
sementara di tempat rumah makan Gayatri, hari ini tengah terjadi keributan akibat ulah adiwangsa yang menyuruh beberapa orang untuk mematikan usaha adiknya itu. agar Tuan Senopati mau bekerja sama dengan tuan adiwangsa untuk membagi resep masakan dan juga rancangan bangunan yang mewah itu.
Brak...
semua yang ada di rumah makan itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga dengan para pelayan yang melayani para pembeli.
"Siapa yang memasak makanan ini..!! benar-benar tidak becus, masak di dalam piring saya terdapat beberapa helai rambut dan remahan roti..!! ini sangat menjijikan..!!" seru orang itu.
mendengar penuturan yang seperti itu, para pelanggan yang dulunya duduk dengan tenang mulai kasat kusut. mereka mulai membolak-balikkan makanan mereka untuk menemukan keanehan di sana.
"di mana pemilik rumah makan ini..!!" seru orang itu lagi. tak lama Tuan Senopati pun keluar, Tuan Senopati memang sedang berjalan di sekitar rumah makan untuk melepas lelah akibat merekap semua penghasilan rumah makan ini.
"ada apa ribut-ribut...?" tanya Tuan Senopati. mendengar suara tuan Senopati, semua orang langsung mengarahkan pandangannya ke sana. begitu juga dengan para pelayannya. sementara, orang yang membuat ulah tersenyum sinis. salah satu pelayan mendekat dan memberi hormat.
"ampun tuan, ini adalah kelalayan kami dalam melayani. katanya, makanan penuh dengan rambut dan remahan roti." jelas pelayan itu dengan menunduk dan tak berani menatapa majikan nya.
tuan Senopati, yang melihat rasa bersalah dari pelayanan pelayan rumah makannya itu tersenyum, ia menepuk pelan pundak sang pelayan. kemudian tuan Senopati berjalan mendekat. ia mengamati makanan yang dipenuhi dengan rambut dan remahan itu. kemudian ia juga menatap sang pengunjung itu. kemudian tersenyum sinis. Sang pengunjung pun langsung menyerang dengan kata-kata.
"Anda bagaimana melayani para pembeli.!! kenapa makanan yang kalian sajikan dipenuhi dengan rambut dan remahan roti..!!" serunya lagi dengan sedikit mengejek.
"kalian benar-benar membuat rusak citra rumah makan kalian sendiri dengan menyajikan makanan ini." ucap nya lagi.
"katanya, ini adalah rumah makan terkenal dan enak, tapi kok makanan di penuhi dengan rambut, benar-benar menjijikkan..!!" sarkas orang itu lagi.
orang orang disana berkasat kusut. tapi tak ada satupun yang beranjak dari sana. pelanggan pelanggan tetap rumah makan itu, mereka tidak peduli sama sekali. sehingga membuat sang pembuat onar merasa geram.
" lihatlah, sepertinya dia pendatang baru dirumah makan ini. kita sudah makan hampir setahun lamanya di rumah makan ini. tapi, aku belum mendapatkan apa yang diucapkan oleh pendatang itu." ucap salah satu pelanggan yang ada disana.
"mungkin ia hanya ingin menjebak tuan Senopati saja." ujar yang lain.
"ssstt... diamlah, kita akan lihat, apa yang akan dilakukan oleh tuan Senopati." ucap yang lain. sementara tuan Senopati masih berdiam diri dan hanya memberikan seulas senyum kepadanya. sungguh, itu sudah menjadi makan tuan Senopati, sebelum dibuang dari keluarga.
tuan Senopati langsung tau, kalau orang ini adalah suruhan dari kakaknya, tuan adiwangsa. karena, sebelum bertemu adiwangsa, belum ada yang melakukan hal ini.
"kenapa anda diam saja tuan. Anda benar-benar tidak bertanggung jawab. beginikah sikapmu terhadap pembeli mu tuan..!!" geramnya lagi. ia belum mendapatkan apa yang di inginkan. ia juga tentu ingin meminta ganti rugi. mendengar itu, tuan Senopati kembali terkekeh.
"mohon maaf sebelumnya tuan, anda pendatang baru disini..??" tanya tuan Senopati dengan tenang. sementara para pelayan, mulai kembali melayani para pengunjung. bahkan tak ada yang peduli dengan perdebatan itu. namun mereka tetap memasang telinga.
"apakah itu perlu tuan..!!! bukankah yang datang membeli tidak harus menyebutkan identitas nya..!!" geramnya lagi. sikap tenang yang ditunjukkan oleh tuan Senopati mampu membuat pembuat onar itu tidak tenang, karena mangsanya tidak terpengaruh sama sekali.
"bukan begitu tuan. Saya tidak menanyakan identitas tuan, tapi Saya hanya menanyakan apakah ini pertama kali Anda mengunjungi rumah makan kami. karena saya selalu melakukan patroli setiap hari, dan tidak melihat kedatangan anda. para pelayan saya juga yang bertugas melayani para pengunjung, mereka juga baru melihat anda hari ini." tutur Tuan Senopati dengan tenang.
"memangnya kenapa kalau saya baru pertama kali mengunjungi rumah makan ini. seharusnya, pertama kali saya berkunjung itu memberikan kesan yang baik terhadap rumah makan ini. tapi nyatanya, rumah makan ini tak seindah dan tak serama yang saya pikirkan. bahkan makanan yang mereka sajikan pun penuh dengan rambut. Apakah begini caramu dan para pelayanmu melayani para pembeli mu Tuan...!!" seru orang itu lagi dengan panjang lebar. Iya terus melayangkan senyum sinis walaupun dalam hatinya merasa jengkel. Tuan Senopati terkekeh lagi.
