
semua yang ada di aula pertemuan itu langsung menganga tak percaya. bukan apa-apa, mereka memang mengenal Mandala sebagai seorang pangeran yang berhati mulia. ia tidak pernah membeda-bedakan teman. hanya saja ia memang pangeran yang unik, yang tidak senang dengan kekuasaan yang berlimpah, ia lebih senang dengan kehidupan yang sederhana tanpa adanya intrik-intrik politik.
raja Majapahit tersadar dari keterkejutan nya. ia berdehem untuk mencairkan suasana.
"Hem... memang untuk apa kereta kuda itu pangeran..??" tanya raja Majapahit itu. Mandala kembali membungkukkan kepalanya.
"mohon ampun Yang mulia. kereta kuda itu ingin hamba gunakan sebagai salah satu transportasi pengangkut barang bagi penduduk yang bermukim di lembah lembayun." ucap pangeran Mandala. lagi-lagi Raja Majapahit itu mengerutkan keningnya. lembah lembayun, nama itu seolah tak asing di telinganya. tapi bukankah lembah lembayung itu tidak berpenghuni atau di sana tidak ada penduduk sama sekali. begitulah pikir Raja Majapahit.
"maksud pangeran, ada penduduk yang bermukim di sekitar lembah lembayun. tapi kenapa ayahanda baru mendengarnya hari ini..??" tanya Raja Majapahit lagi dengan penuh keheranan. tak hanya Raden Wijaya yang merasa heran, para bangsawan serta petinggi-petinggi istana juga merasa heran. pasalnya memang di sana tidak ada masyarakat atau warga yang bermukim di tempat itu. selain akses dari kota Raja cukup jauh, di sana juga dikabarkan cukup membuat kita menjadi waspada karena banyaknya binatang-binatang yang buas berada di sekitar hutan itu.
lagi-lagi pangeran Mandala membungkukkan kepalanya di depan Raja Raden Wijaya.
"mohon ampun Yang mulia raja. dulunya di sana memang tidak ada pemukiman. menurut penuturan warga yang hamba dengar, mereka semua adalah mantan-mantan budak yang dibeli oleh satu keluarga. Namun karena tidak tega mempekerjakan budak-budak itu, keluarga itu mengambil beberapa inisiatif. Di mana para orang tua yang sudah dianggap sepuh dibebaskan dari perbudakan dan diberikan tempat tinggal di sekitar lembah itu. sementara para orang tua atau paru-paru baya ada yang memilih mengabdi kepada keluarga tersebut, ada juga yang memilih untuk berkebun dan mengolah tanah-tanah di sekitar lembah itu. sementara anak-anak dan muda-mudi dijadikan dan dilatih sebagai layaknya sebagai seorang ksatria untuk pertahanan diri sendiri. di desa itu juga suasananya sangat sejuk yang mulia, di mana hamparannya terdiri dari tanaman sayur-sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian." tutur pangeran Mandala menjelaskan panjang lebar kepada raja Majapahit itu.
semua orang menganga tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh pangeran Mandala. setahu mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun lembah itu. apalagi menurut mereka lembah itu hanya sedikit dataran rendahnya. namun dapat mereka simpulkan dari cerita pangeran Mandala bahwa pemukiman itu terbayang di pikiran mereka sudah menjadi tempat menetap bagi warga yang ada di sana. terlihat Raja Majapahit itu mengganggu anggukkan kepalanya.
"Baiklah pangeran. namun Ayah masih cukup penasaran dengan ceritamu, Jadi sebelum Ayah memberikan bantuan, alangkah baiknya Ayah melihat sendiri kondisi di daerah itu. karena walaupun lembah lembayun itu cukup jauh, namun itu masih menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit." ungkap Raden Wijaya kepada putranya.
"Baiklah ayahanda, dengan senang hati Ananda akan menuntun ayahanda ke sana." ucap pangeran Mandala dengan penuh hormat.
"maafkan hamba yang mulia karena sudah menyelah. biarkan hamba juga ikut ke sana, hamba juga penasaran dengan cerita dari pangeran. rasanya perubahan lembah lembayung itu cukup membuat tercengang." ungkap salah satu penasihat istana yang ada di sana. Raja Majapahit itu pun mengganggu anggukkan kepalanya lagi.
"baiklah, kau boleh ikut. dan kamu kesatria Pramuga. siapkan keberangkatan kita hari ini." ucap Raja Majapahit telak. pramuga yang di singgung pun langsung membungkukkan kepalanya memberi hormat.
"hamba yang mulia, perintah yang mulia segera dilaksanakan." setelah mengucapkan hal itu, pramuga pun langsung bergegas menyiapkan Apa yang diperintahkan oleh raja Majapahit. tak lupa pula mereka membawa 5 kereta kuda permintaan pangeran Mandala.
untuk sementara, Raden Wijaya memang membawa lima kereta kuda saja. karena dalam pikirannya, pemukiman itu pasti tidak cukup besar. kemudian penghasilan dan hasil kebun Mereka pun masih ia ragukan. Pasalnya di wilayah kekuasaannya ini, tak ada tanaman yang menanam sayur-sayuran buah-buahan dan juga umbi-umbian. mereka hanya mengandalkan hasil hutan, dan selain hasil hutan Mereka juga hanya mengandalkan perkebunan gandum yang bisa menghasilkan berton-ton per tahunnya.
