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah makan setelah berpamitan dengan beberapa orang pekerja tadi. satu persatu pemilik proyek itu menunjukkan semua Sisi ruangan dan juga menceritakan beberapa kendala yang mungkin terjadi pada saat pembangunan. namun itu bukanlah menjadi masalah untuk Gayatri dan kakaknya.
"semuanya sudah selesai 100% nona. dan bangunan ini bisa digunakan." ucap pemilik proyek tersebut. Gayatri pun mengganggu anggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu tuan. terima kasih atas kerjasamanya. sesuai dengan perjanjian setengahnya akan saya lunasi hari ini." Gayatri langsung mengeluarkan 2 kantong tail emas dan menyerahkannya kepada pemilik proyek. dengan senang hati pemilik proyek itu menerima uang tersebut. namun ia cukup tercengang karena bayarannya cukup fantastik dan melewati dengan harga yang sudah mereka sepakati.
"maaf Nona, sepertinya bayarannya sudah berlebih dan sudah melewati dengan harga kesepakatan kita." ucap pemilik proyek itu dengan jujur. Gayatri yang mendapatkan pertanyaan seperti itu pun tersenyum.
"ambil saja tuan, hitung-hitung itu adalah bonus dan juga untuk para pekerja tuan. Saya mengucapkan terima kasih karena tuan dan para pekerja Tuan mampu mengerjakan semuanya dengan cepat." ucap Gayatri lagi. sang pemilik proyek itu pun tidak bisa berkata-kata lagi, dalam hatinya Ia sangat senang mendapatkan perlakuan baik dan dihargai oleh orang lain.
"Baiklah kalau begitu nona, terima kasih banyak. kalau begitu tuan dan Nona Saya permisi dulu." ucap pemilik proyek tersebut. setelah mendapatkan persetujuan dari Gayatri dan Diran, pemilik proyek tersebut langsung meninggalkan tempat menemui para pekerjanya dan membagi semua bonus yang mereka dapatkan. dari raut wajah mereka benar-benar tercetak wajah bahagia.
***
sementara Gayatri dan Diran, mulai kembali memindahkan barang-barang mereka dari penginapan usang tersebut ke rumah makan di lantai 3.
ketika mereka kembali di rumah makan itu, rumah makan itu yang awalnya masih kosong tanpa perabotan apapun, kini rumah makan itu telah penuh diisi dengan meja dan kursi baik di lantai 1 maupun di lantai 2. kursi-kursi Itu tampak elegan dan sangat menarik hati begitu juga dengan meja-mejanya.
tak hanya perabotan meja dan kursi, di dalam kamar juga sudah tersedia kasur spring bed, lemari dan juga sofa di ruang tamu. Tak hanya itu rumah itu benar-benar terlihat elegan dan sangat santai. Diran yang melihat hal itu pun tak bisa berkata-kata, pasalnya sekaya apapun orang yang ada di negeri ini mereka tidak dapat mewujudkan rumah tingkat 3 apalagi bergaya Eropa seperti ini.
saat masuk ke dalam kamar juga, lagi-lagi Diran di buat ternganga. pasalnya kasur empuk dan tempat duduk empuk itu benar-benar baru ia lihat di depan matanya.
( apa ini..?? dan dari mana semua ini..??) batin Diran. Iya kembali meletakkan semua barang-barangnya di sana dan pergi menyusul sang adik di kamarnya. sesampainya Diran di depan pintu kamar sang adik, Diran pun langsung mengatup pintu itu.
tok tok tok suara ketukan di pintu.
ceklek
"Ada apa kak..?? Kenapa Kakak terlihat cemas seperti itu..?? apakah ada masalah yang terjadi..??" tanya Gayatri. Diran yang menyadari bahwa ia memasang wajah cemas dan khawatir pun berusaha untuk menormalkan ekspresinya kembali.
"huh maafkan kakak dek.. tidak terjadi apa-apa, kakak ke sini hanya ingin bertanya. Apakah semua barang-barang itu milik kita. dan dari mana semua barang-barang tersebut." ucap Diran kepada Gayatri. Gayatri pun sedikit bingung menjelaskan kepada sang kakak. tiba-tiba dalam suasana hati yang bingung seperti itu, terdengar suara Rion dari ruang dimensi.
