
sesampainya Raja Pajajaran di kediaman pangeran pandu, Iya langsung menerobos masuk. Iya juga memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada putranya.
"apa yang terjadi pangeran...?? Kenapa kamu tiba-tiba terluka seperti ini.??" tanya Raja Pajajaran kepada pangeran pandu. pangeran pandu tersenyum mendengarkan sederet pertanyaan dari ayahnya.
"aku tidak apa-apa ayah, hanya saja waktu itu aku kurang fokus. sehingga lenganku terkena tebasan..." ucap pangeran pandu pandu dengan tenang.
Raja Pajajaran yang mendengar penuturan dari putranya itu hanya mampu menghela nafas panjang. Bagaimana tidak, semenjak Ibu suri menolak Gayatri menjadi permaisuri dari putranya itu, sikap dan kewaspadaan pangeran pandu menurun. Tak hanya itu, bahkan sikap tegasnya pun sudah tidak terlihat. pangeran pandu berubah menjadi seorang pangeran yang tidak terlalu memperdulikan kekuasaan serta keselamatannya.
"lain kali kamu jangan seperti itu pangeran, ingat kamu itu adalah seorang pangeran yang nantinya akan menjadi raja di Kerajaan ini. Ayah sangat berharap besar kepadamu, jadi tolonglah untuk selalu bersikap waspada." ucap Raja Pajajaran dengan suara memelas. pangeran pandu terdiam sejenak.
"aku tahu ayah..." ucapnya lagi. setelah itu tidak ada obrolan lagi yang terjadi di antara mereka.
***
sementara di Kerajaan Majapahit, Raja Raden Wijaya mulai memikirkan hal yang mengenai ramalan tersebut. walaupun setidaknya ramalan itu tidak terjadi, namun setidaknya mereka sudah memiliki persiapan.
"apa yang harus aku lakukan. sebaiknya aku rundingkan kepada pangeran Mandala dan Sadewa saja." ucap Raja Majapahit lagi. setelah bermonolog pada dirinya sendiri, Raja Majapahit pun langsung mengutus pengawal tercepatnya untuk mengirimkan pesan kepada pameran Mandala.
di tempat lain. pangeran Mandala yang sedang beristirahat melepas lelah karena telah bekerja seharian di ladangnya, kini dikejutkan dengan datangnya seorang pengawal bayangan dari kerajaannya.
"salam kepada yang mulia pangeran. Maaf mengganggu waktu anda yang mulia." ucap sang pengawal sambil membungkukkan badannya di hadapan pangeran Mandala.
ya pengawal itu menerobos masuk ke dalam kediaman yang tak seberapa itu. beruntung pangeran pandu langsung menyadari kalau yang datang itu adalah pengawal suruhan ayahnya.
"katakan ! ada apa pengawal.. Kenapa kamu datang menemuiku malam-malam seperti ini.?" tanya pangeran pandu kepada sang pengawal. pengawal itu kembali menundukkan kepalanya lagi.
"Maaf pangeran, hamba ke sini karena diutus oleh yang mulia raja. hamba ingin menyampaikan surat dari yang mulia." ujar sang pengawal bayangan sambil menyerahkan sebuah gulungan surat kepada pangeran Mandala. pangeran Mandala langsung menerima uluran surat tersebut kemudian tanpa basa-basi ia langsung membacanya.
surat itu menerangkan agar pangeran Mandala datang ke istana membahas mengenai ramalan akan adanya musim kekeringan 1 tahun kemudian yang mungkin akan mengakibatkan terjadinya kelaparan di mana-mana.
pangeran pandu yang membaca surat yang mulia Raja itu tidak terkejut, karena Ia memang sudah mengetahui hal itu. tak hanya Iya yang mengetahuinya, Tuan Senopati dan keluarganya pun telah mengetahui pasal ramalan itu. mereka juga sudah membuat persiapan.
"baiklah, sebaiknya kamu tidak usah kembali ke istana malam ini. kita akan kembali bersama-sama besok, Namun kita juga akan menyertakan Tuan Senopati dan keluarganya." ucap pangeran pandu kepada sang pengawal bayangan. pengawal bayangan itu pun langsung memberi hormat kembali.
"baik yang mulia pangeran." setelah percakapan singkat mereka. pangeran pandu dan pengawal bayangan itu langsung beristirahat sesuai dengan posisinya masing-masing. pangeran pandu juga telah mengirim telepati kepada ayahnya bahwa ia akan datang bersama dengan Tuan Senopati dan keluarganya yang bersedia ikut ke istana Untuk merundingkan masalah ini. dan itu tidak masalah bagi yang mulia Raja Majapahit.
***
keesokan harinya, pangeran Mandala dan pengawal bayangan langsung pergi menuju kediaman Tuan Senopati. sebelum mereka menuju kediaman itu, terlebih dahulu pangeran Mandala sudah melakukan telepati kepada Gayatri dan kedua kakaknya. untuk memberitahu bahwa mereka akan datang ke kediaman untuk mengajak Tuan Senopati serta keluarganya untuk ke istana, agar dapat membahas mengenai ramalan kekeringan yang akan terjadi Satu tahun lagi.
akhirnya pangeran Mandala dan pengawal bayangan itu sampai di kediaman Tuan Senopati. sesampainya mereka di sana, ternyata Tuan Senopati dan ketiga anak-anaknya itu telah berdiri di gerbang kediaman mereka, menunggu kedatangannya.
"salam kepada yang mulia pangeran.." ucap Tuan Senopati dan anak-anaknya,, setelah mereka melihat kedatangan pangeran Mandala di sana.
