MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
87. pasukan pangeran Arga


akhirnya keputusan itu bulat. Tuan Senopati dan keluarganya serta beberapa murid yang ia latih ikut bersamanya, ada juga beberapa murid yang diperintahkan untuk tinggal menjaga kediaman dan menjaga keamanan para rakyat yang ada di desa lembah lembayun.


saat mereka keluar dari pintu kediaman mereka, mereka terkejut melihat begitu banyaknya pemuda dan pemudi yang berdiri di pintu gerbang kediaman itu. di sana juga terlihat sang pengawal bayangan yang juga ikut berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Ada apa ini.. Kenapa semuanya berdiri di pintu gerbang..??" tanya Tuan Senopati kepada mereka semua.


"maaf tuan Senopati. kami berada dan berdiri di sini untuk menunggu kedatangan tuan. kami yang ada di sini telah memutuskan akan ikut berperang bersama Tuan untuk membela Kerajaan Majapahit ini." ucap salah satu pemuda dengan menggebu-gebu. seulas senyum terpatri di bibir Tuan Senopati. ternyata muda-mudi yang telah diberikan kebebasan oleh putra-putrinya ini, ternyata masih memiliki tingkat kepedulian terhadap kerajaannya.


"terima kasih kalian telah ikut berpartisipasi. kalau begitu tunggu apa lagi. namun, Apakah kepergian kalian ini sudah mendapat restu dari keluarga kalian..??" tanya Tuan Senopati kepada para pemuda dan pemudi itu.


"sudah Tuan Senopati.. mereka semua percaya kepada kami akan kembali dengan selamat dan membawa kemenangan Untuk kerajaan kita."ujar pemuda yang lain. mendengar penuturan Itu Tuan Senopati langsung bersitatap dengan pangeran Mandala yang tengah menyunggingkan senyum di bibirnya.


"kalau begitu, ayo kita berangkat.." ujar Tuan Senopati. semua saudara-saudara Gayatri langsung membuat sebuah portal untuk mengirimkan mereka ke kota Raja.


****


kini mereka telah tiba di pintu gerbang kerajaan istana Majapahit. terlihat di sana, Raja Majapahit dan beberapa pasukan telah siap berangkat. Begitu juga dengan pangeran Sadewa, Iya tidak ingin ditinggal.


pangeran Mandala yang melihat hal itu, Iya buru-buru mendekat ke arah sang ayah dan pangeran mahkota. diikuti oleh Gayatri dan Tuan Senopati serta badiran.


"salam kepada ayahanda..." ucap pangeran Mandala memberi hormat dan diikuti oleh Gayatri dan Tuan Senopati serta badiran.


"kau sudah datang putraku... Maaf keadaan ini cukup genting sehingga harus melibatkanmu.." ucap Raden Wijaya kepada putranya. Raden Wijaya mengerahkan pandangannya ke arah Gayatri yang ternyata juga ikut bersama dengan suaminya.


"Kenapa kamu membawa istrimu nak... kita akan pergi berperang melawan kerajaan itu. sebaiknya yang perempuan suruh pulang saja dan kembali untuk menunggu di sana. jangan mengorbankan mereka..." ucap Raden Wijaya merasa tidak tega. namun rasa itu tiba-tiba langsung diprotes oleh Gayatri.


"tidak ayahanda prabu. kami perempuan dari desa lembah lembayun telah memutuskan untuk ikut berperang melawan kerajaan itu. Kami yakin mereka pasti telah menyusun strategi dengan matang." ucap Gayatri kepada Raden Wijaya.


"ayah, sekarang bukan itu masalahnya. masalahnya adalah, seharusnya ayah dan pangeran mahkota tidak perlu ikut berperang. bagaimana kalau seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. aku sebagai Putra pertamamu, menolak yang mulia raja dan pangeran mahkota ikut turun ke medan perang." ucap pangeran Mandala dengan tegas. sontak semua yang ada di sana pun setuju.


bukan apa-apa, para petinggi istana dan para bangsawan juga telah melarang Raden Wijaya dan pangeran Sadewa untuk ikut berperang ke perbatasan. namun keduanya sama-sama keras kepala ingin ikut berperang.


