
kini di aula pertemuan Kerajaan Majapahit sedang mengadakan perundingan. di mana tiba-tiba seorang peramal datang menemui sang raja. salah seorang pengawal menyampaikan kedatangan sang pengawal.
"mohon maaf Yang mulia prabu. diluar ada seorang peramal ingin bertemu." ucap sang pengawal sambil membungkuk kan badannya. orang orang yang ada di sana pun menjadi ricuh. mereka bertanya tanya, ada apa gerangan sang peramal datang tiba-tiba.
"ada apa ya.. tidak biasanya seorang peramal datang menghadap yang mulia." ucap salah satu orang yang ada disana. yang lain pun mulai berkasat kusut.
"mm... suruh peramal itu menghadap." ucap sang raja. walaupun ia merasa penasaran juga, namun ia berusaha untuk bersikap normal.
"baik yang mulia." setelah itu pengawal itu pun membungkuk hormat dan langsung undur diri dari hadapan Raja Majapahit. setelah pengawal itu menghilang dari balik pintu, tak lama seorang peramal datang menghadap kepada Raden Wijaya.
"salam hormat hamba yang mulia raja." ucap sang peramal sambil memberi hormat kepada sang raja.
"salam mu kuterima. Katakan, Apa yang membuatmu datang menghadapku." ucap sang raja. peramal itu pun kembali membungkukkan kepalanya dan mulai kepada tujuannya.
"mohon maaf Yang mulia raja. saya tidak sengaja meramal keadaan yang akan terjadi satu tahun kemudian. di mana, seluruh negeri ini akan dilanda kekeringan yang berkepanjangan. karena itu hamba datang menghadap ingin memberitahukan kabar ini kepada yang mulia prabu. hamba hanya ingin yang mulia berwanti-wanti jika sekiranya ramalan ini benar terjadi." ucap sang peramal kepada raja Majapahit itu.
mereka semua yang ada di sana terkejut mendengarkan ramalan yang akan terjadi satu tahun kemudian. tentu saja mereka harus melakukan persiapan, sebelum waktu yang diramalkan itu tiba.
"Apakah kamu sudah yakin Tuan peramal..??" tanya Raden Wijaya lagi. keningnya mengerut. jika seandainya ramalan ini benar terjadi, maka ini memanglah sebuah musibah yang harus segera diatasi, agar pada saat kekeringan itu tiba, rakyatnya tidak merasakan kelaparan atau semacamnya.
"karena ini hanyalah sebuah ramalan, saya bisa percaya dan juga tidak bisa percaya yang mulia. namun ramalan-ramalan saya sudah sering terjadi. oleh karena itu, untuk berjaga-jaga alangkah baiknya kita menyiapkan diri agar tidak ketar-ketir ketika musibah itu datang." jelas peramal itu lagi. tentu saja Raja Majapahit juga tidak ingin rakyatnya kelaparan di saat musim kekeringan itu tiba
Iya tahu, saat musim kekeringan itu tiba, semua penghasilan yang didapatkan oleh kerajaan serta hasil kebun atau sebagainya itu akan sangat sulit.
"Baiklah kalau begitu. bener yang kamu katakan Tuan peramal, Tidak ada salahnya kita mempersiapkan diri kita jika seandainya musibah itu benar terjadi." ucap Raja Majapahit itu.
"lalu, Apakah ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan Tuan peramal.?" tanya Raja Majapahit lagi. peramal itu kembali membungkuk.
"Hanya itu yang bisa saya ramalkan untuk sekarang yang mulia. namun jika ada hal lain, yang menyangkut dengan kerajaan hamba pasti akan datang menghadap kembali." ucap sang peramal itu kembali.
"Baiklah yang mulia. hal yang ingin saya sampaikan sudah saya sampaikan, kalau begitu saya pamit undur diri. terima kasih yang mulia sudah meluangkan waktu untuk saya." ucap sang peramal. setelah mendapatkan persetujuan dari Raja Majapahit, peramal tersebut langsung meninggalkan istana kerajaan dan kembali ke tempatnya.
***
di tempat lain, Kerajaan Pajajaran dan kerajaan Purbalingga juga mendapatkan ramalan akan terjadinya kekeringan di tahun yang akan datang, semua yang ada di sana juga ketar-ketir mendengarkan kabar itu. ada yang percaya ada juga yang tidak percaya mengenai ramalan tersebut.
"bagaimana kalau seandainya ramalan ini benar terjadi yang mulia raja..??" tanya seorang bangsawan kepada Raja Pajajaran. Raja Pajajaran memijit pelipisnya yang tiba-tiba merasa pusing. sepertinya ia mengalami jalan buntu mengenai masalah ini.
sementara sang pangeran, sejak ditolaknya Gayatri menjadi permaisurinya oleh ibu suri. ya lebih memilih untuk menyibukkan dirinya di luar ketimbang harus berada di dalam istana. Iya benar-benar merasa dirinya tidak berdaya sama sekali. Iya juga berkali-kali menyalahkan dirinya yang tidak mampu mempertahankan cintanya kepada Gayatri.