"anda jangan berkelit tuan, seharusnya anda yang membayar ganti rugi kepada saya. karena saya yang memakan makanan yang dipenuhi dengan rambut itu."; ucap pembuat onar itu lagi tidak terima. Tuan Senopati tersenyum Lagi.
"anda benar-benar tidak ingin mengaku Tuan..?? baiklah.." Tuan Senopati malas berdebat, akhirnya ia melihat ke arah satu pelayannya yang sudah berada di sebuah tombol yang berwarna merah itu. Tuan Senopati menganggukkan kepalanya dan langsung tombol itu dipencet oleh sang pelayan.
dalam sesaat ruangan itu menjadi gelap, kemudian dinding-dindingnya mulai memperlihatkan gerak-gerik dari tuan pembuat onar ini. ternyata, Gayatri sudah memasang beberapa CCTV dan menggunakan dinding sebagai layar tancapnya. di sana gerak-gerik pembuat onar itu mulai terlihat.
saat makanan disajikan di meja, sang pembuat onar mencicipi makanan itu sebelum menaruh rambut dan remahan roti di atas makanan tersebut, kemudian mengaduknya. setelah itu ia mulai mengajukan protes kepada para pelayan, dan seperti yang terlihat secara nyata.
pembuat onar itu langsung memerah malu atas perbuatan yang telah ia lakukan. tanpa menunggu dan bertanggung jawab, Iya langsung melarikan diri. Namun ternyata tidak bisa, karena beberapa pelayan yang menjaga pintu masuk langsung mencekal dan menangkap pria tersebut.
"lepaskan aku!!! lepaskan aku!!! aku tidak bermaksud merusak nama baik ke rumah makan ini..!!! aku hanya disuruh..!!!" ucapnya dengan reflek. tuan Senopati yang mendengarkan pengakuan tidak sengaja itu langsung tersenyum sinis. tentu saja ia sudah tahu siapa dalang di balik semua ini.
"bawah dia ke ruangan bawah tanah dan kurung dia di sana sampai menjawab Siapa yang telah menyuruhnya." perintah Tuan Senopati dengan suara yang dingin. tanpa menunggu lama, para pengawal itu pun langsung menyeret pria pembuat onar itu dan memasukkannya ke ruang bawah tanah. serta mengurung nya di sana Dan juga menanyai keterangan tentang siapa yang telah menyuruhnya.
para pengunjung yang melihat betapa datar dan dinginnya ucapan dari tuan Senopati, membuat mereka bergidik ngeri. setahu mereka, Tuan Senopati adalah seorang yang ramah dan lemah lembut terhadap mereka. Namun ternyata mampu menjadi seorang singa ketika diusik. tentu saja pelanggan pelanggan yang lain akan berfikir dua kali untuk menjebak rumah makan ini.
dari sorot matanya saja, mereka sudah tahu kalau Tuan Senopati saat ini bukanlah orang sembarangan.
***
akhirnya Gayatri dan rombongannya sampai di rumah makan mereka. saat mereka masuk, masalah yang menimpa sudah dibereskan oleh Tuan Senopati. begitu mereka masuk, tatapan orang-orang langsung teralihkan kepada mereka. bahkan para pelayan pun tak ada yang mengenali Gayatri dan kedua kakaknya. salah satu pelayan senior pun langsung mendekat dan menyapa Gayatri dan rombongannya itu.
"selamat datang tuan tuan dan Nona. silakan duduk." ucap pelayan yang bernama pelayan asep itu. pelayan Asep adalah seseorang yang menjual bangunan rumah makan ini kepada Gayatri. dan ia juga menjadi manajer di rumah makan ini seperti yang diterangkan pada bab sebelumnya.
"paman Asep, Aku ingin bertemu dengan ayah dan ibu." ucap Gayatri dengan hangat. Tuan Asep yang mendengar namanya dipanggil langsung mengangkat kepalanya dan mengamati orang-orang itu. dari sorot mata Gayatri seperti tidak asing, namun jika pun benar dengan pikirannya, Kenapa tampilannya tidak sama dengan perempuan yang ia pikirkan.
"maksud nona..??" tanya Tuan Asep tidak mengerti. Gayatri terkekeh melihat kebingungan yang tercetak jelas di wajah Tuan Asep itu.
"paman, belum genap 1 tahun kami meninggalkan rumah makan ini. kalian sudah tidak mengenali kami, Bagaimana kalau Kami pergi belajar bertahun-tahun lamanya.." ucap Gayatri sambil menepuk pelan pundak sang Paman menurutnya.
Tuan Asep yang mendengarkan penuturan itu langsung membulatkan matanya.
"Apakah Nona adalah Nona kami..?? dan ini.._" tanya pelayan Asep dan dibalas anggukan kepala oleh Gayatri.
"Iya paman, aku Gayatri. ini adalah kedua kakakku. dan selebihnya adalah keluargaku, yang juga sudah ku anggap sebagai kakak-kakakku. tolong kasih tahu pada ayah dan ibu Kalau kami telah kembali, Dan tolong Paman siapkan makanan untuk kami di halaman belakang rumah makan ini." ucap Gayatri sambil memesan makanan mereka. pelayan Asep pun langsung mengangguk setuju kemudian langsung berlalu memberitahu beberapa pelayan untuk menyiapkan makanan di halaman belakang, setelah itu memberitahu tuannya tentang kepulangan Nona mereka.
sementara Gayatri dan kakak-kakaknya, berjalan menuju halaman belakang rumah makan itu. di mana di halaman belakang itu dirancang oleh Gayatri sebagai tempat peristirahatan yang sejuk dan menyenangkan.
***bersambung***