"Iya Yang mulia. kami juga telah melarangnya, namun yang mulia raja dan pangeran tetap ngotot ingin ikut ke medan perang." aduh salah seorang penasehat istana. pangeran Mandala yang mendengarkan aduan itu langsung mengizinkan matanya ke arah sang ayah dan adik.


"ayah, percayakan saja perang ini kepadaku. dan untuk ayah dan adik, sebaiknya kalian kembali ke istana dan selesaikan urusan di dalam istana saja. supaya pekerjaan tidak menumpuk.." ujar pangeran Mandala dengan lembut. namun dari sorot mata Raden Wijaya begitu tidak rela membiarkan pasukan itu pergi berperang tanpa di bawah pimpinannya. Iya takut, Iya takut akan kehilangan dan tidak bisa melindungi mereka Jika ia berada di istana.


"tapi ayah_" ucapan Raden Wijaya terpotong.


"saya setuju dengan pangeran Mandala yang mulia. sebaiknya yang mulia dan yang mulia pangeran kembali ke dalam istana, jika yang mulia meninggalkan istana lalu siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan di dalam istana. untuk peperangan ini, serahkan saja kepada kami, yang mulia harus mempercayai Putra yang mulia." ujar Tuan Senopati meyakinkan Raden Wijaya. sontak Raden Wijaya menunjukkan kepalanya sejenak, Iya benar-benar dilema.


"Baiklah kalau begitu. pergi dan kembalilah dengan selamat." ucap Raden Wijaya lagi. sebelum pasukan itu pergi dipimpin oleh Tuan Senopati dan pangeran Mandala. terlebih dahulu Raden Wijaya naik ke atas mimbar untuk mengatakan sesuatu.


"dengarkan semua wahai prajurit-prajurit tangguh Kerajaan Majapahit. hal-hal yang harus kalian lakukan di medan perang. pertama utamakan keselamatan diri kalian karena tak hanya kemenangan yang kita tunggu, tapi keluarga kalian juga menunggu kalian pulang. yang kedua, saling membantu dalam peperangan itu, jika kalian sanggup kalau seandainya ada saudara kita yang terluka, maka segera ditolong. dan yang terakhir, bagi siapa yang masih ragu untuk pergi berperang silahkan untuk memisahkan diri." ucap Raden Wijaya lagi.


sontak suasana di sana pun sangat hening. terlihat tak ada satu prajurit pun yang memisahkan diri dari pasukan. bahkan terlihat biner dan ambisi di depan mata mereka, kerajaan mereka sudah lama tidak berperang. dan mereka pikir, saat ini mereka memang harus turun berperang membuktikan bahwa kerajaan Majapahit tidak mudah dijajah.


melihat Tak ada satupun prajurit yang memisahkan diri, Raden Wijaya pun tersenyum bangga, ternyata tak ada prajurit Kerajaan Majapahit yang pengecut.


"baiklah, saya apresiasi dengan keberanian kalian di medan perang. ingatlah pesan-pesanku, dan jangan terpecah belah. walaupun dengan berat hati, aku mengizinkan kalian untuk berangkat ke medan perang. semangat dan semoga para dewa melindungi kalian dari marabahaya." ucap Raden Wijaya mengakhiri pidatonya. akhirnya dengan tidak rela Ia turun dari mimbar, tanpa menyapa Putra sulungnya dan menantunya, Raden Wijaya dan pangeran Mandala langsung memutuskan untuk masuk ke dalam istana diikuti oleh beberapa petinggi-petinggi istana.


"semuanya sudah siap...??" tanya pangeran Mandala lagi...


"siap pangeran...!!!" ucap mereka dengan serentak.


"kalau begitu bersiaplah..." pangeran Mandala dan Gayatri pun langsung membuat sebuah portal yang akan memindahkan mereka dengan cepat ke wilayah perbatasan.