***
kini rombongan Raja Majapahit mulai bergerak menuju wilayah lembah lembayun dengan dipimpin oleh pangeran Mandala yang menaiki kuda dengan aura yang berwibawa.
para rakyat mengiringi perjalanan raja dan pangeran sampai di pintu masuk kota kerajaan. di sana banyak gadis-gadis yang terus memuji-muji ketampanan pangeran Mandala.
"pangeran Mandala begitu tampan, walaupun dia hanya mengembara dan tidak duduk santai di dalam istana. namun aura kepemimpinan serta wajah tampannya tidak berkurang sama sekali." puji salah satu Nona bangsawan yang menyertai perjalanan mereka sampai menuju gerbang kota Raja.
"kamu bener, tapi pangeran itu cukup tidak memuaskan. Bagaimana mungkin kekayaan yang berlimpah yang ia miliki, tak membuat ia menjadi seorang pangeran atau bangsawan yang aku inginkan. kalau hidup susah seperti ini, Aku tidak mau menginginkannya. namun ketika melihat wajah tampannya yang sangat berkarisma dan menggoda itu, membuatku ingin menjadikannya sebagai pemuas nafsuku saja." ucap perempuan itu sedikit bergurau dengan teman-temannya.
"hus !! hati-hati atas ucapanmu.. yang kita bahas adalah seorang pangeran.. bisa-bisanya kamu mengatakan hal vulgar itu di saat di sini banyak orang yang berkeliaran." tegur temannya lagi.
garis-garis bangsawan itu tak henti-hentinya membicarakan pangeran Mandala yang menurut mereka keputusan yang pangeran Mandala Ambil malah membuat ia susah sendiri.
namun tak sedikit pula wanita-wanita bangsawan yang mengharapkan pangeran Mandala menjadi suaminya. dikarenakan wajah tampan yang sangat mempesona itu begitu sangat memikat kaum para hawa.
di depan gerbang pintu masuk Kerajaan Majapahit.
"ayahanda, kita akan ke desa lembah lembayung dengan menggunakan ilmu teleportasi. karena kalau kita tidak menggunakan kekuatan itu, maka kita akan sampai sekitar 3 minggu kemudian." tutur pangeran Mandala lagi. Raja Majapahit itu pun mengganggu anggukkan kepalanya.
"Kamu benar putraku. Mengingat tempat itu sangatlah jauh dari Kotaraja. lalu tunggu apa lagi, segera lakukan." ucap Raja Majapahit lagi. setelah mengatakan hal itu pangeran Mandala mulai melafazkan mantra-mantra untuk membuat sebuah jalan. tak lama di sana terlihat sebuah lubang yang menganga besar namun menunjukkan tempat lain di dalamnya.
"sudah yang mulia. Mari.." ucap pangeran Mandala mempersilahkan ayahnya masuk terlebih dahulu. setelah itu beberapa orang dan prajurit lainnya ikut menyusul Begitu juga dengan pangeran Mandala dan beberapa bangsawan yang memutuskan untuk ikut.
sementara untuk kepemimpinan kerajaan, sementara waktu diserahkan kepada putra mahkota adik dari pangeran Mandala yaitu, pangeran Sadewa.
pangeran Sadewa adalah anak kedua dari Raja Majapahit dan istrinya ratu madila. pangeran Sadewa juga menentang keras pengangkatannya menjadi seorang putra mahkota, namun sang raja sudah tidak mengindahkan permintaan anak-anaknya lagi. pasalnya selain pangeran Mandala, pangeran Sadewa juga memiliki kriteria sebagai seorang pemimpin.
***
kini mereka telah berada di sebuah pemukiman yang sangat hijau. alam di sana begitu asri dan sangat segar, anginnya bertiup sepoi-sepoi menambah kesan sejuknya pemukiman itu.
Raja Majapahit dan orang-orang yang telah ikut dengannya cukup terkejut dan terkesima melihat pemandangan itu. menurut mereka sungguh ini adalah tempat yang sangat indah.
hamparan tanaman sayur-sayuran yang berbagai jenis sayur-sayuran di sana tumbuh subur, bahkan tebing-tebing yang menjulang tinggi menjadi daya tarik tersendiri bagi pemukiman ini.
Raden Wijaya benar-benar dibuat pangling dengan pemandangan yang tersuguh di depannya. sampai-sampai ia hampir melupakan tujuan dan niatnya datang ke tempat ini.
"pangeran Mandala, Apakah tempatnya tidak salah..??" tanya Raja Majapahit dengan penasaran. menurutnya ini bukanlah sebuah pemukiman, melainkan ini adalah tempat para dewa dan Dewi.
Mandala yang mendengarkan penuturan ayahnya langsung menganggukkan kepalanya.
"tentu saja ayahanda, ini adalah tempatnya." ucap pangeran Mandala lagi. Raja Majapahit tak henti-hentinya merasa kagum dalam hatinya. bahkan ia bertanya-tanya, tanaman-tanaman apa yang bertebaran yang ditanam dengan cara berbaris seperti itu.
"Mari ayah, Mandala akan mengajak Ayah bertemu dengan Tuan Senopati, sebagai orang yang mendirikan tempat ini." ucap pangeran Mandala yang sukses membuat Raja Majapahit itu mengerutkan keningnya.
(Senopati..) batin sang raja.
***bersambung***