"Rumi tidak perlu khawatir. Aku akan menolong Rumi, nanti kalau aku datang katakan saja kalau aku yang telah mengirim semua barang-barang itu ke tempatmu." tutur Rion lewat telepati. Gayatri yang mendengarkan penuturan Rion itu pun menarik nafasnya dengan pelan. akhirnya ia tahu alasan apa yang harus Gayatri berikan kepada sang kakak.
"Kakak tenang saja, semua barang-barang ini dikirim oleh teman Gayatri." ucap Gayatri menjelaskan kepada kakaknya. Diran kemudian menjadi bingung atas penuturan sang adik. pasalnya Gayatri tidak pernah keluar sendiri tanpa pengawasan darinya. lalu Dari mana datangnya seorang teman untuk Gayatri.
"permisi..." terdengar suara orang dari luar. saat itu juga kedua adik kakak yang larut dalam pikirannya masing-masing pun teralihkan.
"permisi.." ucap suara itu lagi. mendengar suara tersebut keduanya pun sontak langsung berlari turun ke bawah. ternyata di bawah adalah Rion yang saat ini tengah menyamar menjadi seorang teman untuk Gayatri. di luar juga ia membawa beberapa barang yang dibutuhkan di dalam kedainya. mulai dari kompor gas, rak rak piring dan alat-alat perkakas lainnya yang dibutuhkan di dapur telah Ia bawa.
Gayatri yang melihat kedatangan Rion yang saat ini tengah menyamar pun tersenyum. dan dengan senang hati Gayatri langsung menyambut kedatangan Rion.
"hai Rion apa kabar..?" sofa Gayatri dengan dramatis agar sang kakak tidak mencurigai mereka.
"hai gaya, Maaf aku datang tanpa memberitahumu terlebih dahulu. tadi aku mendengar bahwa rumah makanmu telah selesai di renovasi, karena itu aku datang dan membawakan beberapa bantuan serta alat-alat yang kamu perlukan. aku juga telah mengirimkan beberapa spring bed dan sofa untuk kalian.' ucap Rian kepada Gayatri. Gayatri pun tersenyum mendengar penuturan Rion. Rian pun langsung mengedipkan sebelah matanya yang sukses membuat Gayatri tersenyum.
"Kak perkenalkan, Iya adalah Rion sahabatnya gaya. jadi gaya tidak bohong kalau semuanya berasal dari sahabat gaya. Jadi Kakak tenang saja." tutur Gayatri kepada Diran untuk meyakinkan kakaknya itu. Diran pun berpositif thinking dan mengganggu-anggukkan kepalanya. barangkali adiknya memang memiliki seorang sahabat yang tidak mereka ketahui, karena waktu itu mereka memang jarang berada di rumah akibat terlalu sibuk untuk mencari nafkah agar kelangsungan hidup mereka berjalan dengan baik.
"Oh begitu, kalau begitu terima kasih banyak tuan, sudah membantu adik saya ini. maaf juga telah merepotkan tuan." ucap Diran dengan sopan se sopan-sopannya. Rion pun tersenyum melihat kelakuan Kakak dari Gayatri ini.
"tidak apa Tuan, saya sengaja mengirimkan ini semua kepada Gayatri. lagi pula saya juga akan berpindah dari kota ini, dan tidak ada yang akan merawatnya nanti. jadi tidak ada salahnya jika semuanya digunakan oleh gaya di sini." tutur Rion lagi mencari alasan. Diran pun paham dan mengganggu anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"apakah Tuan akan pindah ke kota lain..??" tanya Diran lagi. saat ini mereka telah mendudukkan tubuh mereka di salah satu kursi yang ada di sana.
"tentu saja tuan, saya sudah berencana untuk pindah ke kota lain. lagi pula Saya di sini hanya tinggal sendiri, sementara orang tua saya berada di kota lain. karena itu saya ingin pindah agar saya dapat berkumpul lagi dengan keluarga di sana." tutur Rion kembali berbohong. Gayatri yang mendengarkan percakapan mereka hanya mampu tersenyum. sebenarnya dalam hati Gayatri juga bersorak mendengarkan kebohongan dari Rion. tapi mau bagaimana lagi, semuanya memang harus seperti ini adanya, agar kakaknya tidak selalu curiga terhadapnya.
***bersambung***