***


saat ini mereka telah sampai di wilayah perbatasan. terlihat beberapa panglima yang sudah mengatur formasi. mereka juga sudah mendirikan beberapa tempat untuk terus memantau.


mereka yang melihat kedatangan pangeran Mandala dan pasukan langsung memberi hormat.


"salam kepada yang mulia pangeran dan permaisuri.." ucap para panglima dan prajurit yang ada di sana.


"bangunlah panglima rakian. Bagaimana keadaan kalian..?? Apakah ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan..." ucap pangeran Mandala langsung pada tujuannya. sementara beberapa pasukan mulai berpencar sesuai dengan instruksi dari tuan Senopati dan putra-putra yang lainnya.


"sejauh ini kami telah menyiapkan beberapa persiapan untuk menghalau pasukan itu. Namun sepertinya masih akan menjebol.." ujar sang panglima. pangeran Mandala pun mendekat ke arah panglima rakian. kemudian langsung menepuk pundaknya dengan pelan.


"tidak perlu khawatir, kalian sudah bekerja keras. untuk peperangan ini, kita akan sama-sama bekerja sama." ujar pangeran Mandala langsung mendapat respon positif dari semuanya.


"mari saling membantu." ucapnya lagi.


sementara Gayatri, ia saat ini telah berada di atas pohon yang tinggi sambil menggunakan alat kekernya. namun saat ini ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan pasukan itu.


"Rion. Kenapa pasukan itu belum kelihatan..??" tanya Gayatri kepada Rion dengan tampang polos.


Rion yang mendapatkan pertanyaan bodoh dari tuannya itu langsung menepuk jidatnya. tentu saja mereka belum kelihatan, diperkirakan mereka akan sampai perbatasan esok hari.


"Ya iyalah Rumi. mereka hari ini tentu saja masih dalam perjalanan. barangkali mereka telah sampai di lapisan pertama pertahanan daerah ini." jelas Rion kepada Gayatri. mendengar protesan yang dilontarkan oleh Rion, membuat Gayatri tersenyum seperti nyengir kuda.


" maaf Rion. jangan memasang tampang kesal seperti itu." ujar Gayatri.


sementara mereka berdebat di atas pohon, di tempat lain pangeran Mandala sedang kebingungan mencari keberadaan istrinya. tak hanya pangeran Mandala, Diran dan ayahnya pun ikut ke limpungan mencari keberadaannya.


tiba-tiba, derap langkah kaki kuda terdengar. dari kejauhan beberapa orang pasukan mendatangi posko itu. Diran dan pangeran Mandala mengerutkan kening melihat kedatangan kelompok tersebut. tapi tiba-tiba, Diran melihat kedatangan saudara angkatnya dengan membawa beberapa pasukan.


"pangeran Arga...!!!" teriak badiran sambil melambai-lambaikan tangannya ikut berlari menghampiri sang saudara.


tentu saja Diran merasa sangat rindu terhadap saudara angkatnya ini. setelah Arga memutuskan untuk kembali ke istana membantu ayahnya dalam kepemimpinan kerajaan, berhari-hari pula Diran merasa rindu terhadap saudaranya itu.


"arga.. Syukurlah, kau baik-baik saja. Jujur saja Kakak sangat merasa khawatir dan juga merindukanmu. semenjak kau pergi kembali ke kerajaanmu, Tak sedikitpun kamu memberikan kabar kepada kami. ingin rasanya aku memecahkan kepalamu..." ucap Diran sambil memeluk tubuh Arga.


Arga yang sedang dipeluk oleh diran, langsung tersenyum mendengarkan ocehan sang kakak. tak dapat dipungkiri, Iya juga sangat merindukan keluarga angkatnya ini. Namun karena ia harus menjadi sosok penerus bagi kerajaannya, Iya sangat sibuk sehingga tidak sempat untuk memberikan kabar kepada keluarga angkatnya itu.


***bersambung***