"tidak perlu seperti itu Tuan Senopati, lagi pulang mungkin sebentar lagi aku akan menjadi menantumu hehehe.." ucap pangeran Mandala bercanda kepada mereka. Tuan Senopati dan keluarganya tersenyum mendengarkan candaan dari pangeran Mandala.
Begitu juga dengan Gayatri, entah kenapa tidak dapat ia pungkiri bahwa hatinya benar-benar menghangat mendengar ucapan dari pangeran Mandala. pasalnya sudah hampir setahun ini pangeran Mandala tinggal di pemukiman lembah lembayung ini, cukup memberikan tempat di hati Gayatri.
bukan karena pangeran Mandala adalah seorang pangeran, namun sebelum identitas pangeran Mandala terbongkar, Gayatri sudah lebih dulu mengagumi sosok itu.
"bagaimana dek gaya...??" tanya pangeran Arga dan Diran kepada adik mereka. akhir-akhir ini mereka suka sekali menggoda Gayatri. mereka juga tidak masalah dengan pangeran Mandala, karena sesuai dengan penilaian mereka, pangeran Mandala adalah orang yang hidup sederhana dan mungkin akan jauh dari intrik-intrik politik yang ada di dalam istana.
sementara Gayatri yang digoda seperti itu, lagi-lagi hanya bersikap malu-malu kucing. Iya tak henti-hentinya menundukkan kepalanya karena malu, apalagi pipinya sudah menyemburkan rona merah jambu.
"Baiklah pangeran, Apakah kita akan berangkat sekarang..??" tanya Tuan Senopati menghentikan aksi goda menggoda anak-anaknya kepada putri semata wayangnya.
"Oh tentu saja Tuan Senopati. ayo..." ajak pangeran Mandala. pangeran Mandala membuat sebuah teleportasi untuk memudahkan mereka sampai di istana tanpa harus berlelah-lelah menempuh perjalanan jauh.
satu persatu mereka mulai memasuki lingkaran yang berwarna kelam itu, yang langsung menghubungkan mereka di depan pintu gerbang istana Majapahit.
***
dan di sinilah mereka sekarang. duduk berkumpul bersama dengan yang mulia Raden Wijaya, pangeran mahkota yaitu pangeran Sadewa dan ratu madila.
mereka berkumpul di taman belakang istana, perundingan ini akan mereka lakukan secara kekeluargaan saja. Mereka ingin melakukan gladi resik sebelum akhirnya meminta persetujuan para bangsawan yang lain.
"Jadi, saya sengaja mengundang Tuan Senopati dan juga pangeran Mandala untuk sekedar berunding kecil-kecilan, sebelum akhirnya nanti meminta persetujuan para bangsawan dan petinggi-petinggi istana. Saya ingin meminta pendapat mengenai ramalan yang akan terjadi satu tahun kemudian.." ucap Raja Majapahit langsung kepada tujuannya.
" bisakah Tuan Senopati memberikan sedikit masukan..??" tanya Raja Majapahit itu. untuk perkumpulan seperti ini, Raja Raden Wijaya tidak menempatkan dirinya sebagai raja Majapahit. malahan ia lebih menempatkan dirinya berbincang sederhana kepada sahabat-sahabatnya.
"mohon maaf sebelumnya Yang mulia. tapi saya mengucapkan terima kasih banyak karena sudah melibatkan kami. sebenarnya untuk ramalan kekeringan yang akan terjadi Satu tahun lagi itu sudah pasti akan terjadi, kami juga rakyat yang ada di pemukiman lembah lembayun sudah melakukan persiapan."tutur Tuan Senopati. sementara yang lainnya diam dan mendengarkan termasuk Raden Wijaya dan istrinya.
"saat ini, satu lahan telah kami fokuskan untuk menanam padi dan gandum. karena menurut perhitungan, padi dan gandum ini akan dipanen setelah 3 bulan penanaman. akhirnya kami memutuskan untuk menanam kedua benih itu." ucap Tuan Senopati lagi.
"setelah dua benih ini dipanen, kami akan menyimpannya di tempat penyimpanan yang sudah kami siapkan. Begitu juga dengan tanaman-tanaman yang tahan lama. kami juga telah menggali atau menyediakan beberapa tong untuk menampung air yang kemungkinan akan dibutuhkan lebih banyak dari yang kita tampung." ujar Tuan Senopati lagi. sementara pangeran Mandala hanya mendengarkan saja, karena semua ide itu berasal dari Gayatri. pangeran Mandala memang memberikan beberapa ide, namanya juga yang berasal dari dunia ini, mereka belum tahu tempat penampungan yang setidaknya modern.
"lalu Bagaimana cara melakukannya Tuan Senopati. dan kenapa harus menanam padi juga, beras itu kan hanya untuk makanan rakyat miskin.." ucap Raja Majapahit sedikit menyinggung penanaman padi. Tuan Senopati tersenyum mendengar penuturan dari rajanya.
"mohon maaf yang mulia, kami semua yang ada di lembah lembayung itu semuanya adalah rakyat jelata. dan tentu saja beras itu cocok untuk kami, namun jika dibandingkan gandum dengan padi, Kami memang lebih cocok ke padi." tutur tuan Senopati lagi. Raja Majapahit itu pengganggu-anggukkan kepalanya mengerti.
"lalu Tuan Senopati, solusi Apa yang akan kita ambil untuk menanggulangi bencana itu nanti." tanya Raden Wijaya lagi.
***bersambung***
Maaf ya teman-teman, jika penulisan dan ceritanya tidak menyambung atau masih ada salah-salah tulis. 🙏🙏