"entahlah, yang pasti sebelum bencana itu terjadi, kita harus mempersiapkan diri. mulai dari mempersiapkan bahan pangan, lauk pauk dan sebagainya. agar pada saat musim kekeringan itu datang, kita masih memiliki bahan makanan yang sudah disiapkan."ujar sang raja.
raja-raja tentu saja merasa pusing mendengarkan ramalan ini. karena dengan datangnya bencana kekeringan ini, tak hanya perut mereka yang mereka pikirkan. mereka juga harus memikirkan rakyat-rakyat mereka yang kelaparan, yang tentu saja semua bergantung kepada pemimpinnya.
"Arlan, segera cari pangeran pandu untukku. suruh dia menemuiku di ruang kerja."titah Raja Pajajaran kepada pengawal kepercayaannya.
"baik yang mulia prabu."ucap sang pengawal. setelah itu pengawal langsung pamit undur diri untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan kepadanya.
Begitu juga dengan Raja Pajajaran, setelah kepergian sang pengawal ia langsung membubarkan pertemuan saat itu juga. mereka akan kembali berkumpul keesokan harinya, Iya juga memberikan sedikit wejangan kepada para bangsawan untuk memberikan atau memikirkan solusi untuk mengantisipasi bencana kekeringan ini nanti.
***
dari kejauhan, Iya mendengar suara pertarungan yang sedang berlangsung di sebuah lorong yang sempit. dengan penuh penasaran, pengawal Arlan mengendap-endap serta melompat kesana kemari untuk bisa menemukan tempat perkelahian itu.
saat itu juga mata pangeran Arlan langsung membulat. pasalnya ia melihat pangeran pandu tidak fokus dalam pertarungan itu, sehingga membuat ia terluka. Begitu juga dengan para pengawal kepercayaannya, tampaknya lawan pangeran pandu bukanlah orang-orang biasa pada umumnya. Namun sepertinya kekuatan mereka hampir menyamai pangeran pandu.
namun jika seandainya pangeran pandu fokus dalam pertarungan itu, pangeran pandu tidak akan terluka seperti sekarang ini. hanya saja ia sedang tidak fokus bertarung dengan lawan-lawan yang seimbang, karena pikirannya terus mengarah kepada Gayatri dan Gayatri.
srek...
satu buah pedang langsung menggores lengan sang pangeran. melihat hal itu, pengawal Arlan langsung bergegas menolong sang pangeran. karena tenaga para perusuh itu telah habis terkuras akibat bertarung dengan pangeran pandu, sehingga memudahkan pengawal Arlan mengalahkan mereka semua.
"cepat lindungi pangeran..!!" serupa pengawal arlan kepada Arya yang juga sudah mendapat luka di tubuhnya. pengawal Arya yang mendengarkan teriakan Arlan langsung bergegas menuju ke arah sang pangeran yang terus bertahan dari serangan-serangan yang dilancarkan kepadanya.
sreng sreng
bag bug bag bug
suara pedang terdengar nyaring di telinga, serta pukulan-pukulan yang terus dilayangkan oleh pengawal Arya ke arah lawan. akhirnya dengan bantuan pengawal Arlan, lawan Mereka banyak yang tumbang dan banyak juga yang melarikan diri.
"pangeran ayo kita kembali ke istana..!!" ucap pengawal Arya dengan perasaan cemas. setelah cukup lama bertarung, pengawal Arlan pun mendekat ke arah mereka.
"Bagaimana kondisi pangeran, ayo pangeran kita harus segera kembali untuk mengobati luka pangeran.." ucap mereka dengan panik. sementara pangeran pandu hanya tersenyum sinis mengejek dirinya sendiri.
"sudahlah, kalian tidak perlu sekawatir begitu. aku tidak apa-apa. Ya sudah ayo kita kembali ke istana." setelah mengatakan hal itu, pangeran pandu langsung menggunakan ilmu teleportasi untuk menuju istana.
***
di kediaman pangeran pandu.
ratu kerajaan Pajajaran itu terkejut melihat putranya yang terluka dan bersimbah darah.
"arhh putraku..!! apa yang terjadi denganmu nak..!! Kenapa kamu sampai terluka seperti ini..!!" histeris sang ratu. Ia tidak menyangka bahwa ia akan melihat putranya terluka. padahal pangeran pandu sudah berada di tingkat ilahi, dan kenapa ia harus terluka seperti ini.
tanpa memberikan banyak pertanyaan kepada sang anak, ratu pun langsung memerintahkan untuk memanggil tabib istana.
"segera panggil tabib Arya, Oh tidak Arlan saja. kamu terluka.." ucap sang ratu lagi meralat ucapannya. ia tidak tega melihat Arya yang terluka.
"Baiklah yang mulia ratu." pengawal Arlan pun langsung bergegas memanggilkan seorang tabib untuk memeriksa pangeran pandu.
tak lama pengawal Arlan datang bersama dengan seorang tabib, dan juga Raja Pajajaran yang menyusul di belakangnya.
raja Pajajaran sangat terkejut mendengar putranya terluka. pasalnya, pangeran pandu adalah orang yang terkuat, kok bisa-bisanya ia terluka. itulah pikir raja Pajajaran.
***bersambung***